novi khansa's posts with tag: fikri

Bulan Jatuh Cinta [3] novi khansa
“Ayah, Bunda… dia benar-benar cahaya bagi Bulan. Bulan sampai bingung mendapat banyak kebaikannya. Hmm, dan tahukah, Bunda… dia ingin bertemu ayah dan Bunda.” Bunda tersenyum melihat tingkah Bulan yang seperti anak kecil. Sementara itu, ayah hanya diam, Bulan selalu punya kejutan dalam hidupnya. Salah satunya kehadiran seorang berharga bagi diri Bulan. Bulan bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tak gampang menarik simpati Bulan yang keras dan perfeksionis. Hari ini ada satu orang laki-laki yang tampaknya berhasil menghias hati Bulan dengan tinta emas. Cinta yang hadir menambah keceriaan Bulan *** Dongeng-dongeng pangeran berkuda putih menghiasi mimpi-mimpi Bulan tentang cinta. Bulan merasa, akan datang seorang laki-laki sempurna yang akan mencintai Bulan dengan tulus. Laki-laki yang hadir dengan membawa sejuta mimpi dan angan menuju sebuah istana indah di suatu tempat di sana. Bulan merasa, laki-laki itu adalah dia… Dir . *** “Bulan, tataplah malam. Langit itu mungkin terlihat kelam, tapi lihatlah bintang-bintang itu, sinarnya menghias malam… tapi akan lebih indah dengan purnama di sana” ujar Dir pada Bulan di atas jembatan menuju rumah Bulan. “Bulan, seperti namamu… semua orang selalu senang menatap kamu. Hadirmu begitu dinanti dan menyenangkan, juga bagiku” Dir menatap Bulan dengan penuh cinta. Pipi Bulan bersemu merah. Diam ikut menatap malam, langit, bintang, dan purnama. *** Belakangan Bunda sering dapati Bulan tersenyum-senyum sendiri. Berlembar-lembar puisi tentang cinta berserakan di atas kasur. Matanya bagai terhipnotis mimpi-mimpi, angan, cinta dan harapan. Entah kenapa Bunda merasa Bulan salah menilai Dir. Bulan terlalu dalam menanamkan harapan pada laki-laki yang memasuki hidupnya. Walau Bunda sadar, Dir memang laki-laki yang baik yang banyak memberi warna dalam hidup Bulan. Juga banyak mengajarkan arti hidup pada Bulan. Dir terlihat yakin, bahkan dengan mimpi dan angan yang sama pada sebuah kehidupan rumah tangga yang baik. Itu menurut Bunda ketika Bulan bercerita tentang Dir. Akan tetapi, entah kenapa, Bunda tak menemukan tulus dalam wajah Dir. Beberapa kali Dir datang ingin menemui Bulan. Dir lebih tampak seperti orang obsesif dibanding kematangannya menerima Bulan. Dir punya banyak mimpi. Dir punya banyak kisah hidup, yang bukannya membuat Bunda tertarik, tapi malah terdiam. “Apakah ini laki-laki yang bisa menjadi imam bagi Bulan?” *** “Ga boleh ya, Bun… kalau Bulan pergi dengan Dir?” “Bulan sayang…. Dir belum siapa-siapa bagimu.Dir masih masih orang lain, sayang” ujar Bunda pada Bulan. Sebenarnya Bunda pun tahu Bulan juga mengerti tentang itu, tapi Bunda juga tahu, Bulan tengah dikelilingi taburan cinta yang menyilaukan. “Ga boleh ya, sayang…” mata sejuk Bunda menatap Bulan. Bunda melihat Bulan kembali ke kamarnya. Bunda tak bermaksud keras pada Bulan. Bunda hanya ingin mengingatkan Bulan yang sepertinya mulai tak logis akan cinta yang menghinggapi Dirinya. Tak lama, dengan cemas, Bunda mengetuk pintu kamar Bulan. “Bulan, boleh Bunda masuk?” “boleh, bun…” “Bagaimana?” kamu baik-baik saja, sayang?” “Baik, Bunda… Bulan baik, kok… dan Bulan juga tak marah pada Bunda, hanya saja Bulan harus menghubungi Dir dan tadi dia marah pada Bulan.” Bunda tersentak. Marah? Kenapa marah? Karena rencananya gagal tak diperbolehkan pergi berdua. Marah karena Bulan menuruti Bunda. Marah kenapa? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Bunda. Satu tambahan lagi, Bunda tak bisa menyetujui kelanjutan kisah ini. “Tapi, tadi dia sudah maklum, dia mengerti Bunda…” ujar Bulan “mengerti untuk?” “kalau Bunda tak mengizinkan kami pergi berdua, dan tahukah Bunda… dia akan datang secara resmi… menemui Bunda dan ayah.” Ujar Bulan tersenyum. *** “Bun, maaf kemarin Dir tak bisa datang, tapi nanti dia datang lagi, yah secara resmi, Bun” ujar Bulan tersenyum. “Iya sayang… kapan dia mau datang ke sini.” “Sabtu sore, Bun. Nanti buatkan dinner yang indah ya, Bun, plisss” Ini yang kesekian kalinya Bulan berkata akan kedatangan Dir, tapi yang ada Dir tak pernah datang. Bulan terus menanti dan menanti. Sabtu sore