berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog Entry[cerbung] Bulan Jatuh Cinta [3]Aug 20, '08 6:32 AM
for everyone

Bulan Jatuh Cinta [3]

novi khansa



“Ayah, Bunda… dia benar-benar cahaya bagi Bulan. Bulan sampai bingung mendapat banyak kebaikannya. Hmm, dan tahukah, Bunda… dia ingin bertemu ayah dan Bunda.”

            Bunda tersenyum melihat tingkah Bulan yang seperti anak kecil. Sementara itu, ayah hanya diam, Bulan selalu punya kejutan dalam hidupnya. Salah satunya kehadiran seorang berharga bagi diri Bulan. Bulan bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tak gampang menarik simpati Bulan yang keras dan perfeksionis. Hari ini ada satu orang laki-laki yang tampaknya berhasil menghias hati Bulan dengan tinta emas. Cinta yang hadir menambah keceriaan Bulan

***

Dongeng-dongeng pangeran berkuda putih menghiasi mimpi-mimpi Bulan tentang cinta. Bulan merasa, akan datang seorang laki-laki sempurna yang akan mencintai Bulan dengan tulus. Laki-laki yang hadir dengan membawa sejuta mimpi dan angan menuju sebuah istana indah di suatu tempat di sana. Bulan merasa, laki-laki itu adalah dia… Dir .

***

            “Bulan, tataplah malam. Langit itu mungkin terlihat kelam, tapi lihatlah bintang-bintang itu, sinarnya menghias malam… tapi akan lebih indah dengan purnama di sana” ujar Dir pada Bulan di atas jembatan menuju rumah Bulan.

            “Bulan, seperti namamu… semua orang selalu senang menatap kamu. Hadirmu begitu dinanti dan menyenangkan, juga bagiku” Dir menatap Bulan dengan penuh cinta.

            Pipi Bulan bersemu merah. Diam ikut menatap malam, langit, bintang, dan purnama.

***

            Belakangan Bunda sering dapati Bulan tersenyum-senyum sendiri. Berlembar-lembar puisi tentang cinta berserakan di atas kasur. Matanya bagai terhipnotis mimpi-mimpi, angan, cinta dan harapan. Entah kenapa Bunda merasa Bulan salah menilai Dir. Bulan terlalu dalam menanamkan harapan pada laki-laki yang memasuki hidupnya. Walau Bunda sadar, Dir memang laki-laki yang baik yang banyak memberi warna dalam hidup Bulan. Juga banyak mengajarkan arti hidup pada Bulan. Dir terlihat yakin, bahkan dengan mimpi dan angan yang sama pada sebuah kehidupan rumah tangga yang baik. Itu menurut Bunda ketika Bulan bercerita tentang Dir.

Akan tetapi, entah kenapa, Bunda tak menemukan tulus dalam wajah Dir. Beberapa kali Dir datang ingin menemui Bulan. Dir lebih tampak seperti orang obsesif dibanding kematangannya menerima Bulan. Dir punya banyak mimpi. Dir punya banyak kisah hidup, yang bukannya membuat Bunda tertarik, tapi malah terdiam. “Apakah ini laki-laki yang bisa menjadi imam bagi Bulan?”

***

            “Ga boleh ya, Bun… kalau Bulan pergi dengan Dir?”

            “Bulan sayang…. Dir belum siapa-siapa bagimu.Dir masih masih orang lain, sayang” ujar Bunda pada Bulan. Sebenarnya Bunda pun tahu Bulan juga mengerti tentang itu, tapi Bunda juga tahu, Bulan tengah dikelilingi taburan cinta yang menyilaukan.

            “Ga boleh ya, sayang…” mata sejuk Bunda menatap Bulan.

            Bunda melihat Bulan kembali ke kamarnya. Bunda tak bermaksud keras pada Bulan. Bunda hanya ingin mengingatkan Bulan yang sepertinya mulai tak logis akan cinta yang menghinggapi Dirinya. Tak lama, dengan cemas, Bunda mengetuk pintu kamar Bulan.

            “Bulan, boleh Bunda masuk?”

            “boleh, bun…”

            “Bagaimana?” kamu baik-baik saja, sayang?”

            “Baik, Bunda… Bulan baik, kok… dan Bulan juga tak marah pada Bunda, hanya saja Bulan harus menghubungi Dir dan tadi dia marah pada Bulan.” Bunda tersentak. Marah? Kenapa marah? Karena rencananya gagal tak diperbolehkan pergi berdua. Marah karena Bulan menuruti Bunda. Marah kenapa? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Bunda. Satu tambahan lagi, Bunda tak bisa menyetujui kelanjutan kisah ini.

            “Tapi, tadi dia sudah maklum, dia mengerti Bunda…” ujar Bulan

            “mengerti untuk?”

            “kalau Bunda tak mengizinkan kami pergi berdua, dan tahukah Bunda… dia akan datang secara resmi… menemui Bunda dan ayah.” Ujar Bulan tersenyum.

***

            “Bun, maaf kemarin Dir tak bisa datang, tapi nanti dia datang lagi, yah secara resmi, Bun” ujar Bulan tersenyum.

            “Iya sayang… kapan dia mau datang ke sini.”

            “Sabtu sore, Bun. Nanti buatkan dinner yang indah ya, Bun, plisss”

Ini yang kesekian kalinya Bulan berkata akan kedatangan Dir, tapi yang ada Dir tak pernah datang. Bulan terus menanti dan menanti. Sabtu sore hingga malam menjelang, Bulan menatap bintang, purnama, dan langit dengan penuh cinta.

Dir pernah bilang kepada Bulan

“Bulan, tahukah kamu, ketika aku menatap langit dalam malam… di sana selalu terpancar wajahmu. Wajah yang bersinar dengan berjuta bintang yang mengelilingimu.”         

Bulan tersenyum malu

“Jadi, kalau kau rindukan aku… tataplah malam, dan lihatlah aku juga sedang menatap drimu.

Kerinduan Bulan selalu terobati setiap kali Bulan menatap malam. Tak jarang Dir menelepon dan menemani Bulan dengan lantunan puisi yang indah. Membuat Bulan berkali-kali memaafkan janji-janji yang berulang kali Dir ingkari.

***

Pernah di suatu malam, ketika Dir berjanji akan datang bertepatan dengan acara keluarga Bulan, Dir dengan tiba-tiba membatalkan.

            “Maaf Bulan… ada urusan mendadak”

            Bulan yang menanti dengan cemas hanya terdiam. Laki-laki itu tampak tergesa-gesa ketika harus menemui Bulan siang itu di tempat mengajar. 

