novi khansa's posts with tag: buku
aku menang :D dari tulisan di sinihttp://wehaz.multiply.com/reviews/item/65/Dia_Inspirasiku_Terimakasih dan dapat buku iniberarti aku kudu belajar masak, yooooooooooooooo :)
Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan. Setelah mengumpulkan tanda tangan para selebritis buku Ayat Amat Cinta :P , aku pun meninggalkan kantor penerbit yang asri dan nyaman. Hayoooo tebak di mana? ;) Maksudnya mau bikin pengantar review Ayat Amat Cinta yang maaf, mungkin banyak ga nyambung :P Judul : Ayat Amat Cinta Penulis : Boim Lebon, Asma Nadia, Fahri Asiza, Birulaut, Taufan E Prast, Lian kagura, Rex, Ratno Fadillah Penerbit : Lingkar Pena Kreativa Halaman : 325 hal Sebenarnya sih, aku udah pernah lihat kaver ini ketika menyambangi multiplynya lingkarpena ( http://lingkarpena.multiply.com ) saat cari buku yang bakal diresensi di buletin SMU or pas lagi dapat amanah beli buku untuk donasi Eska. Ngelihat kavernya, agak-agak aneh dan hmmm, kok wajahnya familiar, ya… Ahh, Nopi sok teuuuuuuuuu… :P Aku percepat langkahku agar bisa pulang tidak terlalu malam. Aku harus menyiapkan makan malam (tsah…, gaya bener, maksudnya cari lauk dulu buat makan malam bareng kakak :D). Langsung kubuka halaman awal buku Ayat Amat Cinta. Membaca halaman demi halaman buku yang langsung bikin aku senyum-senyum. Apalagi, kalau lihat kaver bukunya dan ingat-ingat siapa aja modelnya, hehe. Tanpa sadar, angkot yang kutumpangi sudah hampir masuk terminal. Aku pun menutup buku itu dan membaca sinopsisnya. Jangan kaitin buku ini sama AAC, jauh banget ama tuh pilem. Kalo pilem Ayat-Ayat Cinta bikin kita nangis Kalo buku Ayat Amat Cinta bikin kita ketawa ngakak. Nggak percaya? Nggak percaya? Ya, iyalah mana bisa percaya kalo belum baca? Makanya, buruan beli nih buku, baca di dalam kamar, jangan baca di mobil angkot. Bisa berabe, nanti kamu disangka “miring” gara-gara ketawa sendirian. Hehehe… (tuh kan, belom apa-apa udah ketawa). Hihihi… (yeee, entar dulu ketawanya. Sabar… sabar…) Hohoho… (wah kayaknya ada yang nggak beres nih) Ya udahlah, intinya sih, buku ini cocok banget buat kamu yang hobi ketawa. Hahahahahaha…. (Husss! Anak saya lagi tidur ^_^) Waks, aku beneran pengen ketawa pas baca ini, hihihih. Aku emang hobi bener baca buku di jalan, ups, di bus atau di angkot ataupun di krl jabotabek. Di mana aja, deh, di halte juga bisa… selama ada penerangan. Hehehe… inget pernah ditegor mba-mbak di mayasari ketika pindah ke tempat terang di sebelahnya buat baca, ngomong apa aku lupa, yang jelas… kok bisa-bisanya, baca? Ya, donk… apa gunanya kacamata coba (ga nyambung :P). Ga berapa lama, aku pun menutup buku itu karena akhirnya sampai juga di terminal Depok. Duh, kejeduk lagi pas turun. Fiyuh…. :P Lanjut naik angkot menuju Pasar Rebo, aku pun coba membuka buku ini lagi, sambil inget-inget, pernah beneran ngakak (tapi bukan pas di angkot ya :p) pas baca Batman Bidin… :D dan menular ke temen yang juga ikutan baca… hehehe… :P (hati-hati ketawa bisa nular, halah). Sambil inget-inget lagi, pernah senyum-senyum pas baca komiknya DAR Mizan di KRL sampe-sampe ditegor sama mas-mas. “Mbak.. mbak, gila, ya?” Hahahaha, ga segitunya, sih, tapi fiyuh… SKSD abis, ngajak kenalan gitu coba. Nanya-nanya tinggal di mana? Turun di mana? Dan pertanyaan lain, fiyuh… Berani-beraninya, godain cewek jilbab lebar dengan tampang jutek ini… Hehehe, lagian salah sendiri, senyum-senyum ga jelas… abis lucu, sih :D Yah udah, daripada ada yang ngajak kenalan lagi, hehehe :P, aku tutup buku Ayat Amat Cinta yang mengkhawatirkan ini, hehehe :D. Ntar aja, deh bacanya pas di rumah. Sekarang, saatnya tidur di angkot, ngantuk euy… tetangga depan dan sebelah dah pada tidur… Hmm, sambil mikirin ntar makan malam apa, ya? Soto kayaknya enak, tapi nasinya masih ada ga, ya? Zzzzzz… Maaf ini baru pengantar review bukunya, aku belum sempet nerusin baca lagi… Tunggu aja kelanjutannya, ya… Maaf, ga nyambung, biar bagaimanapun baca dalam keadaan lapar tak menyenangkan… :D (ketahuan, lagi makan pun, tetep baca :P) Maaf, kalo aku cukup garing :P Selamat pagi :)
| Start: | Jun 28, '08 10:00a | | End: | Jul 6, '08 | | Location: | Gelora Bung Karno, Senayan |
Hmm, siap-siap kantong, nih...
