novi khansa's posts with tag: jalan-jalan
|  | Ini foto2 ke ciwidey :D plus di pom bensin :D ada yang diambil dari kameraku dan diolah di soto sop :D
pkoknya aslinya mah keren banget,,, huaaaaaaaaa seneng :D |
|  | Jumat-Ahad acara keluarga sekaligus pure liburan, tanpa bawa kerjaan... bener-bener jalan-jalan, makan, santai, tidur... silaturahim untuk acara keluarga dan yah refreshing....
berangkat pukul 10 malam ke Purwokerto, Banyumas... cari penginapan, acara keluarga, balik istirahat, jalan makan, dan ketemu bebek bakar, sampai ahad paginya balik lewat Bandung, sempat mampir makan siang di Nagrek dan sebelum magrib sampai pondok gede... makan, tidur, istirahat sebentar, pulang ke pondok kelapa, sampai rumah setengah 9, bekerja untuk deadline senen....
:) senennya.......sampai sore berkutat-berkutat...sampai hari ini :)
**** sejauh mata memandang, kanan kiri sawah, ga jauh dari itu ada gunung, pokoknya enak, sejuk, aman, nyaman dan hmmm desa gitu deh... jadi agak bingung juga pas cari makan karena begitu ketemu kota, berapa kilo, desa lagi... trus... jauh banget ke pusat kota... Seru-seruan cari penginapan dan akhirnya setelah petunjuk kilo meter menemukan penginapan yang lumayan nyaman dan dekat dengan tempat acara... dan pas pulamgnya sempet mborong tahu sumedang dan telor asin... yummy :) h,, thnks momy atas liburannya yang hampir tak bisa aku ikuti :D |
 ”Fatmawati” ”Fatmawati” Ujar si kernet bus. Bagai alarm, aku pun terbangun dari tidur sesaatku di bus. Bergegas berdiri untuk turun sambil meningkatkan kesadaran pasca bangun tidur ;) Satu tugas sebagai kurir harus kujalani hari ini. **** Semenjak bekerja di rumah, ada aktivitas yang menjadi sebuah keharusan buatku, yaitu menjadi kurir. Aku harus mengantar naskah print out berikut soft copy-nya ke klien atau penerbit yang memakai jasaku. Memang sih, ada penerbit yang mengutus kurirnya untuk mengambil atau mengantar order, tapi itu hanya satu. Selebihnya, aku harus mengantarnya sendiri, atau meminta tolong teman satu tim yang mengambilnya. Selain itu, kadang klien memang sengaja memintaku datang untuk mendiskusikan desain isi atau beberapa naskah yang tak bisa dibicarakan via telepon atau email. Yah, aku adalah kurir bagi usahaku sendiri. Aktivitas yang sudah kujalani hampir tiga tahun diselingi masa-masa kuliah dan bekerja di kantor. Kalau rata-rata para kurir menggunakan sepeda motor, aku hanya memanfaatkan jasa kendaraan umum, dari mulai ojek, angkot, mikrolet, metro mini, kopaja, dan bus. Ribet, sih, tapi Alhamdulillah, aku masih bisa menikmatinya hingga hari ini. Selain ga punya SIM, motor juga punya kakak, dan alasan utamanya sebenarnya, sih... kalau naik motor aku ga bisa tidur :D Banyak pengalaman yang mewarnai hari-hariku, mendatangi tempat-tempat yang letaknya berjauhan. Ada yang di selatan, ada yang di timur....sampai ke Jawa Barat (Depok, maksudnya ;)) dan daerah yang kepleset dikit udah masuh Banten (Tangerang gitu, lho ;p). Pokoknya jauh dari ujung rumahku, hehe. Bahkan, beberapa waktu lalu aku pernah mengantar pekerjaan ke 2 kantor pemerintah (non penerbitan). Pemakai jasaku adalah satu staf kantor tersebut yang memiliki penerbitan. Beberapa kali aku mendatangi tempat tersebut. Yang pertama kantor di sebuah pusat kota, yang aku tahu cuma masjid yang sering ngadain acara mabit. Fiyuh, untuk masuk ke tempat ini, aku dan temanku musti melewati pengamanan berlapis-lapis. Padahal, waktu mabit di sana, aku bebas beredar, hehehe, karena saat itu lagi cari kamar mandi yang di mana-mana penuh. Dari mulai pos satpam kami sudah diminta menaruh KTP, dilanjutkan dengan perjalananan ke lokasi yang jauhnya amit-amit dan muter-muter, hingga kami harus telpon-telponan sama si bapak. Akhirnya, kami pun ketemu dan ngobrol-ngobrol soal naskah. Seingatku, dua kali aku ketemu dengan si bapak itu karena selanjutnya pengiriman via pos dan tak lama, si bapak ditugaskan ke Aceh. Tempat yang satunya tak jauh beda, tapi paling tidak aku tak perlu menaruh KTP di tempat satpam. Aku cukup melaporkan kedatanganku, kemudian naik lift menuju lantai tempat aku bertemu dengan klienku. Kadang sih ketemu, kadang aku cuma menitipkan saja ke satpam di sana. Namanya juga kurir ;p Dari dua pengalamanku menemui klien di gedung-gedung tinggi membuatku berpikir, mau serapi apapun aku berpakaian, tetep aja ga match dengan penghuni kantor, tetep aja kesannya kumuh, hehehe.. yah namanya juga kurir. Di jalan harus ketemu asap dan akrab dengan polusi. Jakarta gitu, lho?? :D Wah, kalau mengingat masa-masa mengantar pekerjaan ke kantor klien. Pasti ada-ada aja yang aku temukan di jalan. Yang jelas bukan duit ;p, hehehe... banyak hal yang membuat mataku terbuka dan tentunya lebih sering bersyukur... walau sering juga aku menemukan hal-hal yang bikin aku ketawa dan marah... Biasanya, saat pulang dari tempat klien, aku manfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Kadang ke toko buku, kadang main ke rumah teman, kadang saking capeknya aku memilih pulang... dan dengan aku menjadi kurir, aku jadi sering coba-coba rute perjalanan dan bus, tentunya dengan bertanya atau melihat-lihat jurusan