berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: berpikir

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag berpikir
Blog EntryEpisode Demi EpisodeJul 20, '08 2:02 PM
for everyone

 

            Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya.

            Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”.

            Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi.

Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan.

Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir.

Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan.

Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah.

Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak….

Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik.

Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu…

Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;). Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas…

Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D, memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur.

Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi senang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;)

Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :)

Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…

Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D


Blog EntrySemogaJul 12, '08 1:47 PM
for everyone

Belakangan, saya seperti mendapat serangan membabi buta. Dari arah penjuru mata angin meminta saya menyelesaikan amanah dan janji-janji. Belum lagi, begitu banyak agenda yang harus saya hadiri. Ditambah lagi, saya seperti dipertanyakan akan fungsi saya dalam sebuah organisasi dan semacamnya. Komitmen, rasa memiliki dan tanggung jawab. Hingga rasanya letih. Sementara, tanggung jawab saya di rumah bertambah. Sepeninggal kakak dan keluarga (plus ibu sementara waktu), otomatis saya harus menanggung biaya-biaya, seperti lisrik, telepon, air, internet secara penuh.

 

Sebelumnya, saya hanya membayar listrik sebagian kecil dan internet full. Saya hanya sesekali membayar telepon rumah kalau memang saya merasa memakainya. Toh, saya sudah pegang 2 HP.

 

Hari itu saya begitu cerewet. Duh, lampu belum mati, itu telepon jangan sering-sering dipakai dan banyak lagi. Otak saya makin ruwet memikirkan banyak hal. Kalau dulu, saya lebih senang menggunakan uang, untuk membeli barang-barang guna memfalisitasi pekerjaan saya. Selebihnya, saya beli buku dan menabung. Hanya sesekali saya benar-benar bisa memberi ibu. Lainnya, kebutuhan rutin sudah sangat banyak. Yup, untuk urusan odol, sabun, dll, saya juga sudah beli sendiri. Sesekali jajan dan makan di luar dan berbagai kegiatan yang saya ikuti. Saya jadi bingung. Dulu saya bodok amat sama urusan yang bukan urusan saya... fiyuh

 

Saat perjalanan menuju kantor klien, saya disibukkan dengan hitungan biaya hidup hingga saya berniat untuk belajar masak. Selama ini saya bisa dibilang jarang masuk dapur. Dari segi positif, keadaan ini ”memaksa” saya untuk sering ada di dapur. Memasak. Saya sudah merasakan sendiri, ketika jajan makan, uang begitu mudah habis. Fiyuh....

 

Sampai ketika di perjalanan, seorang pengendara motor memegang bendera kuning. Tak jauh dari sana, ada iring-iringan mobil jenazah. Ya Allah, mikirin apa sih saya... insya Allah, pasti ada jalan. Belum lama saya melewati iring-iringan jenazah. Di sebuah jalan, seorang pengendara motor terjatuh. Hhhh, pikiran saya makin penuh. Apa yang saya pikirkan ini jauh dari nilai akhirat. Hanya dunia dan dunia. Bayar ini dan itu, bagaimana nanti saya bisa bekerja. Bagaimana dapat uang dan pikiran-pikiran lain yang harusnya diselesaikan, bukan dibuat berdesakkan di kepala.

 

Saya seperti dihadapkan ketakutan-ketakutan yang bisa diatasi. Saya mengeluhkan banyak hal kepada ibu. Saya tidak tahu persis bagaimana keadaan ibu. Yang jelas beliau pun ikut sibuk bagaimana menyiasati semua ini. Ibu sudah menyediakan kebutuhan makan (seperti beras sekarung, dll), tinggal kami yang mengaturnya. Beliau juga masih menyewa jasa untuk membantu mencuci dan menyetrika. Ibu juga akan pulang tiap akhir pekan dari rumah kakak.

 

Ya Allah...

Kurang apa kemudahan ini...

Saya yakin, pasti bisa... tapi jujur ini benar-benar berbeda... asli...

Yah, saya yakin Allah punya rencana. Toh, dengan begini, saya bisa memulai menata hidup baru saya. Banyak hal yang harus saya agendakan. Terlalu picik rasanya hanya berkutat dengan pertanyaan bagaimana untuk esok. Insya Allah, akan selalu ada rezeki dari Allah dan tentunya solusi-solusi yang akan hadir.

 

Hmm, rasanya, saya ingin membuat ibu tersenyum dan lega. Saya ingin ketika ibu berkunjung ke rumah ini. Saya bisa menyediakan masakan, rumah dalam keadaan rapi dan saya bisa dengan damainya becengkerama dengan ibu tanpa disibukkan dengan pekerjaan melulu... Seperti harapan saya lainnya. Saya ingin bertadarus bersama ibu. Pergi ke masjid bersama ibu dan rencana lain yang harus saya kesampingkan dulu. Saat ini kakak saya sangat membutuhkan keberadaan ibu di sana.

 

Saya ingin, ibu tak lagi mengkhawatirkan saya yang pusing ini dan itu, dan bisa menikmati hari-hari bersama ibu dengan lebih baik...

