novi khansa's posts with tag: kesadaran
Ada banyak cara menyelesaikan masalah kita dengan orang lain. Ada banyak hal yang bisa membantu kita untuk bisa melangkah lagi. Saya pernah kekeh dan ngotot untuk menyelesaikan sebuah masalah. Saya merasa saya punya argumen yang kuat untuk menjawab banyak hal dari masalah tersebut. Saya mengharap dengan argumen yang saya kemukakan, dia yang bermasalah dengan saya mau menjelaskan. Apalagi, saat itu saya merasa menjadi orang yangsangat bodoh. Nyatanya, ada beberapa hal penting yang tak tersampaikan. Dia sudah menjelaskan beberapa pertanyaan saya, tapi ada hal lain yang justru penting terlewat begitu saja. Teman saya khawatir dan berharap saya tidak meneruskan semua itu: ”Gak semua masalah bisa tuntas, seperti saat kita bertanya sesuatu pasti gak akan ada habisnya” Saat itu saya bisa menjawab ya dan tak berharap banyak lagi untuk mendengar penjelasan dia. Menurut saya waktu telah menjawab. Saya sudah cukup lelah untuk mengorek segala hal yang mungkin tidak penting bagi dia. Saya tak lagi bisa mengharapkan kesempurnaan yang saya inginkan. Sebelumnya, ada teman lain yang secara ekstrim meminta saya untuk tidak menjadi ”lemah” dan mengatakan kalau orang itu ”jahat”. Tapi, hati saya tidak pernah mau menyetujui kalau keadaan ini dibuat karena dia yang jahat. Saya mau saya bisa kembali mengenal dia, tidak lebih, sebagai teman saya. itu saja. Bukan orang istimewa ataupun orang jahat. Maaf teman, saya lebih memilih bukan menghilangkan dia dari folder teman, atau saya yang kabur dari dia. Tapi, saya lebih memilih kita bisa tetap berjalan dalam tempat yang sama tanpa ada ganjalan apapun. ”Ada banyak latar belakang ketika seorang berbuat itu” kata-kata itu pernah dikatakan oleh teman dan mbak saya. Jadi kenapa saya masih terus bertanya. Mungkin kata-kata itu sempat membuat saya tak lagi perlu meminta penjelasan yang malah membuat saya lelah. Tapi ada satu alasan lain yang meyakinkan saya untuk tak lagi bertanya. Apalagi, terakhir penjelasannya hanya sebatas itu. ”Ini adalah cara Tuhan memberi tahu saya”
Entah angin apa yang membuat diri ini begitu malas dan tak bergairah. Padahal pekerjaan menumpuk dan beberapa ide menulis sempat mendesak-desak untuk ke luar. Lemas, bawaanya pengen tidur aja. Apa mungkin sedang PMS. Hehe, menyalahkan lagi hal yang seharusnya bisa diantisipasi. Atau malah sering menjadi pembelaan di kala emosi mulai meledak-ledak. Atau mungkin karena kelelahan dengan ritme kerja yang mulai padat. Selesai satu setingan, datang koreksian, ada tambahan dan tiba-tiba harus mengerjakan job khusus (deadline 1 malam) beberapa waktu lalu, padahal musti beres-beres administrasi. Atau mungkin kecewa, lelah mengurus ini itu, kecewa pada diri sendiri yang ternyata tidak mampu. Fiyuh... berapa banyak kambing hitam yang saya cari untuk masalah yang sebenarnya bisa saya selesaikan ini. Energi memantul Saya ungkapkan ketidakbergairahan saya kepada seorang sobat eska malam itu. ”lho bukannya mbak novi yang suka kasih semangat ke kita-kita” Perkataan yang langsung sampai ke dalam diri saya. Iya, betapa seringnya saya bilang ”semangat” dengan ”a” yang panjang atau ”t” yang juga panjang. Berapa kali saya bilang itu di dalam postingan, sms, dan banyak lagi. Dan berapa kali, kata-kata itu seperti balik lagi ke saya. Yups, memantul dari si penerima sehingga energi semangat bisa saya raih kembali. Saya bahkan sempat bilang, apa saya harus melompat. Hal yang biasa saya lakukan ketika saya butuh energi sambil mendengarkan lagu yang bersemangat. Tak semudah itu, saya justru lupa melompat malam itu mengingat kaki juga pegal-pegal. Obrolan beralih ke sobat eska lain yang mengirimkan MP3 lagu, AKU BISA-nya Afi junior. Musiknya benar-benar membuat saya malu, hehehe. Malu sama diri saya sendiri sambil melihat sobat eska yang sedang menuntaskan novelnya yang sedang ditunggu penerbit, sementara besok pagi dia harus bekerja. Cuma bisa tertegun ketika dia bilang sedang ngebut hingga sampai bab penutup. Mengingat lagi seorang sobat yang kini ”meninggalkan” saya karena sejak beberapa minggu ini, dia sudah punya pekerjaan tetap. Meninggalkan dalam arti, ga bisa jalan-jalan di hari-hari kerja. Kesibukannya yang padat, senin-sabtu, tetapi masih sempat diselingi menulis di majalah, dan mengajar anak-anak sekitar. Mengingat lagi curhat seorang adik yamg kena lembur bosnya, mengingat lagi seorang teman yang berkali-kali mesti berpisah dengan keluarga karena tugas.. Hmm, sedang saya? Punya lebih banyak waktu dari mereka. Pekerjaan saya pun mendukung. Sangat! Relasi saya ya penerbit-penerbit. Peluang saya lebih besar. Tapi, saya masih saja di sini. Melongok hasil layout, sambil sesekali mencari ilham untuk desain isi yang oke. Ide menulis terus berkelabatan. Di otak saya ingin ini dan itu sambil kembali mengingat almarhum bapak yang bisa menghasilkan puluhan naskah buku pelajaran. Apa karena saya terlalu tengelam dengan naskah-naskah