bus... Cerita soal aku dipindahin dari angkot ke angkot, dari bus ke bus.. udah biasa juga gimana ngejar-ngejar bus atau jalan-jalan.... Persiapan dari rumah kudu mateng. Dari mulai ransel isi naskah dan dagangan ;), biskuit, air minum, buku bacaan...ga lupa sepatu sport buat jalanan becek dan terjal, huehehehe maka di mulailah perjalanan panjang... (hiperbolis, ya ;)) Fiyuh, aku pernah sampe deg-degan ketika pernah naik bus Lebak Bulus-Bandung yang lewatin UKI dan tol Jatibening (maksudnya mau turun di tol jatibening). Penyakit akut ”suka tidur di bus” bikin aku khawatir kalau harus kebablasan. Kalau sampai terminal dan sekitarnya yang masih Jakarta, aku masih bisa cari-cari dan tanya-tanya. Tapi , kalau sampai Bandung... itu kebangetan.....;p Duh, jangan sampe, deh... *** Ketika kamu membaca tulisan ini, mungkin saja aku sedang tertidur di sebuah angkot, atau sedang panik karena kebablasan sampai terminal atau nyasar ke suatu tempat... Untung aja aku kerja buat diriku sendiri, kalau ga, bisa-bisa aku udah dipecat dari kapan tahu :D
Kalau lagi pergi nggak nyasar, itu bukan Nopi, kalau nggak kebablasan, jelas bukan Nopi. Kalau "tidak mengkhwatirkan", itu juga bukan Nopi, Kalau mengerti daerah Jakarta dan tahu mana barat dan mana timur, itu jelas bukan Nopi... dan kalau ga ada cerita dalam setiap perjalanan ke mana pun, itu juga bukan Nopi... Tapi kali ini... :D jelas inilah Nopi, karena walau ga nyasar dan ga kebablasan... tapi salah naik bus :D ***
Terlihat dari kejauhan sebuah bus yang sangat kukenal. Yah, bus Primajasa. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00, aku harus bergegas karena ada janji dengan klien di daerah Cipete.  Setelah turun ke tol jatibening, aku segera mencari bus yang menjadi favoritku belakangan ini, ”itu dia” . Bus sudah hampir melaju ke luar area pemberhentian menuju tol. Aku berlari dan langsung naik pintu belakang tanpa tahu jurusan dari bus itu. Yang terpikir di otakku cuma bus prima jasa. Tapi, uuups... ”MERAK” tertulis di kaca depan bus yang kubaca terbalik dari belakang. Aku panik dan segera bergegas turun, padahal bus sudah berjalan tapi dengan kecepatan sangat rendah. Tas ranselku menyangkut di pintu bus, aku makin panik, ”aduuh, nopi bego” Fiyuh... Akhirnya tas ranselku bisa lepas dari pintu bus dan saat itu juga kernet yang masih di luar melihatku. ”Salah” ujarku nyengir bego. Kulihat si kernet hanya diam dengan wajah juteknya. Hehehe, ga tahu juga, sih apa memang wajah dia seperti itu... apa dia yang kesal padaku :D, yang penting aku ga jadi salah naik bus... Fiyuh... Aku pun berjalan dengan cueknya, tanpa peduli kalau ada yang melihat tindakan bodohku tadi. Udah ngejar-ngejar, eh turun lagi karena salah naik bus... :D Tak berapa lama, aku lihat dari kejauhan, sebuah bus prima jasa. Ga salah lagi, jurusannnya Lebak Bulus. Aku pun mempercepat langkahku dan tiba-tiba di sampingku seorang laki-laki yang kayaknya pedagang—dilihat dari apa yang dia bawa—menegurku. ”Mbak yang salah naik bus, ya?” Aku punya nyengir-nyengir ga jelas karena mikir ternyata ada yang ngeh juga dengan tindakan bodohku... ”Iya” jawabku “Emangnya mau ke mana?” “Lebak Bulus” jawabku masih nyengir, kali ini bercampur senang karena bus yang kunanti telah datang. Aku agak lupa kemudian berkata apa. Yah, kayaknya sih sedikit cerita kalau aku salah naik bus karena melihat itu adalah bus Prima Jasa.. heheh, curhat ;p Aku pun segera menuju bus dan masih kudengar si pedagang itu ngomong ”Lari-lari..” Alhamdulillah, hari itu aku bisa memenuhi janji untuk datang sebelum solat Jumat, hanya 2 menit lewat dari pukul 11.00 aku sudah sampai di kantor klien yang terletak di Cipete. Tak pernah tak ada cerita dalam pengembaraanku di Jakarta... hehehe.. :D
foto: penampakan Jakarta dari masjid PGC
Semenjak AC 132 dan Tunggal Daya lewat tol Cikunir dan udah ga lewat Tol Jati Bening, mau ga mau naik Primajasa yang dari Tasik, Garut atau Bandung... Emang sih lebih nyaman, santai dan aman , sampe-sampe sering kebablasan ke Lebak Bulus, padahal tujuan aku cuma sampe RS Fatmawati. 
Pernah tuh pas-pasin waktu biar sampe kantor klien cepet, eh malah lama karena musti puter balik dulu... wadoooo.... cape, deh 
Nah, belum lama aku baru tahu kalau dari Pondok Pinang bisa naik bus Prima Jasa ke Bandung, dst untuk turun di Pasar Rebo, Uki dan Tol Jatibening. Untuk pertama kalinya, seperti biasa, aku pun terlena dan tertidur dengan lelapnya sampai Pool yang di Cawang sambil terbengong-bengong... "Ini belum sampai Bandung, kan?"  Sebenarnya sempet bangun dikit-dikit dan kembali tidur lagi, hehe...
Akhirnya, setelah dari Pool yang di Cawang itu, aku usahakan untuk terus-terusan melek dan melawan hasrat tidur yang tak tertahankan, hehe, apalagi kenyamanan sangat menggoda sekali.
Perjalanan dari Cawang ke Tol Jatibening jadi mencekam (hahaha, hiperbola banget), tapi beneran, aku tuh sampe deg-degan karena takut ketiduran dan bablas. Kan ga lucu, masak harus bablas sampe Bandung, dan sekitarnya.
Emang sih aku udah sering kebablasan naik bus, angkot, mikrolet itu biasa, tapi gawat banget kalau aku harus kebablasan naik bus yang satu ini. Fiyuh...
