Ibu yang Luar Biasa
Ribuan kilo jalan yang kautempuh
Lewati rintangan untuk aku, anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
tak mampu kumembalas ibu
ibu...
Keluarga kami biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mengagumkan, apalagi dibanggakan. Setiap hari berjalan diibaratkan tanpa ada ganjalan dan hambatan.
Setiap hari kulalui detik demi detik dengan kenyamanan. Tapi, ada satu hal yang tak akan pernah hilang dari ingatanku. Senyum dan keikhlasan ibu...
Ibuku bisa dibilang tidak pernah marah. Sedikit marah saja, ibu pasti akan tersenyum dan kami pun merasa tidak enak hati. Selanjutnya, kami yang akan malu kalau berbuat salah...
Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Tak pernah letih, tak pernah lelah...
Ibu menanamkan kedisiplinan kepada kami hingga hari ini sangat aku rasakan imbasnya.
Sedari kecil ibu menerapkan disiplin dalam hal jam malam. Pukul sembilan teng, kami harus masuk rumah dan tidur. Di antara kami tidak ada yang berani melanggar peraturan yang ibu buat. Walau kami tahu ibu tak akan marah. Kami juga tak akan berani menyakiti perasaannya. Pengorbanan ibu terlampau banyak untuk kami.
Oleh karena penerapan kedisiplinan dari ibu, kami anak-anaknya bisa lebih konsen ke sekolah dan alhamdulillah, walau bukan ”sang juara” aku tak mengecewakan ibu, dengan aku berkuliah di sebuah PTN dan kemudian bekerja. Paling tidak, ada sedikit hasil keringat yang aku berikan pada ibu.
Hingga hari ini, di usia tuanya, ibu masih terus bekerja keras, walau kakakku sudah berkeluarga dan aku sendiri alhamdulillah sudah bekerja. Tinggal adikku yang masih bersekolah. Ibu juga tak pernah menuntut lebih ke anak-anaknya. Dia dengan kemampuannya dan kami tak akan sanggup membalas mengingat apa yang dia lakukan untuk kami.
Semenjak bapak meninggal, ibu menjadi single fighter di keluarga kami. Tak akan terbalas segala yang ibu berikan ke kami.
Masih banyak peran ibu yang tak akan terlupa dari ingatanku. Kerut di wajahnya tak pernah menyurutkan langkahnya...
Ibu
Yah, memang keluarga kami biasa-biasa saja, tapi kami punya ibu yang luar biasa
ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas ibu...
ibu...
*seperti diceritakan seorang sahabat
foto: photobucket