hingga malam menjelang, Bulan menatap bintang, purnama, dan langit dengan penuh cinta. Dir pernah bilang kepada Bulan “Bulan, tahukah kamu, ketika aku menatap langit dalam malam… di sana selalu terpancar wajahmu. Wajah yang bersinar dengan berjuta bintang yang mengelilingimu.” Bulan tersenyum malu “Jadi, kalau kau rindukan aku… tataplah malam, dan lihatlah aku juga sedang menatap drimu. Kerinduan Bulan selalu terobati setiap kali Bulan menatap malam. Tak jarang Dir menelepon dan menemani Bulan dengan lantunan puisi yang indah. Membuat Bulan berkali-kali memaafkan janji-janji yang berulang kali Dir ingkari. *** Pernah di suatu malam, ketika Dir berjanji akan datang bertepatan dengan acara keluarga Bulan, Dir dengan tiba-tiba membatalkan. “Maaf Bulan… ada urusan mendadak” Bulan yang menanti dengan cemas hanya terdiam. Laki-laki itu tampak tergesa-gesa ketika harus menemui Bulan siang itu di tempat mengajar. “Ya sudah, tidak apa-apa” “Kamu memang baik, Bulan… moga lain kesempatan aku bisa menemui orangtuamu…” “Dir..” rasanya Bulan ingin menanyakan ketegasan Dir akan hubungannya selama ini, tapi bibir Bulan kelu. Bulan ingin Dir yang bicara. Bulan ingin Dir sampaikan rasa itu pada Bulan. Bulan sadar penuh, segala sikap Dir telah menunjukkan perasaan cinta dan sayang kepada Bulan. Dir pun sudah punya komitmen untuk mendatangi ayah dan Bunda secara resmi. Bulan harus yakin, seperti yakinnya Dir pada Bulan. “”iya…” jawab Dir menatap Bulan, yang ditatapnya terus menunduk. “Tidak apa-pa. sepertinya kamu terburu-buru. Hati-hati di jalan, ya Dir…” “terima kasih Bulan…” *** bersambung
“Udah, Fatah ditinggal aja, dikasi susu kaleng” ujar ibu melihat kerepotan kakak perempuan saya. Ibu tidak tega melihat kakak yang mondar-mandir sana-sini sambil menggendong Fatah. Dia harus menyetir mobil mengontrol tokonya, mengantar dagangannya ke toko konsumen dan banyak urusan lain. Terkadang malah, Fahimah, putri satu-satunya juga dibawa. Tapi, sebenernya ibu juga senang sih, kakak ngasi ASI "eksekuplis" ke Fatah, tapi itu dia. Saat ini, kakak tuh bisa dibilang super sibuk. Mana belum lama ini baru aja pindahan rumah... fiyuh... Ibu ikut pindah, aku dan abangku nomaden,... :D Kakak tetap kekeh untuk memberi ASI eksekutif, duh... ekslusif kepada Fatah. Duh, susah banget ngomongnya, apalagi, ibu memelesetkannya dengan ”eksekuplis”, hehehe. Fatah adalah anaknya yang keempat. Usianya sudah lebih dari sebulan. Perawakannya lucu dan menggemaskan kayak bulenya :D. Alhamdulillah, sekarang beratnya sudah 4 kilo lebih... Ketiga kakak Fatah memang tidak mendapatkan ASI ekslusif. Mereka diberi ASI serta tambahan susu formula semenjak bayi. Apalagi, kehadiran anak kembar dua tahun yang lalu. Oleh karena itu, kakakku ingin memberikan yang terbaik buat Fatah. Jadi, ke mana pun, kakak pergi, Fatah selalu dibawa. Ibu sendiri memberikan ASI ekslusif bagi kami semua. Hmmm.. yah, semoga saja, usaha kakak bisa terus dijalani di tengah kerepotan mengurus 3 anak lainnya... dan Weh, salut euy... doakan ya :) *hisk ga bisa update foto fatah terbaru, kabel datanya ngumpet... :D
 Duh, lutuna... :D manis, ganteng... heheheh.... mirip fahmi dan Fikri... posting foto dulu ah :D namanya belum ada kayaknya mau dinamain Fatah... identity: Bayi dari Firdaus Noor Farid & Munawati Fitriyah adik dari Muhammad Khoirul Fikri Fahimah Nur Ilmi Muhammad Fahmi Khoiri (perhatikan huruf F di sana) BB: 2, 9Kg P: 45 cm wajah lucu seperti bulenya ;)  Doain kakakku ya... katanya bekas operasi sakit banget, mau cerita soal kelahirannya, tapi kakak lom bisa diwawancara (gw tega banget, ya) :D. Ga segitunyalah, Nopi kan adik yang baik dan lucu :D, halah... Hmm, tadi sempet nengok... lumayan lama, dan kakak ipar nyuapin makanan ke kakakku... cieh romantis, halah... tapi katanya sakit banget, lebih sakit dari sesar si kembar, 2 tahun lalu... hmmm, tadi juga besuknya rada rusuh secara si kembar ga mau diem dan si fikri juga... jadinya ya jalan2 mulu, liat dedenya sekali2, lagian aku pas flu, so, ga tega deket2 dia... hmm, miss u fatah :D tapi bingung mau ditaro di mana, boks bayinya kan gede banget dan dijadiin mainan kakak2nya...hihihihi.... hmmm, lucu kan????