 

 

 

Semoga

Someday...

 

 


Blog EntryWanita... wanitaJul 4, '08 12:01 PM
for everyone
Wanita selalu jadi objek di mana-mana
iklan mobil, ada gambar wanita seksi di atasnya
tabloid HP, ada juga wajah wanita cantik di sana...

Emangnya kalau ga ada gambar wanitanya ga laku, ya mobilnya?
Hmm, apa hanya wanita keindahan yang seolah-olah akan terus dinikmati...

Wanita...
sampai kapan hanya dipandang sebelah mata?

Hhh, kecantikan memang memesona...
membuat mata selalu tertuju padanya
tapi bukankah fitnah jadi merajalela
jika kecantikan hanya jadi tempelan saja...

Indah Islam...
mengatur semua
wanita begitu dihargai
wanita begitu dicintai...

jilbab...
identitasmu....
jilbab
jadi jati dirimu...



*mode.lieur.on
hiks, hiks

Blog EntryFenomena Celana Pendek dan celana ketatJul 4, '08 11:54 AM
for everyone
Ada dua hal yang sempat mengganggu pikiran aku belakangan ini. Celana pendek yang sepertinya ngetrend, ga tanggung-tanggung lagi pendeknya... dan celana ketat panjang yang makin banyak aja pemakainya (termasuk para jilbaber).

Tadi pagi pas jalan-jalan keliling kompleks, atau sore sebelumnya, aku beberapa kali berpapasan dengan wanita-wanita cantik (kalau wanita cantik ya, laki kan ganteng :D) yang dengan cueknya pakai celana pendek. Kebetulan saat itu mereka sedang mengendarai motor. Ga tahu kenapa, kok makin sering aja ngelihat yang kayak gini. Apa emang lagi ngetrend? Secara kalau mau lihat sekilas aja sinetron di TV atau acara apa gitu, celana pendek ada di mana-mana.

Kalau udah kayak gini, cuma bisa bengong. Duh, dek... mbak... apa ga malu, itu aurat dipertontonkan? :(


Mungkin mereka cuek pakai celana pendek itu karena belum mengerti dan lain-lain... tapi, aaah plis, deh hari gini gitu lho... Apa segitunya ngikut trend?

Beberapa waktu lalu, saat lagi cari printer di mall, aku sempat memerhatikan dua remaja yang bercelana pendek, ups sebenarnya bukan mereka yang aku perhatikan, tapi laki-laki di dekat mereka yang dengan jelas menikmati pemandangan itu. Hmmm, aku dengan cueknya ngeliati cowok-cowok itu... Mas, ngeliat apaan sih? Fiyuh...

Aku kadang kalau lagi jalan suka ngenes sendiri, kalau ngeliat kaumku seperti "ditelanjangi" sama pandangan liar itu. Hhh, emang sih jadi rada iseng gini karena yang aku perhatikan bukan si perempuan, tapi si laki-laki yang lagi "belanja". Gimana malunya kepergok lagi "menikmati" keindahan gratis. Yah, ga di mana-mana. Di angkot, di stasiun, di jalan...

Tapi beneran, deh... aku yang perempuan aja risih, kok.....
:(( huaaaaaaaa

Nah, lain lagi kalau celana ketat panjang...
Sejak banyak model baju yang menutupi bokong dengan bentuk yang unik (bentuk balon, bentuk macam2, deh, ga gerti :D), aku sempet iseng mengamati perkembangan mode itu. Bagus, deh, jadi lebih rapi........ weits, tapi... kenapa malah jadi mundur lagi karena bawahan yang dikenakan (celana panjang) itu adalah celana ketat yang cuma melapisi bukan menutupi aurat... Hhh,. celana yang mungkin pas buat dalaman rok, atau celana untuk senam, atau celana untuk di rumah... mundur lagi, deh... dan sedihnya, ada para jilbaber yang menggunakannya...

Apa ini lagi trend berpakaian???
Kok, makin sering aja aku lihat yang kayak gini di jalan-jalan...

Hhhh, lieur...





Blog EntryEpisode Tinggal Bersama yang Akan BerakhirJun 9, '08 3:54 PM
for everyone



Sudah empat tahun lebih sejak kematian bapak, ramainya rumah ini. Kami tinggal

bersama. Saya dan ibu sebagai keluarga pertama serta kakak, suaminya dan 4 anaknya sebagai keluarga kedua. Beserta khadimat yang datang dan pergi.

 

Saya tak ingin menyatakan sesak, tapi seru. Sangat seru dengan berjuta konflik yang hadir. Yah, masa itu akan segera hilang, beberapa bulan lagi, mengingat kakak saya dan keluarga, beserta dua khadimat, atau lebih (entahlah) akan pindah.

 

Pasti suasana rumah akan berbeda. Sangat ekstrem malah. Rumah ini memang silih berganti penghuni. Kakak pertama yang kuliah di Bogor, abang yang kuliah di Solo dan saya yang sempat kuliah di Depok. Bapak dan ibu sempat hanya tinggal berdua karena hanya sesekali saya pulang. Kemudian, bertiga, berempat hingga akhirnya kakak menikah. Kembali lagi karena bapak meninggal dunia...

