berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cinta
Blog EntryLOVEJun 5, '08 4:32 AM
for everyone

To My Friends Who Are…MARRIED
Love is not about "it's your fault", but "I'm sorry",
not "where are you' but "I'm right here",
not "how could you" but "I understand",
not "I wish you were", but "I'm thankful you are."

To My Friends Who Are…ENGAGED
The true measure of compatibility is not the years spent together
but how good you are for each other.

To My Friends Who Are…NOT SO SINGLE
Love isn't about becoming somebody else's "perfect person."
It's about finding someone who helps you become the best person you can be.

To My Friends Who Are…HEARTBROKEN
Heartbreaks last as long as you want and cut deep as you allow them to go.
The challenge is not how to survive heartbreaks but to learn from them.

To My Friends Who Are…NAIVE
H ow to be in love: Fall but don't stumble,
be consistent but not too persistent,
share and never be unfair,
understand and try not to demand, and
get hurt but never keep the pain.

To My Friends Who Are…SEARCHING
True love cannot be found where it does not truly exist,
nor can it be hidden where it truly does.
Love is magic. The more we hide it, the more it shows;
the more you suppress it, the more it grows.

*To My Friends Who Are…PLAYBOY /GIRL TYPE
*Never say I love if you don't care.
Never talk about feelings if they aren't there.
Never touch a life if you mean to break a heart.
Never look in the eye when what you do is lie.
The cruelest thing a guy can do to a girl is to let her fall in love when
he doesn't intend to catch her fall.

To My Friends Who Are…POSSESSIVE
It breaks your heart to see the one you love happy with someone else but
it's more painful to know that the one you love is unhappy with you.

To My Friends Who Are…AFRAID TO CONFESS
Love hurts when you break up with someone.
It hurts even more when someone breaks up with you.
But love hurts the most when the person you love
has no idea how you feel.

To My Friends Who Are…STILL HOLDING ON
A sad thing about life is that when you meet someone who means a lot to you,
only to find out in the end that it was never bound to be and we just have to let go.

To My Friends Who Are…SINGLE
Love is like a butterfly. The more you chase it, the more it eludes you.
But if you just let it fly, it would come to you when you least expect it. Love can make you happy but often times it hurts,
but love's only special when you give it to someone who is worth
it. So take your time and choose the best!

Three things never return:
the past, the neglected opportunity, and the spoken word


Blog EntryCINTA ITU SEPERTI KUPU-KUPU (copas milis)Jun 5, '08 4:28 AM
for everyone

CINTA ITU SEPERTI KUPU-KUPU

(pak Teha)

Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang terbaik

Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang "sempurna" bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.

Jangan pernah bilang "I love you" kalau kamu tidak peduli. Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong.

Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya...

Cinta bukan "Ini salah kamu", tapi "Ma'afkan aku".

Bukan "Kamu di mana sih?", tapi "Aku di sini".

Bukan "Gimana sih kamu?", tapi "Aku ngerti kok".

Bukan "Coba kamu gak kayak gini", tapi "Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya".

Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu izinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.

Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.

Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain, tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu.

Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargaimu. Kalau dia tidak "worth it" sekarang, dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi ataupun 10 tahun lagi. Biarkan dia pergi...

Nah... Cinta seperti apakah yang kita inginkan?




Live as if you were to die tomorrow
Learn as if you were to live forever

(M. Gandhi)




Blog EntryCinta dan PerkawinanMar 5, '08 12:25 PM
for everyone
Hmm, isu yang hangat dan ga akan ada habisnya...

Ga ada maksud apa-apa, cuma lagi seneng aja ngutip bukunya Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie ;)


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


"... : Kalau kita tidak menghormati pihak yang lain,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Kalau kita tidak tahu cara berkompromi,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Kalau kita tidak mampu bicara terbuka tentang apapun yang terjadi di antara kita dan pasangan,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Dan kalau kita tidak memiliki seperangkat nilai yang kita sepakati dalam hidup,
kita juga akan mendapatkan banyak masalah.

Nilai-nilai yang kita anut harus sama."


"Dan yang paling penting di antara nilai-nilai itu..."

"Keyakinan tentang pentingnya perkawinan kita"



".........perkawinan adalah babak sangat penting yang perlu kita lalui, dan kita akan kehilangan banyak sekali kalau kita tidak mencobanya"





~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Maksudnya bukan menikah sebagai percobaan kan? tapi, intinya menikahlah, hehehe... (ngomong sama siapa, sih ;p)



Blog EntryBerbagi itu indah…Sep 13, '07 3:45 PM
for everyone

 

Bagaimana rasanya ketika kamu menikmati sebuah roti sendiri dengan membelah menjadi dua untuk adikmu? Apakah terasa berbeda?

 

Atau ketika kamu makan siang sendiri atau bersama teman-teman dengan saling bertukar lauk ataupun membaginya?

 

Bukankah lebih nikmat ketika berbagi?

 

Walau mungkin jumlahnya berkurang, tapi kenikmatannya malah bertambah karena menurut saya ada kenikmatan kebersamaan dan kehangatan

 

***

Hari pertama Ramadhan ini saya disuguhi sebuah hikmah yang indah tentang sebuah cinta dan kebersamaan. Sesuatu yang sebenarnya dekat sekali, tapi kerap begitu susah menyadari.

 

***

 

Hari ini rasanya saya pusing sekali, bukan karena lapar puasa karena hari ini saya memang tidak berpuasa. Pekerjaan yang harusnya begitu mudah saya kerjakan, sepertinya tak kunjung selesai. Selain kondisi tubuh yang tidak enak, suasana di rumah benar-benar tidak mendukung. Bising dan tidak menyenangkan.

 

Dari mulai mbak saya yang duduk di belakang saya yang terus bertanya ini dan itu, menyuruh ini dan itu, kakak ipar yang tak pernah kapok ngeledek saya, keponakan yang ribut, nangis, jalan-jalan. Ramai. Berisik. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. Suara piano yang dimainkan membuat saya menyetel winamp dengan kerasnya. Woy berisik… :(

 

Pernah dalam keadaan kesal dan marah, saya mengungkapkan keinginan kepada ibu untuk pergi dari rumah, ngekos. Beberapa kali saya kemukakan itu, dan sempat terdengar kakak dan membuat dia tersinggung dan mengatakan harusnya dia yang keluar dari rumah ini. Hmmm.. rasanya ga tahan ada di sini. Bener-benar ga kondusif, berisik, capek.

