novi khansa's posts with tag: ibu
|  | Jumat-Ahad acara keluarga sekaligus pure liburan, tanpa bawa kerjaan... bener-bener jalan-jalan, makan, santai, tidur... silaturahim untuk acara keluarga dan yah refreshing....
berangkat pukul 10 malam ke Purwokerto, Banyumas... cari penginapan, acara keluarga, balik istirahat, jalan makan, dan ketemu bebek bakar, sampai ahad paginya balik lewat Bandung, sempat mampir makan siang di Nagrek dan sebelum magrib sampai pondok gede... makan, tidur, istirahat sebentar, pulang ke pondok kelapa, sampai rumah setengah 9, bekerja untuk deadline senen....
:) senennya.......sampai sore berkutat-berkutat...sampai hari ini :)
**** sejauh mata memandang, kanan kiri sawah, ga jauh dari itu ada gunung, pokoknya enak, sejuk, aman, nyaman dan hmmm desa gitu deh... jadi agak bingung juga pas cari makan karena begitu ketemu kota, berapa kilo, desa lagi... trus... jauh banget ke pusat kota... Seru-seruan cari penginapan dan akhirnya setelah petunjuk kilo meter menemukan penginapan yang lumayan nyaman dan dekat dengan tempat acara... dan pas pulamgnya sempet mborong tahu sumedang dan telor asin... yummy :) h,, thnks momy atas liburannya yang hampir tak bisa aku ikuti :D |
Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya. Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”. Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi. Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir. Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan. Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah. Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak…. Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik. Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu… Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;). Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas… Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D, memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur. Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi sen ang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;) Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :) Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…
Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D
 Tulisan di kertas itu ada 2 puisi ttg ibu ======================================== Berjuta rasa dengan hadirnya dirimu sosok yang selalu kupanggil ibu walau dulu kunekat manggil emak dan dirimu cuma bisa mengurut dada... plis, nop jangan panggil saya emak :D (ibu mah ga akan ngomong ginih :D, tapi dia bener2 maunya dipanggil ibu, bukan emak, panggilan "emak" ada karena dulu tetangga pada manggil emak, eh anaknya pada ngikutin gituh :D. Maaf ya, mak, eh bu :D) Tapi ibu memang lebih membahasakan diri kepada kami dengan kata "saya" dan ke anaknya "kamu" (hihihih, kayak ga kenal, jadi ingat kalau ibu ngobrol sama bapak ya gitu :D) :D mak, udah ga ada lagi kan yang panggil emak kayak keluarga bobo, ortu dipanggil emak dan bapak.. baru mulai menyadari ketika dewasa memanggilmu ibu begitu menyejukkan karena dirimu... ibu ibu.... huaaa I love u =====  Ceritanya, aku tadi lagi iseng nye-can, trus nemu gambar ini ditempel di album fotoku (khusus kenarsisan aku dan aktivitas w/ family dan temen2 :D). Gambar yang di atas itu aku buat waktu tahun 2004, pas masih kerja di Mizan, kalo ga salah, untuk hari ibu, yah secara, ibu pun tanggal lahir bulan desember (versi kelurahan, :D , aslinya beliau ga tahu lahir kapan, dikasi tangal segitu deh sama kelurahan di KTP, karena ibu pun ga punya akte :D). Trus fotonya ntu, satu-satunya foto box ibu bareng aku (dan sebenernya ada iki) pas kuliah tingkat berapa gituh (gw masih muda :D). Aslinya foto itu nempel di kulkas, tuuuh........ :D. Kebetulan iseng aku foto pas ada karya iki... Fiyuh, kulkasnya penuh banget.... Hmm, i loe u ibuuuuuuuuuuuuuuu yang 99% tahu rahasia aku :D, jangan kaget ya... hampir semua temenku, kisah hidupku, senegnya aku, sedihnya aku, dllll. ibu tahu :D yayayaya, dia ibu, temen, sobat, konsultan, manajer, semuanya dah muah, i luv u :D
Bu...