 

Hmmm, bukannya tidak menyenangkan. Bukannya tidak pernah ada masalah.

Bukannya tidak lengkap. Bukannya tidak melelahkan. Hari-hari yang terlalui. Empat tahun sudah menjadi saksi, si kecil Fikri yang beranjak besar hingga akan masuk SD. Si kembar Fahimah dan Fahmi, serta Fattah yang lahir 10 hari yang lalu. Penuh warna... bagai pelangi, hingga kadang tak sanggup saya melihat warna apa saja yang hadir.

 

Saya sadari penuh, banyak kepala, banyak pula pendapat dan banyak hal yang bisa menuai konflik. Saya sadari penuh, kemampuan saya sebagai individu masihlah kecil. Rasa egoisme seorang anak bontot masih merajai sikap saya. Tapi, tahukah kawan, selama ini saya terus belajar. Belajar untuk melihat segala hal dari berbagai sisi. Melihat kalau saya masihlah lemah, selemah hamba-Nya yang bodoh.

 

Hhh, dari mulai listrik yang bergantian. Makin memaksa saya menjadi kalong. Kadang bersalah dan kadang kesal karena AC harus mati, air harus nyala, tapi terang-terangan komputer Online 24 jam karena deadline. Cara bersikap kepada 3 bocah lucu yang sedang golden Age. Fikri yang berkeras tidak mau kena air, teriakan-teriakan, perebutan kursi, halah... Saya yang kerja mulu di rumah, hampir pergi mulu kalau week-end, dan merasa terganggu dengan berjuta pernak-pernik.... dan ingin berteriak... wooy, gw butuh privasi, abis itu ngos-ngosan karena haus.. halah.

 

Seegois apapun sikap saya. Semanja apapun saya sebagai anak bontot. Rasa cinta ini begitu besar. Rasa tulus menyayangi malaikat-malaikat kecil itu... yah, saya memang masih belajar... Di balik segala kekonyolan saya, kegokilan saya, kecuekan saya... saya selalu punya hati untuk mereka. Warna hidup yang tak akan mudah terlupa. Tapi, saya juga punya kehidupan... saya punya kegiatan... saya dengan berjuta mimpi dan cita-cita saya... Aah, naif, ya? Biarin.... terserah gw, halah

 

Banyak yang terjadi selama empat tahun... moga bisa menjadi pelajaran...

Banyak yang terjadi selama ini... moga banyak hikmah yang bisa saya pungut...

 

Kalau kata ibu, koreksi diri yang penting...

Saya pikir saya memang banyak salah...

Apalagi sama ibu...

 

Kerinduan akan masa-masa itu pasti akan hadir. Yakin, sih... tapi bukankan roda terus berputar. Sudah banyak pula rencana di kepala. Memang harus begini dan begitu. Doakan saja semua bahagia... happly ever after, hehehehe, halah..

Hmm... moga kita semua selalu diberi hidayah dan limpahan kasih sayang dari-Nya... aamiin :)

 

Hmm, sambil mikir-mikir...

Bulan juli ntar listrik, telepon, Pam, udah kudu bayar sendiri belum, yak :D

Kurangin semuanya, dah pengeluaran yang ga mikir-mikir...

Bakalan mirip kayak anak kos lagi, neh...

 


Blog EntryDipaksa untuk TegakJun 4, '08 11:58 AM
for everyone

Pagi itu aku terbangun dengan nyeri di punggung. “aduh sakit”. Entah kenapa punggung sakit, cuma bisa enak kalau dibawa rebahan aja. Sementara untuk berdiri dan duduk tetap sakit. Duh, apa aku kurang kalsium ya? Hehe…

 

Kalau pun ingin punggung ini tak sakit, aku harus bisa berdiri dan duduk dengan tegak. Sementara, hal itu tak biasa bagiku. Entah sejak kapan, kebiasaan itu dimulai. Badanku membungkuk. Atau memang itu sudah jadi postur tubuhku. Hunchback katanya… hingga temanku sudah mencirikan sekali diriku dengan postur tubuh membungkuk.

 

Ada beberapa alasan kebiasaan ini berjalan terus. Berat dan tinggi badanku tidak proporsional. Saat ini tinggiku sekitar 160 cm dan berat antara 44-46 kilogram. Masih ada kekurangan berat di sana. Ketika seorang teman harus melipat kakinya di dalam mobil yang sempit, aku justru harus membungkukkan badanku yang panjang di bagian perut. Bingung ga, sih?

 

Dari dulu aku sering membawa tas besar, tapi apa itu juga alasanku membungkuk? Entahlah, hehehe.

 

Pada dasarnya aku cuek, sampai teman-teman mulai menegurku dan aku pun mulai berusaha untuk tegak. Ketika SMU, ada teman yang hafal gelagat bungkukku.