            “Ya sudah, tidak apa-apa”

            “Kamu memang baik, Bulan… moga lain kesempatan aku bisa menemui orangtuamu…”

            “Dir..” rasanya Bulan ingin menanyakan ketegasan Dir akan hubungannya selama ini, tapi bibir Bulan kelu. Bulan ingin Dir yang bicara. Bulan ingin Dir sampaikan rasa itu pada Bulan. Bulan sadar penuh, segala sikap Dir telah menunjukkan perasaan cinta dan sayang kepada Bulan. Dir pun sudah punya komitmen untuk mendatangi ayah dan Bunda secara resmi. Bulan harus yakin, seperti yakinnya Dir pada Bulan.

            “”iya…” jawab Dir menatap Bulan, yang ditatapnya terus menunduk.

            “Tidak apa-pa. sepertinya kamu terburu-buru. Hati-hati di jalan, ya Dir…”

            “terima kasih Bulan…”

 

***

bersambung


Blog Entry[Cerpen] Jangan Pernah PulangMar 25, '08 1:50 PM
for everyone

Jangan Pernah Pulang

Oleh: Novi Khansa

 

 

 

           

Surabaya, 30 Maret 2005

Assalamu’alaikum Ninda apa kabar?

Moga sobatku yang lucu  ini ;p baik-baik aja

 

Aku lebih baik tentunya hari ini Suratmu selalu jadi penyemangat untuk aku di sini. Apalagi, dengan artikelmu yang masuk ke beberapa majalah yang juga kamu kirimkan. Ajarin donk nulis sebagus itu.

 

Ga terasa, ya, Nin, sudah hampir 5 tahun kita berpisah. Aku pengen banget pulang ke Jakarta. Yah, walau orang tuaku sudah tak di sana, tapi kan aku bisa ketemu kamu.

 

Hmm, bukannya gombal, kamu itu sudah seperti permata, Nin buat aku, hehehe... Lagian, mana kebal kamu digombalin. Eh, btw, gimana perkembangan percintaanmu setelah lulus kuliah. Apa sudah ada yang membuat hatimu tergerak, selain diriku atau kamu masih setia... Uuups, muka kamu pasti merah dan bakal marah....

 

Eeee, jangan dirobek dulu, ya suratnya. Aku Cuma becanda, kok... :D Peace

 

Hmm, btw, insya Allah, aku bakal ada seminar di Jakarta bulan Maret nanti. Aku nginap di Hotel Ibis. Nanti, di waktu kosong, aku usahakan ke rumah. Aku kangen dengan Jakarta yang sumpek... Bayangin Nin, 5 tahun aku udah ga menginjakkan kaki ke sana. Aku bener-bener kangen dan hmmm, sudah 5 tahun juga aku ga ketemu kamu langsung, kan?

 

Gimana? Jarang-jarang kan aku rindu Jakarta sejak peristiwa itu. Aku kangen banget, ga tahu kenapa... atau jangan-jangan akan ada hajatan di sana, (tring-tring, sambil ngedip-ngedip). Eeee, tenang-tenang... maaf ya Ninda manis...

 

Ok, deh

See ya..

PS: mau oleh-oleh apa, Nin?

 

 

Wassalam

Ariel

 

 

Ninda melipat surat dari Ariel. Surat ke sekian semenjak kepergian Ariel 5 tahun silam. Kepergian yang harus dijalani dengan begitu menyakitkan. Tapi, kini Ariel ingin ke Jakarta. Ada kerinduan menelusup pada sosok teman masa kecilnya itu, tapi tak sebesar kekhawatiran Ninda pada Ariel seandainya Ariel bener-bener pulang ke Jakarta.

Riel... jangan pulang, donk... bathin Ninda berharap.

 

***

            ”Nin, telepon tuh dari Ariel”

            ”Iya, Mah...” Ninda bergegas memakai kerudungnya karena lokasi telepon dekat ruang tamu.

            ”Assalamu’alaikum” sapa Ninda

            ”Waalaikum salam... Tebak, aku di mana?”

            ”Di Surabayalah”

            ”Salah” jawab Ariel terdengar tertawa dari seberang sana. Deg... jantung Ninda berdegup.

            ”Kamu udah di Jakarta, Riel?”

            ”Hmmm... iya, Nin.”

            ”Oooh...”

            ”Kamu kok ga seneng gitu, sih?”

            ”Hmm, seneng kok” ujar Ninda berusaha menyembunyikan perasaannya. Pikirannya ga keruan, kecemasan mulai menghampiri Ninda...

            ”Ye, deh... kalo kamu ga seneng... aku balik nih...”

            ”Eeeh.. nggak, bukan gitu, Riel”

            ”Tapi, sayang Nin, acaranya padat banget, dan aku jadi ga bisa ke rumah kamu. Kira-kira bisa ga ya kamu yang ke sini, pas jeda makan siang. Nelepon kamu aja, aku susah banget lho... padahal udah 3 hari aku di sini. Acaranya padat banget”

            ”Ohh... gapapa...” Syukurlah, bathin Ninda

            ”Beneran?”

            ”Iya, nanti biar aku sama abang yang samperin kamu ke hotel, ya Riel”

            ”siip...gitu, donk... aku tunggu ya”

***

 

            ”Ariel yang dulu itu, Nin?” tanya Jaka, abang Ninda

            ”Iya, tetangga kita dulu”

            ”Hmmm, gimana tuh anak, udah jadi apa ya?” pertanyaan Jaka yang sinis

            ”Udah ah, bang... kalau ga mau nganterin Ninda, Ninda pergi sendiri aja”

            ”Eh, enak aja... Ga, ga boleh. Kamu ga boleh ketemu sama Ariel cuma berdua. Entar abang anterin”

            ”Makasi, bang... Tapi, inget, ya Ariel itu udah berubah dan Ninda minta abang jangan sinis kayak tadi. Kalau ga, Ninda bakal marah sama abang”

            ”Iya, iya... udah berubah... emangnya dia Ksatria Baja Hitam, apa Nin?”Ninda mencibir dan meninggalkan abangnya.

 

***

            Seorang laki-laki tengah duduk di sebuah restoran Fast Food. Beberapa kali dia melirik ujung pintu dan memerhatikan lalu lalang orang hingga dia mendapati sosok gadis yang dikenalnya. Ninda pakai jilbab sekarang, makin manis aja...

            ”Ninda” panggil Ariel

            Ninda yang baru saja datang bersama Jaka langsung menghampiri Ariel.

            ”Ninda... wah makin cantik aja, sih... Kok ga cerita-cerita kalo udah pakai kudung, tahu gitu, oleh-olehnya bukan kaos, tapi jilbab”

            ”Hmm, kan mau surprise, hehe”

            ”Apa kabar, Riel” sapa Jaka sambil menyalami Ariel.