Izinkan aku....
Bu...
izinkanlah,
moga waktu tak melenceng bilang pulang siang, maghrib sampai rumah bilang akan pulang, tapi ga tahunya nginap...
Bu, bukan karena itu kan ibu tak mengizinkan tapi karena ibu minta ditemani bersama F4
Bu Izinkan aku ke Book Fair... :D
Bu, kalau besok-besok lagi rasanya akan penuh, sesak dan aku tak tahan...
aku tak bisa menikmati buku-buku itu
Bu, izinkanlah...
moga Zuhur bisa sampai rumah moga tak ada godaan yang datang moga aku tidak spontan pengen jalan-jalan :P
Bu, plissss, ya bu
di book fair banyak kenangan di sana kampusku punya stand (yuu, TGP (teknik Grafika & Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta) ;;) *promosi) dan di sana aku dulu berjuang hihihi, cari data, dapat tugas dan demo ke Gd Q :P (reminder from kak uul :D)
Bu... yah..yah...yah... boleh, ya
ga naik sepeda, kok :D
entah sampai kapan aku akan terus bermimpi menjadi seperti dirimu...
entah sampai kapan... aku akan menatap wajah lelahmu menemaniku hingga terlelap...
tak akan aku ragui lagi makna cinta dan mimpi-mimpi...
dirimu terus mendorongku menggandengku... menemaniku...
sabar kasih... sayang... cinta tulus... itu dirimu
tak lelah tak marah tak sepi walau dirinya tak lagi bersamamu...
karena aku tahu dia teman sejatimu teman seperjuanganmu... kekasih hatimu
tapi cintamu begitu besar melimpah untuk siapapun...
di dekatmu... begitu bermakna
di dekatmu... aku ingin selalu di dekatmu
... aku ingin jadi sepertimu... ibu...
 | manisnya | Jun 22, '08 12:56 PM for everyone |
 manisnya secangkir kopi cinta buatan ibu :) seperti halnya teh, susu, dll ;) bukannya malas bikin, lho...:P tapi, ada rasa berbeda ketika ibu yang membuatkan dan menaruh di atas meja kerjaku ;) di sana ada perhatian... di sana ada tulus di sana ada cinta di sana ada sayang di sana ada harapan di sana ada keindahan... luv u mom *sesaat setelah menikmati kopi.... (ga boleh sering2 ya, nOP, hehe) seperti udara kasih yang engkau berikan tak mampu kumembalas... ...ibu
novi khansa
Sebelumnya, saya ingin memberi sedikit gambaran. Tulisan ini adalah sudut pandang saya sebagai seorang bule (bahasa jawa: tante) menjadi pengamat, lahirnya bayi-bayi mungil di keluarga kami. Bayi-bayi yang begitu menawan hati, menggoda dan memberi sangat banyak arti dalam hidup saya... Yah, saya mendapat banyak ”pelajaran” dari mereka... bagaimana musti bersabar, bersahabat dan mengerti dunia anak-anak...