| Start: | May 17, '08 03:00a |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Asma Nadia dkk |
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House Tebal: 214 halaman Cetakan: I, April 2008 Beli di: Tisera, Jatos Harga: Rp 38.000,00 Skor: 7,9 Sebelumnya, Lingkar Pena Publishing House (LPPH) pernah menerbitkan buku-buku seputar pengalaman berurai air mata karena cinta. Sebut saja Galz Please Don't Cry, Bidadariku Bukan Untukku, dan Jatuh Bangun Cintaku. Kisah-kisah nyata dalam La Tahzan for Broken Hearted Muslimah ini serupa tapi tak sama dengan JBC, bedanya JBC diperuntukkan pembaca remaja dan lebih kental nuansa keremajaannya. Setelah membaca seluruh isi buku, berikut beberapa esai yang meninggalkan kesan amat spesial bagi saya: 1. My Stupid Love at First Sight (Dewi Rieka). Lagi-lagi Dedew menunjukkan kemahirannya berkocak-ria. Setting di Palembang yang membuatnya lain dari kisah-kisah cinta remaja pada umumnya kian melengkapi keelokan tulisan ini. Seraya menuai hikmah, saya tergelak-gelak dari awal sampai akhir. Dedew mengajak kita menertawakan diri sendiri dengan segala keluguan dan kenekadannya. Salah satu istilah yang menempel dalam benak saya adalah sebutan Dewi Meranggas. Di sini Dedew bertutur lebih lancar dibandingkan esai satunya, Jatuh Cinta Berjuta Rasanya. 2. Erlang (Intan Arifin). Semenjak menyimak behind the scene-nya menurut Mbak Intan sendiri di milis pembacaanadia, saya sudah terdorong untuk membaca esai ini lebih dulu. Tepatlah jika pengalaman Mbak Intan diletakkan paling muka. Saya trenyuh, terhanyut dalam keelokan pemaparannya, keterbukaannya yang lembut, sehingga halaman demi halaman ternikmati tanpa merasa letih karena panjangnya cerita. 3. Cintaku Putus Nyambung (Dyotami). Saya menyukai tulisannya yang senantiasa segar seperti yang dituangkan Dyo dalam The Real Dezperate Housewives dahulu. Ada semangat dalam kisah ini. Salah satu yang menjadikan buku La Tahzan for Broken Hearted cocok dikonsumsi wanita dewasa maupun remaja. 4. Keping-keping Puzzle (Novi Khansa'). Nopi bukan hanya sukses menjiwai struktur tulisan khas buku-buku Mbak Asma, tetapi bercerita dengan lirih tanpa merintih-rintih. Ibarat tangisan, airmata yang tumpah tak sampai membanjiri lantai. Pemaparan kesedihan yang proporsional dan relevan dengan judulnya. Membuat saya membayangkan cinta yang berserakan (karena pecah). Selebihnya, para kontributor mengisahkan kegagalan masing-masing. Pengalaman teman yang gagal taaruf berkali-kali, terjebak cinta pada lelaki beristri, bertepuk sebelah tangan, atau dibiarkan terkatung tanpa keputusan jelas. Semua mengandung pelajaran betapa cinta kadang mampu membutakan akal sehat dan ditutup dengan uraian Mbak Asma berikut hadits-hadits yang sesuai. Kekurangan buku berkaver indah ini adalah banyaknya salah cetak. Di flap sampul depan sudah tampak nama Dedew menjadi Dewi Rieke. Pada profil penulis, misalnya, judul-judul karya tidak dimiringkan. Huruf besar-kecil pun kerap terlewat. Namun yang paling mengganggu adalah akhir tulisan Dian Ibung yang tampak belum selesai karena kalimat menggantung 'Betapa Indahnya Ramadhan ketika aku menyiapkan sahur untuk suami dan anak-anak..'(halaman 27). Secara keseluruhan, La Tahzan for Broken Hearted Muslimah menawarkan aneka rasa dalam kegagalan cinta dan memperoleh teman hidup idaman. Merangkum duka, membuat merinding, menggeleng-geleng dan mengangguk-angguk pada saat berdekatan. Sebuah buku yang patut dibaca berulang-ulang. -- Salam, Rini Nurul Badariah http://rinurbad.multiply.comhttp://sinarbulan.multiply.com