 

Saya tak pernah berpikir dan berharap ada dalam kondisi ini. Tinggal bersepuluh dalam satu rumah. (7 dewasa + 3 anak) Tapi, siapa yang menyangka ketika seharusnya saya membutuhkan keheningan untuk bekerja, saya harus diributkan dengan urusan keponakan saya yang menangis dan mengompol dan ingin bergantian memakai komputer sementara saya banyak kerjaan, kakak saya yang ribut biaya telpon dan listrik yang membuat saya tak lagi memakai telepon rumah, urusan bergantian listrik antara AC, air, komputer, nyetrika, dll serta gangguan-gangguan kecil lainnya. Jadi, harap maklum ketika tiba-tiba listrik mati dan hal biasa ketika ibu mengingatkan ”udah disimpen nov?” atau ketika saya bertanya, “Boleh nyalain komputer, ga?”

 

Belum lagi, kini saya tidak memiliki privasi, kamar saya kini ditempati dua pembantu di rumah saya. Seharusnya, kami satu kamar bertiga, karena barang-barang saya, kasur saya masih ada di sana, tapi karena sering tidur larut, saya enggan untuk masuk kamar dan khawatir membangunkan mereka. Saya lebih sering tertidur di ruang kerja saya yang juga penuh dengan beraneka barang dan mainan keponakan saya. Benar-benar tidak enak.

 

Rasanya memang tidak enak sekaligus tidak menyenangkan berada dalam kondisi itu. Mungkin seharusnya saya kerja kantoran saja. Tidak full 24 jam ada di sini dengan segala keributan dan kehebohan.

 

Tapi, tiba-tiba di tengah ketidakenakan itu saya menemukan sebuah titik yang membuat diri saya sadar. Kesadaran yang entah ada di sudut hati yang mana hingga saya baru mengerti.

 

Yups, sebuah kehangatan keluarga. Suasana, keceriaan, keramaian selalu jadi warna dalam hari-hari saya. Suara mesin air, suara TV, teriakan keponakan, kehebohan di pagi hari dan masih banyak lagi.

 

Kenapa saya harus kesal dengan kondisi ini? Kenapa saya tak melihat sisi lain dari kehidupan saya yang terbilang unik dan menyenangkan yang belum tentu bisa saya dapatkan ketika saya ngekos atau hanya tinggal bersama ibu.

 

***

 

Pertama, di sini ada ibu, yang tak segan mendukung saya 1.000% ketika akhirnya saya memutuskan freelance dengan pemasukan yang tak tentu. Yang sering dengan tiba-tiba menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk karena saya terus saja di depan komputer hingga lupa waktu makan. Atau menaruh secangkir teh, segelas air putih atau secangkir kopi di atas meja kerja saya, atau menaruh jeruk di sebelah monitor komputer saya.

 

Hmm.. bisa dikatakan saya benar-benar dimanja, sangat… sangat.. dan apa yang dia tuntut dari saya? Tidak ada.. dia akan gembira ketika saya memberi sekian uang saya untuk dia, dia akan tersenyum ketika saya memberi honor menulis. Dan bila saya tak mampu memberi, dia tak minta apa-apa. Dia bahkan sudah seperti manajer saya, sering mengingatkan saya ketika saya mulai bermain-main, karena dia tahu saya sedang ada kerjaan. Terkadang memberesi meja kerja saya. Merapikan kertas-kertas dan mengamankan flashdisk, setumpuk cd dari jangkauan keponakan saya.

 

Kedua, mbak saya, kata-kata seperti:

“Nop, gw beliin pulsa, tuh” “Nop, mau oleh-oleh apa?” “Nop, gw beliin makanan tuh” “Kembaliannya ambil aja”, “Bonekanya buat lo aja” “Ayo gw anter,” “Yuk, kita ke sana yuk” “Nop, mau nitip apa?” dan masih banyak lagi yang dia lakukan untuk saya, adiknya. Tanpa minta apapun dari saya. “Kalo lo mau ngasi sukur, ga ya udah” ketika saya bertanya tentang biaya listrik di rumah atau di satu kesempatan  betapa seringnya saya berkata “oleh-oleh, ya” “mau doooooooonk” dan sangat sering juga dia membawakan oleh-oleh dan memberi. Dia pun tak pernah absen memberikan saya THR :) atau manalangi membayarkan benda yang ingin saya beli.

 

Kakak ipar saya… Siapa yang rela mengangkut 3-5 rim kertas dari pasar pagi, ketika saya menitip, yang mengoleh-olehi saya tas ketika dia jalan-jalan, yang dengan mudah mentraktir saya, yang beberapa kali mengantar saya ke klinik ketika saya sakit, mencarikan tempat saya berobat, yang mengusahakan mencarikan makanan favorit saya ketika saya menitip ke mbak saya, yang rela ikutan bolos ngantor, ketika satu keluarga menjemput saya di bandara, membawakan tas-tas saya dan masih banyak lagi…

 

Saya akui mereka pasangan yang cocok kalau urusan berbaik hati. Pasangan unik yang kerap membuat saya geleng-geleng kepala, dan seharusnya bisa berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka.

 

Terakhir, 3 keponakan saya, mereka selalu menangis, marah ngambek, tapi mereka tertawa dengan renyahnya, menggoda saya, menepuk-nepuk saya dari belakang ketika saya bekerja, ikut mengetik di komputer ketika saya pangku, bercanda, dan tentunya saya harus siap sedia kena ompol mereka dan menyeboki di kala mereka buang air.

 

Ibu, mbak, kakak ipar dan 3 keponakan saya memberi begitu banyak, sementara mereka hanya meminta sedikit pengertian saya, betapa pentingnya kebersamaan, kehangatan keluarga.

 

Mereka tak pernah menuntut saya. Nggak pernah. Mereka memfalisitasi diri saya, cpu yang saya cicil dari ibu yang sudah menalangi terlebih dulu, meja komputer yang fungsional sehingga tidak terjangkau bayi-bayi manis di rumah, meja tulis yang dibelikan ibu, pemasangan internet atas inisiatif kakak ipar sehingga bisa dapat paket murah, mesin faks punya kakak tapi juga  bisa saya gunakan. Apa lagi??? Mereka hanya minta space sedikit di ruang saya untuk bermain, untuk menaruh barang dagangan kakak, tidak lebih. Mereka juga hanya meminta space sedikit di hati saya untuk “mengerti”. Mereka hanya minta sedikit waktu saya untuk pertolongan sesaat, mengajak bermain ketiga keponakan saya.

 

“Hmmm…, bukankah berbagi itu indah?”