Insya Allah, kakak dijdwalkan melahirkan sesar akhir mei ini. Perutnya udah gede dan keras gitu, deh... Beliau begitu sibuk... dan kayaknya repot dan riweh... hmm, kira-kira apa ya yang musti dimasukin ke dalam tas untuk persiapan dede yang ke-4, ya? kemaren sempet ngobrol-ngobrol... dan kakak minta tolong aku. Dulu, sih, waktu si kembar, aku nemenin kakak belanja, beli ini dan itu. Nah sekarang kayaknya beliau sibuk euy... jadi ingat...pasti ada memory untuk tiap bayi2 yang lahir dari rahim kakak...waktu Fikri... aku nemenin beliau yang lagi keranjingan beli baju bayi... fiyuh, bener2, dehpas si kembar, ya lumayan masih tergila2 juga :D, tapi waktu si kembar, kan di-USG kembar cewek, eh ga tahunya, yang satu cowok... hehehe, untung aja warnanya universal.Nah, yang ini nih, insya Allah cowok, beliau sih udah beli untuk si baby, dan tentunya masih ada peninggalan dari si kembar yang sekarang umur 2 tahun...Hmm, bulan mei jadi bulan kelahiran generasi F :Dpas Fikri lahir aku masih d3 di poltekpas si kembar lahir aku masih nyantri di BIKnah, pas si calon F..... aku lagi ga kuliah :(today fikri's birthday ;)2 hari kemudian...kakak yang cowok milad :DSo, apa aja yang kudu disiapin, ya...udah ada sih list di kepala.. tapi minta masukan...yang jelas bukan coklat untuk bulenyayang kemungkinan kena jaga :Dfotopas milad kakak tahun lalu...iki umur 5 tahun lebih dan si kembar 1 tahun lebih...
|  | Akhirnya, secara spontan jadi juga jalan bareng Iki hari Senin lalu. Spontan... karena kalo ga gitu bulenya ga bisa mulu...
Sebenernya jalan-jalan cari buku buat Iki itu rencananya pas Iki libur sekolah dan mau masuk SD, tapi kok lama, ya... ;) sementara Fikri menagih melulu... dan tiap aku bilang libur, dia selalu menanggapinya dengan libur lebaran.. gubraks lebih lama lagi...
Hmm, awalnya mau ngajak ke Toko buku deket kantor klien, tapi aku ngasi tahu Iki toko buku 4 lantai... dan dia mau tahu, jadilah kami ke Gramedia Matraman...
Sekalian pas balik naik Bussway, Iki seneng :) Hmmm, pokoknya kalau jalan sama bule, naik angkot, bus dan lain-lain beda kalo jalan sama ibu & ayah, yah biar dia ngerasain angkot, donk.. dan hmmm, ada satu kesamaan kami.... ga lama angkot jalan, iki pun tidurrrrr Zzzzzz (aku terpaksa ga tidur ;p) sampe-sampe pas pulang, aku kudu gendong dia...