            ”Baik, bang” Ariel tak mampu menyembunyikan tatapan sinis Jaka padanya. Jaka seperti meneliti Ariel dari ujung rambut sampai ujung kaki.

            ”Sekarang kamu kuliah, Riel?” tanya Jaka

            ”Iya, bang”

            Ariel tak tahan dengan pandangan dari Jaka. Pandangan menghakimi dan menelanjangi seolah Ariel itu terdakwa yang akan dibawa menuju pesakitan. Rasanya Ariel ingin berlari dan menyadari. Hal inilah yang membuat Ariel enggan ke Jakarta. Andai, tak ada dewi penolong di samping Jaka, Ariel sudah ingin menghilang saja.

            Ninda tak banyak bicara. Semuanya menjadi serba tidak mengenakkan. Kalau di surat, Ninda bisa bercerita panjang lebar, begitu bertemu Ariel, Ninda lupa akan berkata apa. Segalanya berjalan kaku.

            ”Duh, Nin udah jam satu, aku musti balik ke hotel. Ntar sore aku telepon kamu, ya”

 

***

            Ninda tak sengaja menubruk seorang wanita paruh baya yang terengah-engah. Belanjaan Ninda berantakan, begitu juga bawaan ibu itu.

            ”Maaf, Bu”

            ”Ninda... gapapa, ibu yang meleng” jawab ibu tadi dengan wajah letihnya. Sudah beberapa hari ini Ninda tak bertemu Ibu Maryam, sekalinya bertemu, wajahnya makin kuyu saja. Semenjak Ariel pergi ke Surabaya, Ibu Maryam makin jarang terlibat kegiatan di kompleks. Seringnya, Ibu Maryam menyendiri di rumah hingga beberapa orang sudah menganggapnya gila.

            ”Bu, selalu sabar, ya... Insya Allah, ibu bisa melewati ujian ini”

            ”Makasih, Nak. Ibu sendiri juga sudah pasrah. Ariel juga sudah kuliah seperti biasa. Tapi, justru di sini ibu ga tahan, Nak. Seminggu lagi, ibu akan pindah ke Purwakarta. Ke kampung bapaknya Ariel. Belum lama bapak dapat kerjaan di sana. Nanti, biar Ariel kalau pulang ga perlu ke sini. Kasihan dia. Dia sudah berusaha terus” jawab Ibu Maryam.

            Ninda mengingat pertemuan terakhirnya dengan Ibu Maryam, Wanita sederhana yang baik hati. Kerudung selalu melekat di kepalanya. Aktivitas majlis ta’lim selalu beliau ikuti. Banyak kegiatan keislaman yang selalu beliau hadiri, tidak hanya jadi penonton, tapi juga jadi panitia, bahkan Ibu Maryam juga berdakwah. Tapi, begitu peristiwa itu, segalanya berubah. Ibu Maryam lebih sering berada di rumah. Aktivitas yang dilakukannya hanya mengajar mengaji di rumahnya. Itu pun sewaktu anak-anak yang mengaji masih datang rutin setiap Selasa sore. Setelah beberapa minggu kepergian Ariel, satu demi satu anak-anak itu tak diizinkan lagi untuk mengaji oleh orang tuanya di rumah Ibu Maryam.

            ”Udah ga ada tempat lagi buat keluarga kami di sini” ujar Ibu Maryam pasrah kepada mama.  ”Bapaknya Ariel kelihatannya tidak terlalu ambil masalah, tapi hampir tiap hari dia memikirkannya, berkali-kali dia menyalahkan saya..., Bu”

            ”Sabar, ya Bu... moga dengan ibu Maryam tinggal di Purwakarta, keadaan bisa menjadi lebih baik. Maafkan kami juga tak bisa banyak membantu.

 

***

            Ariel dan Ninda sudah saling kenal sejak kecil. Hampir tiap hari mereka main bersama. Namun, semenjak menginjak bangku SMU, Ariel sudah mulai menjauhi Ninda dan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Menurut Ariel, Ninda tak lebih masa lalu kala masa kecilnya hingga petaka itu mulai hadir.

            ”Ninda... buka pintu, Nin... Ninda...” seorang laki-laki menggedor pintu rumah Ninda. Isi rumah Ninda panik. Jaka, abang Ninda segera membuka pintu dan mendapati Ariel yang setengah mabuk.

            ”Ninda... mana Ninda?”

            ”Ngapain lo nyari Ninda... Keluar...” bentak Jaka

            Ninda segera keluar mendengar kegaduhan malam itu.

            ”Ada apa, bang?” tanya Ninda keluar dari kamarnya

            ”Nin... Ninda... tolongin gw, Nin... Cuma lo Nin...yang bisa”

            ”Ninda masuk... dan lo pergi dari rumah ini sekarang juga”

            Sejak peristiwa itu, Ninda tak lagi mendengar keberadaan Ariel. Kabar terakhir, Ariel diungsikan ke Surabaya, di rumah neneknya. Banyak gosip yang beredar kalau Ariel sudah jadi pecandu narkoba. Bisa dipastikan bagaimana keadaan orangtua ariel yang merupakan tokoh masyarakat. Ayah Ariel aktif di organisasi kemasyarakatan dan LSM, sementara ibu Maryam, ibunya Ariel adalah seorang guru ngaji. Rumah Ariel tepat di samping rumah Ninda bagai redup. Ujian yang mereka alami begitu berat.

            Semenjak kepergian Ariel, para tetangga makin banyak yang berprasangka. Ada yang bilang kalau Ariel itu masuk penjara, ada lagi yang bilang kalau Ariel di Suryalaya, ada juga yang bilang kalau Ariel kabur dari rumah. Ninda ga pernah percaya dengan gosip yang beredar hingga suatu hari seorang tukang pos datang.

            ”Mbak, ini saya titip untuk rumah sebelah. Udah beberapa hari rumahnya kosong, ya?”

            ”Udah pindah, Pak”

            ”Oooh, ya udah deh kalau gitu, mana ini dari surabaya lagi” Pak Pos sudah mau beranjak pergi

            Surabaya, pak?”

            “Iya, dari Ariel…”

            ”Tunggu sebentar, Pak, tapi saya ada no teleponnya. Kalau saya yang terima, biar saya kirim lagi gimana?”

            ”Maksudnya”

            ”Saya ada no telepon dan alamat tetangga saya itu. Mereka pindah ke Purwakarta.”

            ”Gimana, ya?”