Akhirnya, daripada parno, aku milih untuk turun di Cawang saja. Selain banyak teman turun, tidak seperti di Tol Jatibening, ongkosku lebih irit, hehe :D, Bayangkan Lebak Bulus-Rumah cuma 6.000 perak, apalagi pas kemaren, cuma 4.000 karena diongkosin temen 
Kayaknya makin seneng nih ke daerah Fatmawati, Pondok Pinang dan sekitar, *sambil lirik-lirik Pite 
foto: http://www.beijingolympicsfan.com/wp-content/uploads/2007/10/bj-bus.bmp (wedew parah banget tidurnya, gw ga sampe gitu, kok, tapi lebih parah :D)
Wisata buku (Pengalamanku di hari Kamis, 24 Januari 2008)
Siang yang terik, euy... Hmm kalau saja diri ini tidak dipaksa keluar dari ”goa” dan atau ada janji dengan seorang sahabat. Rasanya malas sekali melangkahkan kaki ini. Hari itu aku menjadi guide ”berbakat nyasar” dan dapat ”navigasi sesat” dari seorang yang bukan preman daerah sana. Piss, Bro ;) *** Setelah menemani sobat dan ditraktir makan siang, (thank u sist ;) sekitar pukul satu siang aku pun menyetop mikrolet menuju kampung melayu. Di pikiranku belum pasti akan ke mana. Sayang, kalau pulang, biasanya kalau sudah ke luar rumah, entah ada perlu, entah ke kantor klien, aku biasa memanfaatkan waktu berjalan-jalan. Biasanya, toko buku jadi andalan tempat jalan-jalan. Akhirnya, aku putuskan ke Gramedia Matraman. Perjalanan ke kampung melayu, melewati mini market langganan, jalan ke kantor mengingatkanku pada memori april 2007 lalu saat masih terakhir bekerja sebagai desainer grafis di agen desain. Walau cuma wajib stand by 3 kali seminggu, banyak kenangan dan pelajaran yang aku dapat di sana. Sebulan yang lalu aku sempatkan mampir dan hehe, sempat juga online di komputer boss. Terminal kampung melayu juga menjadi saksi saat aku mengejar jam-jam kuliah di pesantren. Pulang kerja lebih awal, atau sedikit meleset dan kemudian berlari menuju tempat kuliah. Tenaga sisa-sisa untuk mencapai kampus sarat ilmu yang kurindukan itu. Tidak mirip kampus, hanya rumah dengan beberapa ruang yang kelasnya bergantian dengan mahasiswi PGTK, tapi teramat banyak yang kudapat di sana. Thanks to asatiz di sana...  Tak lama berjalan, aku langsung melihat M01, kampung melayu-Senen. Semenjak ada jalur bussway menuju Kota, Senen dll. Perjalanan yang harusnya sebentar sempat tersendat. Bisa dibayangkan pada jam-jam sibuk, macetnya benar-benar tak terkira. Aku memang sengaja menghindari berjalan-jalan pada jam-jam sibuk. Hmmm, bisa ditebak jalanan Jakarta kayak apa. Macet sana sini. Saluuuuut, buat semua para pejuang-pejuang di Jakarta yang setiap harinya mampu menerobos kemacetan dan berbagai pulisi, ups, polusi. Aku berhenti di gedung nan megah lima lantai. Hmm, sepertinya sudah lama sekali aku tak mengunjungi toko buku yang satu ini. Terakhir, melewati masih dalam pembangunan, padahal sewaktu SMU, aku dan teman-teman sering ke sini. Ga beli buku, tapi ya lihat-lihat.
Niatku ke toko buku itu mencari contoh desain isi untuk buku yang akan aku seting beberapa waktu lagi dan tentunya refreshing dari segala kepenatan dan, hmmm, sekalian mencari peluang di tempat lain. Begitu memasuki aku tahu aku akan betah berjam-jam di sini. Yah, aku harus ingat, aku tak ada niat membeli satu pun buku di sini. Aku mulai menyusuri lantai demi lantai toko buku itu. Ketika menginjakkan kaki ke lantai 2, aku dapati sebuah buku yang judulnya aku kenal. ”Wah sudah jadi”. Sebuah buku hasil layout aku dan tim Khansa’. Sedikit mengintip, walau sebenarnya aku tahu isi bukunya seperti apa. Hmm, semenjak me-layout isi buku, kurang dari empat tahun lalu, aku selalu ingin tahu jadinya seperti apa buku yang aku setting. Sekaligus menengok nama aku dan tim di halaman copyright. Yeah, itu adalah salah satu rutinitas pasti kalau aku bertandang ke toko buku. Bisa menjadi ”energi” tersendiri bagi aku yang telah memilih ”zona tidak aman”. Satu demi satu rak aku telusuri. Aku sampai lupa kalau harus menengok desain isi buku. Yang aku perhatikan justru layout isi, nama layouter dan lain-lain, hingga aku menemukan nama yang familiar di ingatanku. Penulis nge-layout buku... wow, nambah saingan, nih. Kalau penulis aja bisa nge-layout buku, kenapa layouter ga jadi penulis aja, hehe, peace... Aku masih berkeliling menyusuri rak-rak buku, hingga mulai aku rasakan pegal di kaki. Kursi-kursi di sisi-sisi rak hampir semua terisi. Hmm, ga ada kesempatan untuk duduk, donk. Tak lupa aku susuri rak-rak buku pelajaran. Sudah beberapa buku bapak tak ada lagi di sana. Konsekuensi menulis buku sekolah, musti ikut kurikulum yang bergonta ganti. Mengingatkanku akan tugas akhir di kampus. Aku coba meneliti kurikulum sebagai penunjang aku memilih kasus peranan editor buku sekolah. Sebelum meninggal, bapak sudah sempat merevisi sebagian, tapi tak sampai... Aku pun coba mencari buku yang masih direvisi kakak, tapi tak nampak. Rupanya penerbit tak menyalurkan ke toko buku ini atau memang sudah habis. Entahlah. Sampailah aku di deretan rak-rak buku Chicken Soup. Sejak menamatkan Chicken Soup for the Writer’s Soul, aku kembali tertarik untuk mengintip Chicken Soup yang lain mengingat Chicken Soup-ku yang pertama yang dibeli sewaktu kuliah telah raib. Akhirnya, aku menemukan sebuah Chicken Soup yang sangat menarik hati. Tentang ayah, judulnya sangat eye catching buat aku. ”Gadis Kecil Kesayangan Ayah”. Aku letakkan kembali ke rak buku, sambil mengingat letaknya. Yah, mungkin aku akan membelinya. Di dekat sana, aku juga melihat dua buku hasil karya Pak Teha. Wow, Guru SK yang satu ini memang hebat, euy ;)  Aku menuju lantai paling atas yang didominasi buku anak-anak. Beberapa waktu lalu, Fikri sangat suka membaca. Akhirnya, benteng pertahananku rubuh demi keponakanku yang ganteng ini. Alhamdulillah, Fikri sudah lancar membaca, walau masih susah melafalkan huruf ”r”. Pernah suatu kali, Fikri tertidur setelah membaca buku. Di sampingnya buku-buku berserakan menemani. Aku meraih dua buku untuk Fikri setelah menimbang-nimbang, dia harus mendapat bacaan yang sehat. Kemudian, aku raih majalah yang aku duga, pasti disukai Fikri. Hmm, masih dalam batas normal, pikirku menengok buku-buku tipis buat Fikri. Tapi, ketika aku menuju rak ujung, aku langsung tergoda. Wah, bukunya Jacqueline Wilson. Ada lebih dari 3 buku terpajang di sana dan kembali meruntuhkan pertahananku. Sejak membeli The Lottie Project di Trimedia ketika diskon dulu, aku langsung suka dengan tulisan Jacqueline Wilson. Lucu, enak dan penggambaran sosok anak kecilnya oke banget. Selain itu, layout isinya keren. Image dalam buku di-text wrap sehingga tidak membuat lelah. Gambar-gambarnya berupa tokoh dan kejadian. Kartun yang lucu walau sederhana.  