yang memenuhi folder saya sampai sempat kepenuhan dan beberapa kali perlu restart. Atau karena saya memang tak punya kualitas menulis. Hehe... segitunya, nop... Memikirkan jauh impian saya dari SD, SMP. Menulis memang keseharain yang terasah lama tapi makin kendor. Sempat menjadi hal yang sepele, tapi kini malah jadi kebutuhan dan obat bagi saya. Mengingat pesan seorang sobat eska yang mengirim sms sebanyak 6 halaman mengomentari cerpen saya. Ada semangat, ada pujian, ada teguran ada kritikan dan ada saran. Kemudian sms lanjutan yang menyuruh saya mempelajari banyak tulisan agar tidak menjadi epigon penulis lain. Mengingat Mengingat kembali tulisan-tulisan kecil saya. Tulisan yang ternyata bisa menginsprasi, memengaruhi teman-teman sebagaimana diri saya juga sering merasa mendapatkannya dari mereka. Walau hanya sebuah diari. Hehe, ini juga yang sempat bikin saya malas nulis karena saya dianggap curhat melulu di diary. Dan saya pun membela diri, bukankah dalam tulisan apapun kita bisa belajar termasuk dari diari orang lain. Sambil mengingat-ingat perkataan pengajar saya di pesantren yang belum saya tuntaskan juga. Menyadari bahwa efek tulisan demikian dahsyat. Mengingat tulisan saya memengaruhi adik binaan saya yang terpisah di Semarang sana. Mengingat kelucuan teman saya ketika dirinya saya masukkan dalam tokoh tulisan. mengingat ibu yang tersipu-sipu ketika saya bacakan tulisan ”Secangkir kopi rasa moca dan segelas teh hangat”. Mengingat abang saya yang tampaknya juga kegeeran. Mengingat teman-teman masa-masa SMU, ketika mereka merequest cerpen (happy ending dengan tokoh gebetannya), request pusi, cerita sampai menulis surat cinta. (heheheh, :D) Mengingat, saya sangat-sangat suka menulis... tak berhenti menulis, walau hanya menemukan kertas kecil di dalam tas. Atau diam-diam ketika di jalan atau ketika diam, memikirkan ingin menulis apa. Mengati saya pernah membuat banyak tulisan untuk membangkitkan kepedean saya. Bicara pada diri saya sendiri kalau saya tidak tolol, tidak bodoh dan bukan manusia yang lemah. Mengingat apapun bisa saya tulis.. Mengingat, perkataan soba eska, yang bilang... ”enaknya jadi penulis”. Kalau lagi benci orang keluarin aja, ditulisan, jadiin dia tokoh antagonis yang bakal disiksa abis-abisan... hehe Mengingat saya bisa menangis, tertawa membaca tulisan-tulisan aneh saya., bahkan juga pernah takut ketika waktu smu coba-coba bikin tulisan misteri Saya jadi terus teringat dan teringat... kalau saya harus menulis sambil bermimpi, someday... Saya akan me-layout atau mungkin bisa membuat cover untuk tulisan saya sendiri... Saya harus semangat… Saya harus BISA Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaat :) novi yang butuh infus semangat :D
Hari itu saya berangkat lebih pagi ke tempat klien di daerah Jatinegara Kaum. Tampilan saya benar-benar tak biasa untuk kunjungan ke tempat klien. Saya hanya mengenakan kaos, rok santai, kerudung langsung plus sendal jepit. Hanya ke tempat tersebut saya berpenampilan seperti itu karena tempat yang saya datangi tidak menuntut saya secara langsung atau tidak untuk berpakaian rapi. Tempat yang saya datangi adalah sebuat penerbit kecil milik teman saya. walau kecil, mereka telah menerbitkan 20 buku. Wow... --------------------------------------------------------------------- Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi ketika saya sampai di rumah kontrakan sederhana yang dihuni sebuah keluarga. Pasangan suami istri dan seorang putri kecil yang usianya baru menginjak 6 bulan. Kemacetan membuat saya menghabiskan waktu sekitar 1 ½ jam untuk mencapai tempat tersebut. ”Wah padahal dari rumah jam 7 kurang, lho” ujar saya. Abis kalau tidak melakukan pembelaan diri, dikiranya nanti saya kebablasan karena ketiduran di bus lagi... hehehe. Di tempat ini saya biasa mengantarkan naskah hasil editan atau layout. Penerbitnya milik teman saya, Amin dan istrinya, Lita. Mereka berdua telah merintis penerbitan sejak masih bekerja di sebuah majalah Islam anak-anak di daerah Jakarta Timur. Buku pertama yang diterbitkan adalah buku doa untuk anak-anak. Sudah cetak ulang hingga 4 kali dan lebaran kemarin telah habis diborong. Wow... Saya sedikit tahu perkembangan penerbitan mereka hingga mereka juga menangani distribusi untuk buku terbitan sendiri dan buku-buku penerbit lain. Awalnya mereka menyambi bekerja, kemudian, mereka sempat difasilitasi pengusaha bakmi, kemudian benar-benar berdiri sendiri. Salut... Mereka memiliki karyawan untuk bagian penagihan dan memiliki beberapa outsourcer untuk layout, editing dan desainer cover dan salah satunya adalah saya. Hari itu saya mengantar file naskah dan koreksian milik mantan diplomat yang tebalnya 600 halaman lebih. Entah apa yang terjadi, file yang saya kirim sempat tidak bisa dibuka, dan ada beberapa input koreksian yang salah. Alhamdulillah, segalanya bisa diatasi kemudian. Saya sering berlama-lama ketika mendatangi tempat