Ketika kuliah, jelas-jelas temanku, akan memukul punggungku yang mulai bengkok ketika berdiri dan duduk. Teman kerjaku pun pernah mengajak aku untuk lebih tegak, dengan tips-tipsnya,. Atau banyak lagi, hingga teguran seorang teman yang kaget melihat cara dudukku yang melengkung.

 

Berat rasanya mengubah kebiasaan itu. Tapi, setelah kuperhatikan di cermin, ternyata, bungkukku sudah sangat parah. Duh. Kok baru sadar, sih. Ternyata, pundakku ini terlalu maju dan bagian perut menekuk.

 

Setelah kejadian nyeri punggung itu, aku pun mulai berusaha belajar untuk tegak. Secra tidak langsung, nyeri itu menyuruhku untuk lebih tegak, walau itu masih dalam proses. Heheh, kadang malas euy..

 

So, kalau ketemu, jangan segan pukul punggungku, agar bisa tegak. Selain belum biasa aku suka malas, hehehe...


Memang kadang untuk tegak itu perlu dipaksa... dengan perihnya kejadian. Seperti halnya tetap tegak dalam menghadapi masalah kehidupan dan membebani punggung ini... (sok bijak.com )



see ya

semangaaaaaaaaaat





 

 

 


Blog EntryNikmat-Nya yang tak TerhinggaMay 25, '08 1:07 PM
for everyone


Kupijakkan lagi kaki ini, di sebuah tempat dengan aura yang sendu. Tempat yang pernah jadi saksi berpulangnya ayahanda tercinta. Bisa dihitung, berapa kali aku ada di tempat ini dan satu-satunya momen yang tak terlupakan, adalah ketika hembusan nafas terakhir bapak lebih dari empat tahun lalu.

 

Hari itu aku akan menengok Ucok, adik seorang sahabat yang sudah sebulan dirawat di Rumah Sakit. Beberapa kali pindah Rumah Sakit dan beberapa kali diprediksi mengidap beberapa penyakit.

 

Aku susuri koridor rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Dari dulu aku selalu merasa, rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan, kecuali mungkin kabar kelahiran bayi.  Tapi, justru di sinilah, aku akan disuguhi sisi lain dari sebuah kehidupan. Beberapa tahun lalu, aku pernah mengalami sakit demam berdarah. Hampir sebulan penuh, aku harus menjalani perawatan dan bed rest. Diawali tanpa bisa makan selama seminggu. Kemudian dirawat di rumah sakit selama enam hari dengan menghabiskan puluhan kantong infus. Hingga selanjutnya aku harus rawat jalan dan kaki pincang karena terlalu lama berdiam diri.

 

Rasanya sangatlah nikmat, merasakan sehat, tak ternilai dan menjadi rasa syukur yang tak terkira. Aku bisa kembali beraktivitas dengan normal, tak lagi menyusahkan orang-orang di sekitarku. Aaah, kenapa aku baru tahu nikmat sehat setelah harus menjalani perawatan yang cukup lama. Kurang bersyukurkah aku kepada-Nya?

 

Beberapa kali aku memutar jalan menuju tempat yang aku tuju. Beberapa kali juga aku menelepon temanku. Pemandangan hilir mudik dokter, suster, pasien dan keluarganya menjadi hal yang umum. Kemudian, kaki ini sampai pada tempat menunggu. Di sana banyak orang yang duduk-duduk di bangku yang disediakan. Sementara di depannya  terdapat loket. Tapi, ada kejanggalan di sana. Masih dalam area yang sama, aku dapati, seingatku, dua orang pasien dan yang menungguinya beserta infus berbaring di atas kasur yang langsung menyentuh dinginnya lantai. Rupanya rumah sakit besar ini pun tak bisa menampung membludaknya pasien. Aku ingat saat itu sedang wabah demam berdarah. Kedua keponakan kecilku pun sempat dirawat di rumah sakit dalam waktu berdekatan.

 

Akhirnya, sampailah aku di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Aku lihat, ada seorang laki-laki tengah terbaring. Untuk memastikan kamar yang aku datangi, aku pun kembali menelepon sahabatku. Dia menyuruhku masuk dan menemui ibunya yang sedang menunggui Ucok. Kemudian, aku dapati seorang ibu dengan wajahnya yang letih. Mengingatkanku pada sosok ibuku. Sewaktu aku dirawat di Rumah sakit, beliaulah yang selalu menungguiku. Dari mulai mengganti botol infus, menyuapi makanan, hingga memandikan aku yang memang tak berdaya. Aaah, ibu, sosoknya selalu mengagumkan bagiku.

 

Kulihat Ucok sudah terlihat lebih baik. Sebelumnya, beberapa kali kudengar kabar kalau Ucok sempat masuk ruang ICU, dan memakai ventilator.  Kondisinya sungguh memilukan.

 

 

Sahabatku tak ada di ruang itu. Rupanya dia tengah mengurus Ida, adik bungsunya yang juga dirawat karena DBD. Ya Allah, betapa besar cobaan yang Engkau berikan kepada sosok yang selalu membuatku kagum akan kebaikan dan ketulusan hatinya.

