berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: buku bagus

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buku bagus
Blog EntryAku menang.. dapat gratisan :DAug 19, '08 5:36 AM
for everyone
aku menang :D
dari tulisan di sini


http://wehaz.multiply.com/reviews/item/65/Dia_Inspirasiku_Terimakasih


dan dapat buku ini

berarti aku kudu belajar masak, yooooooooooooooo

:)



Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Asma Nadia dkk
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tebal: 214 halaman
Cetakan: I, April 2008
Beli di: Tisera, Jatos
Harga: Rp 38.000,00
Skor: 7,9

Sebelumnya, Lingkar Pena Publishing House (LPPH) pernah menerbitkan
buku-buku seputar pengalaman berurai air mata karena cinta. Sebut saja
Galz Please Don't Cry, Bidadariku Bukan Untukku, dan Jatuh Bangun
Cintaku. Kisah-kisah nyata dalam La Tahzan for Broken Hearted Muslimah
ini serupa tapi tak sama dengan JBC, bedanya JBC diperuntukkan pembaca
remaja dan lebih kental nuansa keremajaannya.

Setelah membaca seluruh isi buku, berikut beberapa esai yang
meninggalkan kesan amat spesial bagi saya:

1. My Stupid Love at First Sight (Dewi Rieka). Lagi-lagi Dedew
menunjukkan kemahirannya berkocak-ria. Setting di Palembang yang
membuatnya lain dari kisah-kisah cinta remaja pada umumnya kian
melengkapi keelokan tulisan ini. Seraya menuai hikmah, saya
tergelak-gelak dari awal sampai akhir. Dedew mengajak kita
menertawakan diri sendiri dengan segala keluguan dan kenekadannya.
Salah satu istilah yang menempel dalam benak saya adalah sebutan Dewi
Meranggas. Di sini Dedew bertutur lebih lancar dibandingkan esai
satunya, Jatuh Cinta Berjuta Rasanya.

2. Erlang (Intan Arifin). Semenjak menyimak behind the scene-nya
menurut Mbak Intan sendiri di milis pembacaanadia, saya sudah
terdorong untuk membaca esai ini lebih dulu. Tepatlah jika pengalaman
Mbak Intan diletakkan paling muka. Saya trenyuh, terhanyut dalam
keelokan pemaparannya, keterbukaannya yang lembut, sehingga halaman
demi halaman ternikmati tanpa merasa letih karena panjangnya cerita.

3. Cintaku Putus Nyambung (Dyotami). Saya menyukai tulisannya yang
senantiasa segar seperti yang dituangkan Dyo dalam The Real Dezperate
Housewives dahulu. Ada semangat dalam kisah ini. Salah satu yang
menjadikan buku La Tahzan for Broken Hearted cocok dikonsumsi wanita
dewasa maupun remaja.

4. Keping-keping Puzzle (Novi Khansa'). Nopi bukan hanya sukses
menjiwai struktur tulisan khas buku-buku Mbak Asma, tetapi bercerita
dengan lirih tanpa merintih-rintih. Ibarat tangisan, airmata yang
tumpah tak sampai membanjiri lantai. Pemaparan kesedihan yang
proporsional dan relevan dengan judulnya. Membuat saya membayangkan
cinta yang berserakan (karena pecah).

Selebihnya, para kontributor mengisahkan kegagalan masing-masing.
Pengalaman teman yang gagal taaruf berkali-kali, terjebak cinta pada
lelaki beristri, bertepuk sebelah tangan, atau dibiarkan terkatung
tanpa keputusan jelas. Semua mengandung pelajaran betapa cinta kadang
mampu membutakan akal sehat dan ditutup dengan uraian Mbak Asma
berikut hadits-hadits yang sesuai.

Kekurangan buku berkaver indah ini adalah banyaknya salah cetak. Di
flap sampul depan sudah tampak nama Dedew menjadi
Dewi Rieke. Pada profil penulis, misalnya, judul-judul karya tidak
dimiringkan. Huruf besar-kecil pun kerap terlewat. Namun yang paling
mengganggu adalah akhir tulisan Dian Ibung yang tampak belum
selesai karena kalimat menggantung 'Betapa Indahnya Ramadhan ketika
aku menyiapkan sahur untuk suami dan anak-anak..'(halaman 27).