[LA TAHZAN for Broken Hearted MUSLIMAH] Ada Tulisanku di Sini ;)
|
|
|  |
|
|
Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta? Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka? Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta? Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata? Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta. Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih. Luka yang berakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi. Atas dasar itulah buku ini hadir. Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengan kesedihan akan cinta. Selalu ada jalan terbentang, selalu ada kemungkinan untuk menang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Muslimah. La Tahzan.... LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH Penyusun: Asma Nadia Kontributor Penulis: - Asma Nadia - Intan Arifin - Dian Ibung - Dyotami Febriani - Dewi Rieka - Novi Khansa  - Me - Amelia - Nasanti - Ummu Alif - Tary - Leyla Imtichanah - Mariskova - Ida Az - Esti Handayani beli, ya beli, ya  sumber: http://anadia.multiply.com/reviews/item/41
Wisata buku (Pengalamanku di hari Kamis, 24 Januari 2008)
Siang yang terik, euy... Hmm kalau saja diri ini tidak dipaksa keluar dari ”goa” dan atau ada janji dengan seorang sahabat. Rasanya malas sekali melangkahkan kaki ini. Hari itu aku menjadi guide ”berbakat nyasar” dan dapat ”navigasi sesat” dari seorang yang bukan preman daerah sana. Piss, Bro ;) *** Setelah menemani sobat dan ditraktir makan siang, (thank u sist ;) sekitar pukul satu siang aku pun menyetop mikrolet menuju kampung melayu. Di pikiranku belum pasti akan ke mana. Sayang, kalau pulang, biasanya kalau sudah ke luar rumah, entah ada perlu, entah ke kantor klien, aku biasa memanfaatkan waktu berjalan-jalan. Biasanya, toko buku jadi andalan tempat jalan-jalan. Akhirnya, aku putuskan ke Gramedia Matraman. Perjalanan ke kampung melayu, melewati mini market langganan, jalan ke kantor mengingatkanku pada memori april 2007 lalu saat masih terakhir bekerja sebagai desainer grafis di agen desain. Walau cuma wajib stand by 3 kali seminggu, banyak kenangan dan pelajaran yang aku dapat di sana. Sebulan yang lalu aku sempatkan mampir dan hehe, sempat juga online di komputer boss. Terminal kampung melayu juga menjadi saksi saat aku mengejar jam-jam kuliah di pesantren. Pulang kerja lebih awal, atau sedikit meleset dan kemudian berlari menuju tempat kuliah. Tenaga sisa-sisa untuk mencapai kampus sarat ilmu yang kurindukan itu. Tidak mirip kampus, hanya rumah dengan beberapa ruang yang kelasnya bergantian dengan mahasiswi PGTK, tapi teramat banyak yang kudapat di sana. Thanks to asatiz di sana...  Tak lama berjalan, aku langsung melihat M01, kampung melayu-Senen. Semenjak ada jalur bussway menuju Kota, Senen dll. Perjalanan yang harusnya sebentar sempat tersendat. Bisa dibayangkan pada jam-jam sibuk, macetnya benar-benar tak terkira. Aku memang sengaja menghindari berjalan-jalan pada jam-jam sibuk. Hmmm, bisa ditebak jalanan Jakarta kayak apa. Macet sana sini. Saluuuuut, buat semua para pejuang-pejuang di Jakarta yang setiap harinya mampu menerobos kemacetan dan berbagai pulisi, ups, polusi. Aku berhenti di gedung nan megah lima lantai. Hmm, sepertinya sudah lama sekali aku tak mengunjungi toko buku yang satu ini. Terakhir, melewati masih dalam pembangunan, padahal sewaktu SMU, aku dan teman-teman sering ke sini. Ga beli buku, tapi ya lihat-lihat.
