novi khansa's posts with tag: catatan tentang ibu
Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya. Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”. Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi. Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir. Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan. Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah. Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak…. Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik. Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu… Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;). Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas… Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D, memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur. Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi sen ang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;) Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :) Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…
Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D
 Tulisan di kertas itu ada 2 puisi ttg ibu ======================================== Berjuta rasa dengan hadirnya dirimu sosok yang selalu kupanggil ibu walau dulu kunekat manggil emak dan dirimu cuma bisa mengurut dada... plis, nop jangan panggil saya emak :D (ibu mah ga akan ngomong ginih :D, tapi dia bener2 maunya dipanggil ibu, bukan emak, panggilan "emak" ada karena dulu tetangga pada manggil emak, eh anaknya pada ngikutin gituh :D. Maaf ya, mak, eh bu :D) Tapi ibu memang lebih membahasakan diri kepada kami dengan kata "saya" dan ke anaknya "kamu" (hihihih, kayak ga kenal, jadi ingat kalau ibu ngobrol sama bapak ya gitu :D) :D mak, udah ga ada lagi kan yang panggil emak kayak keluarga bobo, ortu dipanggil emak dan bapak.. baru mulai menyadari ketika dewasa memanggilmu ibu begitu menyejukkan karena dirimu... ibu ibu.... huaaa I love u =====  Ceritanya, aku tadi lagi iseng nye-can, trus nemu gambar ini ditempel di album fotoku (khusus kenarsisan aku dan aktivitas w/ family dan temen2 :D). Gambar yang di atas itu aku buat waktu tahun 2004, pas masih kerja di Mizan, kalo ga salah, untuk hari ibu, yah secara, ibu pun tanggal lahir bulan desember (versi kelurahan, :D , aslinya beliau ga tahu lahir kapan, dikasi tangal segitu deh sama kelurahan di KTP, karena ibu pun ga punya akte :D). Trus fotonya ntu, satu-satunya foto box ibu bareng aku (dan sebenernya ada iki) pas kuliah tingkat berapa gituh (gw masih muda :D). Aslinya foto itu nempel di kulkas, tuuuh........ :D. Kebetulan iseng aku foto pas ada karya iki... Fiyuh, kulkasnya penuh banget.... Hmm, i loe u ibuuuuuuuuuuuuuuu yang 99% tahu rahasia aku :D, jangan kaget ya... hampir semua temenku, kisah hidupku, senegnya aku, sedihnya aku, dllll. ibu tahu :D yayayaya, dia ibu, temen, sobat, konsultan, manajer, semuanya dah muah, i luv u :D
 | manisnya | Jun 22, '08 12:56 PM for everyone |
 manisnya secangkir kopi cinta buatan ibu :) seperti halnya teh, susu, dll ;) bukannya malas bikin, lho...:P tapi, ada rasa berbeda ketika ibu yang membuatkan dan menaruh di atas meja kerjaku ;) di sana ada perhatian... di sana ada tulus di sana ada cinta di sana ada sayang di sana ada harapan di sana ada keindahan... luv u mom *sesaat setelah menikmati kopi.... (ga boleh sering2 ya, nOP, hehe) seperti udara kasih yang engkau berikan tak mampu kumembalas... ...ibu
Ga tahu semenjak kapan, ya bungkus wafer superman jadi kayak gini. Padahal kemaren-kemaren biasa aja. Bungkusnya masih sama kayak waktu harganya masih 50 perak :D, waktu jaman masih muda dulu ;)
Eh sekarang, bisa-bisanya dia ada gambar orangnya, kesannya aneh banget. Atau emang ini yang bikin mahal, (desainnya :D), Tahu, ga pas beli tadi harganya 700 perak, booooo.... Apa emang harganya? Atau emang minimarket itu mahal...
Abis Silverqueen yang di warung 7.000 perak, eh di situ 8.700???
Terus, cerita ke ibu... katanya, sih emang apa-apa udah mahal? Jadi inget daging sapi... Jadi ingat abis baca milis tentang anak SD yang bunuh diri karena lapar.. dan punya magh kronis...
Hmm, hari gini masih idealis...? ;) (apa coba hubungannya??)
