novi khansa's posts with tag: fiksi
Lanjutan: Ketika Bulan Membenci MalamAku pernah berjanji untuk melanjutkan cerita ini :Dso, aku lanjutkan, walau udah lama bangets :P dan hmmm, apa ya, pokoknya jangan kaitkan isi cerita sama gw, ya hayah :P Nggak, bukan gitu, ni tulisan juga dah jadi lama, tapi malas posting dan belum pas aja, tapi ya sekarang saya posting saja walau belum jam 8 :P hihihihi :P Cukup sudah pengantarnya :P hihihi, bersambung lagi, ya biar seru... halah, sok seru :P Bulan dan Malam [2] by: novi khansa ;)
 Tiga tahun sudah, masa itu telah lewat. Tiba-tiba Bulan menatap malam dengan sendu. Melihat langit dengan harap cemas, seolah malam akan merenggut kembali kebahagiaanya. *** Mendung sore itu ketika Bulan pulang dari mengajar. Sebuah pemandangan masa lalu membuat Bulan tersentak dan lupa pada derasnya hujan. Tanpa sadar, Bulan terjebak dikelilingi siraman air dari langit. Bulan diam menatap wajah-wajah yang pernah hadir pada masa lalu Bulan. Wajah yang pernah mengorek dalam-dalam hati Bulan yang rapuh, dan kemudian dengan kasarnya meninggalkan Bulan dalam cemas dan harap. Hatinya telah terisi rasa-rasa yang menyenangkan, tapi juga menyesakkan. *** “Bulan, kok hujan-hujanan” Bunda mendapati Bulan basah kuyup di depan rumah “Gapapa, Bun,” ujar Bulan tenang. “Kenapa ga minta jemput, kalau kamu tak bawa payung.” Bulan berjalan tanpa menghiraukan Bunda. Tas tentengannya jatuh dan sebuah payung ke luar dari sana. *** Seperti tak ada tangis lagi untuk malam. Bulan tak sanggup bersuara. Bulan tak bisa menjawab tanya Bunda. Bulan diam, hanya menatap malam. Sepi. “Bulan, kenapa diam?” Bunda mendekat merengkuh tubuh Bulan dengan hangat. “Bagaimana di sekolah tadi? Murid-murid berulah apa lagi, Bulan?” Selama ini kalau ditanya tentang sekolah, Bulan selalu merasa senang. Bulan akan bercerita dengan ceria tentang murid-murid lucunya. Tak jarang memang Bulan kesal dibuatnya, tapi hati Bulan yang halus selalu bisa memaafkan kenakalan bocah-bocah imut bermata jernih. Bulan masih bergeming. “Dulu, waktu Bulan kecil, Bunda suka bingung karena begitu seringnya, Bunda dipanggil ke sekolah. Sekarang, Bunda jadi ingin tertawa, eh ga tahunya kamu jadi bu guru.” Bunda menggenggam tangan Bulan. Merasakan dingin yang menusuk dan getaran hebat, hingga akhirnya Bulan pun menangis. “Bulan sedih, bun. Butuh waktu berapa lama lagi untuk melupakan semua ini. Bulan ketemu dia.” Bulan menangis sesegukan di pelukan Bunda. Direngkuhnya, anak gadis satu-satunya itu sambil mengingat kembali memori yang telah tersimpan rapi tiga tahun lalu.