Niatku ke toko buku itu mencari contoh desain isi untuk buku yang akan aku seting beberapa waktu lagi dan tentunya refreshing dari segala kepenatan dan, hmmm, sekalian mencari peluang di tempat lain. Begitu memasuki aku tahu aku akan betah berjam-jam di sini. Yah, aku harus ingat, aku tak ada niat membeli satu pun buku di sini. Aku mulai menyusuri lantai demi lantai toko buku itu. Ketika menginjakkan kaki ke lantai 2, aku dapati sebuah buku yang judulnya aku kenal. ”Wah sudah jadi”. Sebuah buku hasil layout aku dan tim Khansa’. Sedikit mengintip, walau sebenarnya aku tahu isi bukunya seperti apa. Hmm, semenjak me-layout isi buku, kurang dari empat tahun lalu, aku selalu ingin tahu jadinya seperti apa buku yang aku setting. Sekaligus menengok nama aku dan tim di halaman copyright. Yeah, itu adalah salah satu rutinitas pasti kalau aku bertandang ke toko buku. Bisa menjadi ”energi” tersendiri bagi aku yang telah memilih ”zona tidak aman”. Satu demi satu rak aku telusuri. Aku sampai lupa kalau harus menengok desain isi buku. Yang aku perhatikan justru layout isi, nama layouter dan lain-lain, hingga aku menemukan nama yang familiar di ingatanku. Penulis nge-layout buku... wow, nambah saingan, nih. Kalau penulis aja bisa nge-layout buku, kenapa layouter ga jadi penulis aja, hehe, peace... Aku masih berkeliling menyusuri rak-rak buku, hingga mulai aku rasakan pegal di kaki. Kursi-kursi di sisi-sisi rak hampir semua terisi. Hmm, ga ada kesempatan untuk duduk, donk. Tak lupa aku susuri rak-rak buku pelajaran. Sudah beberapa buku bapak tak ada lagi di sana. Konsekuensi menulis buku sekolah, musti ikut kurikulum yang bergonta ganti. Mengingatkanku akan tugas akhir di kampus. Aku coba meneliti kurikulum sebagai penunjang aku memilih kasus peranan editor buku sekolah. Sebelum meninggal, bapak sudah sempat merevisi sebagian, tapi tak sampai... Aku pun coba mencari buku yang masih direvisi kakak, tapi tak nampak. Rupanya penerbit tak menyalurkan ke toko buku ini atau memang sudah habis. Entahlah. Sampailah aku di deretan rak-rak buku Chicken Soup. Sejak menamatkan Chicken Soup for the Writer’s Soul, aku kembali tertarik untuk mengintip Chicken Soup yang lain mengingat Chicken Soup-ku yang pertama yang dibeli sewaktu kuliah telah raib. Akhirnya, aku menemukan sebuah Chicken Soup yang sangat menarik hati. Tentang ayah, judulnya sangat eye catching buat aku. ”Gadis Kecil Kesayangan Ayah”. Aku letakkan kembali ke rak buku, sambil mengingat letaknya. Yah, mungkin aku akan membelinya. Di dekat sana, aku juga melihat dua buku hasil karya Pak Teha. Wow, Guru SK yang satu ini memang hebat, euy ;)  Aku menuju lantai paling atas yang didominasi buku anak-anak. Beberapa waktu lalu, Fikri sangat suka membaca. Akhirnya, benteng pertahananku rubuh demi keponakanku yang ganteng ini. Alhamdulillah, Fikri sudah lancar membaca, walau masih susah melafalkan huruf ”r”. Pernah suatu kali, Fikri tertidur setelah membaca buku. Di sampingnya buku-buku berserakan menemani. Aku meraih dua buku untuk Fikri setelah menimbang-nimbang, dia harus mendapat bacaan yang sehat. Kemudian, aku raih majalah yang aku duga, pasti disukai Fikri. Hmm, masih dalam batas normal, pikirku menengok buku-buku tipis