            ”Khawatir penting, Pak”

            ”Oh, ya udah... saya percaya deh sama adik. Terima kasih, ya”

            Sebuah alamat Ariel tertera di sana. Rupanya Ariel kuliah di Surabaya dan tinggal di sebuah kos-kosan. Setelah menelepon ibu Maryam dan menanyakan alamat rumah di Purwakarta, Ninda langsung mengeposkan 2 surat ke kantor pos. Yah, Ninda juga mengirim surat untuk Ariel di Surabaya. Itulah awal mula Ariel dan Ninda mulai menjalin kembali hubungan persahabatan mereka yang sempat terputus.

            Dari korespondensi itu, Ninda baru tahu kalau ternyata Ariel dijebak ketika mulai coba-coba barang haram itu hingga Ariel kecanduan. Ariel mulai menjual barang-barang di rumah. Ariel diam-diam mencuri uang ibu dan bapaknya, mengambil HP milik omnya dan banyak hal yang tak patut seolah-olah begitu mudah dilakukan oleh Ariel. Ariel tak punya rasa malu pada siapapun.

Ninda berkali-kali bertemu Ariel dalam keadaan setengah mabuk. Suatu kali, Ariel berusaha memanggil-manggil Ninda dengan suara keras hingga akhirnya Ariel jatuh pingsan. Hari itu baru diketahui, kalau Ariel sakit, badannya panas dan terus mengigau. Tapi, keesokannya ketika Ninda ingin berangkat sekolah, Ariel sudah di atas motornya menawari Ninda untuk berangkat bareng. Ariel terlihat sehat dan segar.

            Ninda tak pernah benar-benar curiga dengan keadaan Ariel. Hanya sesekali Ariel menampakkan kalau dirinya terlihat lemas, sakit atau tiba-tiba pingsan ketika upacara. Hingga belakangan sebelum Ariel pergi ke Surabaya, Ariel beberapa kali menampakkan dirinya dalam keadaan mabuk. Tapi, beberapa kali juga, Ariel berusaha menemui Ninda.

            ”Nindaaaaaaaaa, gw pengen tobat......” teriakan Ariel dari bawah jendela kamar Ninda.

***

 

            Sejak kedatangan Ariel ke Jakarta beberapa waktu lalu, Ninda dan Ariel masih sering berkirim-kirim surat, hingga akhirnya berkirim via email dan chat lewat YM. Ariel terkadang masih mempermasalahkan sikap Jaka yang tak bersahabat dan kecewa dengan sikap Ninda yang tak bisa membela Ariel. Ninda, bukannya tak ingin membela. Ninda lelah dengan hal itu. Banyak kabar yang terdengar tentang Ariel. Apalagi, ketika Ibu dan ayah Ariel bertandang ke Jakarta. Seorang tetangga tanpa maksud yang jelas menyapa Ibu Maryam.

            ”Bu, Ariel itu udah mati, ya? Kena obat juga kan kayak Dino?”

            Ibu Maryam dengan sangat bijaknya menjawab kalau Ariel sehat dan berada di Surabaya. Tapi, Ninda ga tahan daningin langsung marah-marah. Belum lagi, ada juga yang secara halus menanyakan dimana pusat rehabilitasi tempat Ariel, apakah Ariel dipenjara dan banyak lagi. Ninda pun kadang dapat pertanyaan yang sama. Bahkan ada yang menyuruh Ninda berhati-hati...

            ”Neng, ibunya Ariel masih suka ke rumah, ya... Ati-ati aja... kalao neng dijodohin sama Ariel. Ariel kan pake obat, wah nanti kalau punya anak gimana?”

            Ninda cuma diam dan bergegas pergi tanpa menjawab, tapi Ninda benar-benar marah ketika orang tersebut mulai bicara pada ibu

            ”Ati-ati atuh bu jaga anak perawan, masak mau dijodohin sama  orang narkoba... nanti kalo cepet mati gimana?”

***

            Bertahun-tahun Ninda berkirim kabar ke Ariel, selalu mengharapkan Ariel tak pernah datang lagi ke Jakarta. Ninda tidak ingin Ariel tahu apa yang Ninda dan orang tua Ariel dengar tentang Ariel. Sudah cukup Ariel menembus kesalahannya melawan obat laknat itu, kenapa musti ditambah dengan image yang terus melekat dalam diri Ariel. Ninda menyembunyikan semua itu dari Ariel. Hatinya selalu berharap Ariel tak lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Kalau Ibu dan ayah Ariel sudah mulai tegar dengan ujian ini, Ninda ga yakin, Ariel bisa menerimanya. Ariel bisa menampar siapapun yang menghina dirinya. Berkali-kali, Ariel ingin mampir ke Jakarta ketika pulang ke Purwakarta, berkali-kali juga Ninda menolak.

            ”Emang kenapa, sih Nin?” tanya ariel di telepon

            ”Aku mau pergi, sekeluarga, terserah kalau kamu mau bengong di sini” jawab Ninda ketus

            ”Yah, aku tungguin, deh. Lagian juga aku bisa main ke mana dulu, kek...” jawab Ariel

            ”Nggak, Jangan...”

            ”Oooh...” Ariel paham maksud Ninda. Teman-teman Ariel mungkin tak lagi menempati rumah mereka. Ada beberapa yang OD dan beberapa yang kedapatan polisi sedang berpesta shabu.

            ”Iya, pokoknya hmmm, kamu jangan ke sini, aku ga ada”

***

 

Beberapa kali Ariel mengurungkan niat untuk ke Jakarta hingga suatu kali Ninda melihat sosok laki-laki sedang berjalan ke rumah Ninda, badannya terhuyung-huyung. Dari kejauhan, Ninda tak begitu memerhatikannya hingga laki-laki itu ambruk di depan Ninda yang baru saja ke luar pagar. Wajahnya kebiruan, ada darah di mana-mana.

            ”Aaaa ariiiiiiiiiiel”

            Mama dan papa Ninda memboyong Ariel masuk ke rumah

            ”Nin, aku cuma menyapa mereka ketika aku lewat warung di sana. Tapi, bapaknya Dino ngeliat aku dan marah-marah.... Orang-orang pada dateng dan ikut mukulin aku....”

            ”Ariel, kenapa ga bilang kamu ke sini?”

            ”Aku mau surprise, karena kalau ga, kamu ga akan ngebolehin aku datang”

 

 

Ariel....jangan pernah pulang ke sini....

 

 

****

 

*untuk seorang teman kecil yang terlebih dahulu pergi... aku dan pocut tahu kalau kamu baik :)


Blog EntryNegeri KetujuhJan 10, '08 1:21 PM
for everyone

Negeri Ketujuh

 

Bila telah sampai pada negeri ketujuh, jangan lupa tetap menatap langit. Buat lukisan indah dari mimpi dan angan.