:)
Hadiah lulus Tk dan ultahnya lebih awal, ya ki... jangan nagih lagi ;p
|
| Start: | Apr 28, '08 11:00a | | Location: | gramedia dan sekitar ;) |
hari ini hari bule dan iki ;) kami mau jalan2 dulu, ya ;) ke toko buku :hihi:
 Ahad kemarin, aku nonton The Nanny 911... waah anaknya banyak banget, ada 6, lho... dari gede sampai yang masih bayi. Sedikit yang bisa aku tonton, "secara" juga lagi jadi nanny :hihi: Hmmm, Sejah masih kuliah dulu, aku emang udah punya si kecil Fikri (baca: keponakan). Dari awal yang cuma tahu ngeliatin doang kalau kakak dan ibu ngurusin dia, sampai secara alami, aku pun mulai mencoba bantuin... Mulai menyuapi... yang ini nih, pas Fikri masih makan bubur seduhan aja, lho... kalau sekarang makin jarang... apalagi menu sekarang, nasi ;)... susah euy, tantangan tersendiri ternyata untuk menyuapi makan bocah-bocah... cuma aku inget pas nyuapin dia pas piknik ke ancol... wuh, musti rayuan maut kaliiiiiiii Hmm, mulai menceboki, memandikan, ngajak jalan-jalan, main dan menemani mereka bobo :D. *kayaknya yang terakhir jadi favorit :hihi: Nah, kalau si kembar sendiri lahir ketika aku sedang sibuk-sibuknya kuliah dan kerja dan kerja... maksudnya: pagi-sore: kerja kantor dan kerja outsourcer, sedangkan sore-malam: kuliah pesantren ;) Hmm, si kembar lahir tak terkira, dan kudu rekrut mbak lagi, so.. kudu punya 2 mbak... Hmm, kalo cuma satu, agak repot juga, walau ada aku dan ibu di rumah. Lagian kan, walau kerja di rumah, aku juga kudu konsentrasi... Hmm, ternyata punya anak itu adalah tantangan tersendiri... sambil inget pas nonton kemaren anaknya 6, boooooo... di sini 3 aja, hebohnya bukan main... Makanya, profesi ibu rumah tangga itu punya nilai tersendiri... apalagi kalau ibu rumah tangga yang juga ibu karir... Duh, aku yang ngeliat ibu dan kakak aja suka kadang terbengong-bengong... apa aku bisa? "secara" ngurus anak itu ga gampang... dari bayi hingga gede... udah gitu, aku tuh masih susah menjawab tantangan si Fikri, yang kadang gemesin gitu... Tapi mau sejengkel-jengkelnya, gemes2nya, atau kesel... pasti bakal balik lagi deh terhibur dengan tingkah polah mereka, mata mereka yang indah... dan banyak lagi... Hmm, yo wes lah jadi sarana latihan aja kali apalagi nanti bakal ada bayi lucu yang akan hadir di rumah ini :)
| Start: | May 21, '08 03:00a | | Location: | home sweet home |
Yeee, milad Fikri yang ke-6.. ;) cieeeeeeeee hm, kado buku kayaknya ya ;)
novi khansa
Sebelumnya, saya ingin memberi sedikit gambaran. Tulisan ini adalah sudut pandang saya sebagai seorang bule (bahasa jawa: tante) menjadi pengamat, lahirnya bayi-bayi mungil di keluarga kami. Bayi-bayi yang begitu menawan hati, menggoda dan memberi sangat banyak arti dalam hidup saya... Yah, saya mendapat banyak ”pelajaran” dari mereka... bagaimana musti bersabar, bersahabat dan mengerti dunia anak-anak...