ini. Selain hanya sebuah rumah tanpa ada mekanisme pemeriksaan KTP, ngisi daftar tamu, atau pemeriksaan berlapis-lapis ketika ingin mendatangi klien yang kerjanya di gedung-gedung tinggi, tempat ini begitu nyaman dan ramah bagi saya. ketika kelaparan kemarin, sang tuan rumah membuatkan mi rebus yang enak dan saya bisa berlama-lama mengobrol tentang bebagai hal. Mulai dari urusan bisnis sampai dakwah. Saya dan amin sama-sama aktif di rohis kampus. Sering juga saya menjadikan Amin dan lita sebagai teman diskusi di kala saya butuh share tentang usaha saya, seperti hari ini. Entah angin dari mana, atau kekecewaan pada diri saya, saya seperti mulai enggan dan malas mengembangkan usaha saya. Tiba-tiba saya menjadi terpuruk dan jatuh karena teleh megecewakan klien saya. Saya jadi rindu kerja di kantor, saya rindu gajian... Rasanya lelah, tiap bulan ketar-ketir mikirin pengeluaran rutin, sedangkan pemasukan datang tidak bebarengan. Selain itu, saya juga lelah dengan tanggung jawab yang saya emban dalam tim. Hal itu kemudian saya tepis begitu melihat dengan mata saya sendiri pada perjuangan mereka merintis karir tapa menyerah. Pernah ditipu, pernah bermasalah, dan banyak lagi... Apalagi begitu melihat Lita yang sibuk mengurusi faktur-faktur dan menceramahi karyawannya, sementara anaknya ada dipangkuan. Salut sekali lagi buat Lita yang tanpa umahat. Bekerja di rumah sebagai istri juga mitra kerja bagi suaminya. Belakangan ini, mereka juga menyewa sebuah tempat, tidak jauh dari rumah untuk gudang penyimpanan buku-buku. Mengingatkan saya, pada kehidupan semasa almarhum bapak masih ada di akhir tahun 90-an. Rumah kami penuh dengan buku sekolah. Setiap hari sales berdatangan, setiap hari kami mengepak buku untuk dikirim, setiap hari rumah berantakan. Kegigihan yang tak terkatakan melihat bapak dan ibu bekerja keras bagi kehidupan kami. Biar kami bisa sekolah, bisa kuliah, biar bisa mencicil rumah dan banyak lagi. Amin dan Lita, Ibu dan Almarhum bapak, kedua pasangan yang nyaris mirip. Bekerja keras bersama untuk keluarga. Rasanya, saya akan sangat malu sekali, mengingat diri saya yang mudah menyerah hanya karena persoalan yang saya buat sendiri dan bisa diperbaiki. Tiiiiin... Sebuah mobil karimun datang. Mbak saya baru pulang dari toko bonekanya. Isi mobil kecil itu penuh dengan boneka yang akan dikirim ke tempat pelanggannya. Hmmm.. lagi-lagi saya malu. Mbak saya susah payah tiap hari, mondar-mandir ke pabrik boneka, antar barang, ambil barang, kadang sendiri, kadang bersama suaminya, memikirkan desain untuk boneka atau bantal agar bisa bersaing di pasar. Belakangan, berjualan via internet. Saya tercenung mengingat mereka. Ada rasa malu karena saya seperti tak mampu bersukur dan takut melangkah. Usaha saya ini sudah saya rintis 2 tahun lebih, diselingi kuliah dan kerja kantoran. Saya benar-benar baru fokus sekitar 6 bulan. Ketika saya memutuskan fokus, order berdatangan. Alhamdulillah, saya bisa memulai mencicil CPU, HP, membeli barang-barang keperluan dan menabung. Kenapa saya harus terpuruk karena masalah yang saya buat sendiri. Begitu banyak orang yang bekerja keras, begitu banyaknya orang yang susah mencari duit. Saya duduk di sini, tinggal bekerja, segala fasilitas telah tersedia setelah sedikit demi sedikit melengkapinya. Ada dukungan dari keluarga yang awalnya belum bisa menerima dan terus menyarankan kerja kantoran. Saya ada di sini, di ruangan yang saya klaim sebagai ruang kerja saya, didukung ibu saya, difasilitasinya. Semuanya begitu mudah. Semuanya tersedia, apalagi yang saya khawatirkan, toh rezeki di tangan Allah... Cukup bagi saya melihat mereka. Melihat kerja keras mereka. Mengingatkan kembali pada visi dan misi, serta tujuan saya untuk bekerja di rumah. Mengingatkan saya pada nama tim yang saya sandang, Khansa’Kreatif. Saya ingin menjadi seorang ibu (suatu saat nanti) yang memiliki para mujahid/ah seperti Khansa’, tapi bisa tetap kreatif dengan bekerja di rumah.
Malam ini, saya kembali mengunjungi Book Fair untuk bertemu teman saya di Tim Khansa’Kreatif. Waktu itu belum jam delapan malam kala saya tengah duduk di bus AC 05 Jurusan Blok M-Bekasi setelah dari jam 3 sore saya berburu buku di sana. Seperti kebiasaan saya di bus, saya akan tertidur dengan mudahnya. Sebenarnya, kebiasaan ini sudah sering kena protes orang rumah ataupun ibu kos saya waktu kuliah. Kalau hendak pulang ke rumah, ibu kos suka membawakan makanan untuk saya di jalan dan tak lupa melarang saya untuk tidur. Hehehe, saya mah ga pernah nurut karena entah kenapa, enak aja tidur ketika dalam perjalanan walau saya harus kebablasan atau agak pusing ketika terbangun. Ketika tertidur di bus tadi, ada orang yang membangunkan saya dan memintai saya duit. Saya pikir dia kernet bus tersebut. Saya kasih uang Rp10.000. Dia pun langsung pergi, katanya mau cari kembalian. Tapi, setelah lama, dia tak juga kembali. Saat itu saya ga mau berpikir negatif, tapi entahlah kayaknya