Ketika aku selesai menunaikan shalat Zuhur di ruangan itu, sahabatku sudah ada di sana. Wajahnya sumringah walau kulihat ada kelelahan di sana. Kami mengobrol banyak hal. Baru kuketahui kemudian kalau hari itu, Ucok akan pulang. Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar atas kuasa-Nya.

 

Tak berapa lama, sahabatku minta ditemani makan di sebuah restoran yang letaknya di samping rumah sakit. Mengalirlah cerita mengenai sakit adiknya. Sempat diprediksi demam berdarah. Jumlah trombosit yang terus menurun menyebabkan Ucok harus menjalani transfusi trombosit hingga 10 kantong. Kemudian, diduga Typus, malaria, gagal ginjal akut hingga flu burung (Petugas dari Depkes sempat mengambil sampel darahnya untuk diteliti, namun hasilnya negatif). Hingga hari ini Alhamdulillah, kondisinya terus membaik.

 

Sahabatku yang kini telah yatim, adalah anak pertama. Dia bertindak sebagai kepala keluarga dan mengurusi berbagai urusan rumah sakit. Aku sempat menemaninya ke ruang administrasi untuk mengurus biaya rumah sakit yang nominalnya sangat mencengangkan.

 

Tapi kemudian, di sana kulihat rasa syukur, kulihat rasa lega. Kulihat rasa yang mungkin tak terungkapkan mendapati adik laki-laki satu-satunya telah pulih. Ya Allah, satu pelajaran lagi Engkau berikan untukku, atas nikmat sehat dan rasa syukur.

 

Aku akhiri pengalaman hari itu dengan begitu banyak yang aku dapat. Kenikmatan yang tak ternilai ketika bisa menghirup udara segar, berjalan, berlari, dan kenikmatan ketika mampu sholat dengan gerakan sempurna.

 

Kutatap jalan raya di hadapanku. Terbentang berbagai kehidupan umat manusia di hadapanku. Aku dan mereka sama-sama tak pernah mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Apa yang bisa mereka lakukan hari ini. Apakah akan pulang kembali menemui keluarganya di rumah. Apakah masih mampu menggerakkan tangan ini untuk shalat. Apakah jerih payah hari ini akan menutupi berbagai macam kebutuhan. Apakah akan diserang sakit dan akan terbaring. Tapi, apakah, kita mampu menghitung beribu-ribu kebahagiaan, rezeki yang Dia beri. Berjuta-juta  nikmat yang tak akan bisa kita hitung.

 

Apakah masih perlu kutanyakan lagi, makna cinta dan hakikat yang Dia beri, segala skenario terindah yang kunikmati hingga hari ini.

 

Allahu Akbar...

Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. 

 

Tulisan ini aku persembahkan untuk Mbak Elly ;)


 

 

 

 


Blog Entryberpikir... menuju yang lebih baikMay 21, '08 3:33 PM
for everyone
Hari ini.. yah hari ini, kalau dibilang merenung mungkin terlalu dalam... tapi kalau dibilang tidak, toh aku memikirkannya. hehe

Kadang lelah dengan segala sikap sok serius, sok idealis, sok segala-galanya yang ending-nya, biasanya yah, mentok ke sana dan ke sini.

Di balik kecuekan aku dan mungkin terlihat tidak serius dalam menghadapi ini dan itu, ada rasa dan pikiran yang sedang aku cari dan terus mencari. Aku pun tak perlu bilang-bilang...

...dan hari ini aku ingat. Hmm, walau aku tak memungkiri, aku kadang lelah dihadapkan manusia serius, idealis, main judge... Hei, it's a life. Seperti halnya, aku yang tak tahu kehidupanmu, kamu pun tak tahu kehidupanku. Jadi, aturan hidupmu belum tentu bisa dipakai untuk aturan hidupku...

Yups, aku disuguhi lagi keadaan yang, "hei, inilah hidup, Nop..." apakah kamu akan diam terjebak situasi ini. Tfs, friend, kamu mengingatkanku. Ini masalah sederhana... tapi kepolosan dan kejujuranmu membuatku yakin. Kita semua menuju kehidupan yang lebih baik. Bagai tak ada gading yang tak retak, inilah hidup kita... Aku tak sempurna, kamu, kita, yah kita semua... mimpiku entah masih sampai mana? tapi bukan berarti aku jadi terus tak berdaya, kan?

Tapi, satu...
apakah kita berusaha menjadi lebih baik?

dan tolong... aku ga suka di-judge,
ketika segalanya tak perlu kutanyakan, aku pun tak akan bertanya,
daripada kudapatkan jawaban yang hanya mengusik tidur malamku, tapi tak ada solusi... lebih baik kumengadu kepada-Nya...

Fiyuh... aku harus makin mengerti arti begitu banyak perbedaan... dan sekali lagi, aku tak sempurna... begitu juga kamu, kan?






teman, seperti dirimu, kamu pun ingin yang baik-baik, ayo sama-sama berusaha... inilah hidup, mengajarkan kita untuk lebih dewasa...


Hidup itu
tak hanya hitam dan putih
tapi ada abu-abu, atau mungkin penuh warna bagai pelangi?