buat Fikri. Tapi, ketika aku menuju rak ujung, aku langsung tergoda. Wah, bukunya Jacqueline Wilson. Ada lebih dari 3 buku terpajang di sana dan kembali meruntuhkan pertahananku. Sejak membeli The Lottie Project di Trimedia ketika diskon dulu, aku langsung suka dengan tulisan Jacqueline Wilson. Lucu, enak dan penggambaran sosok anak kecilnya oke banget. Selain itu, layout isinya keren. Image dalam buku di-text wrap sehingga tidak membuat lelah. Gambar-gambarnya berupa tokoh dan kejadian. Kartun yang lucu walau sederhana.  Akhirnya, aku meraih 2 buku. Yah, gapapa, deh, buat hiburan. Judulnya The Suitcase Kid, tentang anak korban perceraian yang tiap pekan harus pindah dari rumah ayah ke rumah ibunya yang telah memiliki keluarga masing-masing. Buku satu lagi judulnya The Worry Websites, Situs masalah untuk curhat dan kemudian dicari solusinya bersama. Semua kisah disajikan dengan ringan dan tak memberatkan, tapi juga sarat hikmah. Sebelum sampai kasir, aku melirik 2 puzzle untuk si kembar. Jadilah, kini belanjaanku mencapai angka sekian.... dan tidak terprediksi. Tapi, hmmm, gapapalah, berarti aku musti melakukan pengiritan lagi, hehe. Tak berapa lama aku segera turun dan aku tak tahan untuk tidak mengambil Chicken Soup tentang ayah. Fiyuh, aku harus pulang ketika aku mulai tergoda lagi melirik 2 novel keren terbitan Bentang dan 1 novel yang aku prediksi isinya sedih melulu, tapi bikin mupeng. Tampaknya, aku musti me-list buku-buku yang aku inginkan—termasuk Harry Potter—dan mulai menabung. Menuju lantai 1, aku mencari-cari selotip dan sampul buku. Aku raih segulung sampul, benda yang menjadi favoritku. Yah, aku sangat suka menyampul buku. Senyumanku mengembang mengakhiri ”perburuan” yang menghasilkan satu kantong penuh buku. Hiburan bagi hati yang penat dan rindu bermimpi. Aku bayangkan Fikri pasti senang dan menyukainya. Aku sempatkan menelepon rumah setelah HP-ku mati saat ”perburuan” berlangsung Mengabarkan ”perburuan” buku untuk si ganteng Fikri. Hmmm, tinggal aku yang akan bingung nanti kalau ditanya ibu. ”Lha, Nop bukannya ga ada duit”, hehe. Tapi, tampaknya ibu tak terlalu memerhatikan. Beliau hanya menegur, ketika melihatku memboyong setumpuk buku untuk disampul, ”Segitu banyak belinya”. ”Ya, nggaklah” jawabku tanpa memberitahu berapa buku yang aku beli. Aku ga boong, kan... (soalnya selain buku yang aku beli, aku juga bawa setumpuk buku yang belum disampul
gbr: - buku layoutan, ga nemu buku yg dibeli, jadi narsis aja, hehe - tanda pengenal yang narsis ;) - sudut pesantren - penampakan cililitan dan sekitar ;) - desain dan layout isi khansa - me & the lottie project - fikri - ketika menyampul buku ;)
| Category: | Books | | Genre: | Business & Investing | | Author: | Penyusun: Joko Intarto & Amin Fauzi |
GARA-GARA HOBI DAN ISENG
Pernah denger orang kerja karena iseng? Atau karena udah mentok sama keadaan yang terus menganggur??
Ada sebuah cerita… Pada saat kuliah, Priadji pernah merasa bosan men¬dengarkan seorang dosen yang sedang mengajar. Spontan, dia pun iseng mencorat-coret di bukunya. "Lalu saya suka perhatikan teman sekelas saya yang sedang serius mendengarkan keterangan guru. Pada saat itu, saya mulai menggambar wajah mereka," urainya.
