AKU BANGGA PADA DIRINYA
Noviyanti Utaminingsih
Aku bertemu kembali dengan dia, teman SMU-ku. Tidak ada yang istimewa dalam dirinya hingga aku pernah mendengar cerita tentang kakaknya.
“Kakaknya si Via kena obat” ujar temanku mulai ngegosip
“Masak sih..via kan pakai jilbab, bapaknya juga....tokoh gitu” jawabku
“Iya...jadi omongan tetangga”
Aku pun mencoba menghubungkan berbagai peristiwa di sekolah. Via yang sering terlihat diam dan tampak menangis. Atau seringnya ia menyembunyikan dirinya. Oh ya, ditambah lagi cerpen-cerpennya yang biasanya lucu jadi melo dan sering banget tokoh utama itu kena obat...
Walau ga terlalu akrab, aku adalah salah satu pengkonsumsi cerpen-cerpen dia... ada yang lucu, norak, roman picisan sampai yang sedih.....
Saat itu aku memang tak tertarik dengan kehidupannya.....tapi kenapa ya aku tak menyadari kalau sebenarnya dia sedang bermasalah.....rupanya aku bukan teman yang baik.
***
Kini, setelah 3 tahun lulus SMU tanpa disangka aku kembali bertemu dengannya. Kali ini dengan penampilan yang berbeda... jujur aku tak begitu mengenalnya.
“Hei, kita ga jauh ya kampusnya.....” ujar dia menegurku.
“Iya.....tapi jarang banget aku ketemu kamu....., sibuk neh?” jawabku.
“Yah, biasalah mahasiswa.....hehehe....gini-gini aku aktif di rohis dan sempat jadi kandidat ketua musola, lo...ga nyangka kan kamu?” ujarnya.
Kuperhatikan jilbabnya yang rapi dan buku-buku haroki yang dia bawa. Padahal setahu aku, dulu dia ga masuk rohis sekolah.
Entah angin apa yang membawa, tiba-tiba obrolan kami berputar soal narkoba...tentang temanku yang sepertinya bergaul dengan para pecandu.
“Wah pokoknya temen kamu musti dijaga” ujar dia.
Aku diam.....
“Kalo keadaan kakak kamu gimana?”
Via terdiam......
Oh my god....seharusnya aku kan ga tahu kalau kakaknya...itu pernah kena narkoba.
“Hmm...kamu punya kakak kan? Eh satu, ya” ujarku berusaha mengalihkan
“Kamu tahu, ya kalau kakak aku pernah kena?”
“Bukan begitu, ya...hmmm...”
“Gapapa kok...aku paham....”ujarnya terdiam
Kemudian, mengalirlah cerita masa lalu yang memedihkan... yang tak pernah kusangka seberat dan sedalam itu.
******
Masa-masa SMU-ku adalah masa yang seharusnya indah seandainya tidak terkotori dengan butir-butir laknat, jarum suntik dan semuanya.... kalau saja kakakku mempunyai pikiran yang jelas, menggunakan otaknya hingga tak perlu memakai obat-obat itu. Sakit rasanya sakit... dia itu kakakku, darah dagingku. Orang yang kusayang harus terjerembab dalam dunia yang menyakitkan.
Hari-hari yang kulalui di masa-masa indah itu...menjadi menyakitkan, palsu dan tangis.... Hampir setiap hari ibu dan ayah menanyakan keberadaan dia. Maklum kami satu sekolah, saat itu aku kelas 1 dan dia kelas 3. Kadang Kami pulang bareng. Seringnya aku menjawab “ga tahu” kalau tak lagi bersamanya. Aku memang bener-bener ga tahu. Aku juga ga tahu apa yang dia lakukan bersama temannya.
Aku juga ga tahu kalo dia sudah kenal dengan obat-obatan itu hingga kami sekeluarga mendengarnya dari orang lain .....dari tetangga.....mungkin saat itu, kami yang terakhir mendengarnya.