Secara keseluruhan, La Tahzan for Broken Hearted Muslimah menawarkan
aneka rasa dalam kegagalan cinta dan memperoleh teman hidup idaman.
Merangkum duka, membuat merinding, menggeleng-geleng dan
mengangguk-angguk pada saat berdekatan. Sebuah buku yang patut dibaca
berulang-ulang.

--
Salam,
Rini Nurul Badariah
http://rinurbad.multiply.com
http://sinarbulan.multiply.com




[LA TAHZAN for Broken Hearted MUSLIMAH] 
Ada Tulisanku di Sini  ;)










Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta?
Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?


Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?

Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta.
Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih.
Luka yang berakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi.

Atas dasar itulah buku ini hadir.
Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengan
kesedihan akan cinta.

Selalu ada jalan terbentang, selalu ada kemungkinan untuk menang.
Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Muslimah.

La Tahzan....


LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH
Penyusun: Asma Nadia
Kontributor Penulis:
- Asma Nadia
- Intan Arifin
- Dian Ibung
- Dyotami Febriani
- Dewi Rieka
- Novi Khansa
- Me
- Amelia
- Nasanti
- Ummu Alif
- Tary
- Leyla Imtichanah
- Mariskova
- Ida Az
- Esti Handayani




beli, ya
beli, ya



sumber: http://anadia.multiply.com/reviews/item/41




Blog EntryWisata bukuFeb 2, '08 1:45 PM
for everyone

Wisata buku

(Pengalamanku di hari Kamis, 24 Januari 2008)



Siang yang terik, euy... Hmm kalau saja diri ini tidak dipaksa keluar dari ”goa” dan atau ada janji dengan seorang sahabat. Rasanya malas sekali melangkahkan kaki ini.

Hari itu aku menjadi guide ”berbakat nyasar” dan dapat ”navigasi sesat” dari seorang yang bukan preman daerah sana. Piss, Bro ;)

 

***

 

Setelah menemani sobat dan ditraktir makan siang, (thank u sist ;) sekitar pukul satu siang aku pun menyetop mikrolet menuju kampung melayu. Di pikiranku belum pasti akan ke mana. Sayang, kalau pulang, biasanya kalau sudah ke luar rumah, entah ada perlu, entah ke kantor klien, aku biasa memanfaatkan waktu berjalan-jalan. Biasanya, toko buku jadi andalan tempat jalan-jalan.

 

Akhirnya, aku putuskan ke Gramedia Matraman.

Perjalanan ke kampung melayu, melewati mini market langganan, jalan ke kantor mengingatkanku pada memori april 2007 lalu saat masih terakhir bekerja sebagai desainer grafis di agen desain. Walau cuma wajib stand by 3 kali seminggu, banyak kenangan dan pelajaran yang aku dapat di sana. Sebulan yang lalu aku sempatkan mampir dan hehe, sempat juga online di komputer boss.

 

Terminal kampung melayu juga menjadi saksi saat aku mengejar jam-jam kuliah di pesantren. Pulang kerja lebih awal, atau sedikit meleset dan kemudian berlari menuju tempat kuliah. Tenaga sisa-sisa untuk mencapai kampus sarat ilmu yang kurindukan itu. Tidak mirip kampus, hanya rumah dengan beberapa ruang yang kelasnya bergantian dengan mahasiswi PGTK, tapi teramat banyak yang kudapat di sana. Thanks to asatiz di sana...

 

Tak lama berjalan, aku langsung melihat M01, kampung melayu-Senen. Semenjak ada jalur bussway menuju Kota, Senen dll. Perjalanan yang harusnya sebentar sempat tersendat. Bisa dibayangkan pada jam-jam sibuk, macetnya benar-benar tak terkira. Aku memang sengaja menghindari berjalan-jalan pada jam-jam sibuk. Hmmm, bisa ditebak jalanan Jakarta kayak apa. Macet sana sini. Saluuuuut, buat semua para pejuang-pejuang di Jakarta yang setiap harinya mampu menerobos kemacetan dan berbagai pulisi, ups, polusi.

