berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: diary freelancer

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag diary freelancer
Blog EntryCurhatan freelancer Ketika Rindu NgantorAug 13, '08 12:36 AM
for everyone

“Duh, ketiduran”

Jam di Handphone masih menunjukkan pukul 4 pagi. Iya, harusnya malam itu aku tidak tidur, kalau pun tidur tidak perlu sampai pukul 4. Ada deadline yang menunggu, yang harus aku rapikan dan print. Ada tagihan yang musti aku hitung. Ada janji hari ini dan banyak hal lain yang musti aku kerjakan.

 

***

 

Terkadang di kala menekuni pekerjaan, terbersit keinginan untuk kembali berkantor. Apalagi, ketika berada pada posisi butuh pertimbangan, bimbingan, ada yang harus dipikirkan dan banyak lagi. Apalagi, kalau tiba-tiba komputer ngadat, printer error, dan hanya bisa tanya sana, tanya sini…

Seringnya kakak perempuanku jadi “korban” dimintai pendapat karena ibu lebih sering bilang “nggak ngerti…” Tapi, ibu tetap yang no satu untuk urusan kepedulian dan perhatian… Two tumbs up for you, mom… ;)

Hehe, padahal konsekuensi freelancer, ya kerja sendiri dan mandiri.

 

***

Aku resign dari sebuah penerbit akhir tahun 2004. Awalnya karena aku mau meneruskan kuliah S1. Apa daya, nilaiku tak bisa dikonversi dan enggan kuliah lama (4 tahun, bo… D3 yang kemaren ga kepake sama sekali, hiks). Jadilah, aku cari “ilmu” yang lain, tapi tentunya aku harap bisa tetap bekerja di sebuah penerbit yang lebih dekat rumah (penerbit sebelumnya cukup jauh dan butuh waktu 3-4 jam perjalanan pulang balik). Rupanya, Allah berkehendak lain, ketika akhirnya aku diterima di sebuah pesantren terbuka (semacam mahad) dan punya jadwal kuliah yang nanggung (berangkat dari rumah pukul 2.00, pulang pukul setengah 9 malam, sudah termasuk perjalanan), aku masih bisa tetap bekerja.

 

Alhamdulillah, dua bulan sebelum aku mulai kuliah, penerbit tempat aku bekerja dulu, menjadikan aku outsourcer untuk layout isi buku, sesuai dengan pekerjaanku terdahulu. Kalau tidak salah, order pertama itu Februari 2005 dan pembuatan nota pertama Maret 2005 dengan nama Khansa’Kreatif. Sebenarnya nama Khansa ingin aku gunakan untuk nama pena kalau aku menulis nanti, tapi rupanya aku belum menulis-nulis, jadilah aku pakai nama ini untuk usaha jasa desain dan editing dengan filosofi yang terus kupegang untuk cita-citaku. Berjalannya waktu, ketidaksengajaan ini terus berlanjut, ditambah, ada rekan semasa kuliah yang juga memakai jasaku. Jadilah, aku mengurus dua proyek buku. Dari mulai cari illustrator dan desainer cover, memilah naskah, mengedit, membuat kata pengantar, sinopsis dan mengumpulkan hingga jadi. Mengatur waktu pengerjaan proyek, menghitung biaya dan banyak lagi. Hingga, ketika salah satu buku akan naik cetak, aku sakit hampir sebulan.

 

Sebagai freelancer, kalau tak bekerja, aku tak dapat uang, dan tentunya tidak ada tunjangan. Tapi, Allah mahabaik, aku mendapat full gratis pengobatan dan perawatan karena saat itu wabah demam berdarah (Februari 2006). Sejak itu, aku selalu ingat untuk makan dan istirahat. Yup, dengan kerja freelance begini, aku harus terbiasa ditekan deadline, ditambah lagi kerja dengan penerbitan yang punya timeline sendiri. Yah, tidak hanya outsourcer, sewaktu aku masih bekerja di penerbit, aku pun beberapa kali bawa pekerjaan ke rumah dan lembur di hari Sabtu.