Saat itu aku tak sanggup ke luar rumah, tak mampu membuka pintu.....aku malu, dia yang dibanggakan, dia yang disayang, dia satu-satunya kakak laki-lakiku, dia yang paling pintar....dia..... aku benci.....
Aku merasa sebagian tubuhku seperti hilang.....terbawa dengan rasa malu aku... Rumah sudah seperti neraka, pertengkaran selalu saja ada. Penyebabnya cuma satu, “dia” dan tahukah siapa yang paling sakit saat itu, ibu. Bagaimana kau membayangkan, anak yang lahir dari rahim seorang ibu melakukan hal itu, mengecewakn ,meyedihkan dan menyakitkan.
Kami memang belum pernah memergokinya membawa obat atau terlihat kecanduan, tapi memang dirinya aneh....baru panas sehari, belum diobati, eh ga lama udah sehat....mungkin saat itu dia kecanduan, tapi kami ga ngerti. Hingga suatu hari ibu menemukan bungkusan entah apa....atau temannya yang mencurigakan datang memberi sesuatu,......
Saat itu dia belum sadar kalau kami mengetahui hingga malam paling menakutkan dalam hidupku.... kakak kepergok ayah membawa suntikan di dalam celananya dan saat itu ayah memukulnya dengan sangat marah. Aku ga pernah lihat ayah semarah itu. Ayah sampai berniat memasukkan kakak ke lembaga anak negara di Tangerang. Kalau hal itu benar terjadi sama saja ayah membuang kakak. Aku paham ayah benar-benar sakit hati, pikirannya tertutupi emosi.
Aku sangat takut.....berarti nanti aku ga punya kakak lagi, donk....aku takut.....aku benar-benar takut. Ayah begitu sedih dan malu saat itu. Itu adalah malam paling mencekam dalam hidupku...Saat itu aku takut dan sangat sedih...
Banyak hal yang aku tak mampu lagi mengingatnya... aku tak mau..... Itu adalah lembaran hidup terhitam dalam hidupku, dalam hidup kami...
Berobat ke salah satu RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) juga tak membuatnya sembuh... hingga ketika kakak lulus sekolah dia dipindahkan ke sebuah daerah di Jawa Tengah... Itulah salah satu jalan agar dia tak lagi berhubungan dengan teman-temannya yang pemakai...
Aku ga tahu kenapa, betapa Allah sayang sama dia.....teman-temannya yang pernah nge-band bareng, satu per satu dipanggil Yang Maha Kuasa karena OD, tapi Alhamdulillah, dia masih diberi kesempatan untuk memeperbaiki dirinya. Allah memberikan banyak kenikmatan dan jalan bagi dia untuk memperbaiki diri... Dia lulus dengan nilai pas-pasan.....padahal kalau mau bisa saja pihak sekolah mengeluarkan dia karena dia terbukti terlibat narkoba..., tapi tidak... masih ada masa depan untuknya...
Lalu, ketika dia mendaftar di PTS, lagi-lagi Allah memudahkan jalannya, dia lulus tes dengan nilai lumayan hingga tak perlu membayar mahal. Mungkin dia belum menyadari kenikmatan yang Allah limpahkan karena dia masih bergaul dengan narkoba hingga Allah memberi pelajaran yang berat buatnya... dia dijadikan tersangka pencurian motor. Siapa yang sangka, temannya sendiri mencuri motor pinjaman yang sedang dipakai kakak.....
Saat itu dia menangis terisak-isak kepada ayah, meminta maaf dan bantuan... Dia begitu lemah, dia begitu menyedihkan... Aku ga tahu perasaan ibu dan ayah saat itu. Mereka berusaha menghubungi keluarga di sana untuk membantu kakak dan entah apalagi yang mereka lakukan untuk kakak. Yang jelas aku makin membencinya...aku kasihan, tapi juga membencinya...
Sekali lagi...Alhamdulillah....Allah menolongnya, kebetulan suami sepupu yang polisi banyak membantu dalam pencarian motor itu. Berbagai cara dilakukan untuk mencarikan motor tersebut dan Alhamdulillah motor ditemukan di sebuah hotel walau sudah dalam keadaan berbeda....