Sekarang, di tengah penuhnya rumah ini, di tengah banyaknya barang-barang di ruang tamu, dari motor, mainan keponakan, kereta bayi,  dan buku cerita fikri di atas meja kerja, saya menikmati kenyamanan dan kehangatan dengan perasaan lapang. Mengapa saya harus kesal hanya dengan kebisingan sesaat, kebisingan yang mungkin satu saat nanti akan saya rindukan , keramaian di pagi hari, kehangatan makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan…..

 

Mereka membagi begitu banyak kepada saya dan hanya meminta sedikit kepada saya, yaitu sebuah pengertian.

 

Mungkin saat ini saya belum mampu sepenuhnya, tapi semoga saya bisa terus belajar untuk memberikannya…


Blog EntryMengapa Aku Belum Menikah?Aug 25, '07 1:34 PM
for everyone

“Mengapa Aku Belum Menikah?” Pertanyaan itu timbul dalam benakku dan juga dalam benak para perempuan lainnya. Ada yang berumur 35, 30, 27 atau bahkan seusiaku, 25 tahun. Konon katanya usia yang sudah sepatutnya menggendong  anak. Tapi kalau kata temanku, usia siaga 1… hehehe (maklum perempuan, masalah usia cukup sensitif)

“Tidakkah aku ingin menikah?” “Ingin,” jawabku dan jawaban semua perempuan lainnya dalam hati mereka. Getir rasanya. “Lalu, kenapa aku belum menikah?” Simpel jawabannya. “Belum ada jodoh.” Di balik kalimat “belum ada jodoh” tersimpan berbagai rupa, kejadian, alasan yang semata bukan karena tak ingin.

“Apakah aku menunda menikah?”. Hmm, tidak. Sekali lagi belum ada jodoh. Seseorang akan dengan bijak berkata, “Aku tak ingin menunda, tapi pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tak main-main. Aku tak pilih-pilih. Aku selalu berharap yang terbaik dari-Nya”

 

*********

 

Bicara lagi soal nikah. Topik yang nggak pernah habis seperti halnya cinta. Seru, ramai. Tapi justru “membosankan”. Itu adalah pemikiranku belakangan ini. “Duh, pasti ngomongin jodoh, cape, deh” ujarku saat itu. Entah kenapa rasanya malas sekali. Rasanya sebagai perempuan yang berusia cukup matang menikah, bicara jodoh kadang lebih menyakitkan hati dibanding menyenangkan. Jadi, kalau ada milis, atau seminar bicara jodoh, aku lebih memilih untuk tak ikut-ikutan. Hehehe, capek.

“Kenapa musti capek?” Yah, aku capek karena aku selalu di-judge, “Kenapa aku belum menikah?” “Ga usaha, ya?” “Jodoh itu musti dicari, musti usaha”. Insya Allah, aku sudah berusaha dan mencari. Teman-temanku juga tentunya begitu. Sudah tak kurang usaha mereka hingga taaruf berkali-kali.

“Jodoh itu ga usah pilih-pilih”. “Kami tak pernah memilih, kami hanya jalani proses yang harus kami jalani, walau kadang ada keputusan sepihak.” Atau jawaban paling miris sekalipun. “Apa yang mau dipilih, para ikhwan yang terlalu banyak memilih” dan kalaupun seorang perempuan atau akhwat memilih itu juga insya Allah untuk kebaikan.

“Jodoh itu dekat, lho” ujar temanku yang lain lagi ngomporin aku karena aku belum juga menikah. Penasaran amat sih nih orang. “Ya sedekat apa?” “Di mana?” “Bagaimana?” Berapa kilometer kami harus berjalan untuk menemukan jodoh kami.

Atau beberapa waktu lalu seorang adik kelas menanyakan aku dengan polosnya “Kenapa belum menikah?” “Duh, mbak sibuk, sih” He? Aku melongo. Sibuk? Sesibuk apa aku hingga tak sempat memikirkan jodoh? Aku bukan presiden, menteri, atau gubernur. Aku juga bukan karywan kantor atau apalah… aku hanya  freelancer yang bisa mengatur waktu  dengan sesukaku hingga aku mencoba mengambil berbagai kegiatan di luar pekerjaan. Fiyuh… aku hanya menjawab, “Insya Allah udah usaha, dan belum jodoh” itu jawabanku di tengah kekekesalanku ingin menjwab dengan “Woy, anak kecil dirimu sotoy sekali… sotoy ayam, sotoy kambing… ;p”

Hmm… kadang aku berpikir. Di saat usia muda ghiroh untuk menikah sangatlah tinggi karena aku sadar betul aku ga mau pacaran. Menginjak usia 19 tahun, di kampus aku sudah disuguhi seminar nikah dini, antara masalah dan solusi… rasanya sangat ingin menikah, tapi jodoh belum datang. Yah, sudah bukan masalah, lagian masih muda usia. Menjalani kuliah dan hingga bekerja, topik  menikah menjadi hal yang sering dibicarakan. Rasanya seru dan ramai. Saat itu usia masih 21-23 tahun. Jodoh pun tak kunjung datang. Ingat  bukan karena tak usaha! Menginjak 24 tahun dan hampir 25 tahun, aku sudah cukup gerah dan lelah. Mungkin teman-temanku yang jauh lebih tua dari aku merasakan hal yang sama. Bosan dengan pertanyaan: “Kenapa belum menikah?” “belum ada jodoh” Insya Allah, usaha tak kurang juga dan tentunya doa.

Dari mulai taaruf lewat guru ngaji, lewat teman, Dijodohin sama teman dan tetangga. Tak ada yang berjodoh. Lalu? Salahkah aku belum menikah? Ada malah yang sampai lelah berkali-kali taaruf tidak juga menemukan jodoh. Di sini tidak ada kata pilih pilih. Di sini kami hanya pasrah.

Usia temanku sudah 27 tahun saat itu, wajahnya cantik dan tak kurang suatu apapun. Dia belum menikah. Dia sudah berusaha hingga dia sudah pernah merasakan diduakan saat taaruf oleh seorang ikhwan dan akhirnya ditinggal menikah. Cerita temanku lain lagi, dia sudah menunggu ikwan tersebut, tapi akhirnya ditinggal menikah oleh orang lain tanpa kabar yang jelas. Atau cerita miris lainnya. Maaf, di sini aku bukan ingin menyalahkan para ikhwan, tapi itu hanya salah satu contoh kenapa para perempuan atau akhwat belum juga menikah.

Sekali lagi. Kami bukan tak berusaha, kami bukannya pilih-pilih, kami bukannya tidak tahu diri. Kami sadar usia kami sudah lebih dari usia ideal. Lho, siapa yang mengukur usia ideal menikah? Fiyuh, jadi ingat postingan belum lama ini (baca: (pencerahan) Ayo Nikah...!). Usia 24 + dianggap “usia lanjut” untuk menikah. Oh, ya? Lalu salahkah kalau di usia lanjut itu siapapun, terutama perempuan—karena aku mewakili perempuan—belum juga menikah?