 

Singgahilah negeri-negeri lain untuk dapatkan sekantung hikmah, setetes ilmu dan secercah harapan.

 

Jangan pernah terlelap terlalu lama dalam keindahan negeri ketujuh, hingga tak kau sadari kenikmatan bisa berhenti seketika...*

 

 

************

 

 

Ada sebuah tempat bernama negeri ketujuh. Negeri puncak segala negeri. Negeri indah, menyenangkan, damai penuh dengan kebahagiaan...

 

Sudah lebih dari beberapa bulan ini Diar ada di negeri ketujuh. Negeri yang menyenangkan, penuh kehangatan dan nyaman. Diar begitu menikmatinya hingga kadang tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di luar negeri itu. Diar terlalu sibuk untuk berkutat terus mengumpulkan pundi-pundi hingga lelah dan terlelap dalam selimut indah, kasur empuk berisi bulu angsa. Diar tak ingin pergi dari negeri ketujuh walau ada banyak orang yang ingin menemui Diar. Diar teramat sangat sibuk memperindah tempat barunya. Diar juga tak ingin meninggalkan negeri itu. Diar merasa pejuangannya kemarin-kemarinlah yang membawanya ada di negeri itu. negeri bebas ancaman, negeri tanpa bahaya.

 

Diar lupa pada tulisan peringatan di depan gerbang negeri ketujuh. Diar terlena dalam kenikmatan negeri ketujuh.

 

Diar kini tak lagi punya mimpi-mimpi. Cukup tinggal di negeri ketujuh saja sudah bisa memenuhi keiginannya. Tapi, entah apa yang terjadi malam itu. Ketika terlelap dalam hangat, Diar bermimpi ada di negeri angan, kemudian terlempar ke negeri impian hingga akhirnya, Diar terbangun di luar negeri ketujuh. Diar terpaku diam, ketika tak mampu lagi membuka gerbang menuju negeri ketujuh.  

 

Diar tak mampu berkata-kata lagi, hingga hanya sesal yang menghantui diri. Sesal karena tak pernah lagi melukis mimpi dan angan di langit. Tak lagi mewarnai harapan dan asa di tengah laut. Diar terlelap di negeri ketujuh.

 

Diar terdiam. Diar sadar telah lupa  melukis mimpi, lalai menggantung cita di langit. Tidak sembarang orang bisa berada di sana. Tak semua orang bisa bertahan lama di sana. Hanya mereka yang terus berlari dengan sangat cepat, bisa ada di sana. Diar ingin sekali masuk ke negeri ketujuh, tapi tak mampu.

 

Diar menaiki kereta kuda dengan sedikit bekal. Kereta kuda terus berjalan. Kini Diar terdampar di pulau tak bertuan. Tak ada negeri yang ingin menerima Diar. Sekarang, Diar tak bisa meninggalkan pulau itu. Diar harus melukis mimpi di langit bila ingin ke luar dari pulau tak bertuan. Diar menatap kosong langit. Semenjak di negeri ketujuh, Diar sudah lupa pada mimpi-mimpinya.

 

Diar benar-benar tak sanggup lagi berdiri tegak, bahkan tangannya kian melemah melukis mimpi. Ditatapnya langit. Dipandangnya lautan luas terbentang. Diar ingin merasakan dinginnya air laut hingga Diar menemukan sebuah buku usang . Buku itu dilempar seseorang dari negeri mimpi. Diar membuka buku itu dengan perlahan. Kenangan masa-masa Diar melukis mimpi-mimpi di langit. Kenangan Diar pada kehangatan cinta di negeri kasih. Kenangan Diar pada negeri angan, dan negeri-negeri yang pernah Diar singgahi sampai pada negeri ketujuh.

 

Diar tertegun membaca mimpi-mimpinya. Banyak sekali yang tak Diar dapatkan. Diar terjebak dengan rutinitas semu hingga Diar menemukan kenyamanan di negeri ketujuh.

 

Diar termenung. Langit begitu luas. Bintang-bintang bertaburan. Mimpi-mimpi berterbangan mendekati bintang. Tampak di kejauhan anak-anak kecil melukis mimpi, manusia-manusia dewasa mengukir asa. Beberapa orang terlihat menggantung cita-citanya mendekati bintang.

 

Diar mengambil pena dalam buku. Dalam hati, Diar pancangkan asa dan cita-citanya. Diar tegak berdiri mencoba melukis mimpi di langit. Mengingat satu demi satu impiannya. Hingga akhirnya terbentang jembatan pelangi menuju negeri harapan. Diar langkah kaki-kakinya menjejak harapan baru.

 

Di sini Diar tinggal. Di negeri harapan. Diar bisa singgah ke negeri mimpi untuk melukis. Diar bisa berlari menuju negeri cita untuk mengasah ketrampilannya dan bisa sejenak duduk di taman cinta, mentafakuri keindahan ciptaan-Nya.

 

Sejauh mata memandang,  negeri ketujuh kembali jadi impian... melemparkan senyuman paling indah untuk harapan dan kasih sayang...

 

 

*Tertulis di depan gerbang negeri ketujuh

 

Segala hal bisa diraih dengan kerja keras, Ayo terus bermimpi...

SEMANGAT :)

 

 

 

Untuk mbak Lia, thanks for sharing :) Aku benar-benar mendapat pencerahan darimu. Luv u coz Allah :)



foto diambil saat magrib


Blog Entry[2 sahabat] Pembicaraan SunyiDec 17, '07 5:19 AM
for everyone

 

Pembicaraan Sunyi

 

 


Dua orang sahabat kali ini kembali bertemu di sebuah taman yang indah. Setiap seminggu sekali, mereka akan bertemu di tempat yang sama, di jam yang sama. Di sana di sebuah bangku taman yang menghadap danau.


Sisi belakang bangku adalah taman bermain. Letaknya di balik pohon. Ada pagar yang mengelilinginya.

 

Dari pukul sembilan pagi hingga ashar menjelang, bahkan bisa hingga azan maghrib. Mereka tak pernah meninggalkan bangku taman itu, kecuali waktu sholat menjelang. Untuk makan pun seringkali mereka tetap memilih duduk di bangku taman itu.

 

Keduanya sering membawa bekal. Setiap jenis makanan yang ada dibagi dua. Ada roti, coklat silverqueen, kue sus, kue black forest, ubi, singkong,  tempe goreng hingga nasi goreng gosong...

 

Bangku taman itu saksi persahabatan mereka berdua. Bagaimana setiap pekan mereka bertemu. Hanya sekadar bercerita, diam menatap danau atau hanya sekadar tahu kalau mereka baik-baik saja.