Akhirnya, aku meraih 2 buku. Yah, gapapa, deh, buat hiburan. Judulnya The Suitcase Kid, tentang anak korban perceraian yang tiap pekan harus pindah dari rumah ayah ke rumah ibunya yang telah memiliki keluarga masing-masing. Buku satu lagi judulnya The Worry Websites, Situs masalah untuk curhat dan kemudian dicari solusinya bersama. Semua kisah disajikan dengan ringan dan tak memberatkan, tapi juga sarat hikmah. Sebelum sampai kasir, aku melirik 2 puzzle untuk si kembar. Jadilah, kini belanjaanku mencapai angka sekian.... dan tidak terprediksi. Tapi, hmmm, gapapalah, berarti aku musti melakukan pengiritan lagi, hehe. Tak berapa lama aku segera turun dan aku tak tahan untuk tidak mengambil Chicken Soup tentang ayah. Fiyuh, aku harus pulang ketika aku mulai tergoda lagi melirik 2 novel keren terbitan Bentang dan 1 novel yang aku prediksi isinya sedih melulu, tapi bikin mupeng. Tampaknya, aku musti me-list buku-buku yang aku inginkan—termasuk Harry Potter—dan mulai menabung. Menuju lantai 1, aku mencari-cari selotip dan sampul buku. Aku raih segulung sampul, benda yang menjadi favoritku. Yah, aku sangat suka menyampul buku. Senyumanku mengembang mengakhiri ”perburuan” yang menghasilkan satu kantong penuh buku. Hiburan bagi hati yang penat dan rindu bermimpi. Aku bayangkan Fikri pasti senang dan menyukainya. Aku sempatkan menelepon rumah setelah HP-ku mati saat ”perburuan” berlangsung Mengabarkan ”perburuan” buku untuk si ganteng Fikri. Hmmm, tinggal aku yang akan bingung nanti kalau ditanya ibu. ”Lha, Nop bukannya ga ada duit”, hehe. Tapi, tampaknya ibu tak terlalu memerhatikan. Beliau hanya menegur, ketika melihatku memboyong setumpuk buku untuk disampul, ”Segitu banyak belinya”. ”Ya, nggaklah” jawabku tanpa memberitahu berapa buku yang aku beli. Aku ga boong, kan... (soalnya selain buku yang aku beli, aku juga bawa setumpuk buku yang belum disampul
gbr: - buku layoutan, ga nemu buku yg dibeli, jadi narsis aja, hehe - tanda pengenal yang narsis ;) - sudut pesantren - penampakan cililitan dan sekitar ;) - desain dan layout isi khansa - me & the lottie project - fikri - ketika menyampul buku ;)
Dung... jangan mikir jalan-jalan enak, deh... cuma sebatas Jabodetabek, kok... bener, deh. Yang penting jalan...
Dari hari ahad kemaren sampai ahad ini. Dari ketemuan sama klien, nganter job, sekadar silaturahim, sampai kondangan di Rempoa, yang jaraknya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh banget.
Kalau ahad kemaren ke Cipete untuk diskusi dengan klien dan sorenya halal bi halal di rumah mbak Tania... dan again... karena diturunin di jalan sama sopir 75, saya kembali nyasar saudara-saudara... dan karena malas lagi nyari, ojek, deh jadi jawaban... hehehehe..langsung sampai tujuan. Sampe sana acara udah hampir selesai, atau udah selesai, ya? Tapi, tetep kebagian bakso cinta yang enak banget... Abis itu ke stasiun pasar minggu dan sempet-sempetnya foto-foto di pinggir rel.... Ga bawa kamera, sih. Jadi, postingnya nunggu yang punya kamera, posting... heheheh.... Trus, malamnya jalan-jalan ke Monas... Ikuuut...  
Senin sampai Rabu, berada di Goa... Ga ke mana-mana... Bener-bener melekat di kursi untuk ngerjain deadline yang kejar tayang... Dan berhubung butuh kenyamanan, kursi di ruang tamu pun diboyong untuk dipakai. Yah, ini demi kenyamanan bersama, walau jadinya, bisa juga tertidur di sana...
Kamis baru keluar dari Goa untuk antar dan ambil naskah.. Kalo ga salah, waktunya berbeda... Niatnya, sih mau sekalian makan bubur, tapi apa mau dikata... ujan... ga jadi, deh.. Padahal, sekalinya keluar biasanya dimanfaatkan banget untuk makan, jalan. atau apalah 
Jumat yang niatnya mau ke mana-mana pun ternyata sukses ketiduran... hehehe
akhirnya, Sabtu keluar dari rumah cukup jauh, ke ciputat dan mampir di kos teman di radio dalam sampai magrib. Untuk mencapai tempat ini aja... ada banyak godaan untuk kembali pulang karena, emang ga tahu lokasi... tapi yah itu udah biasa . Walau sering nyasar, tidak membuat diriku kapok ke tempat-tempat baru... Kan bisa nanya, bisa nelepon , dan bisa nepi di mana, kek. Walau hujan menghadang, walau panas, walau capek... Akhirnya, aku sampe juga di kosmu, mbak.... senangnya melihat dirimu sehat. 
trus ke blok m cari kado... dan guest, kembali jadi anak hilang di blok M . kini sasaran tempatnya adalah Blok M Mall.. hehehe, untung saya ditemukan sama temen. "Ya, udah lo diam aja ya di sana, Gw yang ke sana" ucap teman saya di telepon. Saya pun nurut diam di tempat karena saya percaya, teman saya itu bakal nemuin saya. Saya justru ga percaya kalo saya sok-sok untuk cari dia...hehehehe.
Muter-muter cari hadiah buat sang calon pengantin, dan jatuhlan pilihan pada....... (ada, deh). Akhirnya, ada juga di antara kami yang nikah. Yang jelas seneng banget, nih.. dan yah seperti biasa topik kembali ga jauh soal nikah. "Ya udah gw 2009, deh" ujar saya.. "Oh, berarti gw duluan ya, gw 2008" balas teman saya... Hhehehe, kalo ada sekarang, juga bisa... masalahnya yang kemaren cuma numpang lewat doank....
Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar dan sempet bahas bisnis dan kerjaan, kami pulang, sebelumnya, sempat mampir juga ke ATM. Akhirnya, punya duit juga.. hehehe, pas banget awal bulan, yang mesti bayar cicilan sana sini... Teman saya yang bawa kado memilih naik taksi, sementara saya mesti jalan ke terminal. Sebelumnya dia sempet kuatir juga... "Lo tau terminal, kan?" "ga." jawab saya... Hehehe, jujur saya ngarep bareng dia sampai terminal dan maksimal ditungguin sampai dapat mobil seperti biasa... hehehe., tapi berhubung ada kado yang mesti di bawa ya udah deh... jalan sendiri ke terminal blok M. "Tuh, yang di sana, tuh yang ada lampu nyala-nyala dan banyak mobil masuk" pesan temen saya... "Ok, deh..." Sampai rumah sekitar jam setengah 11 malam. Sebelumnya, sih udah bilang orang rumah. Dan, seperti biasa, saya bebas, mau pergi ke mana aja, mau pulang jam berapa, dan lain-lain, asal ada kabar. Asal yah, tahu diri dikit, lah... hehehe...  Pekerjaan udah menunggu kembali...  Niatnya mau hadir pas akad, tapi karena menjelang pagi masih belum kelar kerjaanya, akhirnya baru bisa datang sekitar jam 2 siang. "Maaf, ya din... ini urusan kita juga, kok..." Senangnya lihat dini menikah... Mau nikah umur berapa, kek... tetep judulnya "pernikahan Dini" . Sempat foto-foto berkali-kali (teteup) . Sempat ketemu sama temen-temen kulian, temen-temen kantor lama, klien... seru euy. Pukul 3 meluncur kembali ke lokasi kondangan ke-2. Bener kata temen saya, ada apa sih dengan tanggal 4. Banyak banget nikah, banyak banget janur kuning... Hari ini aja ada 2. Ibunya Ade malah ada 3. Ckckckckkc.... Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi dengan modal tanya sana-sini, petunjuk dari boss, yang juga nganterin sampai naik angkot. Denah yang dikirim temen kelupaan dibawa. Modalnya, tahu angkot dan tahu tempat berhenti. dan ternyata........masuk ke dalamnya jauuuuuuuuuuuuuuuuuh banget.  Hari ini bener-bener lintas kota: Jakarta-Bekasi-Cilandak-Radio Dalam-Rempoa-Blok M-Bekasi-Jakarta... Rasanya lelah banget, tapi senang.
Ngerasa kalau silaturahim itu indah. Bisa hadir di acara temen itu seru, senang, apalagi lihat teman-teman pada bahagia. Jadi, tahu daerah yang belum pernah dikunjungi, walau harus nyasar, walau harus jalan... Hmm, pekan ini ke mana, ya? Yang jelas... ada di GOA
Diari Lebaranku, Mudik, yuk!
Noviyanti Utaminingsih
”Besok udah berangkat lho” ujar ibu kepada saya. Lantunan takbir mewarnai hari terakhir di bulan ramadhan, sementara saya masih saja sibuk mengurus pekerjaan. Saya belum beres-beres pakaian, padahal besok setelah sholat id, siangnya kami akan berangkat mudik. Seperti halnya beberapa tahun belakangan, kami lebih memilih berangkat mudik di hari pertama lebaran. Selepas sholat id, satu keluarga berkumpul, dan siangnya langsung berangkat. Bisa naik bus, bisa juga carter mobi. Untuk tahun ini, ibu sudah mempersiapkan lebih awal. Karena berdasarkan pengalaman kemarin, yang mendapatkan harga cateran mobil mahal dan perjalanan yang terlalu lama, ibu dan bule saya sudah memesan mobil untuk dicarter. Berbeda dengan tahun sebelumnya, saya dan ibu berangkat bersama keluarga bule saya yang berjumlah 5 orang. Jadi, lebih irit kan kalau bertujuh menggunakan mobil carteran. Selain itu, di sana kami bisa silaturahmi ke banyak tempat. *** Tahun ini hampir saja saya tidak ikut mudik. Pikiran saya saat itu masih iya atau tidak untuk ikut mudik ke kampung halaman karena ada beberapa pekerjaan yang belum selesai dan akan ditagih setelah lebaran dan beberapa pekerjaan liburan dari klien. Dua tahun lalu, saya tidak bisa ikut mudik karena ada pekerjaan mendesak, terpaksalah saya dan abang saya jaga rumah dengan tiap hari ada di depan komputer. Duh, tahun ini ga deh... masak iya di hari-hari libur begini saya masih harus nongkrong di depan komputer. Alhamdulillah, ada pekerjaan yang bisa dinegosiasikan dan ada pekerjaan yang saya delegasikan ke adik kelas di kampus. Sempat terpikir juga untuk meminjam laptop punya kakak, tapi hal itu saya urungkan, masak iya perjalanan mudik yang cuma 5 hari (sudah termasuk pulang pergi) harus saya isi juga dengan bekerja. Apalagi, ramadhan ini pekerjaan saya benar-benar padat. Alhamdulillah, dengan banyaknya pekerjaan, berati ada rezeki berlebih, tapi ups... ada lagi ujian yang harus saya lewati. Akibat menunda-nunda mengajukan nota tagihan ke klien, ramadhan ini, saya ga dapat pemasukan. Saya panik. Haduh, gimana ini? Masak iya saya ngarepin THR, dari siapa? Tapi rekening khusus transferan benar-benar nenipis adanya dana umat yang saya kumpulkan beberapa waktu lalu dan saya ga akan memakainya. Haduh, gimana ini, mana tagihan telepon dan listrik belum saya bayar, belum lagi infak dan zakat yang harus saya keluarkan dan paling nggak sebagai orang yang udah kerja, saya musti kasih salam tempel ke keponakan-keponakan dan sepupu-sepupu dekat saya. Dengan sangat terpaksa, saya pun meluncur ke bank untuk mengambil tabungan saya. Tabungan yang akan saya gunakan untuk cita-cita saya nanti. **** Perjalanan mudik tahun ini lebih nyaman dan lebih menyenangkan. Pikiran saya dipenuhi banyak hal untuk me-refresh otak pikiran dan hati saya. Saya sudah membayangkan hal yang indah di sana. kampung halaman yang masih hijau, udara yang masih sejuk. Pohon-pohon yang rindang, jalan setapak menuju swah dekat rumah mbah saya. T idak harus memelototi huruf demi huruf di depan komputer, mengatur halaman, pusing dengan file yang rusak dan pernak-pernik lainnya, Apalagi, di kedua tempat yang biasa kami inapi tidak tersedia TV, radio pun radio zaman belanda, hehehe, plus tanpa mesin cuci dan alat elektornik lainnya. Kalau mau hiburan, saya cukup ke halaman belakang dan berjalan dan dekat pohon bambu saya akan menemukan perkebunan ataupun sawah. Rasanya damai dan menyenangkan *** Hari pertama lebaran, sekitar jam setengah 12 malam kami sampai di desa Senggrong, Andong, Boyolali. Besok paginya kami harus sudah mengikuti acara kumpulan satu mbah buyut di desa Kacangan. Yah, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada acara sosialisasi tiap bani dan hiburan dari anak-anak