Blog EntryCinta SejatiAug 5, '07 12:28 AM
for everyone

Kadang aku mikir…

Kayak apa sih cinta sejati antara lelaki dan perempuan. aku pernah mendengar kisah seorang cowok yang begitu sayang dan cinta sama seorang cewek sampai pengen bunuh diri kalau ga sama cewek itu. Padahal kalau aku lihat cowok itu, dia itu tegar dan alim gitu deh… kok bisa-bisanya segitunya sama cewek. Aku juga pernah jatuh cinta, tapi ga sampe segitunya. Apa mungkin karena sering bertepuk sebelah tangan atau ditepukin orang tapi ga mau balas… hehehe.

 

Hmmm….

Bisa ya begitu? Apa itu yang namanya cinta sejati?


Blog Entry[Cerpen] Jalan CintaAug 1, '07 9:57 AM
for everyone

Jalan Cinta

 

 

 

 

 

 

“Bukan, bukan dia…”

“Terus siapa donk?”

“Mmhh…. Mungkin ini karmaku kali ya. Aku jadi bingung” ujar Ine adik kelas sekaligus teman kosku saat kutanyakan perihal laki-laki yang “melamarnya”.

“Dia temanku di Yogya. Emang sih aku udah lama gak ketemu dia. Mmh…  tapi  sebulan lalu aku masih kontak lewat telepon dan sms” ujarnya malu. “Maaf, ya mbak…”

“Kok minta maaf sama mbak. Itu kan urusan kamu….ngapain minta maaf”

“Pasti mbak udah cape nasihatin aku…makanya aku jadi ga enak kalau aku masih bandel”

“Ine sayang…mbak gak akan marah kok sama kamu, kalau memang dia sungguh-sungguh sama kamu yaa kenapa enggak” ujarku sekenanya menenangkan pikirannya yang terus uring-uringan karena “dilamar”

“Tapi mbak…Ine takut”

“Takut apa lagi?”

“Takut jatuh cinta lagi”

 

***

“Ne, Telepon,” panggil Ambari ke penghuni muda di kos kami

“ya”

“Udah telepon yang ke berapa mbar…sejak hari ke 1, 2 mmh 5 hari Ine di sini” tanyaku sambil mencoba menghitung udah berapa lama si Ine muncul. Karena semenjak kehadiran Ine dari hari pertamanya hingga sekarang telepon selalu berdering untuknya.

“Kalau yang aku angkat sih paling dikit 1 tiap harinya. 2 dari orang yang sama, pagi dan malam….”

“Udah Mbar jangan diterusin….aku cuma iseng aja kok…”ujarku agar kami tak berlanjut ngegosip.

“Mmmmmh….tapi istimewanya Yan, semuanya dari cowok”

Uuups….aku jadi tertarik. Wah gadis berjilbab ini kok temennya cowok mulu ya? Rasa penasaran tak aku lanjutkan karena aku berfikir tiap orang punya privasi apalagi masalah pribadi kayak gini.

 

***

 

“Mbak, mmmhh…pernah jatuh cinta ngga?”Tanya Ine suatu kali padaku. Kutatap wajah lugu di hadapanku. Jatuh cinta? Kata-kata yang makin menjauh dariku saat ini. Bukan karena aku tidak pernah jatuh cinta tapi karena aku merasa telah menemukan cinta yang tak pernah mengecewakan dariNya. Tapi bukan berarti aku tidak pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang, pernah…dan itu mengajarkanku untuk lebih mencari cinta yang sesunguhnya.

“Pernah,” jawabku singkat

“Banyak?” tanyanyanya kembali. Wah bukan ini pertanyaan yang kuharap. Aku fikir  dia akan bertanya dengan siapa, kapan, terus gimana dan pertanyaan standar lainnya.

“Yah beberapa…kalau dihitung dari SD sampe sekarang sekitar 3 orang lah, itu juga cinta anak kecil” jawabku cuek. Aku lagi gak pengen ngorek-ngorek info darinya dan aku fikir orang yang jatuh cinta jangan ditanya macem-macem dulu atau diceritakan yang indah tentang yang aku alami saat jatuh cinta karena mereka akan terbuai dan nggak ngedapetin solusi yang tepat.

“Oooo….kalau sekarang?” tanyanya lagi. Ku coba mengingat-ngingat, semenjak kegiatan aku yang seabrek itu aku jadi gak terlalu melo ngadepin cowok jadi kayaknya aku malah lupa kapan ya terakhir kali aku jatuh cinta.

“Sekarang….aku lagi dicintai…”ucapku sekenanya

“Oh ya, sama siapa” tampak sekali rasa antusias di wajah Ine. Wajah yang sepertinya sedang jatuh cinta.

“DenganNya…..dengan pencipta kita Allah SWT. Aku sedang berusaha dicintaiNya” jawabku tersenyum. Sepertinya bukan itu jawaban yang diinginkan Ine. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu

“Iya…Ine tahu, mbak…tapi….”wajahnya pias. Aura tampak merasa bersalah. Aku cuma diam, ternyata taktikku berhasil juga. “bukannya kita juga boleh mencintai manusia?” Sambungnya

”Tentu saja, Ne….Sebenarnya Ine sedang jatuh cinta sama siapa” ucapku to the point. Gak tega ngebiarin anak lucu ini feel guilty.

“Ine ….jatuh cinta sama lebih dari 3 orang mmmh 4 atau 5 orang”

“Saat ini?”

“Iya”

 

****

 

“Ne, Cowokmu yang di Yogya itu serius, ga sama kamu?” tanyaku. Aku gak tega ngebiarin dia pusing tujuh keliling. Kali aja aku bisa Bantu.

“Bukan cowokku, mbak…tapi temen…nggak lebih. Aku ngerasa nggak ada yang spesial di antara kami. Just friend, tapi dia nanggapinnya beda…”

“Terus?”

“Dia ngajak merit…”

“Terus?”