bersambung :P foto dari sini
 | Ruang | Feb 8, '08 7:29 PM for everyone |

Setiap informasi yang masuk, selalu melewati sebuah ruang yang kemudian diproses. Tak jarang saringan info itu tak jalan, hingga ada beberapa tempat yang tak kuasa menerimanya. Ada berkas-berkas yang mesti dikerjakan tertumpuk di sebelah sana. Ada hanya sekadar coretan kecil tapi menyayat-nyayat ikut masuk dan menempati bagian di sebelahnya. Ada juga jadwal-jadwal deadline ikut bergabung di sana. Masuk lagi informasi yang kadang tak penting—tapi karena tak ada saringan—ikut meramaikan ruang di sana. Penjaga ruang yang ada di dalam tak kuasa lagi menerima segala macam hal yang dibawa pemilik ruang. Tapi, tetap saja, ada segala hal yang masuk dan masuk, hingga overload. Semua data dan berkas minta ditangani. Semuanya tak urung minta perhatian khusus. Tapi, sang pemilik ruang masih saja menempatkan mereka di sana. Hingga, tak tahan lagi, penjaga ruang itu mengirim sinyal ******** Rasanya denyut di kepala ini makin sering. Belakangan malah, setiap mendengar benda keras, rasanya sakitnya tak tertahankan. Kepalaku sakit sekali, aku hanya ingin tidur sesaat. ******** Untuk sementara ruang agak lengang. Si pemilik ruang sepertinya beristirahat. Hei, tapi apa itu, ada serangan memori dari alam bawah sadarnya. Wah, rupanya dia tak berhenti berpikir ketika tidur. Mimpi-mimpinya begitu nyata. Kadang malah menambah beban ruang itu untuk mengatur segala hal di sana. ******** Aku terbangun dari sakit yang makin tak tertahankan. Mimpi apa aku barusan, sepertinya melelahkan. Kuhampiri ibu yang tengah duduk di ruang tamu. Kuadukan rasa sakit di kepalaku. Kira-kira obat apa.... Aduuuuuuh. ******** Beberapa penjaga ruang sedang merapikan segala macam berkas dan informasi yang masuk. Di sana kadang ditemukan silet, pisau, dan benda tajam lainnya. Ada beberapa berkas juga yang tidak penting dan seharusnya bisa dibuang. Tapi, sepertinya pemilik ruang masih tak mau membuangnya. ******** Aku ingin lupakan hal itu, titik. Camku dalam dada mengingat masa-masa tak menyenangkan dulu. Tapi, tiba-tiba nyeri di kepalaku semakin sakit. Denyutnya semakin keras. Kurebahkan kepalaku sesaat saja. Plissss, tanpa mimpi ******** Penjaga ruang kebingungan melihat jadwal deadline tugas yang tinggal dua hari lagi. Dia ingin meletakkannya di meja pertama. Tapi, tampaknya tidak berpengaruh karena si pemilik ruang tengah tertidur. ”Biarkan saja” ujar sang penyapu ruang. ”Lalu, bagaimana dengan pekerjaannya, tinggal beberapa hari lagi, kalau dia tidak bangun, akan banyak lagi masalah akan datang” ”Iya, tapi, ini saatnya dia tenang. Dia tertidur pulas dan dia tak mengirimkan memori yang mengganggu kerja kita” ”Ok, tapi aku akan menggedor ruang ini kalau dia terlampau lama tertidur” ”Iya, aku yakin dia akan bangun, kok” ******** Aku terbangun dalam tidur yang sangat lelap. Hmm, enak sekali rasanya, kepalaku pun sepertinya sudah sembuh. Hmm, kuperhatikan tanggal di kalender, aku terkejut, 2 hari lagi naskah harus diselesaikan. Tiba-tiba kepalaku kembali berdenyut ******** Ada hal yang membuat ruang yang tadinya rapi kembali berantakan. Rupanya sang pemilik ruang kembali merasakan sakit. ”Apa aku bilang, kalau dia tahu kalau ada deadline, pasti akan kumat” ”Iya, tapi paling tidak, ada ruang yang sehat dan bersih dari masalah ketika dia tidur tadi” ”Iya, tapi kalau begini, dia bisa sakit lagi dan aku benar-benar bingung dengannya, kenapa segala hal dia masukkan ke sini” ”Hei, tunggu dulu, ada kiriman kado di ruang