TPA dari yaysan tersebut. Saya beberapa kali tertidur dalam acara itu. Duh, maklum, ya ritme kerja di rumah yang biasanya lebih sering melek malam-malam berpengaruh pada saat pertemuan. Saya tertidur dengan suskesnya di ruang tersebut. Di tengah hiruk pikuk acara tersebut, saya bener-bener damai. Saya terbangun ketika acara salam-salaman dan makan siang. Sepupu saya bilang, beberapa kali saya kena snap shot ketika tidur, ibu saya bahkan mengatai saya dengan, ”kamu dari tadi manggut-manggut dikirain ngerti atau setuju, ga tahunya tidur”, heheheheh...maaf, bu... ngantuk. Hari kedua diisi dengan perkumpulan satu mbah di rumah pakde saya. Jumlahnya memang tak sebanyak peserta di acara satu mbah buyut, tapi tetap saja saya tak mampu menghafal nama-nama saudara saya itu. Kakek saya memiliki dua istri, dan memiliki total anak 15 orang. Dari 15 orang, rata-rata ada yang sudah punya anak dan cucu yang banyak. Jadi, saya Cuma pasang tampang nyengir aja ke saudara-saudara saya. Tak lupa saya juga sungkem ke pakde-pakde saya. ”Mau minta doa apa?” tanya pakde saya. Saya Cuma diam. ”Doain, ya supaya dapat jodoh” ujar beliau. Saya Cuma bisa nyengir. Terserah, deh pakde... Saya jadi ingat, saat itu biasanya, ibu-ibu kami mengenalkan anaknya, apa masih kuliah atau sudah bekerja. Anehnya, berkali-kali, ibu mengenal sepupu sepantaran saya yang pegawai negeri. Terdengar bangga sekali ibu saat itu. Saya pun Cuma bengong. Lho, anaknya sendiri kok ga dikenalin. Apa ibu emang ga bangga sama saya atau ibu takut orang-orang ga ngerti apa pekerjaan saya. Apa desainer grafis? Apaan tuh? Gratis? Gubarak.... Akhirnya, dengan terus terang saya pun bilang. ”Ibu kok ngenalin si vemy terus sih kalo dia pegawai negeri...anaknya sendiri gimana?” Hehehe, setelah ngomong begitu, ibu pun tak lagi menyebut-nyebut ”pegawai negeri”. *** Hari ketiga saya dan ibu menuju kampung almarhum bapak saya di kaligawe, Klaten. kalau kampung ibu saya masih cukup dekat dengan pasar, kampung bapak saya itu benar-benar jauh sekali, hampir dekat dengan gunung. Sewaktu gempa, desa tersebut juga terkena efek yang cukup parah. Jalan-jalan retak dan beberapa rumah juga ada yang rusak, tak terkecuali rumah mbah saya. Di rumah ini, lagi-lagi saya menemukan kedamaian. Sepi, baru beberapa jam di sana, saya sudah mulai bosan. Yups, sama dengan di rumah mbah saya di Senggrong, di sini pun tanpa TV, saluran telepon apalagi koneksi internet. Sinyal hp saya pun datang dan pergi hingga saya mesti berjalan-jalan ketika menelepon teman saya. Tapi, rupanya saya menemukan sesuatu di sini. Yups, dalam sunyi dan sepi ada banyak inspirasi yang saya dapat. Di sini saya bisa terus menulis, mengambil gambar kesederhanaan yang saya lihat dari kayu bakar untuk memasak, lemari kayu, bentuk rumah Jawa pada umumnya yang terlihat kokoh dan asri.  Sama... memang segalanya masih sama, setiap saya pulang ke kampung halaman orang tua saya. Dari mulai acara-acara yang mesti diikuti, tempat-tempat yang harus didatangi. Tapi, tetap saja saya menemukan banyak hal baru. Kenyamanan dan ketenangan plu s kesejukan alami yang kadang tak saya dapatkan di rumah kami di Jakarta. Apalagi, kalau ingat perjalanan kami ke Klaten, Solo hingga balik lagi ke Boyolali. Lancar dan bebas hambatan. Padahal, jarak tiap kota lumayan jauh. Hmm, kalau di Jakarta, sih... lewat tol juga masih macet. Senangnya melihat pemandangan di jalan-jalan kota Solo. Bangunan-bangunannya, ciri khasnya dan banyak lagi. Walau sudah berdiri Mall di sana, tidak sebanyak Mall-mall di Jakarta. Melihat becak melintas di depan saya ketika saya berdiri di depan Dep. Store Matahari di Klaten. Jalanan tak terlalu ramai dan sangat tertib. Saya juga melihat sepeda yang hilir mudik tanpa mengganggu arus jalan raya di sana. Walau hanya beberapa hari dan esok saya harus pulang ke Jakarta, saya begitu menikmati libur lebaran kali ini. Yups, Rabu pagi sekitar jam 6, kami harus segera berangkat. Saya tak melewati perjalanan panjang Boyolali-Jakarta. Setiap melihat ke kanan dan ke kiri, pemandangan indah menemani kami. Hijaunya sawah yang terhampar luas, pepohonan dan rumah-rumah sederhana yang ada di pinggir-pinggir jalan. Sempat tertidur beberapa kali dan kembali bangun dan disuguhkan mozaik kehidupan yang begitu cepat. Dari pedesaan yang indah dan sejuk menuju perkotaan yang diwarnai pemandangan gedung-gedung. Kendaraan hilir mudik mewarnai jalan. Tetap lancar tanpa hambatan walau bukan di jalan tol. Saya perhatikan plat nomor di mobil-mobil yang lalu lalang. B. XXXXX. Wah rupanya banyak orang Jakarta yang mudik ya, dan banyak juga yang sudah menuju arus balik seperti kami. Tidak hanya mobil, banyak juga motor-motor yang berplat nomor B menuju arah yang sama seperti kami. Terlihat sekali kalau mereka juga pemudik dari bawaannya. Kreatif, hingg menambahkan kayu-kayu di kursi belakang motor mereka. Saya jadi ingat, ketika diantar kakak saya ke masjid untuk iktikaf di malam ke 29, kami sempat berpapasang dengan para pemudik yang berkendaraan motor di kali malang. Tiada kata selain salut buat mereka. Angin yang dingin, hujan, kekakuan saat berkendara jadi tantangan bagi mereka. Belum lagi, motor bebek tidak menyimpan bensin yang banyak, jadi harus sering-sering ke terminal SPBU. Hmmm, saya jadi ingat artikel yang jadi referensi almarhum bapak saya ketika menyusun skripsi, ”Tradisi Mudik Tak Bisa Dihilangkan”. Bagaimana diungkapkan kalau dengan mudik bisa menciptakan suasana religius bersama sanak famili. Yups, Walau secanggih apapun tekonologi sekarang hingga melintasi dunia, tetap saja para perantau mengusahakan untuk mudik di hari raya. Rela berkorban kelelahan hingga berjam-jam naik kereta, bus, pesawat ataupun kendaraan pribadi hingga naik motor yang cukup beresiko untuk bisa sungkem kepada orang tua dan bertemu handai taulan di kampung yang pernah menjadi saksi awal kehidupan mereka. Sekarang, saya sudah berada di Jakarta, tapi kenangan berlebaran di kampung masih memenuhi ruang di otak saya. Lebaran tahun depan pasti saya akan menanti kembali saat-saat mudik ke kampung halaman. Tentunya, saya akan menemukan banyak hal di sana...