“Aku nggak tahu……aku kan pernah cerita kalau aku bisa mencintai beberapa cowok sekaligus walau sebenernya aku nggak pernah berpacaran dengan mereka”

“Sayang…lewat sms, perhatian, telepon dan lainnya bukankah itu adalah beberapa hal yang dipraktikkan saat berpacaran”

“bukannya sama temen juga hal itu biasa”

“Iya…kalau temen sesama perempuan itu mungkin…tapi kalau udah laki-laki dan perempuan itu susah…kecuali kamu bisa menjaga hatimu…..”ucapku seraya menatap matanya. Ine menunduk seperti ingin menangis. “Mbak lihat kamu tak bisa menjaga hatimu….kamu justru mencintai teman laki-lakimu…”

“Tapi, mbak….Ine kadang nggak ngerti sama perasaan Ine sendiri. Ine emang tahu ini nggak normal, masak sih Ine bisa jatuh cinta sekaligus dengan banyak cowok……dan yang lebih ngebingungin lagi yang serius bener-bener ngelamar Ine adalah cowok yang nggak pernah Ine cintai sedikitpun….” Kubiarkan ia terus bercerita. Memang sulit perasaan seperti itu. “Dia hanya temen deket Ine yang mbak tahu kan kalau Ine tuh nggak pernah cerita kalo dia adalah bagian dari kehidupan Ine…dia hanya temen just friend…”

“Ne, dalam pertemanan kamu dengannya pasti ada yang istimewa…tapi nggak kamu sadari dan itu hanya dirasakan oleh dia sendiri…mungkin kan?”

“Ine cuma kasih perhatian biasa….kok. Kalau dia lagi curhat Ine dengerin dan Ine bantu cari solusi.”

“Sayang…percaya nggak sama mbak kalau persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu nggak bisa, tetapi bukan berarti nggak ada lho”

“Kenapa mbak?”

“Dalam diri laki-laki dan perempuan ada sebuah hasrat mencintai dan dicntai, ingin diperhatikan dan banyak lagi perasaan yang memang sudah menjadi fitrahnya manusia” ucapku seraya terus menatap wajahnya yang sendu “Di antara temen cowokmu kamu lihat kan lebih dari 4 cowok yang deket sama kamu itu hampir seluruhnya kau cintai…dan yang udah pasti 1 cowok bener mencintai kamu”

“Iya”

“Bisa dimungkinkan juga mereka semua mencintai kamu atau tidak..tergantung pada mereka….”

“Tapi mbak…Ine pernah tanya ke mereka. Mereka cuma anggap Ine temen, mereka juga ada yang udah punya cewek”

“Sayang….gimana perasaan kamu ketika mereka deket dengan selain kamu?”

“Biasa aja…ngga ada rasa cemburu tuh, tapi Ine takut keilangan mereka”

“Kalau begitu kamu simpati sama mereka, tapi inget Ne awalnya cinta itu kagum dan simpati. Ketika perasaan simpati itu kamu semai kamu akan merasakan cinta kamu”

“Tapi mbak…”

“Emang, Ne! Simpati itu bisa ke banyak orang, ntar juga ilang sendiri. Sedangkan sikap kamu ke taman-teman kamu adalah sebuah kebutuhan…” Ine terdiam.

Mungkin itulah pembicaraan terakhir diantara kami. Sesudahnya. Ine tampak lebih memilih diam.

 

 

***

 

Pagi ini aku harus buru-buru mau balik ke Bandung, mau ketemu ibu. Sudah beberapa kali beliau nelpon memintaku pulang, tapi baru hari ini aku sanggupin. Bandel yah….lagian juga aku harus pulang. Aku kan butuh pasokan gizi yang nggak aku dapetin selama ini. Maklum anak kos.

Yuup semua dah siap…

“Assalamualaikum,mbak” suaranya Ine.

“Waalaikum salam” jawabku seraya membukakan pintu.

“Mbak…….mmmmh……mau pergi ya?”

“Iya…mau pulang ke Bandung. Kangen ma ibu. Sekalin refreshing sebentar abis sidang. Kenapa sayang?” semenjak percakapanku yang terakhir, Ine udah nggak pernah bahas hal itu ke aku lagi, dia cenderung hanya bicara seperlunya sama aku. Entahlah. Aku fikir dia butuh merenung. Tapi bukan berarti aku lepas tangan. Aku ingin bantu dia dengan masalahnya. Tapi gimana bisa. Udah kurang lebih enam bulan Ine berubah jadi pendiem. Apalagi untuk ngomongin maslah itu, dia cuma bicara seperlunya. Sempet sih aku coba nanya, tapi hasilnya nihil. Dia cuma bilang udah beres. Aku ga tau gimana cara dia ngeberesinnya.

“Afwan, mbak…nggak jadi deh.”

“Kenapa sayang?”

“Ine cuma mau bilang makasih aja sama mbak udah bantuin Ine. Kira-kira lama nggak mbak di Bandung?”

“Yah sekitar dua minggu…. Aku mau refresing bentaran. Sekalian tunggu wisuda Ne.”

“Mbak dah ngurus semuanya? Toga atau apalah?”

“Pokoknya dah beres deh…”

“Mmmhh…aku boleh minta alamat lengkap mbak?”

“Ooohh…boleh..” aku mengambilkan kartu nama buatanku dan menyerahkan pada Ine. “Entar kalau mau main, main aja, trus kalo mau curhat juga boleh, telpon juga gpp….mahal sih, tapi kalo malem bisa lebih murah”

“Iya, mbak…” ujarnya lesu

Ada yang pengen kamu ceritain ga sekarang sebelum aku berangkat?”

Ada sih, tapi ga usah deh, mbak udah siap-siap gitu…”

“ga papa kok Ne!” Ine menatap mataku. Diam.

“Ga, kok….tenang aja aku udah bisa menyelesaikan masalah-masalahku…aku cuma mau ucapin makasih….”ujar tersenyum. Senyuman penuh arti

“Ya udah deh kalo gitu”

 

***

Aku dah di bandung nih…sejuk…enak….tapi sama aja deng ma jakarta….mulai dari agak padat, panas, pa….eeh kok ngeluh aja sih. Bukannya bersyukur udah ada di kampung halaman yang indah nian. Hehehe.

Kemarin aku dapet sms dari Ine isinya lucu, tapi intinya biar aku tenang.

 

mba…thanks bgt dah banyak bantu …pokoke tenang aku bisa nyelesein

masalahku sendiri…

 

Aku emang sempet ga tenang juga… semenjak pertemuan terakhirku sebelum ke Bandung kayaknya Ine mau ngomong sesuatu sama aku. Sementara Ine cuma beberapa kali sms dan nelpon hanya say hello. Aku coba tanyain masalahnya dengan beberapa teman cowoknya, dia cuma jawab beres. Jujur aku masih ngerasa ngambang. Bagaimana dia dengan mudah menyelesaikan masalahnya yang tampaknya berat baginya. Tipe dirinya yang mudah jatuh cinta atau simpati. Tipe orang yang selalu membutuhkan sandaran. Aku bener-bener ga yakin dia bisa menyelesaikan maslah semudah itu. Bukannya aku sok dewasa, tapi …aaah kok jadi aku yang bingung yah..hehehe

 

***

“Yan…ada undangan nih buat kamu” ujar ibu menyerahkan undangan warna merah muda.