Setelah selesai kuliah, gambar tadi dia berikan ke temannya. "Teman saya senang sekali. Bahkan dia mengakui kalau gambar itu mirip sekali dengannya," ceritanya. Mendengar pujian tersebut, Priadji semakin bersemangat untuk memperbaiki kualitas lukisannya. Hampir setiap hari, dia meng¬gambar teman kelasnya. Awalnya, yang dia lakukan itu tanpa minta bayaran alias gratis.
Pada 1974, di kampusnya diadakan pasar seni. Berkat dorongan dari teman-teman¬nya, dia memberanikan diri untuk membuka stan. "Waktu itu, saya me¬nawar¬kan jasa lukisan dan karikatur," tambahnya. Ternyata, dari stan tersebut banyak yang berminat. Apalagi dulu tarifnya sangat murah sekitar 500 rupiah per gambar. Sejak saat itu, dia pun mulai diundang ke berbagai acara. Bahkan permintaan terhadap hasil karyanya cukup tinggi.
Setahun setelah itu, pasar seni kemudian dipindah ke Taman Impian Jaya Ancol. Dia pun ditawari untuk membuka salah satu stannya di sana. "Waktu itu saya kan cuma ahli sket wajah saja. Nah, di sebelah saya ada Erwin Mulyadi. Dia ahli membuat siluet," jelasnya. Dari sana, dia pun tertarik dan minta diajarkan untuk membuat siluet. Bersama Erwin, dia mulai mendapat undangan ke luar negeri. "Pernah waktu itu kami diundang untuk pameran di Jepang. Kalau ada waktu luang, kami suka keliling door to door untuk memperkenalkan siluet," katanya sambil tersenyum.
Priadji bercerita, setiap kali mereka minum di sebuah kafe di luar negeri, mereka selalu mencoba membuat siluet beberapa pengunjung. "Setelah selesai, kami berikan kepada mereka secara cuma-cuma. Mereka senang sekali. Terkadang, makanan kami ditraktir," ceritanya. Dari situ, banyak yang meminta kartu nama mereka.
Hingga saat ini, Priadji sudah mengelilingi beberapa negara. Sebut saja Australia, Singapura, Jepang, dan lainnya. Bahkan pada bulan Desember mendatang, dia diundang untuk datang ke India untuk mempromosikan salah satu produk kertas.
---------------------------------- Dalam buku ini terhimpun kisah-kisah bisnis yang merupakan "inspirasi" bagi Anda, yang mengilhami Anda memulai usaha. Ada pula bab "Jurus Bisnis" yang membantu Anda mempertahankan usaha dengan trik dan trip tersendiri. dalam kisah-kisah tersebut di¬selingi "Bisnis Gila" yang akan membuat Anda tertawa dan berpikir, kemudian malah ingin mencoba bisnis tersebut. Usaha yang sama sekali tak terpikirkan oleh Anda sebelumnya. Buku ini merupakan kumpulan artikel dari koran INDOPOS berupa kisah-kisah nyata, pengalaman para pengusaha sukses yang inovatif, kreatif dalam meniti wirausahanya. Lalu, tunggu apa lagi, raih inspirasi dan jurus jitu untuk bisnis Anda.
Editor Noviyanti Utaminingsih
Baru membuka milis dan MP... ada sebuah buku telah terbit. Ga asing. Sangat tidak asing. Bertabur komentar, baik di milis atau di MP. Cuma melihat, belum sempat membaca. Sedikit tersenyum. Alhamdulillah, salah satu buku hasil layoutanku telah terbit. Mungkin ceritaku berbeda dengan si empunya buku, tapi inilah yang kurasa.