 

Aku berhenti di gedung nan megah lima lantai. Hmm, sepertinya sudah lama sekali aku tak mengunjungi toko buku yang satu ini. Terakhir, melewati masih dalam pembangunan, padahal sewaktu SMU, aku dan teman-teman sering ke sini. Ga beli buku, tapi ya lihat-lihat.

 

Niatku ke toko buku itu mencari contoh desain isi untuk buku yang akan aku seting beberapa waktu lagi dan tentunya refreshing dari segala kepenatan dan, hmmm, sekalian mencari peluang di tempat lain.

 

Begitu memasuki aku tahu aku akan betah berjam-jam di sini. Yah, aku harus ingat, aku tak ada niat membeli satu pun buku di sini. Aku mulai menyusuri lantai demi lantai toko buku itu.

 

Ketika menginjakkan kaki ke lantai 2, aku dapati sebuah buku yang judulnya aku kenal. ”Wah sudah jadi”. Sebuah buku hasil layout aku dan tim Khansa’. Sedikit mengintip, walau sebenarnya aku tahu isi bukunya seperti apa. Hmm, semenjak me-layout isi buku, kurang dari empat tahun lalu, aku selalu ingin tahu jadinya seperti apa buku yang aku setting. Sekaligus menengok nama aku dan tim di halaman copyright. Yeah, itu adalah salah satu rutinitas pasti kalau aku bertandang ke toko buku. Bisa menjadi ”energi” tersendiri bagi aku yang telah memilih ”zona tidak aman”.

 

Satu demi satu rak aku telusuri. Aku sampai lupa kalau harus menengok desain isi buku. Yang aku perhatikan justru layout isi, nama layouter dan lain-lain, hingga aku menemukan nama yang familiar di ingatanku. Penulis nge-layout buku... wow, nambah saingan, nih. Kalau penulis aja bisa nge-layout buku, kenapa layouter ga jadi penulis aja, hehe, peace...

 

Aku masih berkeliling menyusuri rak-rak buku, hingga mulai aku rasakan pegal di kaki. Kursi-kursi di sisi-sisi rak hampir semua terisi. Hmm, ga ada kesempatan untuk duduk, donk.

 

Tak lupa aku susuri rak-rak buku pelajaran. Sudah beberapa buku bapak tak ada lagi di sana. Konsekuensi menulis buku sekolah, musti ikut kurikulum yang bergonta ganti. Mengingatkanku akan tugas akhir di kampus. Aku coba meneliti kurikulum sebagai penunjang aku memilih kasus peranan editor buku sekolah.

 

 Sebelum meninggal, bapak sudah sempat merevisi sebagian, tapi tak sampai... Aku pun coba mencari buku yang masih direvisi kakak, tapi tak nampak. Rupanya penerbit tak menyalurkan ke toko buku ini atau memang sudah habis. Entahlah.

 

Sampailah aku di deretan rak-rak buku Chicken Soup. Sejak menamatkan Chicken Soup for the Writer’s Soul, aku kembali tertarik untuk mengintip Chicken Soup yang lain mengingat Chicken Soup-ku yang pertama yang dibeli sewaktu kuliah telah raib. Akhirnya, aku menemukan sebuah Chicken Soup yang sangat menarik hati. Tentang ayah, judulnya sangat eye catching buat aku. ”Gadis Kecil Kesayangan Ayah”. Aku letakkan kembali ke rak buku, sambil mengingat letaknya. Yah, mungkin aku akan membelinya.

Di dekat sana, aku juga melihat dua buku hasil karya Pak Teha. Wow, Guru SK yang satu ini memang hebat, euy ;)

 

Aku menuju lantai paling atas yang didominasi buku anak-anak. Beberapa waktu lalu, Fikri sangat suka membaca. Akhirnya, benteng pertahananku rubuh demi keponakanku yang ganteng ini. Alhamdulillah, Fikri sudah lancar membaca, walau masih susah melafalkan huruf ”r”. Pernah suatu kali, Fikri tertidur setelah membaca buku. Di sampingnya buku-buku berserakan menemani.