Balik lagi ke wafer Duh, padahal dulu kalo beli serenteng isi 10, Lha, di situ ga ada yang bungkusan serentengan.. satuan dan harganya 700 perak lagi....
Pake acara ditulis original lagi. Lha, emangnya ada tiruannya??? Haduuh, apa karena perkembangan pewaferan begitu pesat, ya??? dan aku sendiri lumayan sering berpindah ke "Selamat" dan "Bricko" atau sekaleng bulet Nissin... dan tadi coba2 wafernya oreo...
Lagi doyan makan banget, neh :D, padahal musti pengeretan... jadinya "rajin" makan makanan rumah ;)
Baru tadi aja jajan, setelah sekian lama, hehehe. ;p kemaren kan dapat gratisan silverqueen :D
Lagian sehatan masakan rumah, ya ;) (sambil mengingat pernah infeksi pencernaan ;p)
Hmmm, intinya, sih apa-apa udah mahal... Begitu kata ibu... jadi kudu selektif, irit, dan jaga kesehatan... Kalo berobat, mahal lagi... fiyuh....
Termasuk ngirit listrik dan internet...
Oh, iya, mau ngirit inet... udah dulu, ya ;)
“Bu, tanggal 10, ya” ujarku hari itu setelah mencari-cari tanggal untuk pertemuan komunitas teman-teman yang suka menulis dan membaca. Ibu pun menyanggupi dengan senang hati tanpa ada keberatan sama sekali. Kami pun mulai membuat menu makanan dan apa saja yang harus dibeli dan dimasak. Aku mengusulkan makanan sederhana saja dan tidak berlebihan. Ibu pun menyetujuinya. Aku mendapat bagian untuk membeli kue di toko dan juga pabrik kue di dekat rumah. Membeli beberapa jenis camilan dan memesan kue favorit . Ibu sudah berbelanja dan siap memasak untuk tanggal 10. Alhamdulillah, acara berlangsung lancar dengan satu komitmen untuk terus berkarya dan selalu menjalin silaturahim. Selepas teman-teman kembali ke rumahnya kami pun mulai membereskan kembali ruang tamu dan makanan yang tersisa. Satu wajah lelah yang penuh senyum adalah ibu. Beliau dengan tulus, memfasilitasi pertemuan di hari itu. Ibu memasak, menyiapkan segala jenis yang diperlukan, memesan minuman, dan mengomandai khadimat di rumah. Semua bisa teratasi dengan sikap dan dukungan ibu atas kegiatan-kegiatanku. Ini bukanlah kali pertamanya ada acara di rumahku. Sudah beberapa momen diadakan acara di rumah yang sederhana ini. Dari dulu, rumah ini tak pernah sepi dari orang yang berkunjung. Tak jarang juga ada banyak acara yang diadakan. Dari mulai acara syukuran, akikahan, pengajian, buka puasa bersama, pertemuan penulis, arisan dan banyak lagi. Ibu tak pernah merasa lelah ketika salah satu dari kami meminta tolong beliau ketika ada acara di rumah. Beliau malah sangat antusias dan memfasilitasi segala hal. Ketika ada kelebihan uang, ibu membeli karpet, tempat sop, beberapa lusin piring dalam beberapa kesempatan. Aku kadang bertanya buat apa barang-barang tersebut. Ibu pun menjawab, kalau ada acara di rumah, barang-barang tersebut bisa digunakan. Beliau pun juga bercerita kalau merasa dimuliakan sebagai tamu ketika mendatangi sebuah acara dan ingin melakukan hal itu juga. Dari kecil ibu telah diajarkan oleh mbah putri untuk selalu memuliakan tamu dalam berbagai kesempatan. Selalu menyediakan suguhan ketika ada tamu. Entah itu secangkir teh atau segelas air putih. Tak jarang juga menyuruh ikut makan bersama kami, membelikan makanan atau memesan makanan via telepon apabila ada tamu mendadak. Seorang teman pernah sungkan untuk ke rumah ketika beberapa kesempatan dia selalu makan di rumah. Padahal, kami sama sekali tak bermaksud membuat dia malu. Yah, ibu tak akan pernah lupa menawarkan makanan. Tak