ada yang salah. Benar saja, saya dikibulin, tuh orang bukan kernet karena kemudian kernet asli menagih ongkos bus. Saya bilang, saya udah bayar dan nunggu kembalian. Saya ingat bajunya merah, wajah sih nggak inget, kan godhul bashar . Tapi, ternyata, ga ada laki-laki berbaju merah itu. Kayaknya, dia emang sengaja ngincer keteledoran saya yang sengaja tidur di bus. Kan, keadaan belum sadar benar pas bangun... Saya sempat kesal dan mengumpat hingga saya ingat suatu hal. Sudah dari beberapa hari yang lalu, saya berjanji untuk mentransfer uang hasil layout tim khansa, tapi urung saya lakukan. Ya Allah, begitu cepatnya teguranmu. Yang tadinya sempat kesal, akhirnya jadi kembali mikir, untung aja tadi ngasihnya 10.000 bukan 50.000. yah, daripada disesali, uang juga ga akan kembali. Akhirnya, setelah sampai rumah, saya pamit lagi untuk ke ATM, mentransfer uang ke teman-teman dan bayar utang ke ibu. Rasanya lega. Kejadian ini bukan yang pertama, sebelumnya, beberapa waktu lalu, saya pernah hampir kecopetan di sebuah pusat grosir, resleting bagian luar tas saya sudah terbuka sedikit. Alhamdulillah, walau saya agak lama konek, saya berhasil menyelamatkan tas dan isinya. Fiyuh... setelah itu saya pun agak-agak parno untuk mengangkat telepon. Di perjalanan, beberapa kali klien menelepon dan baru saya ketahui ketika di rumah. Saya ingat-ingat kenapa bisa hampir kecopetan. Ternyata uang yang saya gunakan untuk belanja adalah sebagian uang yang saya niatkan untuk dizakatkan. Fiyuh... Akhirnya, saya keluarkan uang yang harus saya zakatkan tersebut. Duh, ga mau deh nunda-nunda lagi...  Hmm....masih bisa tidur di bus, ga ya 
Teman Tanpa Syarat Di sebuah negeri antah berantah ada sebuah perbincangan antara dua orang yang baru bertemu. “Aku mau jadi temanmu dengan syarat.” Ujar salah seorang kepada lawan bicaranya. “Apa syaratnya?” Tanya orang itu “Kalau kamu jadi temanku, kamu harus ada di kala aku membutuhkanmu, kamu mau menolongku, memberi hutang kepadaku, mau mengusap air mataku… “ “Kalau aku tidak bisa bagaimana?” “Kamu tak bisa jadi temanku…” Apakah teman butuh syarat? Aku berteman denganmu dengan syarat, jangan biarkan aku sendiri dan jangan pernah menyakitiku karena kamu tahu aku Aku berteman denganmu dengan syarat, akan kau berikan pundakmu untuk aku menangis Aku berteman denganmu dengan syarat, pinjamkan aku uang yang banyak, maka kau temanku. Aku berteman denganmu dengan syarat, berikan aku kejutan menyenangkan, kebahagiaan yang indah. Aku berteman denganmu dengan syarat, kau jawab semua sms-ku, kau angkat telepon aku dan tak kau biarkan aku sendiri. “Inikah syarat itu?” “Iya” “Harus kupenuhi?” “Iya” **** Di tempat yang tak jauh, seorang laki-laki berbincang seru dan hangat dengan seorang wanita. Tetapi, tiba-tiba sang wanita memberi ultimatum. “Ingat, kita hanya berteman, tidak lebih” “Maksudnya?” “Jangan sampai kau menyukai aku, dan aku menyukai kamu…” “Memangnya kenapa?” “Karena itu tidak tulus, pertemanan yang tidak tulus.” Tulus? Seperti apa itu? Kalau kau ingin jadi temanku, tolong jangan pernah anggap aku kekasihmu Kalau kau ingin jadi temanku, jangan pernah berharap aku mencintaimu Kalau kau ingin jadi temanku, aku tak pernah mau menerima cintamu Kalau kau ingin terus jadi temanku, mulai saat ini Tanya perasaanmu, apakah mungkin kau suka padaku, kalau tidak… lebih baik kita tak beteman… “Ini sebuah peringatan?” “Iya” “Tak bisa diganggu gugat?” “Iya, karena aku mau ketulusan.” “Tapi, salahkah dengan perasaan yang mungkin hadir” “salah” **** Hei, Fren…gimana kau menanggapi pernyataan tadi? Tentu kamu ga setuju, kan? Hitungan banget, sih jadi orang…hehehehe. Atau kemudian kamu jadi berpikir… Jangan-jangan secara tersirat, kamu telah mengajukan berbagai macam syarat itu kepada teman-teman kamu. Atau karena berbagai pengalaman yang ada, kamu merasa cinta yang hadir dalam pertemanan tidaklah tulus hingga harus ada syarat-syarat itu? Hmm, silakan direnungkan… Apakah arti sebuah teman bagimu? Pertanyaan itu timbul di benak saya begitu saja. Teman adalah sosok-sosok terdekat saya setelah keluarga. Ada sebuah ikatan batin hingga saya bisa berteman dengan banyak orang. Semacam chemistry. Saya sangat senang berteman, saya menerima semua ajakan pertemanan dari mana pun, dari dunia maya sekalipun. Tapi, apakah saya orang yang menyenangkan? Entahlah… apakah ukuran punya banyak teman berarti dia menyenangkan. Lalu, apakah saya tulus? Tanpa syarat? Entahlah…
Saya coba menelusuri pertemanan saya dengan beberapa orang, teman tanpa batas ruang dan waktu, dalam arti, walau udah sama-sama ga satu sekolah, walau udah sama-sama ga satu kantor, kami tetap berteman. Saya pernah menyakiti mereka, saya pernah bikin mereka menangis, kadang sikap saya ke mereka sangat menyebalkan. Pernahkah saya sakit hati kepada mereka? Pernah… Bahkan saya pernah sebal dengan mereka. Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari saya dengan mereka saat itu.