 

Dengan keduanya bertemu dan berada di sisi mereka. Itu saja sudah membuat mereka lega dan senang.

 

”Bagaimana kabar kamu?” pertanyaan standar itu tak pernah mengawali pertemuan mereka.

 

Genggaman tangan, bersalaman, mencium pipi kemudian duduk. Posisi yang sama tanpa perubahan.

 

Kemudian mereka diam.

 

Kadang ada yang membaca buku, mengeluarkan laptop dan menulis, atau hanya memotret setiap sudut taman yang indah dan danau yang menyejukkan.

 

---------

 

Ketika salah satu dari mereka mulai menangis, yang satunya lagi mulai mendekat dan menggenggam tangan sahabatnya.

 

Sahabat yang satunya tidak bercerita, tetapi terus menangis...

Kemudian sahabatnya memberi segulung tisu dan membiarkan dia menangis...

 

Tidak ada aktivitas apapun selain itu.

 

Tak lama, si sahabat yang menangis pun memberikan sebuah surat.

Diam.... 

 

Tetes demi tetes air mata...

 

Si sahabat hanya membaca tulisan itu, tapi terus menggenggam tangan sahabatnya. Ada kilatan kemarahan dan sedih hingga ia menyadari, wanita rapuh di sampingnya tidak butuh kemarahan, tidak butuh nasehat palsu, dia hanya butuh kekuatan....

 

Dipeluknya sahabatnya itu.

 

Kelegaan mengeluarkan air mata di hadapan sahabatnya, membuat dirinya kini merasa lebih baik. Pelukan dari si sahabat memberi kehangatan yang tak ternilai....

 

 

-------------

 

Setelah tangis itu usai. Sang sahabat pun pergi. Sesaat kemudian dua mangkuk es krim sudah ada di tangannya.

 

Tetap tanpa perkataan apapun memberikannya kepada si sahabat yang masih mengusap kedua pipinya yang basah.

 

Sahabat menerima es krim coklat vanila dan melahapnya.

 

 

--------------------

 

Hingga ashar menjelang. Mereka hanya duduk di sana. Tangisan tak ada lagi. Si sahabat yang menangis kini tengah sibuk dengan laptopnya. Menulis berbagai hal dalam hidupnya. Menulis kisah persahabatan yang indah.

 

Sementara, si sahabat yang satu lagi tengah membaca buku ”The Secret”. Merasa memperoleh kekuatan baru untuk bisa berpikir positif. Ingin membendung tangis sambil bertahan dari kecamuk perasaan.

 

Si sahabat sadar ada yang tengah terjadi dalam kehidupan sahabatnya. Diletakkan laptop itu, diperhatikannya sahabatnya yang tengah membaca buku. Satu halaman itu tak pernah dibalik, matanya tak melihat buku, tapi menerawang. Ada air yang menggenang di sudut matanya. Sepertinya berusaha ditahan, tapi tak mampu.

 

Si  sahabat sadar, sahabatnya mulai memerhatikan perilakunya.

 

Kemudian kedua pasang mata itu bertemu. Sebuah amplop kini sudah berpindah tangan.

 

Isinya diagnosis penyakit jantung yang diderita sahabatnya.

 

Si sahabat berpikir. Lagi-lagi masalah yang dimiliki tak seberapa dibanding dengan masalah sahabatnya. Tapi, lagi-lagi, dia lebih kuat dari dirinya.

 

.......................................................................

 

 

 

 foto: http.bp2.blogger.com

 

 

 


Blog EntryKetika Bulan Membenci MalamDec 2, '07 8:46 PM
for everyone

Ketika Bulan Membenci Malam

 

Bulan menatap Malam.

Rasanya benci dan hambar. Malam begitu dingin. Malam tak lagi ramai, tapi sepi dengan kebisingan yang sunyi. Malam sangatlah tak ramah, membiarkan Bulan sendirian.

 

***

 

Kini Bulan tak hanya membenci malam, tapi ingin berpisah dengan malam dan selalu mengharap pagi.

 

Setiap malam, Bulan tak lagi bersinar indah, dia diam. Wajahnya muram, Bintang-Bintang sungguh bingung menatap Bulan.

 

***

 

”Aku ingin lewatkan malam dalam diam, atau biarkan aku tertidur hingga pagi menjelang” ujar Bulan kepada Langit.

 

Langit menatap sendu wajah Bulan. Senyumannya memang telah hilang sejak peristiwa itu, di kala malam-malam merenggut kebahagiaan Bulan.

 

***

 

Langit hanya diam.

Bintang-Bintang meminta Langit untuk bertanya pada Bulan. Tapi, Langit diam. Langit merasa tak berdaya. Bulan terlalu rapuh, sendu, menyedihkan... Langit bagai melihat keriput di wajah Bulan.

 

Padahal, belum lama, Bulan begitu bersinar. Sinar cinta yang menyilaukan hingga kadang Langit tertegun menatapnya. Bulan melompat riang ketika berjumpa malam. Bulan nampak makin indah dengan hiasan malam.

 

Tapi, kenapa... Bulan kini lebih banyak diam, dan justru membenci malam. Langit berpikir keras, sambil mencoba mengingat-ingat sejak kapan Bulan mulai terlihat murung.

 

***

 

        ”Kenapa harus ada cinta, ya?” tanya Bulan pada Langit

        ”Karena dengan cinta, segalanya indah...” jawab Langit menatap Awan, sahabat sehatinya.

        ”Tapi, kenapa justru cinta melukaiku..” tanya Bulan.

 

***

 

Kini Langit ingat apa kata-kata Bulan di malam itu. Bulan terluka karena cinta. Cinta yang pernah Cahaya berikan padanya. Yah, semua ini karena Cahaya... Langit tak bisa diam mengingat itu. Langit harus menemui Cahaya.

 

***

 

”Cahaya...kenapa kau lukai Bulan?” tanya Langit ketika mendatangi Cahaya yang bersembunyi di dalam gua.

”Aku tidak melukainya, justru aku yang terluka karenanya”

”Kamu bohong...”

”Tidak, justru aku sangat mencintai Bulan”

”Lalu, kenapa kau tega melukai hati Bulan...?”

 

Cahaya terdiam. Dirinya seperti tak sanggup lagi bertahan dengan keadaan dirinya yang payah. Redup, bagai tak bernyawa.

 

”Aku mencintai Bulan, dan ingin terus menyinarinya....”
”Lalu....” tanya Langit tak sabar. Langit tak memerhatikan betapa rapuhnya Cahaya.

”Tapi, aku salah... tidak seharusnya kuberikan cinta pada Bulan, karena aku telah punya cinta yang lain. Yang menunggu untuk aku sinari...” jawab Cahaya takut-takut Langit akan menyerangnya.