 

Aku meraih dua buku untuk Fikri setelah menimbang-nimbang, dia harus mendapat bacaan yang sehat. Kemudian, aku raih majalah yang aku duga, pasti disukai Fikri. Hmm, masih dalam batas normal, pikirku menengok buku-buku tipis buat Fikri. Tapi, ketika aku menuju rak ujung, aku langsung tergoda. Wah, bukunya Jacqueline Wilson. Ada lebih dari 3 buku terpajang di sana dan kembali meruntuhkan pertahananku. Sejak membeli The Lottie Project di Trimedia ketika diskon dulu, aku langsung suka dengan tulisan Jacqueline Wilson. Lucu, enak dan penggambaran sosok anak kecilnya oke banget. Selain itu, layout isinya keren. Image dalam buku di-text wrap sehingga tidak membuat lelah. Gambar-gambarnya berupa tokoh dan kejadian. Kartun yang lucu walau sederhana.

 

Akhirnya, aku meraih 2 buku. Yah, gapapa, deh, buat hiburan. Judulnya The Suitcase Kid, tentang anak korban perceraian yang tiap pekan harus pindah dari rumah ayah ke rumah ibunya yang telah memiliki keluarga masing-masing. Buku satu lagi judulnya The Worry Websites, Situs masalah untuk curhat dan kemudian dicari solusinya bersama. Semua kisah disajikan dengan ringan dan tak memberatkan, tapi juga sarat hikmah.

 

Sebelum sampai kasir, aku melirik 2 puzzle untuk si kembar. Jadilah, kini belanjaanku mencapai angka sekian.... dan tidak terprediksi. Tapi, hmmm, gapapalah, berarti aku musti melakukan pengiritan lagi, hehe. Tak berapa lama aku segera turun dan aku tak tahan untuk tidak mengambil Chicken Soup tentang ayah.

 

Fiyuh, aku harus pulang ketika aku mulai tergoda lagi melirik 2 novel keren terbitan Bentang dan 1 novel yang aku prediksi isinya sedih melulu, tapi bikin mupeng. Tampaknya, aku musti me-list buku-buku yang aku inginkan—termasuk Harry Potter—dan mulai menabung.

 

Menuju lantai 1, aku mencari-cari selotip dan sampul buku. Aku raih segulung sampul, benda yang menjadi favoritku. Yah, aku sangat suka menyampul buku.

 

Senyumanku mengembang mengakhiri ”perburuan” yang menghasilkan satu kantong penuh buku. Hiburan bagi hati yang penat dan rindu bermimpi. Aku bayangkan Fikri pasti senang dan menyukainya. Aku sempatkan menelepon rumah setelah HP-ku mati saat ”perburuan” berlangsung Mengabarkan ”perburuan” buku untuk si ganteng Fikri. Hmmm, tinggal aku yang akan bingung nanti kalau ditanya ibu. ”Lha, Nop bukannya ga ada duit”, hehe. Tapi, tampaknya ibu tak terlalu memerhatikan. Beliau hanya menegur, ketika melihatku memboyong setumpuk buku untuk disampul, ”Segitu banyak belinya”. ”Ya, nggaklah” jawabku tanpa memberitahu berapa buku yang aku beli. Aku ga boong, kan... (soalnya selain buku yang aku beli, aku juga bawa setumpuk buku yang belum disampul



gbr:

- buku layoutan, ga nemu buku yg dibeli, jadi narsis aja, hehe

- tanda pengenal yang narsis ;)

- sudut pesantren

- penampakan cililitan dan sekitar ;)

- desain dan layout isi khansa

- me & the lottie project

- fikri

- ketika menyampul buku ;)

 

 

 

 

 


EventIndonesia Book FairOct 22, '07 6:03 AM
for everyone
Start:     Nov 14, '07
End:     Nov 18, '07
Location:     senayan
dapat info dari:
http://bhuanailmupopuler.multiply.com/calendar/item/10007/INDONESIA_BOOK_FAIR

kalau ada Indonesia Book Fair, duh kok pas banget, ya, kan jadi GR... :D
berarti lebih mudah lagi, nih ;)

ReviewReviewReviewReviewInspirasi BisnisAug 24, '07 5:16 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Penyusun: Joko Intarto & Amin Fauzi
GARA-GARA HOBI DAN ISENG

Pernah denger orang kerja karena iseng? Atau karena udah mentok sama
keadaan yang terus menganggur??

