BUKAN DENGAN PENYESALAN
Noviyanti Utaminingsih
Andai aku tahu kalau momen wisuda adalah momen membanggakan terakhir dalam hidupnya...
Andai aku tahu keluarnya aku dari pekerjaan adalah sesuatu yang menyakitkan bagi dia...
Andai aku tahu naskah-naskah yang ditulisnya malam itu adalah naskah terakhirnya...
Andai aku tahu pada hari itu adalah pernyataan maaf terakhirnya kepada ibu...
Andai aku tahu.........
***
Bila kutahu bapak sangat bahagia ketika aku diwisuda...
Aku akan terus memerhatikan mimik dan cara dia menatapku dengan kebanggaan, menyimpan momen itu dalam salah satu lembaran terindah dalam hidupku...
Bila kutahu ketika kuputuskan keluar dari pekerjaan adalah hal yang menyakitkan...
Aku tak akan keluar dari pekerjaan, menyingkirkan rasa egois dan bertahan di tempat yang kurang aku sukai demi senyuman kebanggaannya...
Bila kutahu naskah itu adalah naskah terakhirnya...
Aku akan memegang erat naskah itu dan menuliskan dengan sebaik yang aku bisa. Tak akan menunda tugas-tugas yang diberikannya dan berusaha untuk tidak mengecewakan karena keegoisan dan kemalasanku...
Bila kutahu ucapan maaf pada ibu adalah pertanda...
Aku akan memeluknya erat dengan penuh rasa cinta kasih dan tidak akan membiarkan dia pergi...
Tapi aku tak tahu dan tak pernah tahu kalau hari itu dia akan pergi untuk selamanya...
***
“Bapak, sudah meninggal, Nop” Ujar buleku saat itu di ruang resustasi, IGD, RSCM Jakarta. Baru saja aku mengambil sarung di tas yang aku letakkan di sudut ruang itu, bapak sudah menghembuskan napasnya untuk terakhir kali. Aku cuma diam tak percaya, seolah bumi berputar begitu cepat. Ingin rasanya pingsan. Aahhh..., tapi belum berapa detik aku merasa terhempas dari tubuhku, kakak perempuanku, mbak pipit, sudah memanggilku
“Nop, ibu, Nop....” Aku pandangi ibu yang terus berucap “Bapak baik, ya Nop, bapak baik...” Aku hampiri beliau yang tengah terduduk. Menenangkan dirinya. Saat itu, aku seperti tidak punya waktu sendiri tenggelam dalam kesedihanku. Aku melihat semua orang di ruang itu, ibu, bude, pakdeku, kakakku yang tengah bersedih dan terisak-isak.... Aku seperti tidak bisa merasakan kesedihanku. Aku dalam kesadaran menatap semua orang menangis, aku sendiri seperti tidak mampu. Ya Allah kuatkan aku...
Ya Allah, beliau benar-benar sudah pergi... begitu cepat, sangat cepat padahal baru tadi pagi bapak berpamitan...
***
“Nov, ayo makan” ujar tetanggaku. Dari semalam aku sudah tak makan. Aku tidak bisa makan. Kuterima makanan itu dan mencoba melahapnya. Sesekali teman-teman menghiburku dan mengajakku bicara.
“Lihat Novi begini, jadi tenang...”
“Alhamdulillah, lihat Novi kuat, ya..” ujar temanku saat itu.
Seandainya kamu tahu, kawan...hati ini begitu rapuh, tak kuat, bukannya aku tak rela, tapi aku justru merasa bersalah karena telah banyak mengecewakan beliau... ahhhh seandainya waktu bisa terulang, harapku.
***
Sepeninggal bapak, hari-hari yang kulalui terasa panjang, setiap detik waktu yang kulalui hanya berisi penyesalan.
Kalau di mata orang aku sepertinya sanggup dengan ketegaranku. Dalam kesendirian, aku benar-benar terpuruk, aku mengingat dan terus mengingatnya... Iseng-iseng menelpon ke hp-nya dengan sebelumnya mematikan hp tersebut agar aku bisa mendengar suaranya pada mailbox. Terbayang wajahnya, senyumnya, ketegasannya dengan sangat jelas.
Terbayang dirinya yang tengah bekerja, pulang pergi dengan motornya ke sekolah tempat beliau mengajar. Terbayang dirinya tengah menulis naskah, duduk di depan meja, sambil sesekali membaca dan bertanya. Terbayang dirinya ketika kami solat berjamaah, terbayang dirinya dengan baju koko, sarung dan peci menuju masjid, tak pernah ketinggalan mengikuti jamaah solat wajib.
Sosoknya benar-benar selalu hadir, semangatnya pun masih bisa kurasakan. Bekerja sebagai guru SD hingga uban mulai memenuhi rambutnya, menjalankan usaha bisnis buku pelajaran yang akhirnya gulung tikar, menulis berpuluh-puluh naskah buku pelajaran, walau ada beberapa tanpa namanya, mengkoordinir para guru untuk menulis, berceramah di masjid, bersekolah S1 di usianya yang sudah tidak lagi muda. Aktif di beberapa organisasi. Pergi malam-malam untuk belajar bahasa arab dan segala kegiatan lainnya...
Wajahnya yang begitu keras namun penuh dengan kewibawaan, berkesan galak dengan alis tebalnya yang menghias wajahnya namun juga penuh senyuman.....