Saya persembahkan tulisan ini untuk three little F yang akan berulang tahun ke-2 dan ke-6 serta sedang menanti adiknya yang keempat. Juga, untuk two F alias orang tuanya yang sedang mencari-cari nama untuk bayi mereka. Tentunya dengan awalan F juga 
Saya masih ingat ketika disuruh membeli test pack merek Sensitif oleh kakak. Teringat pula dengan jelas, saya bingung bagaimana cara membelinya. Jujur, saya malu, hehehe... Saya juga ingat ketika akhirnya dites, hasilnya negatif. Tapi, tak berapa lama ditest lagi hasilnya positif. Test pack dengan merek berbeda. Test pack kedua lebih murah dari test pack pertama, hehe . Saya juga ingat ketika diceritakan ibu, perihal kakak yang mendatangi Puskesmas di dekat tempat tinggal kami. Sang dokter tertawa ketika kakak memberi tahu bahwa dirinya hamil. Kakak saya memang berwajah imut-imut, badannya lebih pendek dari saya dan beperawakan kecil. Mungkin dipikirnya kakak saya masih sekolah dan ngaku-ngaku hamil, hehehe . ****  Dini Hari, 21 Mei 2002 Kakak perempuan saya sudah merasakan mules di perutnya dan berjalan mondar-mandir di rumahnya. Saya, ibu dan bapak pun bergegas mendatangi rumah kontrakan kakak yang hanya berjarak 3 rumah. Bapak sudah siap-siap untuk membawa kakak dengan motornya ke rumah sakit terdekat ketika ada tetangga yang mengetahui kepanikan kami. Kemudian mengantarkan dengan mobilnya. Saat itu saya ingat, tampaknya, hanya saya yang bisa melihat ”kehebohan” di rumah karena yang lainnya tampak panik. Saya malah sempat tertawa-tawa. Bukan apa-apa saat itu saya ingat iklan layanan masyarakat tentang suami SIAGA. Siap Antar jaGA. Tapi, di sini bukan hanya suaminya yang siaga, keluarga sampai tetangga pun SIAGA kalau ada ibu hamil yang ingin melahirkan.  Tak berapa lama, rombongan pun berangkat sementara saya tetap berada di rumah. Saya baru menyusul ketika mulai pagi dan memutuskan bolos kuliah. Kakak belum juga melahirkan. Saat itu lagi-lagi saya bisa melihat wajah-wajah cemas di sekeliling saya. Ibu tampak tidak tenang. Saat itu yang menunggui kakak adalah saya, ibu dan kakak ipar. Bapak saya menyusul kemudian. Terlihat dengan jelas wajah kakak ipar yang kelelahan dan kebingungan. Kemudian dia pamit ke masjid. Sementara itu, ibu tak henti-hentinya bingung juga, apalagi mendengar teriakan-teriakan di ruang persalinan. Hmm, sepertinya ada air mata yang muncul dari matanya. Saya tidak tahu rasanya, yang jelas ini adalah kelahiran cucu pertama dari anaknya yang pertama. Tak berapa lama, ibu menyuruh saya memanggil kakak ipar yang ada di masjid. Tampaknya, kakak saya akan segera melahirkan. Saya pun menghampiri kakak ipar yang tengah mengaji di sudut masjid. Ketika kembali, saya tak menemukan ibu di tempat menunggu, ibu nekat masuk ke ruang persalinan. Sebenarnya, saya sudah dapat melihat gelagat kecemasan ibu, tapi tak terpikir, beliau akan masuk ke sana. Saat itu, hanya suami kakak yang boleh masuk ke ruang persalinan. Alhamdulillah, sekitar pukul 10.00 pagi, lahir seorang bocah mungil dengan berat 2,8 kg dan panjang 47 cm dengan persalinan normal. Tak terkira gembiranya kami saat itu. Saya, ibu dan bapak melihat bayi itu lewat kaca di tempat khusus bayi. Ada banyak boks dengan bayi-bayi yang lucu-lucu. Tapi, mata kami hanya fokus kepada satu bayi yang kemudian diberi nama Muhammad Khoirul Fikri. Berbagai