Blog EntryProses BelajarMay 10, '08 6:20 PM
for everyone

Saya selalu percaya segala sesuatu mengalami proses. Saya percaya apapun yang ada di dunia ini akan terus berubah. Perubahan seperti apa yang akan kita dapat? Perubahan seperti apa yang akan kita capai? Bisa saja itu adalah kemajuan, tapi bisa saja justru kemunduran.

 

Betapa seringnya kita tak mampu mengira dan menebak-nebak akan menemui hal apa nanti.

 

Begitu seringnya kita dihadapkan pada hikmah-hikmah yang kemudian memberikan rasa syukur tanpa hingga.

 

Padahal sebelumnya, bisa saja kita merutuki nasib kita, menyesali kejadian-kejadian yang ada, marah pada orang-orang di sekitar kita.

 

Bukankah Allah Maha Mengetahui, segalanya akan berjalan sedemikian indah, tanpa manusia bisa mengira. Skenario yang Dia susun akan memberikan makna bagi kita yang mau belajar.  

 

Itulah yang akan kita rasakan ketika mulai mengerti sedikit demi sedikit makna hidup. Saya percaya, terbentang jalan yang harus kita lewati menanti untuk dilewati. Saya percaya akan begitu banyak pelajaran yang akan didapat. Berserakan hikmah-hikmah yang akan menyapa kalau kita mau menyadari.

 

Proses dari tidak tahu menjadi tahu adalah proses belajar.

Proses itu akan terus berjalan sebagaimana mestinya... dengan terus dan terus



http://img396.imageshack.us/img396/954/kupukecil0bi.jpg


Blog EntryMasih Ada KesempatanMay 5, '08 7:49 PM
for everyone
Moga ke depan bisa jadi pelajaran untuk segera meraih kesempatan baru dengan semangat baru... Ketika memutuskan untuk merenovasi, menginovasi dan melakukan banyak hal, harusnya aku mawas diri... segera berlari dan raih..

Tapi memang dasar manusia yang lalai dan mudah lupa... Kesempatan itu sering melayang tanpa disadari... hingga pada waktunya mulai menyesali.

Seringnya kita bilang, masih ada esok, masih ada nanti, nanti dan nanti, padahal belum tentu. Jadi ingat 5 perkara sebelum 5 perkara.

Masih ada kesempatan hari ini untukku menghirup udara segar setelah terlelap semalam.
Alhamdulillahilladzi Ahyana Ba'dama amaatana wa ilayhinnusyur.

Tak pernah tahu akan mati kapan, tapi perencanaan selalu ada agar optimis memandang ke depan bukan untuk menunda segala aktivitas.



terlalu banyak waktu tersia
moga masih bisa kugapai
saat-saat itu
dari sisa umurku

Bismillah...



*mode muhasabah on

Blog EntryAkhir CeritaApr 6, '08 2:46 PM
for everyone

Aku suka bagian akhir cerita itu. Aku akan diam dan menghayatinya, menikmatinya, sambil mengusap air mataku karena terharu. Aku biarkan diriku tersenyum dalam damai. Aku biarkan diriku merasakan indahnya cinta, damainya kasih dan bahagianya mengakhiri setiap episode dengan sempurna.

 

***

 

Pada awal cerita memang banyak ditemukan kerumitan. Banyak hal yang mengagetkan dan di luar dugaan. Di kepalaku selalu timbul banyak pertanyaan hingga tengah cerita.

 

Kemudian, satu-satu mulai menunjukkan wujudnya. Satu-satu mulai mengaku telah membangun dinding yang tebal di sana, mengecat tembok yang satu lagi, merusak pagar, dan menaruh paku di halaman hingga ban mobil kempes.

 

Aku masih terdiam saat itu, tapi perasaanku ingin marah. Sebuah tangan menyentuh pundakku. Kutatap wajah teduhnya, seperti tersirat sebuah kata di sana, sabar...

 

Yah, kemudian segalanya berjalan sesuai skenario. Semua terpaku, tertegun, menatap kebahagiaan, mimpi dan cita-cita yang digantungkan bocah-bocah kecil itu. Pelangi nan indah mewarnai layar di hadapanku.

 

Aku menarik napasku perlahan-lahan. Kubiarkan diriku terbang mengawang, menghirup udara segar, kemudian tersenyum. Kini, aku telah sampai bagian akhir cerita.

Blog EntrySemoga aku bisa memulainya kembali...Apr 5, '08 4:01 PM
for everyone

 

 

“Mbak  udah masuk magrib, ya” tanya tukang ojek kepadaku.

          ”Ga tahu, udah kali” jawabku   

            Saat itu aku tengah naik ojek menuju rumahku setelah mengambil pekerjaan di sebuah kantor di bilangan Cipete. Aku memang biasa menggunakan transportasi ojek dari tempat aku turun dari bus. Lebih praktis dan cepat, dengan keadaan jalanan Jakarta yang tiap detiknya tak bisa diduga. Macet dan macet.