Saya persembahkan tulisan ini untuk three little F yang akan berulang tahun ke-2 dan ke-6 serta sedang menanti adiknya yang keempat. Juga, untuk two F alias orang tuanya yang sedang mencari-cari nama untuk bayi mereka. Tentunya dengan awalan F juga 
Saya masih ingat ketika disuruh membeli test pack merek Sensitif oleh kakak. Teringat pula dengan jelas, saya bingung bagaimana cara membelinya. Jujur, saya malu, hehehe... Saya juga ingat ketika akhirnya dites, hasilnya negatif. Tapi, tak berapa lama ditest lagi hasilnya positif. Test pack dengan merek berbeda. Test pack kedua lebih murah dari test pack pertama, hehe . Saya juga ingat ketika diceritakan ibu, perihal kakak yang mendatangi Puskesmas di dekat tempat tinggal kami. Sang dokter tertawa ketika kakak memberi tahu bahwa dirinya hamil. Kakak saya memang berwajah imut-imut, badannya lebih pendek dari saya dan beperawakan kecil. Mungkin dipikirnya kakak saya masih sekolah dan ngaku-ngaku hamil, hehehe . ****  Dini Hari, 21 Mei 2002 Kakak perempuan saya sudah merasakan mules di perutnya dan berjalan mondar-mandir di rumahnya. Saya, ibu dan bapak pun bergegas mendatangi rumah kontrakan kakak yang hanya berjarak 3 rumah. Bapak sudah siap-siap untuk membawa kakak dengan motornya ke rumah sakit terdekat ketika ada tetangga yang mengetahui kepanikan kami. Kemudian mengantarkan dengan mobilnya. Saat itu saya ingat, tampaknya, hanya saya yang bisa melihat ”kehebohan” di rumah karena yang lainnya tampak panik. Saya malah sempat tertawa-tawa. Bukan apa-apa saat itu saya ingat iklan layanan masyarakat tentang suami SIAGA. Siap Antar jaGA. Tapi, di sini bukan hanya suaminya yang siaga, keluarga sampai tetangga pun SIAGA kalau ada ibu hamil yang ingin melahirkan.  Tak berapa lama, rombongan pun berangkat sementara saya tetap berada di rumah. Saya baru menyusul ketika mulai pagi dan memutuskan bolos kuliah. Kakak belum juga melahirkan. Saat itu lagi-lagi saya bisa melihat wajah-wajah cemas di sekeliling saya. Ibu tampak tidak tenang. Saat itu yang menunggui kakak adalah saya, ibu dan kakak ipar. Bapak saya menyusul kemudian. Terlihat dengan jelas wajah kakak ipar yang kelelahan dan kebingungan. Kemudian dia pamit ke masjid. Sementara itu, ibu tak henti-hentinya bingung juga, apalagi mendengar teriakan-teriakan di ruang persalinan. Hmm, sepertinya ada air mata yang muncul dari matanya. Saya tidak tahu rasanya, yang jelas ini adalah kelahiran cucu pertama dari anaknya yang pertama. Tak berapa lama, ibu menyuruh saya memanggil kakak ipar yang ada di masjid. Tampaknya, kakak saya akan segera melahirkan. Saya pun menghampiri kakak ipar yang tengah mengaji di sudut masjid. Ketika kembali, saya tak menemukan ibu di tempat menunggu, ibu nekat masuk ke ruang persalinan. Sebenarnya, saya sudah dapat melihat gelagat kecemasan ibu, tapi tak terpikir, beliau akan masuk ke sana. Saat itu, hanya suami kakak yang boleh masuk ke ruang persalinan. Alhamdulillah, sekitar pukul 10.00 pagi, lahir seorang bocah mungil dengan berat 2,8 kg dan panjang 47 cm dengan persalinan normal. Tak terkira gembiranya kami saat itu. Saya, ibu dan bapak melihat bayi itu lewat kaca di tempat khusus bayi. Ada banyak boks dengan bayi-bayi yang lucu-lucu. Tapi, mata kami hanya fokus kepada satu bayi yang kemudian diberi nama Muhammad Khoirul Fikri. Berbagai gerak-geriknya menjadi hal yang lucu dan menarik bagi kami. Masih jelas di ingatan saya, bapak yang begitu gembira dan tertawa melihat si mungil Fikri. Satu cucu yang telah diberikan kakak sebelum ajalnya menjemput dua tahun kemudian. Kini bayi mungil itu akan berumur 6 tahun bulan Mei nanti, menunggu lulus TK. Anak kecil pertama yang telah banyak merebut perhatian kami. Anak pertama, cucu pertama, buyut pertama dari pihak kakak ipar. Dan tentunya keponakan pertama bagi saya dan om-omnya. Anak kecil pertama yang membuat saya tak lagi dipanggil ”ade” oleh bapak, dan keponakan pertama yang memanggil saya dengan sebutan ”bule”. Banyak warna yang telah dia berikan. Ada tawa, ada tangis, ada jahil dan banyak lagi hingga kemudian dia memberi saya titel ”bule galak” atau ”kadang-kadang baik, kadang-kadang galak”. Fikri sangat menyukai lagu ”Tante Cerewet” dari grup Trio KwekKwek dan kemudian dia ganti dengan ”Bule Cerewet”. Fiyuh ***  Empat tahun kemudian, di bulan yang