Beberapa waktu lalu, saya mengobrol dengan sahabat saya. Dia tahu benar kalau saya suka menulis dan aktif nge-blog serta mengikuti organisasi kepenulisan. Entah apa yang mengawalinya, teman saya bilang kalau dunia saya itu bukan ”dunia terus terang” atau ”dunia seolah-olah”. Orang-orang dibiarkan menduga-duga setelah membaca sebuah tulisan. Apalagi, kalau sebenarnya, tulisan tersebut ditujukan lebih ke personal.
Saya jadi ingat kalau ada teman sesama penulis yang kontak dari tulisan-tulisan. Bukan surat pribadi, tapi artikel yang ditulis secara umum. Mungkin yang lain ga mengerti, tapi masing-masing dari mereka mengerti dan tahu kalau sebenarnya tulisan itu ditulis oleh si A dan ditujukan untuk si B.
Konsep hubungan mereka hanya sebatas itu. Selanjutnya, dunia mereka yang ”seolah-olah” dan penuh dengan dugaan pun berhenti dengan klimaks yang tidak sesuai harapan. Walau sebenarnya mereka sama-sama tahu. Ending-nya tidak sesuai dengan akhir tulisan dongeng. ”Dunia seolah-olah” milik mereka stagnan dan berhenti begitu saja, ketika dunia nyata menyapa.
Teman saya yang lain (penulis juga) pernah punya urusan dengan penulis, ya paling tidak kedua orang tersebut suka menulis atau membaca, minimal komunikasi melalui tulisan cukup sering walau hanya sekadar forward artikel. Saat itu, mereka mempunyai sedikit masalah yang harus diselesaikan dengan jelas dan tegas.
Anehnya, atau tidak aneh—karena saat itu mereka berada dalam ”dunia seolah-olah”—dia memulai dengan mengirim artikel tulisan orang lain kepada teman saya. Oh, ya itu hal biasa, andai saja teman saya itu bukan penulis yang punya insting "menduga-duga". Tapi, esensial dari artikel yang dikirimkan berkaitan erat dengan masalah mereka. Walau teman saya adalah penulis dan sering mengekspresikan diri melalui tulisan, teman saya tetap tidak ingin menduga-duga apa maksud dari kiriman artikel itu. Teman saya langsung secara tegas bertanya, ”Hei, apa maksud tulisan kamu ini?” dan tebak!!! Walau temannya teman saya itu berputar-putar menjelaskan, dia mengakui ke teman saya kalau memang ada hubungannya, antara artikel yang dikirim olehnya dengan masalah mereka saat itu.
Mengingat pengalaman kedua teman saya, saya sepertinya akan memilih bertanya langsung daripada menduga-duga. Kalau memang ada maksud ”udang di balik batu” toh semuanya akan jelas dan kalau ternyata tidak ada maksud apa-apa, hanya sekadar membuat dan mengirimkan tulisan, ya ga masalah.
Jadi ingat kata-kata teman saya yang sempat bingung dengan perkataan teman kami, dan akhirnya memaklumi dengan berkata ”maklumlah penulis, tersirat dari yg tersurat ”.
Saya jadi berpikir, apa memang ini cara komunikasi kami di dunia kepenulisan. Tidak ada yang terus terang alias gambalang, tapi hanya sebuah dunia yang seolah-olah, penuh dugan, dan membiarkan si pembaca untuk menebak? Ini tulisan tentang apa, siapa dan untuk siapa...
Hmm, entahlah...
Saya sendiri sering menulis banyak hal. Dari mulai pengalaman pribadi saya, orang lain, dan banyak lagi karena menurut saya menulis bisa membuat saya ”terobati” dan menulis adalah ekspresi diri.
Ketika ditanya, apa saya bermaksud untuk ”berbicara” melalui tulisan saya kepada seseorang. Waduh, ga tahu juga, ya karena saya kadang hanya ingin menulis. Dan kalaupun saya harus ”bicara”, saya lebih memilih berbicara langsung. (kecuali pada saat-saat saya memang merasa tak perlu bicara lagi, saya akan menulis)
Ibarat dunia yang ”panggung sandiwara”, tampaknya di sini adalah ”panggung kata-kata”.
Terlepas dari semua itu, saya akan tetap menulis dan terserah juga orang mau berpendapat apa...
Ayoooooooo, tulisan ini ditujukan untuk siapa?
hehehehe 