--------------SELESAI--------
O..ow kamu ketahuan pacaran lagi, dengan si dia teman baikku” Penggalan lagu yang nggak saya ketahui nama penyanyi itu menemani perjalanan saya dengan mbak Lia dan meli. Perjalanan yang melelahkan menuju Bogor karena kami harus tertinggal 2 kereta, satu di antaranya sudah di depan mata kami… Kemudian, ketika menaiki kereta yang ke-3, kami harus mau dialihkan karena ternyata kereta tersebut ingkar janji, tidak sampai Bogor, tapi balik lagi ke tanah abang dari stasiun depok. Lagu itu terus mengalun dengan berbagai versi, dari mulai versi band aslinya, versi dangdut sampai versi pengamen di atas kereta. Gawat, nih, udah berapa kali denger lagu itu, bisa-bisa aku hafal lagi… *** Saya masih di depan komputer ketika mata ini menatap ke pojok kanan bawah monitor, jam telah menunjukkan pukul 5.32 AM. Karena keasyikan dan biar bisa tenang berangkat ke Bogor, saya berusaha menyelesaikan pekerjaan yang telah ditanyakan penulis hari Sabtu. “Kamu, berangkat, Nop?” Tanya ibu. Mungkin dipikirnya karena Saya begadang semalam, aku ga akan pergi ke Bogor. Wah jangan salah, Bu… ini adalah salah satu acara yang aku tunggu-tunggu, jadi aku ga akan ga datang hanya karena begadang semalam. Urusan tidur gampang, deh. Bisa sambil di jalan, di angkot, di metro mini atau di kereta. Tapi, siapa yang nyangka, karena dari rumah sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat, bikin aku ga tenang di perjalanan. Apalagi, Veby udah menelepon dan sms. Baru aja dia nelpon pukul setengah tujuh, pukul 7 udah ada di stasiun. Ini anak kosnya sedeket apa, sih sama stasiun Cawang, jangan-jangan kepleset aja nyampe kali… hehehe, bencanda Veb… Pukul 07.15 aku sudah sampai Stasiun Tebet, sementara Veby dan Mas Fiyan ada di stasiun Cawang. Aku masih menunggu Mbak Lia dan Meli. Sms dan telepon terus berbunyi. Veby dan mas Fiyan berangkat terlebih dulu ke Bogor. Saya, Mbak Lia dan Meli baru bisa naik kereta sekitar pukul setengah 9. Akhirnya, setelah perjuangan yang lumayan capek (halah, berlebihan banget ) kami sampai di Stasiun Bogor. Langsung naik angkot yang ke Kebun Raya Bogor (KRB) tanpa mikir angkot no berapa dan pintu KRB yang mana. Begitu sampai pintu KRB, ternyata kami salah pintu. Apesnya, kami bertiga sama-sama ga punya pulsa. Syukur, mas Nursalam menelepon mbak Lia, dan Meli pakai Indosat, jadi bisa sms Veby. Jadilah, kami kembali menaiki angkot dengan ancer-ancer: turun di pintu KRB depan Takol IPB. Aku sampai memperingati si supir berkali-kali. Hehehe, masak iya udah capek dan laper gini masih harus nyasar lagi. Akhirnya, sampai juga… Di sana Veby sudah menunggu dan mengantarkan ke lokasi yang lumayan jauh. Setengah jalan ke lokasi, Taufiq datang menghampiri. Ngakunya sih ikut jemput, padahal dia menghindari ngasih sambutan… hehehe, kabur ya, Fiq… Sampai lokasi, Pak Sinang sedang memberi sambutan. Di sana sudah ada pak Teha, mas Suhadi dan keluarga, mas Adjie dan keluarga, Mbak Sya dan keluarga, mas Nursalam, kang Dani dan mbak Endah, Mas Fiyan, mas Catur, Mbak Dyah, Retno, uni asma, Nia, mbak Yuni, mbak Dyah. Wah udah rame, dan sepertinya kami pengunjung terakhir dengan tampang yang udah kusut. Setelah sambutan dari Pak Sinang yang juga share tentang suka dukanya mengurus SK selama ini dan mengajarkan ke kami semua untuk belajar entrepreneurship dll, mas Nursalam selaku ketua baru mengumumkan visi dan misi sekaligus nama-nama pengurus SK periode 2007-2008. Acara dilanjutkan dengan pelantikan ditandai dengan penyerahan plakat oleh pak Sinang ke Mas nursalam yang dipenuhi tawa karena berkali-kali difoto. Setelah itu, mas nursalam berdialog dengan teman-teman dan pengurus mengenai visi dan misi SK dan apa yang akan disarankan untuk SK ke depan. Waktu sudah makin siang, beberapa orang mengeser tikar mencari tempat yang lebih adem. Setelah itu, Pak Teha memberikan motivasi dengan menceritakan seorang yang kedua tangan dan kedua kakinya buntung namun mampu memenangi lomba lari marathon sebanyak 30 kali sebelum usianya 30 tahun. Pak Teha bener-bener bersemangat memeragakan jatuh bangunnya pelari itu (Saya lupa namanya). So, NEVER EVER GIVE UP…
 Mas suhadi mengakhiri acara dengan berdoa, namun di tengah kekhusukan berdoa datang bajaj yang pakai bak (transportasi untuk ambil makan siang) sempat mengganggu kekhusukan berdoa, terdengar permintaan, “foto donk”, hihihi, sempet ambil foto dari jauh dan kemudian berdoa tapi masih senyum-senyum. Saya, Retno dan mas Adjie sempat membahas beberapa hal mengenai divisi penulisan dan penerbitan. Mbak ichen dan mas Margo tidak bisa datang. Anak mbak ichen sakit dan mas Margo ada acara penting di tempat lain. Oh, ya jadi inget, saya sempat ngobrol sama mbak ugik yang pengen banget terbang ke Bogor dan Sinta yang menitip salam buat semua…