Tapi, apakah mereka masih jadi teman saya? Ya, hingga hari ini kami masih bersama, baru saja kami berbuka puasa bersama. Kami bertahan beberapa tahun terakhir dengan berbagai macam pernik-pernik. Tanpa ada pernyataan, kami akan kembali berbagi, menegur kesalahan kami, mencari titik terang, menginap bersama. Mengirim sms-sms manis atau hikmah. Secara tersirat, kami saling menyayangi tanpa berusaha untuk mengungkapkan. Kemudian, teman saya pun bertambah, dan terus bertambah… Alhamdulillah, ada yang bertahan, ada yang numpang lewat, ada yang mucul dan menghilang. Mereka membagi banyak hal kepada saya. mereka memberikan ketulusan indah. Mereka memuji saya, memberi oleh-oleh, memberi hadiah, mentraktir saya, mengirim sms, mengirim email, menelepon, mengkritik, memotivasi, memarahi, mengingatkan… Semua teman yang saya kenal di mana pun… terima kasih, semoga Allah membalasnya…
Sementara saya masih apa adanya diri saya. Saya masih suka lupa tanggal lahir teman saya, lupa mengingat janji saya, lupa membalas sms dan mungkin tak hadir ketika teman saya butuh cerita. Saya cuma manusia, tak bisa memberi banyak dengan keterbatasan saya, tapi saya akan sangat gembira, ketika saya mampu untuk lebih baik memperbaiki hubungan pertemanan saya. Saya akan tersanjung ketika teman saya “marah-marah” menunjukkan dirinya tengah memarahi orang, curhat dengan bebasnya, menunjuk saya mendengarkan keluh kesahnya pada batasan tertentu. Saya akan ikut senang ketika teman saya mau menerima sedikit pemberian saya, karena sering dengan sok tahunya saya mengirim “barang unik/aneh” ke teman-teman saya. Saya akan ikut sedih, ketika teman saya bersedih, menangis, marah dan kesal… dan ingin ikut berempati. Teman, mungkin saya tak hadir ketika kamu butuh saya, tolong maafkan saya… Teman, mungkin saya hanya bisa mendengarkan dan tak banyak membantu ketika di tengah kesulitan, tolong maafkan saya. Teman, saya sangat jahat membuatmu menangis, sakit, marah, kesal. Mulut saya mungkin telah jahat menghina, tolong maafkan saya, Teman, saya nakal, iseng tidak pada tepatnya, tolong maafkan saya Teman, mungkin saya pernah menyukai kamu hingga kamu merasa tak nyaman. Saya tak pernah tahu perasaan itu hadir, yang jelas saya sadar saya cuma manusia. Apakah dengan begini saya tidak tulus? Tolong maafkan saya. Teman, saya pernah menuntutmu lebih ketika saya bersedih dan membutuhkan kamu hadir, padahal kamu sudah meng-sms saya. Teman, begitu banyak khilaf, gangguan yang saya berikan kepadamu, beban curhat saya, sok tahunya diri saya, menyebalkannya saya, tolong maafkan saya.
Teman……..maafkan saya, ya Kini saya tawarkan sebuah pertemanan tanpa syarat kepadamu… dan masihkah kamu mau jadi teman saya? Untuk semua teman-teman saya 2.32 AM, 23 Sept.07
Bagaimana rasanya ketika kamu menikmati sebuah roti sendiri dengan membelah menjadi dua untuk adikmu? Apakah terasa berbeda? Atau ketika kamu makan siang sendiri atau bersama teman-teman dengan saling bertukar lauk ataupun membaginya? Bukankah lebih nikmat ketika berbagi? Walau mungkin jumlahnya berkurang, tapi kenikmatannya malah bertambah karena menurut saya ada kenikmatan kebersamaan dan kehangatan *** Hari pertama Ramadhan ini saya disuguhi sebuah hikmah yang indah tentang sebuah cinta dan kebersamaan. Sesuatu yang sebenarnya dekat sekali, tapi kerap begitu susah menyadari. *** Hari ini rasanya saya pusing sekali, bukan karena lapar puasa karena hari ini saya memang tidak berpuasa. Pekerjaan yang harusnya begitu mudah saya kerjakan, sepertinya tak kunjung selesai. Selain kondisi tubuh yang tidak enak, suasana di rumah benar-benar tidak mendukung. Bising dan tidak menyenangkan. Dari mulai mbak saya yang duduk di belakang saya yang terus bertanya ini dan itu, menyuruh ini dan itu, kakak ipar yang tak pernah kapok ngeledek saya, keponakan yang ribut, nangis, jalan-jalan. Ramai. Berisik. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Suara piano yang dimainkan membuat saya menyetel winamp dengan kerasnya. Woy berisik… :( Pernah dalam keadaan kesal dan marah, saya mengungkapkan keinginan kepada ibu untuk pergi dari rumah, ngekos. Beberapa kali saya kemukakan itu, dan sempat terdengar kakak dan membuat dia tersinggung dan mengatakan harusnya dia yang keluar dari rumah ini. Hmmm.. rasanya ga tahan ada di sini. Bener-benar ga kondusif, berisik, capek. Saya tak pernah berpikir dan berharap ada dalam kondisi ini. Tinggal bersepuluh dalam satu rumah. (7 dewasa + 3 anak) Tapi, siapa yang menyangka ketika seharusnya saya membutuhkan keheningan untuk bekerja, saya harus diributkan dengan urusan keponakan saya yang menangis dan mengompol dan ingin bergantian memakai komputer sementara saya banyak kerjaan, kakak saya yang ribut biaya telpon dan listrik yang membuat saya tak lagi memakai telepon rumah, urusan bergantian listrik antara AC, air, komputer, nyetrika, dll serta gangguan-gangguan kecil lainnya. Jadi, harap maklum ketika tiba-tiba listrik mati dan hal biasa ketika ibu mengingatkan ”udah disimpen nov?” atau ketika saya bertanya, “Boleh nyalain komputer, ga?” Belum lagi, kini saya tidak memiliki privasi, kamar saya kini ditempati dua pembantu di rumah saya. Seharusnya, kami satu kamar bertiga, karena barang-barang saya, kasur saya masih ada di sana, tapi karena sering tidur larut, saya enggan untuk masuk kamar dan khawatir membangunkan mereka. Saya lebih sering tertidur di ruang kerja saya yang juga penuh dengan beraneka barang dan mainan keponakan saya. Benar-benar tidak enak. Rasanya memang tidak enak sekaligus tidak menyenangkan berada dalam kondisi itu. Mungkin seharusnya saya kerja kantoran saja. Tidak full 24 jam ada di sini dengan segala keributan dan kehebohan. Tapi, tiba-tiba di tengah ketidakenakan itu saya menemukan sebuah titik yang membuat diri saya