Motor mulai memasuki kompleks perumahan. Terlihat beberapa orang mengenakan pakaian koko dan sarung tengah berjalan. Tapi, aku tak mendengar suara azan. Mungkin sudah, mungkin belum. Tepat ketika motor  berhenti di depan masjid, aku turun dan membayar kepada tukang ojek tersebut. Suasana masjid tampak ramai dengan orang yang berwudhu dan sholat.

”Pas banget” ujarnya.

Kemudian, kulihat dia memasuki halaman masjid. Sementara, aku malah berbelok. Yah, rumahku, tepat di belakang masjid. Hanya beberapa langkah jarakku dengan masjid.

Rasanya ada suatu yang berat. Kenapa aku pulang, bukannya ikut belok dan sholat di sana. Kenapa aku merasa jauh dari tempat yang begitu dekat ini. Aku terus berjalan dan menunduk. Rasanya, hatiku ingin berada di sana, tapi keengganan mengajakku pulang. Toh, aku bisa sholat di rumah. Toh, aku baru pulang dan pakaian aku sudah kotor dan berbagai alasan yang tak juga membuatku merasa benar melakukan hal itu. Lho, bukannya tukang ojek itu lebih kotor pakaiannya, terkena debu dan asap yang menjadi makanan sehari-harinya. Bukankah, aku hanya pergi sebentar.

Katanya memang, wanita sebaiknya sholat di rumah, tapi bukankah lebih nyaman dan syahdu ketika melaksanakan sholat di masjid. Aku biasa ke mana-mana sendiri. Ke mall, toko buku, kantor-kantor klien. Tapi, kenapa aku harus enggan pergi ke masjid yang hanya beberapa langkah dari rumahku. Aku lebih sering sholat di rumah. Itu pun tidak selalu tepat waktu. Aku akan kembali disibukkan dengan perkerjaanku yang menanti. Tak jarang, aku memilih menunda waktu sholatku karena pekerjaanku belum juga selesai. Astaghfirulloh... aku ternyata memang makin jauh dengan-Mu ya Allah...

Padahal, beberapa tahun lalu ketika aku diberi kesempatan untuk umroh dit anah suci, hampir setiap waktunya sholat 5 waktu, aku selalu melaksanakannya di masjid. Bahkan hingga pernah beberapa kali tidak kebagian tempat dan berdesak-desakan. Bahkan ketika tahu aku datang terlambat. Tapi, ketika di tanah air, hanya awalnya saja aku mulai menerapkan sedikit-sedikit, hingga ditelan waktu. Bahkan ketika sholat taraweh, aku lebih memilih sholat di rumah karena enggannya berdesak-desakan dan tidak dapat tempat. Astaghfirulloh, aku makin jauh dengan-Mu...

Kenapa aku merasa dtunjukkan oleh-Nya. Diingatkan oleh-nya, betapa aku mulai tak lagi berada dekat dengan-Nya.

***

Rasanya tak kuasa kutahan air mata ini hingga aku kemudian memasuki rumah. Kutahan diriku untuk tidak menyalakan komputer di ruang kerjaku. Aku ingin diriku tak diburu dengan bekerja dan bekerja. Menyalakan komputer sebelum sholat sering membuatku mengingat berbagai pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku segera beres-beres dan terdengar iqomah dari masjid. Aku putuskan untuk sholat di rumah saja. Mungkin nanti ketika azan Isya berkumandang.

Bimbang rasanya hingga kudengar azan Isya berkumandang. Berbagai perasaan berkecamuk. Kalau ke mesjid, aku musti pakai kaos kaki, aku musti buru-buru. Belum lagi alasan-alasan lain yang seolah menambah keenggananku ke mesjid. Padahal, suara azan itu begitu dekat, dekat sekali.

Hingga terdengar iqomah, aku masih di rumah. Aku pun mencari alat sholat dan kaos kaki. Setelah berwudhu, kukenakan alat solat dan kaos kaki. Aku buka pintu, sudah rokaat kedua rupanya. Aku mantapkan kaki ini untuk melangkah. Ya Allah, semoga aku bisa memulainya kembali... Ya Allah, semoga aku bisa istiqomah menjalaninya. Amiin

 

 

 


Blog EntryCinta dan PerkawinanMar 5, '08 12:25 PM
for everyone
Hmm, isu yang hangat dan ga akan ada habisnya...

Ga ada maksud apa-apa, cuma lagi seneng aja ngutip bukunya Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie ;)


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


"... : Kalau kita tidak menghormati pihak yang lain,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Kalau kita tidak tahu cara berkompromi,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Kalau kita tidak mampu bicara terbuka tentang apapun yang terjadi di antara kita dan pasangan,
kita akan mendapatkan banyak masalah.

Dan kalau kita tidak memiliki seperangkat nilai yang kita sepakati dalam hidup,
kita juga akan mendapatkan banyak masalah.

Nilai-nilai yang kita anut harus sama."


"Dan yang paling penting di antara nilai-nilai itu..."