“Dari siapa bu?” ujarku bertanya

“Buka aja sendiri, kayaknya undangan nikah”

Wah seru juga nih dikit lagi wisuda ada yang mau nikah. Wah udah punya PW yang bisa digandeng buat fotot-foto. Mmmh seru kali ya, wisuda nggak hanya didatangi ortu tapi juga suami atau istri. Kayaknya astuti nih yang bakal merit, hehehe. Kan dia pengen banget tuh punya PW yang udah syah alias suami. Atau jangan-jangan Ikhsan, mantan ketua BEM. Denger-denger dia lagi taaruf sama akhwat ciamis. Pikiranku terus menebak-nebak ketika membaca inisial I dan A pada amplop undangan tersebut.

Tapi dugaanku sungguh di luar perkiraan. Yang akan menikah tak lain tak bukan adalah Ine. Adik kelasku yang punya banyak temen cowok dan bisa lebih mencintai 1 orang cowok dalam 1 waktu.

“Ine dan Agum” Aku memabca nama di dalam undangan itu. Ine akan menikah dengan Agum, alumni kampusku yang notabene aktivis. Kok bisa ya…jodoh emang bener-bener di tanganNya. Di dalam amplop berwarna pink ada satu helai surat yang menemani.

 

Assalammu’alaikum!

 

Gimana, mabak? kaget? Pertama-tama maaf ya ngeduluin….hehehe, makanya buruan  cari jodoh….

Makasih atas masukan mbak selama ini…Ine akhirnya ngerti kalau cinta itu tak sumudah yang Ine kira…

Dalam beberapa bulan ini Ine emang nggak pernah ngomong sama mbak tentang masalah itu, tapi Ine sungguh ditunjukkan cahaya olehNya. Dengan taaruf bersama Mas Agum yang kan jadi suami Ine neanti. Untuk bagaimnana kami  bisa taaruf…..ceritanya panjang…Yang jelas aku yakin ini jalan yang diberikan Allah padaku.

Seperti yang mebak tahu, Mas aAgum bukan lah temen-temen deket Ine atau temen Ine yang dulu niat ngelamar. Mas agum datang bukan hanya sekedar menjalin cinta dua sejoli…mas Agum datang di kala Ine megharapkan cinta yang sesungguhnya….Jadi tak ada alasan bagi Ine untuk menolak kedatangan Mas Agum sebagai orang yang soleh untuk ngelamar Ine.

Ine emang belum dewasa, secara penuh… Ine emang masih kuliah, tapi Ine yakin…Ine bisa menjalaninya…

Selama ini Ine emang ga pernah ngomong sama  mbak karena Ine sedang memikirkan masalah ini sendiri. Ine ga mau terus mengeluh Ine mau jadi dewasa. dan Insya Allah mas agum mampu menuntun Ine walau perkenalah kami tak dilewati masa pacaran  atau persahabatan. ….

Sekali lagi Jazakillah khoiron katsir….Sungguh bahagia memiliki sahabat kayak. Mbak.

 

Wassallamualaikum

 

NB: buruan cari “sang imam” biar punya PW pas wisuda nanti

 

Ine

 

Aku sungguh ga percaya… Ine dengan segala kepolosan dan keluguannya akan menikah. Ngeduluin aku yang merasa cukup matang untuk menikah.

Prasangka yang selama ini kutanamkan pada diriku kalau dia masih terlalu kecil ternyata mampu berfikir lebih dewasa dari pada aku yang teoritis..Ine kamu tak hanya berkata-kata tapi sanggup melaksanakannya…kamu mampu berubah dan dewasa.

Astaghfirulloh! Subhanalloh Satu lagi kuambil pelajaran hidup dari Mu ya Allah…


kembali bongkar-bongkar cerpen jadul...
barapa ya umur nih cerpen...
kenapa tentang nikah lagi...?

heheheh, tau ah.

Blog Entry[Cerpen] “Bisnis Rahasia”Jul 31, '07 3:35 PM
for everyone


Mei, gw ke rumah lu ya


Ada apaan, Fan. Masalah pak Yanto. insyaAllah udah beres. Dia dah mau terima harga yg qta twrkan


Nggak, bkn maslh itu… ada hal yg ptg yg ptgggggbgt, ada bisnis rahasia

 

Ohhhh apaan tuh

 
Ga enak lwt sms, blh ga gw ke rmh?


Oh, ya udah dtg aja……….

 

 

Mei membaca berulang-ulang sms dari Affan. Ga biasa-biasanya partnernya itu kirim sms berkali-kali. Dia tuh paling males yg namanya ber-sms ria. Kalau ada apa-apa langsung aja nelpon mau pulsa sekarat kayak apa. Beda dengan mei yang demen banget sms.

Kenapa ya………..? udah gitu dia ngebet banget pengen ke rumah. Itu juga ga biasa. Untuk masalah bisnis lebih suka dikirim, via email atau yaaaaa nyuruh sapa kek, kayak contoh desain, berkas2 atau penawaran . Aneh, tapi………

Ah tau ah pusing. Mei tertidur di meja komputernya. Kelelahan mengerjakan orderan yang agak rumit dan biasalah masalah ide yang lagi mentok.    

    “Assalamualaikum!”

   “Waalaikum salam” bi mumun tergopoh-gopoh menuju ruang tamu. Ditemukannya Affan yang datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Kemeja warna biru laut, celana bahan dan sisiran yang rapih. Tampak sekali kalau dia baru aja potong rambut. Dan tambah satu lagi parfum yang wangi, tapi tetap elegan. Bi mumun yang sebelumnya sudah kenal Affan terbengong-bengong.

          “Siapa ya? Cari siapa?”

          “Bi, ini Affan Bi……….”

          Bi mumun meneliti wajah Affan dari ujung kaki sampe ujung rambut yang menjuntai ke depan. Gayannya mirip Clark Kent.

          “Waduh den Affan……….apa kabar den? Ganteng pisan……….”

          Affan tersenyum. “Mei ada bi?”

          Ada tadi di ruang kerja, masuk aja deh Den biar bibi bikinin teh ya……”

          Affan segera menuju ruang kerja. Dilihatnya Mei tertidur di depan komputer. Didekatkan bunga mawar yang dibawanya ke hidung Mei. Bukannya menikmati harumnya bunga, Mei malah bersin-bersin. terbangun.