sama. Sepasang bayi kembar lahir dengan persalinan sesar. Hadiah bagi Fikri yang berulang tahun keempat. Dari awal kehamilan sudah ditemukan hal aneh. Kakak saya giduan alias gatal-gatal, padahal sebelumnya tidak pernah. Tak berapa lama, kakak memeriksakan diri ke rumah sakit. Berbagai pertanyaan telah disiapkan. Belum sempat ditanyakan, pasangan suami istri itu diberi sebuah kabar kejutan. Bayi yang dikandung kakak kembar dengan dua telur. Alias bukan kembar identik. Masing-masing telur beratnya berbeda. Buyarlah semua pertanyaan yang telah disiapkan. Haa, kembar??? Keturunan dari mana? Kami sempat mengira, keturunan kembar datang dari saudara kakak ipar, tapi jaraknya lumayan jauh. Selidik punya selidik, ternyata keturunan kembar berasal dari orangtua ibu saya. Ada yang kembar sejenis dan ada yang beda jenis kelamin. Diprediksi saat itu bayinya kembar perempuan. Berat bayi yang pertama lebih besar dibanding yang satunya lagi. Bayi yang lebih besar mendominasi wilayah rahim, sementara, bayi yang kecil menyempil di sudut yang lain. Sang dokter menyuruh kakak mengusahakan agar berat kedua bayi itu sama. Saat itu Fikri sempat kekeh kalau bayinya laki-laki dan perempuan. Hehe, maunya? Pas dengar kembar saja sudah kaget, apalagi kalau kembar sepasang, atau istilah orang Jawa, dampit. Sejak beberapa bulan sebelum kelahiran, sudah dikabarkan kalau kakak harus menjalani operasi sesar karena posisi kedua bayi yang malang melintang. Pasangan suami istri tersebut pun menentukan tanggal kelahiran. Karena keduanya suka matematika maka angka menjadi sesuatu yang unik bagi mereka. Akhirnya, ditentukan tanggal 4 adalah tanggal operasi sesar dan kelahiran bayi. 17 (tanggal lahir kakak), 21 (tanggal lahir Fikri) dan 25 (tanggal lahir kakak ipar). Diambil tanggal 4 sebagai penambahan dari 17 ke 21, kemudian ke 25. Kakak ipar, bule saya dan saya yang saat itu sempat ngantor, sudah merencanakan untuk mengambil cuti pada tanggal 4 itu. Manusia berencana Allah juga yang menentukan. 3 Mei 2006 Dering telepon terus berbunyi. Dari kakeknya kakak ipar yang menanyakan persiapan melahirkan kakak. Dari bule saya yang juga seorang bidan yang menyuruh untuk booking kamar terlebih dahulu agar memudahkan setelah proses persalinan. Dari kakaknya kakak ipar yang ada di Australia yang juga menanyakan kabar kakak. Padahal, saat itu di rumah masing tenang-tenang saja. Kakak ipar bekerja seperti biasa. Saya berkuliah dan bekerja seperti biasa. Hingga akhirnya ketika di tempat kerja, saya mendapat kabar kalau kakak akan melahirkan hari itu juga. Saat itu sudah pembukaan 1, padahal katanya kalau mau disesar, jangan sampai ada pembukaan dulu. Saya ingat benar siang itu ketika di kantor, ibu menelepon saya, mengabarkan kalau kakak sudah melahirkan. Lho kok, udah? Ditambah lagi ketika tahu kalau bayi yang satunya lagi ternyata laki-laki. Yups, kami baru mengetahui kalau salah satu bayinya laki-laki setelah lahir. Bayi perempuan beratnya 3,1 kg dengan panjang 49 cm, sedangkan bayi laki-laki, beratnya 2,5 kg dengan panjang 47 cm. Rasanya tak sabar ingin segera menengok, tapi sore itu saya harus kuliah. Saya urungkan niat untuk menengok si kembar sampai ketika jam kedua mata kuliah, saya minta izin untuk pulang. Tapi, apa mau dikata, jam besuk sudah lewat dan saya harus menunggu esok untuk melihat sepasang bayi mungil itu. Ketika menengok, saya tak lupa mengabadikan mereka dengan foto-foto. Kalau baru-baru, saya pakai handphone kamera kakak, ketika menjenguk selanjutnya, saya pakai kamera kecil. Blitz pada kamera begitu menyilaukan. Saya sempat khawatir kenapa-kenapa dengan si kembar. Alhamdulillah keduanya sehat. Bayi perempuan dinamakan Fahimah Nur Ilmi. Teriakannya sejak bayi sudah keras hingga hari ini. Bayi laki-laki bernama Muhammad Fahmi Khoiri. Walau ketika bayi kalem dan pendiam, sekarang, jangan tanya, deh... walau badannya mungil, tapi ocehan dan tenaganya... benar-benar mengejutkan. Selanjutnya, hari-hari saya makin ramai, makin ceria, makin mengajarkan saya untuk lebih bersabar. Sebagai anak bungsu yang manja, saya benar-benar tak menyangka akan dihadapkan pada 3 bocah lucu yang selalu mewarnai hari-hari saya. Secara alami, saya mulai bisa mengganti popok, mencebok, menyuapi, membuat susu, memandikan dan banyak lagi walau kini tak saya kerjakan sering.