sadar. Kesadaran yang entah ada di sudut hati yang mana hingga saya baru mengerti. Yups, sebuah kehangatan keluarga. Suasana, keceriaan, keramaian selalu jadi warna dalam hari-hari saya. Suara mesin air, suara TV, teriakan keponakan, kehebohan di pagi hari dan masih banyak lagi. Kenapa saya harus kesal dengan kondisi ini? Kenapa saya tak melihat sisi lain dari kehidupan saya yang terbilang unik dan menyenangkan yang belum tentu bisa saya dapatkan ketika saya ngekos atau hanya tinggal bersama ibu. *** Pertama, di sini ada ibu, yang tak segan mendukung saya 1.000% ketika akhirnya saya memutuskan freelance dengan pemasukan yang tak tentu. Yang sering dengan tiba-tiba menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk karena saya terus saja di depan komputer hingga lupa waktu makan. Atau menaruh secangkir teh, segelas air putih atau secangkir kopi di atas meja kerja saya, atau menaruh jeruk di sebelah monitor komputer saya. Hmm.. bisa dikatakan saya benar-benar dimanja, sangat… sangat.. dan apa yang dia tuntut dari saya? Tidak ada.. dia akan gembira ketika saya memberi sekian uang saya untuk dia, dia akan tersenyum ketika saya memberi honor menulis. Dan bila saya tak mampu memberi, dia tak minta apa-apa. Dia bahkan sudah seperti manajer saya, sering mengingatkan saya ketika saya mulai bermain-main, karena dia tahu saya sedang ada kerjaan. Terkadang memberesi meja kerja saya. Merapikan kertas-kertas dan mengamankan flashdisk, setumpuk cd dari jangkauan keponakan saya. Kedua, mbak saya, kata-kata seperti: “Nop, gw beliin pulsa, tuh” “Nop, mau oleh-oleh apa?” “Nop, gw beliin makanan tuh” “Kembaliannya ambil aja”, “Bonekanya buat lo aja” “Ayo gw anter,” “Yuk, kita ke sana yuk” “Nop, mau nitip apa?” dan masih banyak lagi yang dia lakukan untuk saya, adiknya. Tanpa minta apapun dari saya. “Kalo lo mau ngasi sukur, ga ya udah” ketika saya bertanya tentang biaya listrik di rumah atau di satu kesempatan betapa seringnya saya berkata “oleh-oleh, ya” “mau doooooooonk” dan sangat sering juga dia membawakan oleh-oleh dan memberi. Dia pun tak pernah absen memberikan saya THR :) atau manalangi membayarkan benda yang ingin saya beli. Kakak ipar saya… Siapa yang rela mengangkut 3-5 rim kertas dari pasar pagi, ketika saya menitip, yang mengoleh-olehi saya tas ketika dia jalan-jalan, yang dengan mudah mentraktir saya, yang beberapa kali mengantar saya ke klinik ketika saya sakit, mencarikan tempat saya berobat, yang mengusahakan mencarikan makanan favorit saya ketika saya menitip ke mbak saya, yang rela ikutan bolos ngantor, ketika satu keluarga menjemput saya di bandara, membawakan tas-tas saya dan masih banyak lagi… Saya akui mereka pasangan yang cocok kalau urusan berbaik hati. Pasangan unik yang kerap membuat saya geleng-geleng kepala, dan seharusnya bisa berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terakhir, 3 keponakan saya, mereka selalu menangis, marah ngambek, tapi mereka tertawa dengan renyahnya, menggoda saya, menepuk-nepuk saya dari belakang ketika saya bekerja, ikut mengetik di komputer ketika saya pangku, bercanda, dan tentunya saya harus siap sedia kena ompol mereka dan menyeboki di kala mereka buang air. Ibu, mbak, kakak ipar dan 3 keponakan saya memberi begitu banyak, sementara mereka hanya meminta sedikit pengertian saya, betapa pentingnya kebersamaan, kehangatan keluarga. Mereka tak pernah menuntut saya. Nggak pernah. Mereka memfalisitasi diri saya, cpu yang saya cicil dari ibu yang sudah menalangi terlebih dulu, meja komputer yang fungsional sehingga tidak terjangkau bayi-bayi manis di rumah, meja tulis yang dibelikan ibu, pemasangan internet atas inisiatif kakak ipar sehingga bisa dapat paket murah, mesin faks punya kakak tapi juga bisa saya gunakan. Apa lagi??? Mereka hanya minta space sedikit di ruang saya untuk bermain, untuk menaruh barang dagangan kakak, tidak lebih. Mereka juga hanya meminta space sedikit di hati saya untuk “mengerti”. Mereka hanya minta sedikit waktu saya untuk pertolongan sesaat, mengajak bermain ketiga keponakan saya. “Hmmm…, bukankah berbagi itu indah?” Sekarang, di tengah penuhnya rumah ini, di tengah banyaknya barang-barang di ruang tamu, dari motor, mainan keponakan, kereta bayi, dan buku cerita fikri di atas meja kerja, saya menikmati kenyamanan dan kehangatan dengan perasaan lapang. Mengapa saya harus kesal hanya dengan kebisingan sesaat, kebisingan yang mungkin satu saat nanti akan saya rindukan , keramaian di pagi hari, kehangatan makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan….. Mereka membagi begitu banyak kepada saya dan hanya meminta sedikit kepada saya, yaitu sebuah pengertian. Mungkin saat ini saya belum mampu sepenuhnya, tapi semoga saya bisa terus belajar untuk memberikannya…
Setiap jalan yang ditempuh untuk sebuah tujuan memang dilalui dengan proses. Niat awal dari perjalanan itu sudah baik, tapi dalam proses, banyak tawaran yang mengajak pada jalan yang tidak baik. Kamu mau ke sana, bebas hambatan, menggiurkan... atau ke sana yang penuh batu, duri, dll?
Disadari benar keadaan yang baik itu penuh dengan cobaan, penuh onak duri, berdarah-darah dan ada tangis. Tapi, itu murni jalan yang diridai Allah. Sementara satunya lagi adalah jalan yang menyenangkan. Tapi, jangan salah, ini jalan yang sesat. Terlihat lapang, tapi penuh jebakan. Terlihat gemerlap, tapi tidak meyakinkan
"Toh, sampainya juga sama"
"sama" dalam arti akan pada titik tersebut. Tapi, apakah yang didapat dari Allah juga sama? Apakah Allah akan menyamakan pahit getir berjuang di sana dengan yang menyenangkan, tapi tidak halal di satunya lagi?
Pilihan Kita kembali pada pilihan kita. Seringkali saya berpikir, misalnya, menikah. Menikah itu memang banyak sarananya. Bisa pacaran, bisa kontak jodoh, bisa taaruf dan lain sebagainya.