kita” Sebuah hadiah ada di depan penjaga ruang dan penyapu ruang. Sebuah diary yang indah dengan warna-watna pastel di sana. Ada banyak diari. Cukup ditaruh di sebelah segala macam berkas-berkas dan data yang belum diurus. Meletakkannya di sana membuat segala berkas tak tampak menyeramkan lagi. ******** ”Dear diary, sakit kepalaku agak berkurang. Senengnya bisa menuangkan segala hal di sini. Dan wah aku jadi lebih nyaman menulis di sini.” ******** Sedikit demi sedikit berkas-berkas bisa dimasukkan dalam peti atau dimusnahkan. Sang penjaga ruang sangat senang melakukan tugasnya, apalagi kalau sayup-sayup, alunan indah itu masuk ke dalam ruang, rasanya sejuk sekali. Dirinya tersenyum ketika bertemu si penyapu ruang. ”Hei” ”Senyum kamu indah sekali” ”Iya, semenjak ada buku pastel dan alunan itu, tak ada lagi data-data sembarangan yang masuk dan aku jadi rindu kalau dia mulai baca Al Qur’an dan berzikir, rasanya ruangan ini makin sejuk walau tanpa AC” ”Iya jawab si penyapu, tampaknya dia sudah bisa mengatasinya.walau kadang ada serpihan-serpihan yang harus kusapu dan kubuang, tapi bedanya ini lebih mudah, kotoran yang ada tak lagi memberi bekas” ******** Dear diary, tahukah apa obat dari sakit kepalaku ini? Aku mulai menjadwalkan bacaan Al Quranku. Aku mulai berzikir setiap hari dan aku mulai mencatat segala jadwalku. Hmmm, rasanya adem banget dan kepalaku mulai jarang sakit. Yah, walau aku juga masih suka minum jamu orang pintar, hehe. Oh, ya satu lagi, keberadaan dirimu juga telah mengurangi sakitku 
Negeri Ketujuh Bila telah sampai pada negeri ketujuh, jangan lupa tetap menatap langit. Buat lukisan indah dari mimpi dan angan. Singgahilah negeri-negeri lain untuk dapatkan sekantung hikmah, setetes ilmu dan secercah harapan. Jangan pernah terlelap terlalu lama dalam keindahan negeri ketujuh, hingga tak kau sadari kenikmatan bisa berhenti seketika...* ************ Ada sebuah tempat bernama negeri ketujuh. Negeri puncak segala negeri. Negeri indah, menyenangkan, damai penuh dengan kebahagiaan...  Sudah lebih dari beberapa bulan ini Diar ada di negeri ketujuh. Negeri yang menyenangkan, penuh kehangatan dan nyaman. Diar begitu menikmatinya hingga kadang tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di luar negeri itu. Diar terlalu sibuk untuk berkutat terus mengumpulkan pundi-pundi hingga lelah dan terlelap dalam selimut indah, kasur empuk berisi bulu angsa. Diar tak ingin pergi dari negeri ketujuh walau ada banyak orang yang ingin menemui Diar. Diar teramat sangat sibuk memperindah tempat barunya. Diar juga tak ingin meninggalkan negeri itu. Diar merasa pejuangannya kemarin-kemarinlah yang membawanya ada di negeri itu. negeri bebas ancaman, negeri tanpa bahaya. Diar lupa pada tulisan peringatan di depan gerbang negeri ketujuh. Diar terlena dalam kenikmatan negeri ketujuh. Diar kini tak lagi punya mimpi-mimpi. Cukup tinggal di negeri ketujuh saja sudah bisa memenuhi keiginannya. Tapi, entah apa yang terjadi malam itu. Ketika terlelap dalam hangat, Diar bermimpi ada di negeri angan, kemudian terlempar ke negeri impian hingga akhirnya, Diar terbangun di luar negeri ketujuh. Diar terpaku diam, ketika tak mampu lagi membuka gerbang menuju negeri ketujuh. Diar tak mampu berkata-kata lagi, hingga hanya sesal yang menghantui diri. Sesal karena tak pernah lagi melukis mimpi dan angan di langit. Tak lagi mewarnai harapan dan asa di tengah laut. Diar terlelap di negeri ketujuh. Diar terdiam. Diar sadar telah lupa melukis mimpi, lalai menggantung