”Lalu kenapa kau dekati Bulan?” tanya Langit tak sabar ingin menghantam perut Cahaya.

”Karena aku begitu mengagumi Bulan, dia indah, memukau....”

”Kamu jahat. Kini Bulan terluka dengan harapan darimu...”

”Iya, maafkan aku... aku juga mencintainya, karena itu aku juga tersiksa”

”Sekarang siapa yang kamu pilih, Bulan atau dia?”

”Aku... aku akan tinggal bersama dengan dia dalam waktu dekat...”

”APPPPAAAAAAAA” Langit pun tak kuasa menahan amarah dan menghantam perut Cahaya. Cahaya terpelanting hingga ke pojok gua.

 

***

 

Langit segera bergegas kembali menemui Bulan. Bulan masih murung. Bintang-Bintang masih mengelilingi Bulan yang bersedih hati.

 

Begitu melihat kedatangan Langit, Bulan berkata

”Aku tak pernah berharap cinta... karena aku sangat takut jatuh cinta...”

”Dia datang dengan sendirinya, Bulan...” jawab Langit

”Tapi aku tak pernah meminta, Cahaya yang mendekatiku...”

”Cinta itu begitu halus hadir di hatimu, hingga kau tak mampu sadari... ”ujar Langit

”Tapi, kemudian pergi dengan begitu kasar hingga kau sangat kaget kalau cinta ternyata telah pergi dari hatimu” sambung Awan

”Tapi, aku tak pernah mengharap Cahaya...” ujar Bulan.

”Hari itu Cahaya begitu baiknya hingga Bulan terpesona... Bulan nyatakan cinta kepada Cahaya.. baru kali ini cinta begitu indah karena Cahaya” ujar Bulan tersenyum getir

 

Langit, Awan dan Bintang-Bintang terdiam mendengarkan Bulan.

 

”Tapi, tiba-tiba, Cahaya menatap malam dan bilang, ’Bulan bukanlah yang Cahaya inginkan...’”

”Cahaya meninggalkan Bulan dan berkata, ada yang lain, kan dia sinari... dan itu bukan Bulan...” tangis Bulan

 

Cahaya pergi ketika berjumpa malam.

Bulan pun menjadi membenci malam.

Bulan tersedu sedan di hadapan Langit, berharap Langit mau memeluknya dan menyediakan pundaknya untuk Bulan.

Langit terdiam.

Langit menatap matahari yang akan terbenam.

Langit berharap, malam tak datang hari ini.

 

 

====== bersambung

 

foto: http://jrscience.wcp.muohio.edu/thumbs/WaxingMoon20898.jpeg


Blog EntryPerempuan Pembawa LukaOct 7, '07 10:01 AM
for everyone
Perempuan Pembawa Luka



Semalam saya sedang berjalan di sebuah negeri. Dari luar saya melihat negeri itu, saya tertarik memasukinya, walau ada rasa takut dan khawatir.

Saya susuri jalan itu, tampak sebuah taman yang indah. saya takjub, tapi kenapa begitu suram, ya? Saya hampiri seorang wanita yang tengah duduk di bangku taman.

"Hai.."
sapaan saya tak dijawab. dia sibuk dengan satu boks yang dibawanya. Terus melongok boks itu.

"Hai..."saya ulangi sapaan saya kepadanya dengan lebih keras.

"Eh, maaf," jawabnya.

Saya menatap wajahnya yang sendu, muram tanpa semangat.

"Maaf, kenalkan, saya..." ucapan saya terpotong ketika melihat tangan wanita itu penuh luka.
   
"Biarkan saja" ujarnya ketika saya tampak khawatir melihat tangan itu.

"Saya Reina" uajrnya mengulurkan tangannya yang penuh luka.

"Saya Funny" ujar saya.

Wanita itu tersentak mendengar nama saya. Menatap saya dengan lekat. Diam dan kemudian tertegun lama.

"Ada yang salah dengan nama saya?" ujar saya

"Kamu pasti bukan dari negeri ini. Namamu penuh dengan kebahagiaan, tubuhmu begitu segar, wajahmu sangat ceria sesuai dengan namamu" ujar dia.

"Iya, saya bukan dari negeri ini, tapi entah kenapa saya ada di sini, kereta kuda membawa saya ke sini."

"Yah, kalau begitu... pergilah, khawatir dirimu terluka."

"Terluka?" Yah memang saya sedang terluka, sakit... sakit sekali.

"Kalau kau lama di sini, lukamu tak akan bisa sembuh, di sini adalah negeri Luka, semua orang di sini akan terluka. Tak ada lagi senyum, yang ada hanya luka. Dan tahukah kamu? Luka itu akan terus ada selama kamu ada di sini."

"Saya juga penuh luka. Luka karena cinta... Mungkin ini yang membawa saya ke sini." ujar saya mencoba mereka-reka kejadian tadi malam. Saya baru saja jatuh sakit, pingsan dan tiba-tiba kereta kuda itu membawa saya ke sini.

Wanita itu mengusap air mata saya.

"Kita sama..." ujar dia

"Tapi, kau tak akan mampu lebih lama di sini"

***

"Hei, Reina... lihat luka saya sudah tak ada lagi... terima kasih, ya.. saya sudah tak perlu di sini lagi" ujar saya pagi itu ketika terbangun di rumah mungil milik Reina.

"Pergilah..."

"Tapi... bagaimana dengan kamu? Sampai kapan kamu di sini?"

"Saya akan tetap di sini, Fun... Luka saya sudah terlalu dalam..."

"Tapi.. kau saja bisa membantuku menyembuhkan luka yang aku miliki, tapi kenapa kamu tak bisa menyembuhkan lukamu sendiri...?"

"Hmm..." Reina tersenyum kecut, tampak luka di sekitar bibirnya...

Aah......untuk berbicara saja sudah melukainya... apalagi untuk bercerita.

"Terima kasih, tapi sepertinya tak ada gunanya...

***

    Saya meninggalkan negeri penuh luka. Meninggalkan Reina, Perempuan Pembawa Luka. Terbersit di otak saya bagaimana dengan hanya bercerita kepadanya, luka saya sembuh. Teringat, perhatian Reina ketika menyuguhkan secangkir kopi dan menyalakan perapian, membiarkan diri saya terus menangis dan bercerita. Dia terus dan terus mendengarkan saya, walau luka di tangannya, di kaki dan kepalanya terus saja mengusik saya. Luka saya makin menghilang dan kering... tapi lukanya terus di sana.

"Reina..., wanita itu bernama Reina" ujar saya kepada bunda.

"Reina, wanita pembawa luka"

"Bunda tahu?"