Tapi, apakah semua sarana itu dibenarkan oleh Allah. Dan yang manakah yang sebenarnya diridai Allah?
Kita memilih?
Di sini ada sebuah jalan di sini ada sebuah proses di sini kamu bisa belok ke kanan, ke kiri, kamu bisa menikmati enaknya anggur, atau merasakan pahitnya jamu. Di sana kau bisa menemukan temanmu yang mengajak mengaji, di sana ada temanmu yang membawamu ke diskotik. Di sana kamu disuguhi harta berlimpah, di sana kamu harus bersedekah.
Lalu, apakah bisa ketika harta berlimpah yang kita dapatkan di jalan sana, kita gunakan untuk besedekah? atau setelah ke diskotik, paginya kita solat subuh? Seperti halnya pergi haji dari hasil korupsi.
Setiap kita pada dasarnya menginginkan sebuah jalan yang lurus, tanpa ada hambatan dan gangguan, seperti jalan tol, tapi, tidak di Indonesia yang jalan tolnya aja masih bisa macet, ditambah kenaikan tarif 20%.
Tapi.. apakah dengan mudah Allah memberikan itu... tanpa kita berupaya keras?
Indahnya memiliki nurani, karena hati bisa terbagi, walau tahu Dia yang memiliki...
Sekadar perenungan di tengah malam yang sunyi setelah pengembaraan datangnya pemikiran dan hati... dan membutuhkan jawaban.
 | PATAH | Sep 9, '07 1:06 AM for everyone |
“PATAH” kunci yang saya gunakan untuk mengunci rumah patah. Saya kaget! Untung saja, belum terkunci, kalau sudah akan susah kembali membukanya. Saya perhatikan kunci yang patah itu. Kuat sekali tangan ini sampai bisa mematahkan kunci. Gimana, nih.. masak pintu ga dikunci? Mana udah malam lagi… Karena kesalahan saya itu dengan terpaksa saya musti tidur di balik pintu hingga esok. Hehehe, nggak segitunya, sih… tapi emang bener, saya ga tidur di kamar malam itu, tapi tertidur di ruang kerja saya, tak jauh dari ruang tamu. Ibu yang mengetahui kalau saya mematahkan kunci sama sekali ga marah, hanya mbak saya yang kaget. Kembali saya mengingat-ingat kejadian belakangan ini. Belum lama mainan keponakan saya yang kembar juga patah, rusak dan tak bisa digunakan lagi… mengingatkan saya pada beberapa waktu lalu pernah merusak mainan sejenis milik keponakan saya yang satu lagi. Terus, saya ingat pernah mematahkan keran di kamar mandi rumah, dan itu ga sekali, ketika acara tafakur alam beberapa waktu silan, saya mematahkan keran sekaligus merusak gagang pintu kamar. Mungkin masih banyak lagi kerusakan dan keusilan yang saya buat, tapi saya lupa. Tolong jangan bayangkan saya sebagai seorang wanita yang perkasa atau seperti Xena. Saya hanya wanita kutilang (kurus tinggi langsing).. hehehe. Entah kenapa tangan ini bisa begitu mudahnya merusak barang yang saya pegang. Apa karena benda-benda itu memang sudah aus atau saya yang memang selebor. Ini baru tangan yang dengan selebor merusak berbagai benda. Bagaimana dengan kaki saya, sudah ke mana saja saya melangkah, atau menginjak makhluk tak berdaya… atau tanpa sengaja menginjak kaki orang-orang. Bagaimana dengan mata saya, telinga saya… dan bagaimana dengan mulut saya… Astaghfirulloh…
rasanya baru kemarin aku menangis tapi tadi aku tertawa...
rasanya baru kemarin aku marah tapi tadi aku tersenyum bahagia...
Hati manusia begitu mudah berubah. Berbagai keadaan dan kondisi jiwa begitu cepat berubah, terus berubah dan terus...
Rasanya indah, bisa merasa sedih, bahagia, dan tertawa... Rasanya indah walau harus menangis, dikecewakan...
karena ada keyakinan dalam hati ini kalau tak selamanya...
Tak selamanya aku bersedih dan tentu tak selamanya aku juga bisa tertawa...
Lihatlah masa itu hari-hari kemarin yang mampu dilewati... yang mungkin tak kau percayai mampu untuk diatasi.
dewasa... rasanya kumulai tumbuh dewasa percaya rasanya kumulai yakin dan percaya diri cinta rasanya kurasakan banyak cinta dalam hidupku...
~~~~aku ingin katakan, kalian sangat berarti dalam hidupku~~~~
Alangkah nggak indahnya ketika segala rasa berubah menjadi pahit... Pahit yang sebenar-benarnya, pahit seperti rasa obat, jamu, atau pare.. pahit banget.
Segala rasa, seperti manis, asin, asem begitu masuk ke dalam mulut menjadi pahit. Padahal rasa pahit berada di pangkal lidah, tapi karena waktu itu baru aja pulih dari sakit, semua makanan dengan aneka rasa, berubah ke pahit... pahit banget. Bahkan rasanya ingin banget memuntahkan kembali makanan yang masuk ke mulut.
---------------------------------
Alangkah nggak indahnya kalau kita hanya bisa merasa satu macam rasa...
Alangkah nggak indahnya kalau hanya bisa merasa manis saja... atau asam saja, atau pedas saja... dan paling nggak indah ya kalau hanya rasa pahit saja... Ibarat hidup... ada yang sedih, riang, tawa, tangis... ibarat hidup yang tak selamanya manis Ibarat hidup yang tak selamanya sehat...
Bukankah kita sering baru menyadari "enaknya sehat" setelah merasakan sakit? Bukankah kita sering baru menyadari "hidupku bahagia" setelah kemarin menangis? Bukankah kita sering baru menyadari "mudahnya rejekiku" setelah kemarin bekerja keras?
*rasanya emang sakit dan pahit, tapi... harus dirasa karena nanti aku bisa mengecap rasa manis yang luar biasa...
TETAP SEMANGAT... 