cita di langit. Tidak sembarang orang bisa berada di sana. Tak semua orang bisa bertahan lama di sana. Hanya mereka yang terus berlari dengan sangat cepat, bisa ada di sana. Diar ingin sekali masuk ke negeri ketujuh, tapi tak mampu. Diar menaiki kereta kuda dengan sedikit bekal. Kereta kuda terus berjalan. Kini Diar terdampar di pulau tak bertuan. Tak ada negeri yang ingin menerima Diar. Sekarang, Diar tak bisa meninggalkan pulau itu. Diar harus melukis mimpi di langit bila ingin ke luar dari pulau tak bertuan. Diar menatap kosong langit. Semenjak di negeri ketujuh, Diar sudah lupa pada mimpi-mimpinya. Diar benar-benar tak sanggup lagi berdiri tegak, bahkan tangannya kian melemah melukis mimpi. Ditatapnya langit. Dipandangnya lautan luas terbentang. Diar ingin merasakan dinginnya air laut hingga Diar menemukan sebuah buku usang . Buku itu dilempar seseorang dari negeri mimpi. Diar membuka buku itu dengan perlahan. Kenangan masa-masa Diar melukis mimpi-mimpi di langit. Kenangan Diar pada kehangatan cinta di negeri kasih. Kenangan Diar pada negeri angan, dan negeri-negeri yang pernah Diar singgahi sampai pada negeri ketujuh. Diar tertegun membaca mimpi-mimpinya. Banyak sekali yang tak Diar dapatkan. Diar terjebak dengan rutinitas semu hingga Diar menemukan kenyamanan di negeri ketujuh. Diar termenung. Langit begitu luas. Bintang-bintang bertaburan. Mimpi-mimpi berterbangan mendekati bintang. Tampak di kejauhan anak-anak kecil melukis mimpi, manusia-manusia dewasa mengukir asa. Beberapa orang terlihat menggantung cita-citanya mendekati bintang. Diar mengambil pena dalam buku. Dalam hati, Diar pancangkan asa dan cita-citanya. Diar tegak berdiri mencoba melukis mimpi di langit. Mengingat satu demi satu impiannya. Hingga akhirnya terbentang jembatan pelangi menuju negeri harapan. Diar langkah kaki-kakinya menjejak harapan baru. Di sini Diar tinggal. Di negeri harapan. Diar bisa singgah ke negeri mimpi untuk melukis. Diar bisa berlari menuju negeri cita untuk mengasah ketrampilannya dan bisa sejenak duduk di taman cinta, mentafakuri keindahan ciptaan-Nya. Sejauh mata memandang, negeri ketujuh kembali jadi impian... melemparkan senyuman paling indah untuk harapan dan kasih sayang... *Tertulis di depan gerbang negeri ketujuh Segala hal bisa diraih dengan kerja keras, Ayo terus bermimpi... SEMANGAT :) Untuk mbak Lia, thanks for sharing :) Aku benar-benar mendapat pencerahan darimu. Luv u coz Allah :)
foto diambil saat magrib
Pembicaraan Sunyi
 Dua orang sahabat kali ini kembali bertemu di sebuah taman yang indah. Setiap seminggu sekali, mereka akan bertemu di tempat yang sama, di jam yang sama. Di sana di sebuah bangku taman yang menghadap danau.
Sisi belakang bangku adalah taman bermain. Letaknya di balik pohon. Ada pagar yang mengelilinginya. Dari pukul sembilan pagi hingga ashar menjelang, bahkan bisa hingga azan maghrib. Mereka tak pernah meninggalkan bangku taman itu, kecuali waktu sholat menjelang. Untuk makan pun seringkali mereka tetap memilih duduk di bangku taman itu. Keduanya sering membawa bekal. Setiap jenis makanan yang ada dibagi dua. Ada roti, coklat silverqueen, kue sus, kue black forest, ubi, singkong, tempe goreng hingga nasi goreng gosong... Bangku taman itu saksi persahabatan mereka berdua. Bagaimana setiap pekan mereka bertemu. Hanya sekadar bercerita, diam menatap danau atau hanya sekadar tahu kalau mereka baik-baik saja. Dengan keduanya bertemu dan berada di sisi mereka. Itu saja sudah membuat mereka lega dan senang. ”Bagaimana