Dia bapakku, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, aku begitu mengaguminya dan mencintainya, walau aku sadar kalau aku pernah tidak menyukainya karena kegoisanku. Kini, aku hanya bisa menyesal, ternyata aku pun banyak mengecewakannya. Waktu menjawab kalau dia menginginkan yang terbaik untuk aku, untuk kami...
Kenapa aku baru menyadari semua yang telah beliau lakukan pada kami setelah dia pergi...
Kenapa aku tak pernah memberikan yang terbaik untuknya, aku lebih sering menuntut dan menuntut...
Kenapa, ya Allah...
***
Hingga setahun setelah kematiannya...
Nanar mata ini menatap perempatan Jalan Matraman dari jendela bis saat lampu merah. Kalau kemarin, ketika aku harus memburu waktu, aku akan kesal dengan lampu merah yang seolah cepat sekali datang. Akan tetapi, hari ini...kubiarkan diriku larut dalam lamunan menatap secara detail jalan, sisi jalan, trotoar sambil terus berpikir. Dimana dia? Bagaimana bisa terjadi?
Fiyuhhh......setahun sudah kejadian itu, masih saja aku larut dalam rasa sesal...rasa sedih dan rasa kehilangan... terus kuperhatikan jalan itu, trotoar pemisah jalan...4 arah yang mengelilingi jalan... Di sinilah bapak mengalami kecelakaan...yang merengut nyawanya... ya Allah.....membayangkannya saja membuat hati ini makin sakit, mengingatnya membuat hati terasa tercekik dan aaah.... aku tak kuasa menetes air mata, menebak-nebak kejadian itu. Siapa yang sangka setahun setelah kejadian, aku harus melalui jalan ini dua kali sehari setiap harinya.
Kenapa Allah membiarkan aku terus mengingat dia dalam rasa sesal, terus menunjukkan kehadirannya dengan rasa sedih
***
“Di depan mataku, Nov, ayah kena serangan jantung, aku sama ibu bingung, di depan mata aku saat kita sarapan” ujar temanku bercerita tentang ayahnya yang meninggal belum lama ini.
Ya Allah, ujianku tak seberapa, tak Kau biarkan aku melihat bapak dalam kesakitan, tak Kau biarkan aku melihat dia dalam keadaan seperti itu... Kau justru memperlihatkan kepadaku ketika dia tersenyum...
Aku pun teringat ucapan ibu, “Kasihan kalau anak-anak masih pada kecil pas ditinggal bapaknya. Alhamdulillah anak-anak sudah besar-besar, sudah pada kerja...” Aku teringat temanku yang ditinggal bapaknya ketika masih kecil. Sama sekali tak dirasakan kasih sayang seorang ayah dan aku pun mengingat kembali cerita-cerita teman-teman yang ditinggal orang tuanya...
Kami sangat beruntung, masih merasakan limpahan kasih sayang dan materi dari bapak. Aku dan kedua kakakku bisa kuliah dan kehidupan kami, insya Allah berkecukupan, bapak selalu berusaha keras untuk itu. Bahkan, hingga hari ini royalti buku pelajaran yang bapak tulis 4 tahun lalu masih mengalir kepada kami, mampu membantu kakak operasi sesar, menjadi modal usahaku kerja di rumah dan membiayai kuliah kakak laki-lakiku di Solo.
Subhanalloh.....Astaghfirulloh...... Dia pergi dengan senyum, dia pergi sehabis menjalankan tugas mulia di sebuah LPPTKA, dia pergi dengan mudah tanpa harus berlama-lama kesakitan ditempeli berbagai alat kedokteran, dia pergi meninggalkan kami tidak hampa dan yang terpenting dia meninggalkan dengan begitu banyak pelajaran untuk aku, untuk kami.
Tak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya. Bukankah hari ini aku telah mampu merasakan semangat dan cintanya dalam belajar, berkarya dan bekerja.
Saat ini aku telah bekerja, pekerjaan yang tak pernah jauh dari hal yang berhubungan dengan pengelolaan naskah, mengingatkanku pada semangat beliau menulis naskah buku pelajaran hingga larut, mengingatkanku pada saat aku mendampinginya, mengetik naskahnya, dan sedikit membantu mengeditnya. Mengingatkan aku pada ucapan beliau kepada ibu beberapa waktu sebelum meninggal, ketika hingga malam, bapak masih saja berkutat dengan naskahnya... “Yang penting saya prestasinya aja.” Subhanallah, pak rupanya bapak tengah menghimpun bekal, mengumpulkan prestasi. Moga aku juga mampu.
Tanpa rencana, aku diberi kempatan untuk kuliah agama di sebuah pesantren terbuka, merasakan semangat belajar beliau semasa hidup hingga ajal menjemputnya. Begitu mudah kudapatkan buku-buku langka yang kubutuhkan dalam lemari bukunya.
Tak seharusnya aku mengingat beliau dengan penyesalan...
***
Kau biarkan aku selalu mengingatnya bukan untuk menyesal, tak rela dan terus menangisi kepergiannya, tapi kau biarkan aku untuk bersyukur karena pernah mendapat limpahan kasihnya yang selalu membekas di hati.
Kau biarkan aku terus mengingatnya ketika aku belajar, bekerja dan berkarya dengan semangat dan cintanya
***
Andai ku tahu...
mungkin aku tidak akan sanggup berdiri tegak saat itu,
mungkin aku tak akan mampu merelakan kepergiannya,
mungkin aku tak akan bisa mengambil hikmah atas semua,
mungkin aku tak akan mendapat pelajaran paling berharga dalam hidupku betapa cinta dan kasihnya begitu tulus dan mulia....
---Selesai---