Acara dilanjutkan makan siang dan ngerujak bareng. “Sambelnya enak kok, Ni…” Setelah itu, tukeran kado. Seru juga, nih… Setiap orang mengambil gulungan kertas yang sudah dinomori, kemudian mengambil kado yang sesuai nomor di kertas itu. Ada yang dapat jangka, pas buat anaknya ya mbak , ada yang dapat gantungan boneka, VCD, buku, topples makanan, jepitan rambut, lampu, jam weker. Saya sendiri dapat gantungan kunci onta. Ayo dari siapa??? Kata-kata yang terselip di kado kemudian dibacakan. Kata-kata itu sudah diposting sama mbak indar beberapa hari lalu. Sambil membacakan kata-kata yang menemani kado itu, ada dua toples kue dari mas Suhadi. Kue nastar dan kue putri salju. Enak, lho, mas Suhadi. Rugi nih cuma makan dikit. Tanpa terasa hari sudah makin siang, kami semua membereskan barang-barang. Pak Sinang menghibahkan peralatan wireless-nya untuk SK. Wah... sekarang SK jadi punya inventaris. Jadi ingat, kas SK pun sudah bertambah dengan uang yang seharusnya dibayarkan ke Pak Teha. Makasi pak Sinang dan Pak Teha…
Kemudian, kami bergegas ke mushola untuk sholat. menyusuri KRB, memang menyenangkan, pohon besar yang menaungi, hamparan luas rumput hijau bikin segar dan penuh kesejukan. Memberi makan sendiri bagi aku yang tiap hari harus memandangi tulisan.
Sekitar pukul 3 sore kami meninggalkan KRB, sempat bersalam2an sebentar, memohon maaf menjelang puasa. Saya pulang bareng Retno. Rasanya lelah tapi menyenangkan… baru terasa capeknya pas pulang, padahal tadi rasanya seru banget, ketawa bareng, bencanda bareng.. dan sekarang aku dan retno sama-sama tertidur di atas kereta. Sampai di rumah pukul setengah 7 malam. pekerjaan sudah menunggu… tapi ngantuk… Makasi ya semua dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan… Tawamu menentramkan Senyummu menghangatkan… Uluran tanganmu membahagiakan Jadi, Jangan tinggalkan aku… Jangan biarkan aku sendiri… Di sini ada cinta Cinta yang diajarkan Di sekolah kehidupan… “Menyenangkannya… menjadi bagian keluarga besar SK” Foto-foto dapat dilihat di: http://akunovi.multiply.com/photos/album/29/Open_House_SK_di_Kebun_Raya_Bogor (maaf, ya kalau agak gelap, kamera saya cuma 2 pixel dan ga bisa zoom )
| Start: | Jul 14, '07 09:00a | | Location: | pd. kelapa |
Aku pernah mengeluh karena mata minusku... Aku pernah mengeluh karena cuma bisa makan yang buka seleraku Aku pernah mengeluh tidak dibelikan sepatu roda Aku pernah mengeluh tidak bisa beli ini dan itu Aku pernah mengeluh untuk bisa sekolah S1 Aku pernah mengeluh ketika bapak meninggal...
Aku pernah mengeluh, mengeluh dan terus mengeluh...
(*mungkin aku sering mengeluh)
Aku lihat bapak itu buta, berdiri di atas mobil pick-up, di panasnya Jakarta, tengah hari... Aku bisa melihatnya dengan jelas di balik kacamata minusku... Aku masih bisa menatapnya walau tidak sempurna.
Aku lihat seorang ibu bersusah payah mengais rejeki siang dan malam... berjualan pecel di siang bolong, mengitar rumah-rumah membawa sekardus berisi peyek, menjual jamu... Aku bisa makan cukup, masih bisa membeli pecel, peyek dan meneguk jamu...
Aku lihat seorang terpincang-pincang, Aku lihat seorang menyeret kakinya... Aku lihat seorang memakai tongkat... Aku bisa berjalan, berlari bahkan melompat...
Aku lihat betapa senangnya anak itu menerima selembar seribuan Aku bisa membeli tas, baju, bahkan kadang masih dibelikan ibu... Mungkin saja dia sudah yatim piatu Aku masih memiliki ibu Aku lihat dia sendiri, tanpa teman... Aku masih memiliki banyak teman, saudara, sahabat... Aku lihat dia tak bersekolah... Aku bisa sekolah sampai D3
Aku lihat mereka di jalanan ketika aku masih diberi nikmat melihat, mendengar, merasa... ketika aku masih diberi karunia untuk bisa sekolah, bekerja... ketika aku masih diberi tempat berteduh... ketika aku dikelilingi keluarga tercinta...
Aku bersyukur
Alhamdulillah...
*9 Juli 2007
| Start: | Jul 4, '07 06:00a | | Location: | taman bunga tuh di mana, ya? |
mau ke megamendung ga jadi... sabtu-senin lalu...akhirnya malah nyangkut lagi di depan kompi...karena bertanggung jawab pada koreksian naskah layoutan...:) dan ada rapat, ada editan...:) So... kalau ga dipaksa kayaknya ga jadi2 deh perginya....padahal udah pengen banget jalan-jalan... (*noraks, ya aku...:)) Jadi, semoga...mudah-mudahan besok jadi ya....amiin.. Ayo kita jalan, bu..., tya, nur........:) *tapi sebelum jalan musti anter kerjaan dulu...:)
| Start: | Jul 2, '07 05:00a | | End: | Jul 2, '07 09:30a | | Location: | cipete, pulogadung |
yuk....jalan yuk........... yuk, ngurir yuk....:)
 | jalan2 | Jun 28, '07 2:24 PM for everyone |
| Start: | Jun 28, '07 08:00a | | Location: | jalanan |
heheheh...:p
|
|