gerak-geriknya menjadi hal yang lucu dan menarik bagi kami. Masih jelas di ingatan saya, bapak yang begitu gembira dan tertawa melihat si mungil Fikri. Satu cucu yang telah diberikan kakak sebelum ajalnya menjemput dua tahun kemudian. Kini bayi mungil itu akan berumur 6 tahun bulan Mei nanti, menunggu lulus TK. Anak kecil pertama yang telah banyak merebut perhatian kami. Anak pertama, cucu pertama, buyut pertama dari pihak kakak ipar. Dan tentunya keponakan pertama bagi saya dan om-omnya. Anak kecil pertama yang membuat saya tak lagi dipanggil ”ade” oleh bapak, dan keponakan pertama yang memanggil saya dengan sebutan ”bule”. Banyak warna yang telah dia berikan. Ada tawa, ada tangis, ada jahil dan banyak lagi hingga kemudian dia memberi saya titel ”bule galak” atau ”kadang-kadang baik, kadang-kadang galak”. Fikri sangat menyukai lagu ”Tante Cerewet” dari grup Trio KwekKwek dan kemudian dia ganti dengan ”Bule Cerewet”. Fiyuh ***  Empat tahun kemudian, di bulan yang sama. Sepasang bayi kembar lahir dengan persalinan sesar. Hadiah bagi Fikri yang berulang tahun keempat. Dari awal kehamilan sudah ditemukan hal aneh. Kakak saya giduan alias gatal-gatal, padahal sebelumnya tidak pernah. Tak berapa lama, kakak memeriksakan diri ke rumah sakit. Berbagai pertanyaan telah disiapkan. Belum sempat ditanyakan, pasangan suami istri itu diberi sebuah kabar kejutan. Bayi yang dikandung kakak kembar dengan dua telur. Alias bukan kembar identik. Masing-masing telur beratnya berbeda. Buyarlah semua pertanyaan yang telah disiapkan. Haa, kembar??? Keturunan dari mana? Kami sempat mengira, keturunan kembar datang dari saudara kakak ipar, tapi jaraknya lumayan jauh. Selidik punya selidik, ternyata keturunan kembar berasal dari orangtua ibu saya. Ada yang kembar sejenis dan ada yang beda jenis kelamin. Diprediksi saat itu bayinya kembar perempuan. Berat bayi yang pertama lebih besar dibanding yang satunya lagi. Bayi yang lebih besar mendominasi wilayah rahim, sementara, bayi yang kecil menyempil di sudut yang lain. Sang dokter menyuruh kakak mengusahakan agar berat kedua bayi itu sama. Saat itu Fikri sempat kekeh kalau bayinya laki-laki dan perempuan. Hehe, maunya? Pas dengar kembar saja sudah kaget, apalagi kalau kembar sepasang, atau istilah orang Jawa, dampit. Sejak beberapa bulan sebelum kelahiran, sudah dikabarkan kalau kakak harus menjalani operasi sesar karena posisi kedua bayi yang malang melintang. Pasangan suami istri tersebut pun menentukan tanggal kelahiran. Karena keduanya suka matematika maka angka menjadi sesuatu yang unik bagi mereka. Akhirnya, ditentukan tanggal 4 adalah tanggal operasi sesar dan kelahiran bayi. 17 (tanggal lahir kakak), 21 (tanggal lahir Fikri) dan 25 (tanggal lahir kakak ipar). Diambil tanggal 4 sebagai penambahan dari 17 ke 21, kemudian ke 25. Kakak ipar, bule saya dan saya yang saat itu sempat ngantor, sudah merencanakan untuk mengambil cuti pada tanggal 4 itu. Manusia berencana Allah juga yang menentukan. 