jarang menyediakan langsung di meja atau memanggil tukang dagangan yang lewat rumah. Pernah suatu kali ketika aku mengadakan pengajian untuk kelompok mentoring, ibu terlihat terburu-buru. Ketika aku tanya, beliau ingin membelikan kue untuk kami. Aku hanya tersenyum sambil mengatakan kalau aku sudah membeli kue dengan salah satu binaanku. Aku tak pernah meminta ibu berlaku demikian, tapi beliau tak pernah berhenti. Jadi, tak jarang ketika aku katakan kalau aku akan mengadakan acara atau pengajian kelompok, beliau akan membuat minuman, membeli kudapan di pasar dan menyiapkan tempat. Duh, ibu... Nopi ngerepotin mulu, ya
Titik Ordinat
 Senin pagi sekitar pukul lima, saya ke luar dari kamar. Sebuah senyuman dari ibu menyambut saya. Pagi itu ibu baru sampai dari Solo, setelah dari jumat kemarin ibu pulang kampung untuk menghadiri wisuda abang saya. Saya tahu ibu masih lelah saat itu, tapi dengan wajahnya yang ceria ibu bercerita banyak tentang wisuda abang saya. Pun, ketika salah satu keponakan saya bangun, ibu menyambut ajakan bermain dengannya, hingga ketiga bocah di rumah bangun. Saya ingat, bagaimana ”hebohnya” kami ketika ibu ingin pulang kampung. Saya, mbak dan kakak ipar saya menyesuaikan jadwal ada di rumah. Mbak saya akan mengantar pesanan boneka lebih pagi dan kemudian mengantar ibu ke tempat bus berangkat. Sementara itu, saya yang rencanya membantu acara pelatihan, urung hadir karena harus stand by menjaga 3 keponakan saya. Kakak ipar saya tidak ikut pergi ke banten pada jumat-sabtu. Saya sendiri, mengambil jatah pergi dari rumah hanya pada hari sabtu. Isi rumah kami banyak. ada 6 orang dewasa. Dua diantaranya adalah khadimat. Tapi, begitu ibu berangkat ke Solo, kami sempat panik. Keadaannya saat itu, di toko mbak sedang ramai, saya punya beberapa acara dan beberapa pekerjaan.
Padahal sesuatu yang biasa, kalau ibu ingin pulang ke kampung, apalagi ada momen wisuda abang saya. Tapi, tetap saja heboh, hehehe Ibu, di rumah kami adalah titik ordinat. Beliau adalah penghubung di antara kami. Sentral dari segala aktivitas yang kami jalani. Ketika ibu pergi, berarti sentral sedang tidak hadir. Dan itu membuat beberapa kegiatan harus di re-schedule. Segala hal yang terjadi di rumah, sebagian besar diketahui oleh ibu. Tanpa disuruh atau tidak, kami akan bercerita. Atau ibu akan angkat bicara bila mulai melihat kejanggalan di antara kami. Bisa dibilang, tak ada yang bisa bohong kepada ibu. Semuanya akan luluh seiring sikap dan perlakuannya kepada kami. Ibu juga pencipta perdamaian di antara kami. Penghubung kalau di antara kami ada konflik. Ibu harusnya menerima nobel untuk hiruk pikuk yang terjadi di antara kami semua. hehehe Ibu, adalah manajer buat saya. Beliau sering mengingatkan pekerjan saya. juga, manajer buat mbak saya. beliau begitu peduli pada bagaimana kami mengais rezeki setiap harinya. Beliau tempat Konsultasi segala jenis masalah. Dari masalah pekerjaan, kuliah, pertemanan, dan lain-lain. Juga tempat konsultasi mbak dan abang saya. Jadi, ketika ibu pergi sesaat saja, rasanya sangat kurang. Mungkin kalau saya yang meninggalkan rumah untuk satu hari, plus menginap, tidak terlalu berpengaruh, tapi kalau ibu yang cuma pergi sebentar, pasti sudah ada banyak yang merasa kehilangan. Titik ordinat itu kini tengah tertidur lelap bersama salah satu cucunya. Melihat senyum dan mengingat kasihnya adalah harta tak ternilai buat kami :) Luv u much Ibu 
| |