***

Ketika rindu berkantor, Allah mewujudkan impianku di Tahun 2005. Aku dapat tawaran bekerja lagi setelah pengajuan proposal kerja sama. Saat itu klien sudah lumayan. Hampir tiap bulan ada pemasukan dan catatannya sendiri kadang membuatku berpikir, kerja, kuliah jalan terus, nilai lumayan, hingga karena sakit, aku harus rela menjadi peringkat terbuncit di kelas. Down pastinya, tapi pekerjaan kembali menjadi pelarian… Aku pun mulai sibuk lagi. Bekerja kantor tiga kali sepekan, kuliah sore hingga malam dan bekerja di rumah. Lelah pastinya, tapi aku merasa senang,walau kadang ada amanah dan kuliah pesantren yang terbengkalai. Hingga hari ini tugas akhirku yang idealis tak kunjung selesai. Bandel, nih… :(.

Hmmm, masa menganggur bakda lulus D3 sekitar 4 bulan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan. Aku benar-benar stres dan tak ingin lagi mengalami masa itu hingga aku ingin terus bekerja…

 

Aku nikmati masa-masa ngantor. Makan siang bareng, kerja bareng hingga ritmenya pun mulai melelahkan. Dua atau tiga kali aku harus pulang di atas pukul 12 malam. Masuk angin, magh, diare jadi langganan lagi. Terlebih aku suka lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu. Setahun berlalu, keadaan perusahaan tampaknya juga tak memungkinkan aku terus berada di sana. Pekerjaan di rumah pun sering bentrok hingga aku mulai kehilangan salah satu klien. Masalah dengan tim juga menambah pertimbangan untuk resign. Yah, bulan Mei 2007, aku resmi resign lagi setelah setahun  ngantor. Aku berpikir, rasanya terlalu lelah untuk berada di atas dua perahu. Walau kadang keadaannya saling mendukung, tak jarang juga saling berbenturan.

 

Aku kembali ke rumah. Saat itu, aku masih memiliki tim khusus. Lagi-lagi, ada cobaan baru, dengan resign-nya aku dari kantor, otomatis, posisiku berbeda dengan dua partnerku. Berkali-kali menyatukan visi dan misi, tapi tak jua bertemu. Isi kepalaku makin beda dan keadaan merongrong aku. Aku jelas-jelas mendapatkan uang hanya dari kerjaan freelance, gayaku beda, cara kerjaku beda, keadaan benar-benar tidak sama. Salah satu partner tidak bisa produktif setelah menikah dan hamil. Pekerjaan di kantornya sendiri juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi timpang. Akhirnya, sampai pada keputusan kami berpisah. Nama Khansa’Kreatif kini hanya aku yang menyandangnya. Tapi, alhamdulillah, persahabatan kami jalan terus dan hingga kini aku masih tetap bekerja sama dan sering bertukar pikiran dengan mereka. Dini, ade… kalian benar-benar sahabat yang terbaik :)

 

Yah, begitu banyak yang terjadi hingga hari ini. Kadang rindu berkantor terobati saat aku mengantar pekerjaan ke tempat klien. Bahkan aku pun pernah kerja di tempat karena beberapa hal. Rindu terobati ketika makan siang bareng, lembur bareng, dan bisa bertukar pikiran. Teman-teman yang ngantor begitu solid dan seru. Kayaknya, enak aja, biasa kerja sendiri dan hanya ditemani winamp, bisa rame-rame dengan teman-teman.

 

Hmmm, tapi terlepas dari semua itu aku bersyukur, di ruangan 3 x 3 yang hanya tertutup tirai sudah menjadi tempat beraneka ragam aktivitasku. Bekerja, belajar, membaca, menulis, membuat buletin sekolah dan segala aktivitas yang memang kuinginkan ketika aku memutuskan bekerja di rumah.

 

Aku bisa menikmati pagi di depan rumah, menghirup udara segar, bersepeda sambil mencari sarapan pagi dan tak perlu terburu-buru di tengah kemacetan Jakarta. Yah, syukur itu nikmat karena menurutku, merupakan sebuah pilihan berkantor di mana saja, di rumah atau di perusahaan… tinggal bagaimana kita menyikapi, menjalani, dan menikmatinya. :)

 


 

*Sebuah tulisan untuk memotivasi diri dan berusaha untuk tetap optimis





~syukur itu nikmat
nikmatnya bersyukur


~semangatkan hidupmu
hidupkan semangatmu


*Sungguh gambar, yang tidak nyambung :P

wee, biarin, aku seneng aja, foto ini kan ibu yang moto pas di Bandung ahad lalu :P