3 Mei 2006 Dering telepon terus berbunyi. Dari kakeknya kakak ipar yang menanyakan persiapan melahirkan kakak. Dari bule saya yang juga seorang bidan yang menyuruh untuk booking kamar terlebih dahulu agar memudahkan setelah proses persalinan. Dari kakaknya kakak ipar yang ada di Australia yang juga menanyakan kabar kakak. Padahal, saat itu di rumah masing tenang-tenang saja. Kakak ipar bekerja seperti biasa. Saya berkuliah dan bekerja seperti biasa. Hingga akhirnya ketika di tempat kerja, saya mendapat kabar kalau kakak akan melahirkan hari itu juga. Saat itu sudah pembukaan 1, padahal katanya kalau mau disesar, jangan sampai ada pembukaan dulu. Saya ingat benar siang itu ketika di kantor, ibu menelepon saya, mengabarkan kalau kakak sudah melahirkan. Lho kok, udah? Ditambah lagi ketika tahu kalau bayi yang satunya lagi ternyata laki-laki. Yups, kami baru mengetahui kalau salah satu bayinya laki-laki setelah lahir. Bayi perempuan beratnya 3,1 kg dengan panjang 49 cm, sedangkan bayi laki-laki, beratnya 2,5 kg dengan panjang 47 cm. Rasanya tak sabar ingin segera menengok, tapi sore itu saya harus kuliah. Saya urungkan niat untuk menengok si kembar sampai ketika jam kedua mata kuliah, saya minta izin untuk pulang. Tapi, apa mau dikata, jam besuk sudah lewat dan saya harus menunggu esok untuk melihat sepasang bayi mungil itu. Ketika menengok, saya tak lupa mengabadikan mereka dengan foto-foto. Kalau baru-baru, saya pakai handphone kamera kakak, ketika menjenguk selanjutnya, saya pakai kamera kecil. Blitz pada kamera begitu menyilaukan. Saya sempat khawatir kenapa-kenapa dengan si kembar. Alhamdulillah keduanya sehat. Bayi perempuan dinamakan Fahimah Nur Ilmi. Teriakannya sejak bayi sudah keras hingga hari ini. Bayi laki-laki bernama Muhammad Fahmi Khoiri. Walau ketika bayi kalem dan pendiam, sekarang, jangan tanya, deh... walau badannya mungil, tapi ocehan dan tenaganya... benar-benar mengejutkan. Selanjutnya, hari-hari saya makin ramai, makin ceria, makin mengajarkan saya untuk lebih bersabar. Sebagai anak bungsu yang manja, saya benar-benar tak menyangka akan dihadapkan pada 3 bocah lucu yang selalu mewarnai hari-hari saya. Secara alami, saya mulai bisa mengganti popok, mencebok, menyuapi, membuat susu, memandikan dan banyak lagi walau kini tak saya kerjakan sering.
Tapi, hingga hari ini saya merasa masih kurang. Kurang sabar, kurang telaten dan banyak sekali kekurangan saya. Hmm, tampaknya ”kursus” mengurus bayi akan berlanjut sambil menanti kelahiran bayi yang keempat. Saat ini usia kehamilan kakak sudah mencapai 7 ½ bulan. Waah... akan ada kejutan apa lagi, ya?  ***
Untuk Kang Dani dan Mbak Endah Untuk mbak Dedew dan suami Untuk mbak Indar dan keluarga Mas Nursalam dan Mbak Yuny Veby dan istri yang sedang menanti kelahiran bayi Selamat juga untuk Mbak Indri dan Mas BJ Kang Chandra dan keluarga Mas Epri dan keluarga Mbak Sya dan keluarga Mas Margo dan istri Hehehe, nopi ngabsen bumil dan SK junior , ayo siapa yang belum masuk??  Sama-sama saling mendoakan agar persalinannya lancar serta ibu dan bayinya sehat. Amiiin 
Hari itu akhirnya aku terbangun setelah telepon kembali berdering mengingatkan. ”Ibu udah makan?” tanya kakakku yang lagi di luar rumah. Tampak di kamar ibu masih tiduran, bubur di lantai masih banyak. ”Disuapin..” kata kakak lagi Akhirnya, aku coba menghampiri ibu yang katanya pagi ini tiba-tiba drop tanpa alasan. Kepala pusing, muter-muter walau hanya nengok ke samping aja. Ibu juga ga mau makan bubur, dan ibu ga suka disuapin. Tapi, untung aja, ibu mau makan lontong sayur, tapi tetep masih sambil tidur karena tiap bangun pusing. Aku menemani ibu yang