Aku termasuk orang yang iseng. Eh, udah tahu, ya? dan suatu kali aku punya energi iseng berlebih... hehehe. 
Aku suka banget nginjek belakang sepatu atau sendal teman dari belakang. Abis gitu temenku kesel, tapi ga marah... dan sering banget aku lakuin... hehehe, iseng... padahal kalau aku sadar, itu bisa bikin rusak sepatu atau bahkan bikin sepatu/sandal copot.
Tapi, emang dasar iseng, aku tetap melakukan hal itu....
duh, maaf ya fren... aku udah kapok, kok... 
Kenapa aku bisa kapok?
Jadi, begini ceritanya. Suatu kali aku sedang jalan di Jalan baru Rambutan. Aku ga sengaja menginjak sendal/sepatu belakang seorang cowok di depanku. Sekali... dia nengok ke belakang... aku minta maaf, dan kemudian dua kali... cowok itu kesel dan nyuruh aku jalan di depannya... duh ...ampun, maaf, saat itu aku bener-bener ga sengaja. beneran.... duh mana di situ lagi, daerah yang cukup serem...
Trus, kejadian kedua. Aku baru turun dari metromini 52, aku kembali ga sengaja nginjek sendal/sepatu cowok di depanku. dia langsung nengok dengan tampang kesel... dan aku pun kembali minta maaf...
Duh.... serem euy...
Sebenernya, aku cerita begini itu cuma mau mengambil hikmah, sekecil apapun kita melakukan sesuatu akan dibalas. Ga hanya hal sepele yang aku ceritain tadi, tapi banyak hal...
Kan sering ya orang ngomong, kalau di Mekah, atau pergi haji baru deh kelakuan kita dibalas padahal ga usah deh jauh-jauh ke Mekah dulu, di sini juga kelakuan kita udah dibalas, sekecil apapun. Ya, nggak? Walau katanya emang sih kalau di Mekah dan sekitarnya pas pergi haji atau umrah akan dibalas. Hehehe, kayak pernah ke sana aja.... 
So, belajar dari pengalamanku... dan mengingatkan aku pribadi...kita lebih berhati-hati dalam bertindak... karena semenjak keisenganku itu, kakiku agak susah dikendalikan dan sering tanpa sengaja menginjak sepatu/sendal orang di depanku... padahal aku ga maksud, lho...
*novi yang lagi mencoba mengambil hikmah...
 | Ambruk | Aug 10, '07 2:43 AM for everyone |
Akhirnya, setelah sekian hari begadang.... setelah beberapa waktu memorsir badan supaya terus bekerja... mengejar target...
aku ambruk.....
badan panas tapi menggigil... kepala sakit banget... mulut kerasa pahit radang tenggorokan...
Ya Allah aku sadar tubuh ini bukan mesin... aku sadar aku lemah...
Ya Allah terima kasih, aku diingatkan kalau nggak kan aku akan tetap terus bekerja dan bekerja... mungkin ini istirahatku sementara, sambil menata kembali dan mengatur manajemen pekerjaan aku.
Alhamdulillah aku masih bisa merasakan sakit... walau ga enak...begitu banyak yang aku rasakan....
Aku mau istirahat lagi, ya... tapi, bisa ga ya... ada kerjaan kepending, neh
*ingat jangan lupa makan... or telat makan, jangan minum air es kalau capek banget dan jangan suka berpanas-panas ria...
Baru aja kemaren-kemaren dilanda perasaan ga jelas...hiy.;p Terus, kemaren dilanda rasa bersalah dan kesal...gara-gara milis dll ;p Tadi, bener-bener mentok....bangets untuk kerja (desain dll) dan nulis...
Sekarang.... aku udah kembali jadi novi...... Horeeee....hip-hip hura...
Wah begitu mudahnya hati ini berubah, yang kemaren-kemaren nelangsa, sekarang jadi bahagia...
Emangnya kenapa? Ga ada yang spesial... hanya sebuah kebahagiaan saja.... simpel... seperti kembali menemukan diri sendiri
bersyukur... memiliki berjuta teman yang baik hati, perhatian hanya sekedar sms, ym, telepon... so sweet
pupus rasa dan perasaan yang nggak aku mengerti... prasangka, kemarahan yang entah kenapa bisa hadir
tenang jiwa ini rasanya kembali tenang dan bahagia melihat berbagai sisi dalam hidupku yang penuh warna, penuh kejutan... dan penuh cinta.
Seperti kata mbakku, "lucu" hidupku lucu... selalu ada cerita, entah ketika aku pergi untuk ngurir, atau ketika aku bekerja di rumah......
Alhamdulillah.......... subhanalloh.........
kulihat matamu berbinar ketika kau bercerita tentang dia ---di sana ada cinta
kulihat semburat senyum ketika kau sebut nama dia ---di sana ada cinta
kulihat semu merah di wajah ketika dia hadir ---di sana ada cinta
kulihat dirimu bertingkah ketika dia di dekatmu ---di sana ada cinta
kudengar tawa berbeda kurasa riangnya hatimu apakah karena dia?
----------------------------------------
air mata itu meleleh... dari mata beningmu penuh luka
wajahmu merah padam bercerita tentang dia
terlukis seolah kejamnya dia tersakitinya dirimu...
tapi kulihat di sana masih ada cinta...
*sobat, maafkan aku, menghukummu dengan argumen nasehat tak berarti, semoga pelukan eratku dan tangisku untukmu bisa menghapus laramu...
 | Minder | Jul 9, '07 5:47 PM for everyone |
Minder itu penyakit bukan, sih???
Kenapa kadang muncul, kadang hilang...
Kadang merasa cuek, kadang ga bisa cuek
Minder pas ketemu orang-orang di atas langit... Minder pas ngelihat sesuatu yang ga bisa kita raih Minder ketika ga bisa
tapi ada positifnya... jadi mikir pengen terus maju... dan harus bisa
*CAIYO NOVI...
~ setiap pribadi dicipta memiliki potensi ~ setiap pribadi itu unik ~ setiap pribadi itu berbeda
wujudkan dengan: rasa syukur... rasa percaya diri rasa optimis
*Sedang berusaha memotivasi diri... subuh, 10 juli 2007
|
|