kabar kamu?” pertanyaan standar itu tak pernah mengawali pertemuan mereka. Genggaman tangan, bersalaman, mencium pipi kemudian duduk. Posisi yang sama tanpa perubahan. Kemudian mereka diam. Kadang ada yang membaca buku, mengeluarkan laptop dan menulis, atau hanya memotret setiap sudut taman yang indah dan danau yang menyejukkan. --------- Ketika salah satu dari mereka mulai menangis, yang satunya lagi mulai mendekat dan menggenggam tangan sahabatnya. Sahabat yang satunya tidak bercerita, tetapi terus menangis... Kemudian sahabatnya memberi segulung tisu dan membiarkan dia menangis... Tidak ada aktivitas apapun selain itu. Tak lama, si sahabat yang menangis pun memberikan sebuah surat. Diam.... Tetes demi tetes air mata... Si sahabat hanya membaca tulisan itu, tapi terus menggenggam tangan sahabatnya. Ada kilatan kemarahan dan sedih hingga ia menyadari, wanita rapuh di sampingnya tidak butuh kemarahan, tidak butuh nasehat palsu, dia hanya butuh kekuatan.... Dipeluknya sahabatnya itu. Kelegaan mengeluarkan air mata di hadapan sahabatnya, membuat dirinya kini merasa lebih baik. Pelukan dari si sahabat memberi kehangatan yang tak ternilai.... ------------- Setelah tangis itu usai. Sang sahabat pun pergi. Sesaat kemudian dua mangkuk es krim sudah ada di tangannya. Tetap tanpa perkataan apapun memberikannya kepada si sahabat yang masih mengusap kedua pipinya yang basah. Sahabat menerima es krim coklat vanila dan melahapnya. -------------------- Hingga ashar menjelang. Mereka hanya duduk di sana. Tangisan tak ada lagi. Si sahabat yang menangis kini tengah sibuk dengan laptopnya. Menulis berbagai hal dalam hidupnya. Menulis kisah persahabatan yang indah. Sementara, si sahabat yang satu lagi tengah membaca buku ”The Secret”. Merasa memperoleh kekuatan baru untuk bisa berpikir positif. Ingin membendung tangis sambil bertahan dari kecamuk perasaan. Si sahabat sadar ada yang tengah terjadi dalam kehidupan sahabatnya. Diletakkan laptop itu, diperhatikannya sahabatnya yang tengah membaca buku. Satu halaman itu tak pernah dibalik, matanya tak melihat buku, tapi menerawang. Ada air yang menggenang di sudut matanya. Sepertinya berusaha ditahan, tapi tak mampu. Si sahabat sadar, sahabatnya mulai memerhatikan perilakunya. Kemudian kedua pasang mata itu bertemu. Sebuah amplop kini sudah berpindah tangan. Isinya diagnosis penyakit jantung yang diderita sahabatnya. Si sahabat berpikir. Lagi-lagi masalah yang dimiliki tak seberapa dibanding dengan masalah sahabatnya. Tapi, lagi-lagi, dia lebih kuat dari dirinya. ....................................................................... foto: http.bp2.blogger.com
Ketika Bulan Membenci Malam
Bulan menatap Malam. Rasanya benci dan hambar. Malam begitu dingin. Malam tak lagi ramai, tapi sepi dengan kebisingan yang sunyi. Malam sangatlah tak ramah, membiarkan Bulan sendirian. *** Kini Bulan tak hanya membenci malam, tapi ingin berpisah dengan malam dan selalu mengharap pagi. Setiap malam, Bulan tak lagi bersinar indah, dia diam. Wajahnya muram, Bintang-Bintang sungguh bingung menatap Bulan. *** ”Aku ingin lewatkan malam dalam diam, atau biarkan aku tertidur hingga pagi menjelang” ujar Bulan kepada Langit. Langit menatap sendu wajah Bulan. Senyumannya memang telah hilang sejak peristiwa itu, di kala malam-malam merenggut kebahagiaan Bulan. *** Langit hanya diam. Bintang-Bintang meminta Langit untuk bertanya pada Bulan. Tapi, Langit diam. Langit merasa tak berdaya. Bulan terlalu rapuh, sendu, menyedihkan... Langit bagai