tiduran, sementara, aku malah tidur beneran :D, hehehe... melayani dia kalau minta minum, minta obat dan kalau ada yang masuk kamar. Kamar sengaja dikunci karena para baby takut masuk ke dalam menyerbu mbah utinya... tapi, dasar Fahimah pinter... dia ngetok-ngetok dan dengan alasan ngasi HP ke aku, dan bisa ditebak, dia berhasil masuk walau akhirnya ke luar lagi karena tangannya kotor kena permen dan HP-ku juga ikut lengket. Ga berapa lama, ibu minta dibikinin ubi rebus. Sukur, beliau makan ubi itu juga. Aku masih nemenin sampai siang, tentunya dilengkapi dering telepon dari kakak. Aku baru turun setelah kakak pulang dan ibu pun turun. Masih pusing katanya, ditambah lagi keringat yang mengucur deras. Setelah udah ga keringatan, ibu minta dikerokin. Waaaaah, merah banget, bo!!! Katanya udah mulai mendingan, tapi masih tetap tiduran. Beliau minta makan, hanya pakai tempe, tentunya tanpa disuapin lagi. Teh dengan gula sedikit... untuk yang ini, aku kasih lihat langsung jumlah butiran gula yang kumasukkan, kira-kira ada 1523 butir.. hihihih boong banget ;p. Ibu khawatir gulanya turun penyebab dia pusing. Sebenarnya, ibu itu punya diabetes, tapi belum lama diperiksa normal. Beliau cukup rutin dan disiplin minum obat dan tes darah. Setelah berapa lama, ibu minta obat, aku masih nemenin di luar :D, hehehe. Kamar ibu kan sebelahan sama tempat aku ngetik sekarang ;p. Ga berapa lama dari minum obat, ibu udah mulai pulih. Beliau bilang kalau setelah dikerokin, udah agak mendingan. Aku pun jawab, ”karena ngeroknya pakai cinta” huahahahaha :D, jelas-jelas ibu ga nanggapin kata-kataku ;p Rencanaya sih hari ini ke dokter, mau periksa darah, kuatir gulanya turun atau naik. Tapi, kayaknya ga jadi, pas aku nulis ini ibu udah seperti biasa, malah tadi lagi menikmati kacang kulit rebus oleh-oleh dari khadimat kami.
Kalau gini jadi ingat waktu aku dirawat hampir sebulan waktu DBD... dari mulai nyuapin makan, ngingetin Sholat, ngasi obat, hampir semuanya, deh... dan beliau rela tidur di karpet tipis yang dibawa dari rumah pas di RS. Alhamdulillah, saat itu ibu sehat2 aja setelah selama 6 hari menemaniku :)  luv u mom 
Titik Ordinat
 Senin pagi sekitar pukul lima, saya ke luar dari kamar. Sebuah senyuman dari ibu menyambut saya. Pagi itu ibu baru sampai dari Solo, setelah dari jumat kemarin ibu pulang kampung untuk menghadiri wisuda abang saya. Saya tahu ibu masih lelah saat itu, tapi dengan wajahnya yang ceria ibu bercerita banyak tentang wisuda abang saya. Pun, ketika salah satu keponakan saya bangun, ibu menyambut ajakan bermain dengannya, hingga ketiga bocah di rumah bangun. Saya ingat, bagaimana ”hebohnya” kami ketika ibu ingin pulang kampung. Saya, mbak dan kakak ipar saya menyesuaikan jadwal ada di rumah. Mbak saya akan mengantar pesanan boneka lebih pagi dan kemudian mengantar ibu ke tempat bus berangkat. Sementara itu, saya yang rencanya membantu acara pelatihan, urung hadir karena harus stand by menjaga 3 keponakan saya. Kakak ipar saya tidak ikut pergi ke banten pada jumat-sabtu. Saya sendiri, mengambil jatah pergi dari rumah hanya pada hari sabtu. Isi rumah kami banyak. ada 6 orang dewasa. Dua diantaranya adalah khadimat. Tapi, begitu ibu berangkat ke Solo, kami sempat panik. Keadaannya saat itu, di toko mbak sedang ramai, saya punya beberapa acara dan beberapa pekerjaan.