Blog EntryYah, Inilah PilihankuMar 14, '08 11:45 AM
for everyone


Hal yang aneh, ketika kudapati diriku tengah terlelap di sudut rumah. Sementara, ini adalah hari kerja dan tentunya jam kerja. Kembali menjadi aneh, ketika lagi-lagi kudapati diriku sedang duduk di pojokan angkot di daerah Lebak Bulus. Seharusnya aku tengah berada di sebuah kantor. Berhadapan dengan monitor komputer, sedang rapat dengan teman-teman satu tim, sedang diskusi dengan editor dan banyak lagi yang bisa aku lakukan.

 

Aku terus pandangi jalan, masih terlalu lengang. Udaranya bercampur, panas sekaligus dingin. Kadang kurapatkan jaketku, kadang kubiarkan saja. Angkot yang membawaku telah sampai ke daerah Fatmawati. Aku mencoba menelepon klien di tempat yang aku datangi. ”Iya nih lagi di jalan”.

 

Akhirnya sekitar pukul 4 lewat aku sampai di sebuah kantor yang auranya begitu akrab. Menyapa sebagian besar teman-teman yang telah aku kenal. Bersenda gurau sesaat sambil mencari sang editor yang tengah sibuk mengedit naskah yang akan aku bawa. Meminta jatah buku hasil setingan. Ada tiga buku baru yang kudapatkan hari itu.

 

Kulirik meja dalam ruang itu. Meja yang pernah ditawarkan untukku. Meja yang sempat menarik hatiku untuk aku tempati dan auranya masih sama, masih menjanjikan, tapi telah dimiliki orang lain.

 

Aah, pikiran sesaat yang kadang menggangguku. Ingat Novi, sudah terlalu banyak yang terjadi dalam rentang tiga tahun ini. Bayangkan tiga tahun, tertatih-tatih merintis karir sendiri, dalam ruang 3 x 3 yang jadi saksi segalanya. Mengharapkan kepercayaan dari ibu dan kakak yang dulu sempat meragukan keinginanku hingga kemudian ibu memberikan banyak dukungan, salah satunya ruang kerjaku.

 

Setelah memasukkan naskah, dengan deadline besok pagi, aku pun bergegas pamit pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, berarti mau ga mau aku harus pulang bareng dengan para pekerja. Padatnya bus dan berjejalan akan jadi pemandangan umum yang sudah lama kuhindari. Alhamdulillah, aku dapat tempat duduk, bisa lebih rileks menikmati jalanan dengan kondisi tubuh yang tidak fit.

 

Hmm, yah inilah pilihanku, masih meyakinkan diriku sendiri yang terlalu lelah di jalanan Jakarta. Bukan salah bekerjanya kalau akhirnya aku harus mengidap magh, berhari-hari tidak masuk, stempel merah di kartu absenku, hingga tergiur tawaran-tawaran pekerjaan di tempat lain.

 

Ini pilihanku untuk lebih sehat, untuk lebih efisien, untuk lebih efektif dan berarti aku harus sadar konsekuensi bekerja dengan deadline yang ketat, sepinya order, hingga lama waktu menganggur. Aku harus lebih sehat, lebih yakin akan aktivitas yang aku jalani. Kesadaran yang naik turun setelah akhirnya aku kembali mengingatnya hari ini.

 

Sengaja, aku tidur siang dan istirahat siang lebih banyak tadi karena malam ini aku harus berjibaku dengan naskah yang harus dicetak. Esok pagi naskah ini harus selesai dan ini bukan yang pertama kalinya aku mengalami hal ini. Sewaktu Ratih Sang berulang tahun, aku bahkan hanya dikasih waktu semalam untuk melayout naskah. Sebelumnya, aku harus menikmati hari libur dengan dering telepon yang menginginkan revisi desain dan banyak lagi...

 

Yah... waktu sudah mulai larut, saat para pekerja tengah beristirahat, aku baru saja memulai aktivitasku. Moga dengan istirahat siang tadi dan secangkir kopi buatan ibu, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku malam ini


Bismillahirrohmaanirrohim...



SEMANGAT :)



novi

~home sweet office~

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help