melihat keriput di wajah Bulan. Padahal, belum lama, Bulan begitu bersinar. Sinar cinta yang menyilaukan hingga kadang Langit tertegun menatapnya. Bulan melompat riang ketika berjumpa malam. Bulan nampak makin indah dengan hiasan malam. Tapi, kenapa... Bulan kini lebih banyak diam, dan justru membenci malam. Langit berpikir keras, sambil mencoba mengingat-ingat sejak kapan Bulan mulai terlihat murung. *** ”Kenapa harus ada cinta, ya?” tanya Bulan pada Langit ”Karena dengan cinta, segalanya indah...” jawab Langit menatap Awan, sahabat sehatinya. ”Tapi, kenapa justru cinta melukaiku..” tanya Bulan. *** Kini Langit ingat apa kata-kata Bulan di malam itu. Bulan terluka karena cinta. Cinta yang pernah Cahaya berikan padanya. Yah, semua ini karena Cahaya... Langit tak bisa diam mengingat itu. Langit harus menemui Cahaya. *** ”Cahaya...kenapa kau lukai Bulan?” tanya Langit ketika mendatangi Cahaya yang bersembunyi di dalam gua. ”Aku tidak melukainya, justru aku yang terluka karenanya” ”Kamu bohong...” ”Tidak, justru aku sangat mencintai Bulan” ”Lalu, kenapa kau tega melukai hati Bulan...?” Cahaya terdiam. Dirinya seperti tak sanggup lagi bertahan dengan keadaan dirinya yang payah. Redup, bagai tak bernyawa. ”Aku mencintai Bulan, dan ingin terus menyinarinya....” ”Lalu....” tanya Langit tak sabar. Langit tak memerhatikan betapa rapuhnya Cahaya. ”Tapi, aku salah... tidak seharusnya kuberikan cinta pada Bulan, karena aku telah punya cinta yang lain. Yang menunggu untuk aku sinari...” jawab Cahaya takut-takut Langit akan menyerangnya. ”Lalu kenapa kau dekati Bulan?” tanya Langit tak sabar ingin menghantam perut Cahaya. ”Karena aku begitu mengagumi Bulan, dia indah, memukau....” ”Kamu jahat. Kini Bulan terluka dengan harapan darimu...” ”Iya, maafkan aku... aku juga mencintainya, karena itu aku juga tersiksa” ”Sekarang siapa yang kamu pilih, Bulan atau dia?” ”Aku... aku akan tinggal bersama dengan dia dalam waktu dekat...” ”APPPPAAAAAAAA” Langit pun tak kuasa menahan amarah dan menghantam perut Cahaya. Cahaya terpelanting hingga ke pojok gua. *** Langit segera bergegas kembali menemui Bulan. Bulan masih murung. Bintang-Bintang masih mengelilingi Bulan yang bersedih hati. Begitu melihat kedatangan Langit, Bulan berkata ”Aku tak pernah berharap cinta... karena aku sangat takut jatuh cinta...” ”Dia datang dengan sendirinya, Bulan...” jawab Langit ”Tapi aku tak pernah meminta, Cahaya yang mendekatiku...” ”Cinta itu begitu halus hadir di hatimu, hingga kau tak mampu sadari... ”ujar Langit ”Tapi, kemudian pergi dengan begitu kasar hingga kau sangat kaget kalau cinta ternyata telah pergi dari hatimu” sambung Awan ”Tapi, aku tak pernah mengharap Cahaya...” ujar Bulan. ”Hari itu Cahaya begitu baiknya hingga Bulan terpesona... Bulan nyatakan cinta kepada Cahaya.. baru kali ini cinta begitu indah karena Cahaya” ujar Bulan tersenyum getir Langit, Awan dan Bintang-Bintang terdiam mendengarkan Bulan. ”Tapi, tiba-tiba, Cahaya menatap malam dan bilang, ’Bulan bukanlah yang Cahaya inginkan...’” ”Cahaya meninggalkan Bulan dan berkata, ada yang lain, kan dia sinari... dan itu bukan Bulan...” tangis Bulan Cahaya pergi ketika berjumpa malam. Bulan pun menjadi membenci malam. Bulan tersedu sedan di hadapan Langit, berharap Langit mau memeluknya dan menyediakan pundaknya untuk Bulan. Langit terdiam. Langit menatap matahari yang akan terbenam. Langit berharap, malam tak datang hari ini. ====== bersambung foto: http://jrscience.wcp.muohio.edu/thumbs/WaxingMoon20898.jpeg
| |