          “Apaan sih……….” Mei terbelalak menatap pemandangan yang ada di hadapannya..

          “Affan?”

          “Hai mei………..”

          “Aduh sorry gue ketiduran…mmhh elo rapi banget. Pulang kondangan, Fan?”

          “Ngaak………..

          “Terus lo mau kemana?”

          “Ga kemana-kemana mau ke sini aja ketemu lo………….”

          “Mmmhhhhh...gitu ya”

          Aduh ga peka banget sih nih cewe pikir Affan saat itu.

          “Fan, ngorolnya di ruang tamu aja ya, gue mau ke kamar mandi nih, cuci muka……”

          “Ok”

          Ada apa ya dengan Affan kok dia rapi banget. Perasaan kemaren rambutnya masih gondrong deh kok jadi begitu ya…terus dia wangi lagi. Boro-boro deh dia wangi,  mandi sekali aja sukur.

          Affan berkali-kali mengubah posisi duduknya. Dia tampak gelisah.

          “Hai Fan” sapa Mei. Penampilannya kini lebih baik dengan bergo yang lebih rapi dan sapuan bedak tipis.

          “Kamu cantik”

          “Haa apa?” Mei terkaget-kaget dengar perkataan Affan.

          Affan tak sanggup berkata-kata. Bingung. Wanita di hadapannya selalu membuatnya salah tingkah dalam masalah ini. Mei wanita penuh misteri. Mei wanita yang paling ia segani. Perasaan ini yang membuat Affan bingung pada rasa yang  ia miliki pada Mei

          “Fan…asli lo kamu ganteng banget hari ini, potong rambut ya” komentar Mei yang justru membuat Affan salah tingkah. “Mau kemana sih?”

          “Mau ke sini…..” jawab Affan. Affan tahu dia ga kan bisa mengajak Mei untuk urusan selain urusan pekerjaan. Itu komitmen Mei sejak dulu. Jadi kalau ga ada urusan pekerjaan dia ga bisa ajak Mei. Jadilah momentum paling mendebarkan ini di rumah Mei.

          “Cuma mau kesini aja sampe dandan begini rapi... ada apaan sih..” Mei sama sekali tidak menyadari tatapan Affan yang sangat berbeda dari biasanya. Mei lebih memilih untuk tak terlalu memerhatikannya. Sungguh, bukan karena dia tidak peka atau senstitif, tapi karena Mei tahu batasan antara laki-laki dan perempuan. Dia ga mau terjebak. Makanya hingga usianya yang 28 tahun dia tak pernah merasakan pahit manisnya berpacaran.

          “Aku ke sini mau ngelamar kamu. Wish u marry me” ujar Affan pelan

          Mei terperangah mendengar perkataan Affan. Belum sampai Mei berkomentar Affan sudah mengeluarkan sebuah cicncin.

          “Ini buat lo”

          Mei terpaku diam tak mampu bicara. Dipandangi laki-laki di hadapannya. Laki-laki yang hampir menghiasi kehidupan Mei akhir-akhir ini. Laki-laki yang dikagumi. Beberapa kali Affan menjalin hubungan dengan banyak cewek lalu kenapa pilihan terakhir harus jatuh ke Mei.

          “Fan...lo serius”

          “Iya…gue yakin banget untuk ngelamar lo. Maaf ya kalau gue baru menyadari hal itu. Gue harap lo mau jujur sama gue, apapun jawaban lo… dan sebelumnya gue minta maaf kalau berkesan gue ga profesional…..”

          Mei ingat dia pernah mengatakan kalau hubungan mereka hanya bisnis. Ya, 5 tahun silam saat mereka serius merancang bisnis itu. Seandainya kau tahu alasanku berbuat demikian, Fan….

          “Fan, gue tahu lo serius…..tapi gue minta waktu ya…. Pliss. Ini bukan main-main lho”

          “Ok…”

          Keduanya terdiam. Bi mumun datang membawakan 2 cangkir teh hangat.

          “Fan……..” ujar Mei. Segalanya kaku tak seperti biasa. “Kenapa lo milih gue?”

          “Mmmmmhhh….gue baru sadar kalau gue sayang lo, dan gue ga mau kehilangan lo….dan kita begitu cocok. Bayangkan 5 tahun kita sama-sama membangun usaha ini, sampe kita punya kantor, punya karyawan dan …kita cocok Mei…sadar ga lo…." Butuh kerja keras untuk mengatakan semua itu.

          “Dalam bisnis ya…bukan berarti dalam rumah tangga…” jawab Mei menggantung. Mei benar-benar bingung saat itu.

          “Mei…sebaiknya kamu pikirkan dulu ya…..mungkin kamu kaget kalau gw tiba-tiba berbuat ini. Kamu inget ga kalau kamu pernah cerita, ketika suatu saat nanti datang cowok yang mencintaimu kamu harap dia berani melamarmu, kamu ga mau melewati proses pacaran ya kan?” Affan mencoba menjelaskan ke Mei tindakannya yang tiba-tiba itu.

          “Iya…itu prinsipku. Ternyata kau masih mengingatnya..."

    "Jadi ini bisnis rahasia yang lo maksud?" tanya Mei serius

    "Iya... bisnis pernikahan... Gw sangat ingin jadi suami lo..." jawab Affan .

          Mei salah tingkah, tapi berusaha menetralisir suasana.

          "Ok…akan aku pikirkan” ujar Mei berbicara layaknya kepada seorang klien.

          Affan meneguk tehnya dan pamitan……..

        

***


          Mei terdiam, Affan melamarnya. Ini mimpi. Pasti mimpi. Ga mungkin. Oh my god……ini bukan mimpi ketika dipandangi cincin yang indah ini. Mei tak berani memakainya takut tak bisa telepas. Dirinya masih ragu menerima Affan.

*************

 

Mei:

Seandainya kamu tahu Fan, isi hatiku lima tahun silam ketika kau ajak aku untuk menjalankan bisnis ini .

Aku senang Fan, ya karena aku sayang kamu. Sejak kuliah dulu aku telah menyimpan perasaan itu dan aku tak berharap terlalu banyak. Kau bukan tandinganku. Kau terlalu jauh kurasa dan aku pun tak berharap banyak karena aku tahu siapa diriku. Aktivis dakwah di kampus dan pembinan pengajian kamus. Aku ga mungkin mengumbar perasaanku padamu. Itu semua kusinpan rapi. Semantara kamu Fan, cowok urakan yang berganti-ganti cewek, cowok pintar yang entah kenapa selalu membuatku kagum. Aku pun kadang bingung kenapa pilihanku jatuh kepadamu bukan kepada ikhwan-ikhwan di kampus yang jelas-jelas setipe denganku. Itulah cinta yang kadang tak kumengeti….