***
Beberapa tumpuk naskah mengejarku saat itu. Aku bingung... aku bingung... yang mana dulu... semua ingin didahului...Ada satu naskah tipis yang harus diperbaiki, aku agak telat menyelesaikannya, padahal ini termasuk naskah mudah... Layoutnya sangat simpel.Sempat kuintip Mp si penulis naskah itu yang mengabarkan akan kehadiran buku barunya... aku cuma tersenyum tergelitik, "isi buku itu masih di tanganku..." Membuatku ingin cepat mengejar selesainya naskah itu, seperti dapat teguran langsung, "ayo mbak cepat selsaikan bukuku..:)"Menatap cover bukunya...mencoba mencari huruf yang pas dengan covernya...biar match antara isi dan cover...sibuk mencari huruf...aku akali hingga pas...Waktu telah datang, sang editor menelepon... wah, belum juga selesai saat itu. Aku bener-bener crowded. Aku merasa menahannya... Tapi, memang biasanya, aku juga menunggu kabar bila naskah ini sudah selesai dari si editor atau dari aku sendiri. Begitu selesai.....legaaaaSebagai penebus dosa tidak mengabari :) aku mengantar sendiri naskah itu, padahal bisa saja aku meminta kurir penerbit untuk mengambil. Hari itu perjalanan panjang, capek, mengantuk..tapi seru...dari satu kantor ke kantor lain... Di bis hanya diisi dengan tidur...dan tidur...Aku sampai di sebuah tempat yang tak asing... sepi...tapi, akhirnya ku berjumpa si editor yang cuma kenal via telpon... seru, aku banyak bertanya, aku jadi belajar, bertukar pikiran ditemani sebotol teh dan kue-kue jajanan pasar yang tak lupa juga menjadi oleh-oleh untukku.Sekitar 1 jam berbincang di ruang yang penuh buku... nyaman dan menyenangkan melihat buku-buku berjejer rapi seolah memintaku uantuk membacanya....Awalnya, si editor tak ingin mengoreksi saat itu karena sepertinya suntuk, tapi ketika mungkin moody itu datang... koreksian pun dilakukan... diskusi dan diskusi. Cukup kooperatif dan tidak ada kesan mengguri, mau menerima pendapat dan punya pegangan. Aku pun begitu mudah memberi dia saran. Tidak takut-takut...Jadilah, hari itu, kubawa kembali naskah yang tadinya kuantar. Kini, penuh dengan coretan... Besok harus sudah jadi dalam bentuk file dan akan diambil sang kurir. Malam berjibaku dengan naskah itu... tak banyak yang diperbaiki, hanya harus lebih teliti, tapi ketika pagi, dan akan memburning naskah itu ada masalah pada cd r-nya. Semua ga masuk, blank..., 1 cd lagi blank...Sang kurir telah datang... bagai mengejarku. Aku berkeringat, bingung! Aku jadi tegang... tak ada persediaan lagi hanya cd yang sudah terpakai tapi masih bisa masuk file, aku pun memburning dan tak lupa mencek kembali.Tak lupa kuburning 1 cd lagi untk back-up. Semua dari cd yang sudah terpakai (pelajaran buatku, siapakan stok cd sebanyak banyaknya)Tak lupa meminta maaf kepada bapak kurir karena telah menunggu lama... fiyuh......akhirnya selesai...Tak lama, baru beberapa hari uang jerih payah itu sudah masuk ke tabunganku. Subhanalloh, aku acungi jempol 2 untuk penerbit yang satu ini...Hari kembali disi dengan deadline, kutukan 800 halaman, dan banyak lagi...sampai hari ini kubuka milis...buku itu telah terbitAlhamdulillah.......
| Start: | Jun 2, '07 | | End: | Jun 10, '07 | | Location: | Istora Senayan, Jakarta |
Pestanya para pecinta buku se-Jabodetabek sekaligus menyambut HUT KOTA JAKARTA ke-478 Penyelenggara: IKAPI Cabang DKI Jakarta Jl. Mustika Jaya No.9 Rawamangun. Jakarta 13220 Telp: 021-47862881, Fax: 021-4712323 Email: pestabukujakarta@yahoo.com Ini nih salah satu momen yang paling aku tunggu.....karena bisa browsing buku-buku yang diskonnya gede dan juga buku yang susah dicari. Semua penerbit numplek jadi satu Selain itu, momen kayak gini biasanya jadi tempat ngumpul komunitas buku, salah satunya temen-temen aku di tgp. Walau ga beli buku, pokoke ngumpul... Makanya, kalau mau cari temen yang udah jarang kelihatan, aku suka ke sini, ada aja yang tiba-tiba muncul. Ada yang jaga stan, ada yang emang kerja di penerbit dan ada juga yang iseng jalan-jalan ataupun emang niat mau beli buku... Oh, ya.....kalau mau tahu banyak tentang TGP (teknik Grafika & Penerbitan) Politeknik Negeri Jakarta, ada STAN-nya di Lantai Dua, dekat ruang Anggrek..... ... (promosi almamater, neh! :)) Selain itu, setahu aku banyak lagi komunitas buku yang hadir, kayak FLP, 1001 buku dan lainnya... c u there :)
| Start: | May 17, '07 10:00a |
| |