Ada sebuah cerita…
Pada saat kuliah, Priadji pernah merasa bosan men¬dengarkan seorang
dosen yang sedang mengajar. Spontan, dia pun iseng mencorat-coret di
bukunya. "Lalu saya suka perhatikan teman sekelas saya yang sedang
serius mendengarkan keterangan guru. Pada saat itu, saya mulai
menggambar wajah mereka," urainya.

Setelah selesai kuliah, gambar tadi dia berikan ke temannya. "Teman
saya senang sekali. Bahkan dia mengakui kalau gambar itu mirip sekali
dengannya," ceritanya. Mendengar pujian tersebut, Priadji semakin
bersemangat untuk memperbaiki kualitas lukisannya. Hampir setiap hari,
dia meng¬gambar teman kelasnya. Awalnya, yang dia lakukan itu tanpa
minta bayaran alias gratis.

Pada 1974, di kampusnya diadakan pasar seni. Berkat dorongan dari
teman-teman¬nya, dia memberanikan diri untuk membuka stan. "Waktu itu,
saya me¬nawar¬kan jasa lukisan dan karikatur," tambahnya. Ternyata,
dari stan tersebut banyak yang berminat. Apalagi dulu tarifnya sangat
murah sekitar 500 rupiah per gambar. Sejak saat itu, dia pun mulai
diundang ke berbagai acara. Bahkan permintaan terhadap hasil karyanya
cukup tinggi.

Setahun setelah itu, pasar seni kemudian dipindah ke Taman Impian Jaya
Ancol. Dia pun ditawari untuk membuka salah satu stannya di sana.
"Waktu itu saya kan cuma ahli sket wajah saja. Nah, di sebelah saya
ada Erwin Mulyadi. Dia ahli membuat siluet," jelasnya. Dari sana, dia
pun tertarik dan minta diajarkan untuk membuat siluet.
Bersama Erwin, dia mulai mendapat undangan ke luar negeri. "Pernah
waktu itu kami diundang untuk pameran di Jepang. Kalau ada waktu
luang, kami suka keliling door to door untuk memperkenalkan siluet,"
katanya sambil tersenyum.

Priadji bercerita, setiap kali mereka minum di sebuah kafe di luar
negeri, mereka selalu mencoba membuat siluet beberapa pengunjung.
"Setelah selesai, kami berikan kepada mereka secara cuma-cuma. Mereka
senang sekali. Terkadang, makanan kami ditraktir," ceritanya. Dari
situ, banyak yang meminta kartu nama mereka.

Hingga saat ini, Priadji sudah mengelilingi beberapa negara. Sebut
saja Australia, Singapura, Jepang, dan lainnya. Bahkan pada bulan
Desember mendatang, dia diundang untuk datang ke India untuk
mempromosikan salah satu produk kertas.



----------------------------------
Dalam buku ini terhimpun kisah-kisah bisnis yang merupakan "inspirasi"
bagi Anda, yang mengilhami Anda memulai usaha. Ada pula bab "Jurus
Bisnis" yang membantu Anda mempertahankan usaha dengan trik dan trip
tersendiri. dalam kisah-kisah tersebut di¬selingi "Bisnis Gila" yang
akan membuat Anda tertawa dan berpikir, kemudian malah ingin mencoba
bisnis tersebut. Usaha yang sama sekali tak terpikirkan oleh Anda
sebelumnya.
Buku ini merupakan kumpulan artikel dari koran INDOPOS berupa
kisah-kisah nyata, pengalaman para pengusaha sukses yang inovatif,
kreatif dalam meniti wirausahanya.
Lalu, tunggu apa lagi, raih inspirasi dan jurus jitu untuk bisnis Anda.

Editor
Noviyanti Utaminingsih

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help