Padahal sesuatu yang biasa, kalau ibu ingin pulang ke kampung, apalagi ada momen wisuda abang saya. Tapi, tetap saja heboh, hehehe Ibu, di rumah kami adalah titik ordinat. Beliau adalah penghubung di antara kami. Sentral dari segala aktivitas yang kami jalani. Ketika ibu pergi, berarti sentral sedang tidak hadir. Dan itu membuat beberapa kegiatan harus di re-schedule. Segala hal yang terjadi di rumah, sebagian besar diketahui oleh ibu. Tanpa disuruh atau tidak, kami akan bercerita. Atau ibu akan angkat bicara bila mulai melihat kejanggalan di antara kami. Bisa dibilang, tak ada yang bisa bohong kepada ibu. Semuanya akan luluh seiring sikap dan perlakuannya kepada kami. Ibu juga pencipta perdamaian di antara kami. Penghubung kalau di antara kami ada konflik. Ibu harusnya menerima nobel untuk hiruk pikuk yang terjadi di antara kami semua. hehehe Ibu, adalah manajer buat saya. Beliau sering mengingatkan pekerjan saya. juga, manajer buat mbak saya. beliau begitu peduli pada bagaimana kami mengais rezeki setiap harinya. Beliau tempat Konsultasi segala jenis masalah. Dari masalah pekerjaan, kuliah, pertemanan, dan lain-lain. Juga tempat konsultasi mbak dan abang saya. Jadi, ketika ibu pergi sesaat saja, rasanya sangat kurang. Mungkin kalau saya yang meninggalkan rumah untuk satu hari, plus menginap, tidak terlalu berpengaruh, tapi kalau ibu yang cuma pergi sebentar, pasti sudah ada banyak yang merasa kehilangan. Titik ordinat itu kini tengah tertidur lelap bersama salah satu cucunya. Melihat senyum dan mengingat kasihnya adalah harta tak ternilai buat kami :) Luv u much Ibu 
“Udah gede masih aja diomelin” Kata-kata itu terlontar dari teman saya yang kesal sama bapaknya karena kena omel. ”Iya, sih gw salah, tapi udah segede gini masak masih diomelin aja” Saya dan teman lainnya pun tertawa. Saya pun punya pikiran yang sama dengan dia. Pikiran saya kalau kena omel orangtua itu kesel banget. Saya tahu saya salah dan udah kena akibat dari salah itu, eh masih diomelin juga. Bukannya hal itu malah nambah beban rasa bersalah saya. Lain halnya dengan saat ini. Dari senin kemarin, saya terkapar dengan suksesnya . Ibu nggak lagi memarahi saya yang jelas-jelas salah. Paling-paling yang keluar dari mulut beliau itu kira-kira begini, ”Gimana ga sakit, pulang malam, langsung kerja, begadang sampai siang, trus pergi lagi, pulang malam lagi.” Hehehe, ga perlu deh diomelin lagi untuk urusan yang satu itu... Ga diomelin aja udah merasa bersalah karena menyia-nyiakan kesehatan. Ditambah lagi, ibu yang jadi repot cari-cari obat... hehehehe, jadi malu. Seharusnya gitu, ya... Kita jadi anak ga perlu diomelin karena sebuah kesalahan, cukup aja deh dikasih tahu dan dilihat atau dipelototin, nanti juga sadar sendiri. Ibu sih ga pernah ngomel, tapi seringnya saya yang merasa bersalah dengan perhatian dan sikap ibu... Pasti bikin iri, deh. 