"Bunda tahu.. karena dia adalah dongeng di negeri penuh luka..." ujar bunda

"Funny, bacalah kisah ini...

***

    Nama saya Reina, perempuan pembawa luka. Saya ada wanita yang tak pernah mengerti akan dunia penuh luka hingga kini saya tinggal di sebuah negeri penuh luka. Hingga akhirnya saya terperangkap dalam negeri ini. Semoga bukan untuk selamanya.

    Saya dibilang sensitif, ya benar.. saya sangat sensitif. Perkataan orang-orang bisa melukai saya kalau saya tak sanggup menjawab argumen mereka. Saya akan menangis, sambil berharap luka itu segera sembuh, tapi apa yang terjadi, luka saya terus membesar, dan tak sanggup lagi saya mengolesinya dengan obat. Saya terus terluka.

    Setiap hari saya menangis membawa boks catatan luka dan berharap saya bisa bertemu orang yang membuat luka saya, tapi apa yang terjadi orang tersebut tak kunjung datang dan saya sendiri malah terus melukai orang dengan wajah saya yang buruk. Saya bodoh, saya ingin menyembuhkan luka tapi saya terus menerus menyakiti yang lain.

    Bagaimana saya menyembuhkan luka ini?

    Orang-orang datang menghampiri saya, menceritakan luka-luka mereka. Tapi, tak ada yang sanggup mengobati luka itu. Saya terus terluka... Saya tak sanggup jalani hidup ini dengan penuh luka. Saya tak mengerti kenapa saya teru terluka. Apa ada yang salah dengan diri saya.

***

Saya susuri kembali jalan itu. Saya harus menemui Reina. Saya harus membantu dia. Tapi, bunda mengejar saya dari belakang

"Funny, kalau kau sedang tidak terluka, akan sulit menemui Reina..."

"Lalu bagaimana bunda...? Saya ingin menemui wanita itu. Tidak bisa selamanya dia di sana"

"Kirimkan surat padanya, lukiskan cinta dan asa..."

"Bagaimana surat itu bisa sampai?"

"Dengan cinta dan sayangmu padanya, dan biarkan merpati itu membawanya hingga gubuk Reina"
   
    ***

   
    Dear Reina...
    Pertemuan denganmu membuat saya tersadar, kalau saya hidup di antara orang-orang terkasih, mereka dengan tulus dan perhatiannya kepada saya. Bunda adalah no 1 untuk saya, Paman Robert, Syeila, Marisa... dan semua orang di sekeliling saya.

    Tapi, kenapa mereka justru tak sanggup obati luka saya ketika hati tercabik-cabik cinta dari laki-laki itu. Mereka tak sanggup menghibur saya hingga saya sampai ke negeri penuh luka dan bertemu denganmu.

    Reina....
    Entah bagaimana, saya jadi terpikir terus dirimu. Melihatmu, saya seperti melihat sesuatu yang hilang yang seharusnya ada pada dirimu. Reina.... kenapa kau tidak buang saja boks penuh luka dan biarkan segalanya selesai... Kalau kau masih menunggu dia yang melukaimu, sampai kapan kau bertahan dengan luka-lukamu itu....

    Reina...
    Bukankah kita masih memiliki Tuhan? Bukankah dia yang bisa menyembuhkan luka, temuilah dia....

    Di malam kita bertemu, aku sadar aku memiliki Tuhan, hingga aku merasa pertemuan kita adalah takdir. Kuingat itu sambil terus berzikir kepada-Nya, hingga luka di tubuhku mengering dan hilang.

    Reina...
    Maafkan aku bila mengguruimu... Aku hanya ingin kau tak lagi menyandang nama perempuan pembawa luka, tapi perempuan berhati mulia...
Kau sanggup membantuku dan yang lain menyembuhkan luka, mengingat kebesaran-Nya...

***
   

    "Bunda, kenapa ada orang jahat di dunia?"
    "Bunda, kenapa bunda menangis?"
    "Bunda, kenapa Kak Funny pernah tak lagi bersama Kak Drew?"
    "Bunda...."

   Pertanyaan Marisa kepada Bunda....

    "Sayang, berapa banyak hadiah yang kau dapat ketika kau ulang tahun?"
    "Sayang, kapan terakhir ibu guru memberimu sebatang cokelat?"
    "Sayang, kapan terakhir kamu melihat Funny menangis?"
   
   "Bunda, ada sedih ada bahagia... Marisa mengerti, Bunda..."

     Saya terdiam, bagaimana mungkin di dunia yang ada sedih, ada bahagia ini, ada seorang bernama Reina yang terus terluka. Bathinku rasanya tak sanggup menjawabnya.
      
    "Cinta... sayang, ingatlah cinta kepada-Nya" bunda seperti mengerti apa yang saya pikirkan.

***

    Funny, tahukah kau, kini saya sudah tidak tinggal di negeri penuh luka, tapi di negeri bahagia. Kemarin ketika saya mengambil surat darimu, saya menemukan sebuah petunjuk untuk membawa boks penuh luka itu ke sebuah tempat.

    Di sana saya menemukan mesin semacam ATM dan saya masukkah memori luka saya. Satu..satu... hingga beratus luka yang saya miliki. Ketika saya ingin meninggalkan mesin itu. Saya disodorkan sebuah boks yang besar sekali dan ketika saya buka saya mendapatkan cahaya yang kemilau....saya mendapati sebuah surat:

          Reina, perempuan pembawa luka...
di setiap luka yang kau bawa... ada berjuta hikmah yang kau dapat, andai kau tahu dan kau mengerti... Lukamu mungkin tak sanggup kau sembuhkan sendiri, atau disembuhkan orang lain... Tapi, lukamu akan sembuh bila kamu mau berbagi dengan Tuhanmu...  Dia Sang Penyembuh Luka. Ingatlah Dia, di kala kau bahagia dan bersedih... insya Allah, lukamu akan mengering dan hilang...
         
        Lupakan mereka yang terus kau cari untuk sembuhkan lukamu... Lupakan mereka... yang harusnya kau cari adalah orang-orang yang kau lukai... minta maaflah... sayang...

       Kini jangan biarkan orang-orang melukaimu... Jangan... Tinggalkan mereka. Biarkan mereka. Ingatlah orang-orang seperti Funny, Happy, Don't Worry, Special...karena kamu adalah wanita yang spesial...

    Selamat hadir di negeri bahagia...



*Kala mengingat luka, segala kebahagiaan seperti tertelan lautan, tapi sadar kalau bahagia akan hadir, luka pupus tak berbekas...
*Kamu mau memilih terluka terus hingga ujung waktu atau berjalan mengobati luka dan meraih bahagia