Fan, tahukah kau kenapa ketika berbisnis aku minta kau untuk profesional dalam berhubungan dan tak ada urusan pribadi…., itu karena aku takut perasaan yang telah kusimpan rapat-rapat terbuka lagi karena kamu Fan….Aku tahu aku ga mau menodai hatiku ini…tapi sekarang kau melamarku? Entah aku harus bagaimana... Bahagia atau sedih......


Affan:

Mei kamu masih wanita yang sama… yang selalu jadi misteri dalam hidupku. Kau yang alim bisa akrab dengan aku yang urakan. Entah kenapa aku selalu butuh cerita padamu, aku selalu minta nasihatnu atau doamu….walau aku tahu kau pun akan memberi sekedarnya. Kau tak pernah menatapku walau ku pernah melihatmu di kejauhan menatapku dengan sebuah perasaan yang aku tak tahu dinamakana apa. Mei mungkin kalau kau bukanlah aktivis atau apalah aku sudah pacari kau dari dulu, kunikahi dan beres. Tapi kau, aku sungguh bukan tandinganmu dan satu lagi aku tak pernah tahu perasaanmu padaku….bahkan sampai saat aku melamarmu. Mei tahukahkau selama ini wanita-wanita yang berganti-ganti dalam hidupku tak pernah bisa menggantikan posisimu…….. dan itu baru kusadari

Mei….

Maafkan aku yang dari awal mengajakmu bekerja sama bukan atas dasar kompeten..tapi atas dasar aku memang menginginkanmu……..

 

********

          “Kenapa harus dia” ujar Mei pada Dara kakaknya

          “Memangnya kenapa kalau dia….”

          “Kak…”

          “Mei kalian sudah bekerja sama dalam waktu yang lama, panjang, 5 tahun bayangkan. Bohong banget kalau ga ada perasaan di antara kamu….”

          “Tapi….Kak dia beda sama aku…..Mbak tahulah”

          “Sempit sekali pemikiranmu…..Kata siapa aktivis kayak kamu harus dapat aktivis juga…..mmhhh…kalau kau berfikir begitu kenapa ga dari dulu kau bikin biro desain dengan teman-temanmu yang berjenggot bukan dengan Affan…”

          Mei terdiam. Ucapan kakaknya benar-benar menampar dirinya. Dia jadi sadar kalau selam ini dia tidak tulus.

          “Aku mati rasa dengan Affan…..”

          “Mati rasa dalam arti kau terlalu sayang padanya…walau kau tahu takkan bisa memilikinya. Dan kau hanay berharap biasa da di dekatnya……….meneydeihkan sekali kamu. Seharusnya kau bahagia donk dia melamarmu”

          “Kak, apa sih maksud Kakak……..aku tahu itu. Tapi aku juga sadar menikah nggak main-main……usiaku beda saat aku mencintainya. Sekarang aku sudah 28 tahun……perasaanku juga sudah beda. Aku telah mengunci rapat-rapat rasa itu”

          “Mei……..justru karena usiamu yang sudah 28 itu, di saat dia melamarmu kau buka pintu itu. Jadikan rasa yang kau miliki padanya halal. Menikahlah”

 

*********

    Segalanya berjalan begitu lambat. Membosankan. Sejak peristiwa itu seminggu silam Mei selalu diam kalau bertemu Affan. Affan juga. Di tak banyak berada di kantor. Lebih sering keluar ga jelas……… Mei hanya melakukan aktivitas sewajarnya. Walau sudah punya kantor mei sering mengerjakan job-nya di rumah. Kantor pertamanya dulu waktu memulai bisnis bersama Affan. Jadi, ketika di kantor yang dilakukannya hanya buka-buka internet atau mengecek pekerjaan anak buahnya yang berjumlah 7 orang. Rata-rata dari mereka di rekrut dari almamater Mei dan Affan. Usianya terbilang beraneka ragam. Dari mereka Mei banyak belajar.

          “Mbak Mei…..” sapa Ratri yang usianya hanaya terpaut 1 tahun. Adik kelas Mei persis.

          Ada pa Rat?”

          “Aku mau ajuin cuti.”

          “Mau kemana kamu?”

          “Aku mau nikah” jawab Ratri. Sontak peghuni kantor langsung heboh. Maklum ruangan Mei dengan karyawannya memang hanya dibatasi sekat-sekat.

          “Haa…selamat ya, tapi kamu cuma cuti doang kan. Nggak resign?” Mei ingat sudah banyak karyawanya dalam rentang 3 tahun sejak perekrutan karyawan banyak dari para wanitanya memilih resign ketika ingin menikah. Sudah berganti-ganti orang…..dan Mei  hanya bisa ikut bahagia tanpa sadar usianya pun terus bertambah.

“Insya Allah nggak mbak . Aku sudah betah di sini……

OOO ya udah ajuin aja surat. Nanti aku bicarakan sama Affan”

“Ok..thanks ya….”

          Affan di mana sih kamu? Udah 3 hari ga muncul kekantor. Mei ingat dia telah menggantung pengharapan Affan padanya  semenjak lamaran itu. Mei masih belum bisa menjawab.

***

 

          “Affan pulang, Mbak ke Bandung” ujar Satrio adiknya yang tinggal bersama Affan

          “Kamu serius Yo..”

          “Iya, katanya dia capek…mau refresing…”

          “Lo kok ga bilang-bilang”

          “Tahu tuh…buru-buru…..takut mbak Mei ikut kali. Berangkatnya sih baru tadi pagi. Paling juga masih on the way. Dia naik kereta.”

          “Ooooooooo gitu ya..ok deh Mbak pulang dulu ya”

          “Eh, mbak…ini ada titipan surat

          “Oh thanks”

          “Massa Affan kayak di sinetron aja…ya nitip surat segala. Pasti ada apa-apanya nih sama mbak…. Hati-hati lo mbak…mas Affan bunuh diri ditolak mbak……’

   ********


Assalamualaikum!

 
Untuk bungaku, lentera hatiku dan kasihku yang tak tergapai MEI

Aku memang pengecut…kalah sebelum berperang. Begitu takut menerima keputusanmu yang mungkin bisa mengecewakanku.

Aku bukanlah laki-laki pilihan… Walau ku berharap kau mau memilihku…. Untuk memberi sedikit ruang agar kau mencintaiku….

Aku begitu kerdil. Yah inilah diriku….