Maklum, ya bu mumpung masih muda dan single, mau kerja sampai kapan juga dijabanin, mau jalan-jalan dan silaturahim ke mana juga juga dijalanin... hehehehe

Hari ini saya kembali dibangunkan dengan secangkir kopi rasa mocca buatan ibu. Sudah dua hari ini, ibu menyuguhkan secangkir kopi itu ke saya. Kalau kemarin, karena saya pulang sudah malam setelah silaturahim ke klien Khansa.
Sedangkan hari ini, saya kelelahan karena begadang. Saya tak pernah meminta ibu untuk melakukan semua itu, tapi ibu tak pernah berhenti melakukan semua itu. Tidak hanya pada saya, tapi juga kepada kedua saudara saya, pun kakak ipar saya. Perhatian ibu begitu besar. Sebesar cintanya dan sayangnya. Entah samudra yang mana yang sanggup menampung miliaran cintanya itu. Akhirnya, menjelang siang saya tertidur, ibu membangunkan saya sambil mengingatkan ada pekerjaan yang harus saya kerjakan. Fiyuh, lelah. Segelas teh hangat kemudian terhidang di dekat meja tulis saya. Ibu... lagi...lagi... Saya nikmati secangkir teh hangat itu tidak dengan menyambi di depan komputer, tapi saya menyingkir sesaat dari ruang kerja saya menuju kursi panjang di ruang tamu rumah saya yang sederhana. Nikmat, hangat... sehangat cinta yang ibu berikan. Kembali memulai pekerjaan. Ibu menghampiri, menaruh sebuah jeruk di atas meja tulis, dia hanya berkata, ”Nanti gelasnya ganti” sambil menunjuk gelas yang berisi air putih yang masih berisi setengah.
Jarang sekali terucap, kata cinta atau sayang darinya... tapi, seringkali tidakan-tindakan ibu yang sederhana membuat diri saya malu dan berpikir. Cinta tak perlu dikatakan karena bisa hanya sampai di bibir. Cinta itu ibu ungkapkan dengan kasih dan sayangnya kepada kami.
Ibu tak pernah meminta banyak ke saya.
Tidak lebih, tidak kurang. Tak ada yang diharap kecuali kebahagiaan untuk kami.
Spesial untuk IBU...
Kubiarkan diriku tertidur di atas lantai Pipiku menyentuh dinginnya lantai Kubiarkan diri ini tertidur sejenak Ingin bermimpi Rasanya begitu damai... Rasanya tenang... Ada suara-suara berisik aku bangkit dan berpindah Kini aku tertidur di atas kursi panjangsebuah bantal menyanggah kepalakutenang...damai...di sini lebih enak...rasanya tak ingin bangun lagikalau aku bangun...aku tak lagi bisa bermimpiada di sebuah taman yang indahsegalanya begitu menyenangkanada sebuah suara...merdu, seindah hatinya...suara ibu... suara cintakuterbangunku...melihat sosok itusecangkir kopi rasa moca terhidangsecercah harap dan seindah cinta wajah ibu*terima kasih ibu, kau membangunkanku dari mimpi-mimpi...memberiku kesadaran "hidup" yang begitu menakutkan, penuh kepalsuan tapi juga ada hikmah yang berserakan dan sejuta cinta yang selalu kau berikan untukku.*Bapak... bukan dengan penyesalan aku mengingatmu, tapi dengan cinta... Aku insya Allah ikhlas, tapi sesekali merindukanmu, sesekali aku ingin bercerita kepadamu. Dirimu pasti tak ingin aku berlarut dalam sedih dan pilu ditinggalkanmu. Bapak pasti ingin aku terus beribadah dengan sebaiknya, berkarya... berbuat baik dan bermanfaat bagi umat. Dengan cinta kuingin mengingatmudengan rindu kusebut namamu...dengan semangat kau dorong aku...Aku ingin menjadi amal jariyahmu....aku juga ingin membalas berjuta cinta darimu dan ibu...
*pagi ini dengan secangkir kopi rasa moca dan senyumku 
****************************************keep moving forward
| |