Tapi, hingga hari ini saya merasa masih kurang. Kurang sabar, kurang telaten dan banyak sekali kekurangan saya. Hmm, tampaknya ”kursus” mengurus bayi akan berlanjut sambil menanti kelahiran bayi yang keempat. Saat ini usia kehamilan kakak sudah mencapai 7 ½ bulan. Waah... akan ada kejutan apa lagi, ya?  ***
Untuk Kang Dani dan Mbak Endah Untuk mbak Dedew dan suami Untuk mbak Indar dan keluarga Mas Nursalam dan Mbak Yuny Veby dan istri yang sedang menanti kelahiran bayi Selamat juga untuk Mbak Indri dan Mas BJ Kang Chandra dan keluarga Mas Epri dan keluarga Mbak Sya dan keluarga Mas Margo dan istri Hehehe, nopi ngabsen bumil dan SK junior , ayo siapa yang belum masuk??  Sama-sama saling mendoakan agar persalinannya lancar serta ibu dan bayinya sehat. Amiiin 
 | MOMOGI | Apr 1, '08 12:53 AM for everyone |
 Momogi itu singkatan dari momong la gi ;p atau momong, gih...;p sambil ketak ketik, atau Ol, sambil lari ke sana ke mari, kadang juga sambil berpangku tangan, eh memangku si kembar.. kadang 2-2nya, kadang satu... :D Jadi, kalo kerja kadang di selingi lihat2 foto 3F... dll... :D dan mereka tuh suka penasaran gitu sama barang2 aku. penasaran sama mouse kompi, buku yang di meja, selotip, atau apa aja, deh... Seru kadang... puyeng ... kadang... apa sering, ya, hehehe...  apalagi kantorku kan terbuka, dekat dengan ruang tamu yang biasanya jadi tempat main so... gitu, deh... makanya kadang kalau lagi butuh inspirasi milih kerja malam atau menjelang pagi... ;p tapi kalo bener2 sepi, alias mereka lagi pada jalan2... kok rasanya ada yang kurang, ya.... ga ada yang manggil buleeeeeeeeeeeee, ee, pipis :D (itu fikri) kalau si kembar, paling nyamperin udah dalam keadaan pampers penuh ee... minta makanan, dll... ;p ga bisa ngegambarin keadaan sekarang, ada fikri dan temen2nya lagi main pinguin yang pake suara.. terus ada kemah tempat mandi bola yang ada kayak pipanya, tadi sempet masuk dan pengen lewat pipanya, tapi ukurannya lebih pendek dari badanku...:D hehehe... biasanya, aku akan cuek di depan kompi, tapi kalau udah ada yang macam-macam... bule nopi bakal cerewet, hehehe ;p sesuatu yang sangat menyenangkan ketika melihat keceriaan 3F... yang sedih dan bete lewat, deh... ;p
 Ada-ada aja tingkahnya bocah yang satu ini. Insya Allah, rabu besok Fikri dan seluruh TK se Jakarta, apa seJabodetabek, hehehe, ga tahu, deh, akan piknik dan ada acara lomba gitu, deh... Fikri kebagian ngewakilin sekolahnya untuk ikut lomaba pidato, padahal sih kalau ditanya di rumah, jawabannya ga jauh dari "kingkong", pengkong"... Pokoknya ga bisa ditanya, deh... tapi ga tahu kenapa bisa-bisanya dia yang ikut lomba... tau ah kingkong ;p Karena, sang ibu ga bisa mendampingi Fikri piknik besok... maka mbah (ibuku) menjadi alternatif pertama... tapi ga tahu kenapa beberapa hari yang lalu, Fikri menolak katanya karena si mbah itu udah tua dan jelek, (haduuuuuh, ni sapa lagi yang ngajarin)... maunya sama bule (aku) yang muda, plus tambahan cantik ;p Hehehehe... tapi kemarin dia berubah lagi, bilangnya maunya sama si mbah yang punya duit karena kata si Fikri, bule ga punya duit....;p Katanya kalau udah tua punya uang banyak kalau muda nggak... Cape, deh... Akhirnya, setelah berubah pikiran lagi, Fikri mau pergi sama aku... karena masih muda dan cantik... ;p langsung si Fikri protes karena yang cantik itu ibunya, huehehehehe... Asyik besok nonton 4 dimensi, jalan-jalan.... ;p tadi baru aja abis belanja buat piknik besok, Fikri sih cuma beli makanan dikit, tapi bulenya, hehehe ;p
|  | Fikri berteriak-teriak dari atas manggil si mbak.... duh kenapa lagi si ni anak.... ga tahunya..... dia terjebak di atas di dalam lemari pas mau ngambil mainan kayaknya,,., karena si mbak ngurusin yang lain, aku yang ke atas... dan demi ngeliat kekonyolan bocah satu ini, aku pun bilang "dipoto dulu ya ki" baru deh ditolongin turun dari lemari.........hahahahahaha
ada-ada aja,.... bocah satu ini emang bener-bener, deh...