Kalau dipkir-pikir.....Allah benar-benar menolongnya....bayangkan motor hilang itu banyak dan di antara berapa ratus yang hilang, yang bisa balik cuma beberapa.... Subhanalloh, ini pelajaran yang sangat berarti, terutama untuk kakak... dan aku rasa itu jadi tonggak dia berusaha membersihkan diri.....
Alhamdulillah..... Sejak itu...dia berhenti total mengonsumsi obat terlarang, dia mulai rajin menulis surat kepada kami... isinya beraneka ragam, ada yang lucu dan haru. Terlihat jelas perbedaan dan perubahan yang hadir di dirinya. Dia menceritakan pengalaman dia di sana...dan alhamdulillah...dia sempat dapat IP 3,7 dan sempat dapat beasiswa.... Aku benar-benar mendapatkan hikmah bahwa Allah akan selalu bersama hamba-Nya.... Allah akan selalu mendengar doa hamba-Nya.
Ternyata, ujian ga sampai di situ...ujian baginya dan bagi kami, setelah bertahun-tahun dia tinggal di rantauan. Ayah masih saja diremehkan. Pernah ketika ayah jadi khotib pada khutbah jumat, salah seorang tetangga pernah mengatakan kalau ayah sok nasihatin orang, padahal anaknya..... atau tetangga yang menanyakan keberadaan kakak ketika ada salah satu tetangga yang meninggal karena OD. Mempertanyakan juga, apakah dia dikirim ke tempat penanggulangan obat atau ketika bertemu ibu, omongannya ga jauh dari soal kakak dan obat.....dan ketika tetangga bertemu aku....huh...rasanya pengen nampol tu orang....emang ga ada ya topik lain selain kakak yang pernah pakai narkoba...padahal kejadian itu sudah 5 tahun lebih...
Aku jadi berpikir.... bagaimana kakak tidak betah ketika ke Jakarta untuk liburan. Bahkan, dia pernah terang-terangan ngomong sama aku, apa aku malu berjalan dengannya.....Aku sedih mendengarnya....aku pernah begitu sangat membencinya dan sangat malu dengan keadaannya, tapi aku ga pernah memikirkan dia...
Tahun terus berlalu dan berjalan..orang selalu mengingatnya sebagai mantan pemakai narkoba... Sebersih apapun wajahnya kini, sebanyak apapun prestasinya.....dia pasti selalu dicap sebagai si pengguna narkoba...
Tapi tahukah kau..... aku sudah tidak malu dan benci lagi padanya karena kini aku sangat menyayanginya, mungkin lebih dari rasa sayangku saat dulu... Kini aku sangat bangga kepadanya, lebih bangga dari masa-masa dia pernah ikut cerdas cermat dan masuk TV, lebih bangga waktu dia pernah juara kelas..., lebih bangga dari ketika dia banyak berprestasi dan belum tersentuh narkoba....
Aku bangga sebagai adiknya, dia mampu bangkit lagi setelah sekian lama dalam keterpurukan.... dan dia bisa.....itu yang aku bangga.
Semuanya kini berbeda, aku ga peduli orang mau ngomong apa, yang penting aku bangga dan sangat menyayanginya.
******
Betapa naifnya diri ini menghadapi berbagai cobaan, selalu dalam keadaan mengeluh,
Betapa malunya diri ini menghadapi ujian, selalu dalam keadaan lemah...
Begitu banyak manusia di dunia sanggup bangkit dalam keterpurukan
Begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari segala peristiwa...
-----Selesai-----
*Tulisan ini hanya bermaksud mengingatkan kita tentang bahaya narkoba dan mengingatkan kita bagaimana memandang orang lain... Seperti halnya pengidap HIV, ex napi, mantan pengguna narkoba juga tak pernah mau dipandang sebelah mata. Kita semua sama dalam pandangan Allah Swt.
**Semua nama, tokoh, keadaan dan tempat disamarkan.
Semoga bisa menjadi pembelajaran..............amiin
Say No To Drug