*kejadian udah lama, tapi aku lagi kangen Fikri yang udah 5 hari di RS... cepet sembuh ya iki cayang i luv u... (dan biasanya Fikri akan menjawab luv u tooo)
huaaaaaaaaa........kangen.... |
Fahmi keponakan saya menghampiri, menangis dan mengadu kalau baru saja kepalanya kejedot toples kerupuk. Dia merengek minta diperhatikan. Tak lama, dia sudah diam dan mau ketika saya suapi ayam goreng. Tak lama, dia sibuk bermain dan tak lupa memanggil saya ketika dia berhasil melakukan sesuatu. ”Be... Be...” panggilan yang terdengar merdu buat saya. Sebelumnya, Fahimah berkali-kali menjitak saya dan mengajak saya bercanda. Panggilan Fahimah kepada saya pun tak jauh beda, ”mbe... mbe”. Karena kedua keponakan kecil saya belum bisa memanggil ”bule” maka yang keluar, ya ”be”, ”mbe”. Beberapa hari ini, saya sering berjalan-jalan dengan si kembar dan bermain plus membacakan cerita untuk Fikri. Sebuah kenikmatan yang tak terbayar. Kelelahan yang seru, dan suasana yang tak terlupakan. Semenjak, salah satu khadimat pulang ke kampung karena sakit. Keadaan di rumah makin seru dan repot. Mau ga mau, saya ikut bantu. Kira-kira ada kenaikan sekian persen dibanding beberapa bulan sebelumnya. Lucunya, pas benar keadaannya karena di saat si mbak itu pulang kampung, pekerjaan saya sedang sepi.  Saya sih sempat bingung, karena tiba-tiba hari berjalan begitu cepat dan rasanya hambar. Kayaknya ga biasa aja. Hampir setiap hari sibuk dan deadline mewarnai hari-hari saya. Ini kok saya malah disibukkan dengan para bayi dan Fikri. Memang ada rasa senang dan damai, tapi tetap ada perasaan bingung. Saya pernah berpikir, lebih baik ditekan deadline daripada menganggur. Rasanya kalau nganggur itu berat banget. lebih capek daripada kerja. Rupanya ada hikmah tersendiri dari keadaan ini. Saya jadi lebih akrab lagi dengan 2 jagoan dan 1 putri di rumah. Bukan berarti sebelum-sebelumnya tidak akrab, tapi keakraban makin kian bertambah dengan keadaan yang ada. Sebelumnya, beberapa bulan terakhir di saat pekerjaan overload, walau saya ada di rumah, saya jarang bermain dengan mereka. Saya hanya sesekali dititipkan untuk menjaga salah satu dari mereka. Jalan-jalan pun hanya sekadarnya saja. Menjaga juga hanya seperlunya. Saya lebih sering berhadapan dengan komputer dan beberapa acara komunitas. Tapi beberapa hari terakhir ini saya banyak bercengkerama dengan mereka. Hari ini khadimat yang sakit telah kembali ke rumah. Ada sedikit perasaan yang terempas. Ada sedikit rasa yang sepertinya akan hilang perlahan. Aaaah, ada-ada saja memang. Hmm, sepertinya saya harus lebih menata waktu saya dengan baik antara pekerjaan dan keluarga agar panggilan hangat dari mereka tak hilang. Semoga saya bisa karena betapa banyak yang saya dapatkan dari mereka. Guru kecil yang sangat jujur :)
mi.... mah.... Iiiiiii......
kayaknya kalo cuma ngegambarin di tulisan agak susah, ya suasana di rumah saat ini...
yg satu... lari ke sana ke mari.... yg satu... lagi disuapin... sebelumnya makan pisang... kirain dah dimakan pas ngeliat pisangnya tinggal dikit.... tahunya................
yg satu lagi......teriak-teriak........ karena udah waktunya tidur........
angin kenceng...... ujan........
jemuran melambai-lambai....
hiks...hiks, dari tadi buka file mau ngeprint... ga jadi-jadi mau nulis, ga bisa-bisa
foto: nasib kerjaan pas ditinggal bentar ke kamar... "bule... liat, deh..." untung aja.... msh terselamatkan, hihihi...abis dipoto, dilempar deh tuh barang2 :D
|  | Keponakanku yang satu ini emang ganteng.... ;) |
| |