"Keyakinan tentang pentingnya perkawinan kita"



".........perkawinan adalah babak sangat penting yang perlu kita lalui, dan kita akan kehilangan banyak sekali kalau kita tidak mencobanya"





~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Maksudnya bukan menikah sebagai percobaan kan? tapi, intinya menikahlah, hehehe... (ngomong sama siapa, sih ;p)



Blog EntryKetika Harus MenganggurMar 2, '08 1:05 PM
for everyone

Malam ini seorang adik kelas menelepon saya. Menanyakan beberapa hal tentang pekerjaan karena dia akan ditest besok di sebuah perusahaan penerbitan. Ada kekhawatiran dalam dirinya seandainya dia tak mampu mengerjakan tes yang diberikan. Bertanya banyak hal yang tak bisa saya jawab semua. Yah, lagi-lagi saya katakan bahwa tipikal setiap perusahaan itu bebrbeda. Saya hanya bisa memberikan gambaran hal-hal yang pernah saya alami.

 

Pembicaraan kami mengalir hingga pada ketidakpuasan kepada dirinya sendiri. Awalnya, dia bercerita mengenai temannya yang mulai stress karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Kemudian, dia mulai mengakui kalau dirinya pun tak jauh berbeda. Akhirnya, adik kelas saya itu mengungkapkan kekecewaan karena berkali-kali test di perusahaan, tapi berkali-kali pula dia gagal.

 

Rasa optimisme dan kepercayaan dirinya mulai luntur seiring dengan berbagai hal yang harus dihadapi. Iri melihat teman-temannya sudah bekerja. Stress karena masih terus menganggur. Bingung karena kebutuhan terus menuntut. Saat itu saya jadi ingat dengan pengalaman saya sendiri.

 

Saya pernah dalam posisi dia. Begitu lulus, harus menganggur dulu. Sekitar 6 bulan saya harus menunggu pekerjaan yang baru setelah saya melepas pekerjaan pertama saya. Bukannya tidak ada panggilan. Ada beberapa panggilan, tapi tidak cocok dan saya tidak masuk kriteria.

 

Saat-saat menganggur saat itu adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Menjadi pesimis, rendah diri dan bodoh. Masa mengganggur pun mengganggu stabilitas emosi saya. Menjadi tidak produktif dan kurang bersemangat.  Hingga akhirnya saya pun dipaggil untuk tes dan interview di sebuah penerbitan. Saya harus bersaing dengan 5 orang lainnya saat itu. Saya hanya minta yang terbaik kalau memang itu pekerjaan yang tepat buat saya. Alhamdulillah, saya pun diterima di tempat tersebut. Saya musti belajar banyak hal untuk bisa bekerja di tempat tersebut.

 

Saat menganggur saya tak mengetahui kalau tersimpan misteri yang menjadi jalan hidup saya. Saya harus berlama-lama menanti untuk mendapat panggilan kerja, tapi justru di tempat tersebut saya banyak mendapat pengalaman dan pelajaran. Hingga tiga tahun kemudian saya berusaha merintis karir mandiri setelah mendapatkan ilmu dari tempat saya bekerja yang bisa dibilang batu lompatan bagi saya.

 

Ketika usaha sudah mulai berkembang pun, saya pernah dihadapkan pada situasi menganggur. Order sepi, pemasukan berkurang, padahal biaya operasional terus berjalan. Saya sibuk dengan diri saya sendiri yang menyalahkan keadaan kosong. Hingga kemudian, lagi-lagi saya mendapat pelajaran dan hikmah atas ”kekosongan” sesaat yang memang harus dilalui.

 

Kita sering merasa tertipu dengan ketidakberhasilan dalam suatu masa. Menyalahkan diri yang tak sanggup menjalani berbagai hal di depan mata. Tak sanggup mendapat pekerjaan dalam waktu yang cepat. Merasa tertinggal dari siapapun.

 

Kekosongan saat menganggur menjadi waktu yang tersia-sia. Seolah-olah waktu berhenti sesaat untuk mendengarkan keluh kesah kita, dan perasaan stress yang terus menganggu. Hingga kemudian kita baru sadari, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, kalau kita terus berusaha, mencoba dan berdoa. Meyakini kalau di setiap pribadi ada potensi yang harus terus digali. Kreativitas dalam diri yang bisa terus diasah hingga tak ada kata ”menganggur” lagi dalam kamus kita.

 

Buat adikku di Bekasi...

SEMANGAT ;)

 

 

 

 


Blog Entry[part one] Ketika Masyarakat BerbicaraFeb 27, '08 3:37 AM
for everyone

Mari kita mulai... dengan pertanyaan pertama ;)

setelah dari sini


Kapan lulus?

Seorang mahasiswa yang lagi rusuh-rusuhnya bikin tugas akhir bakalan sensi berat ketika ditanya kapan lulus. Apalagi, kondisinya tugas akhir tersebut susah banget dan musti dirombak. Atau, bakal sangat sensi buat mahasiswa yang lama bener lulusnya, nyaris jadi MA gitu, deh.

Alhasil, mereka jadi menjauh dari acara-acara keluarga dan reuni bareng temen sekolah. Seperti yang pernah dirasain sama kakakku yang cowok. Jadi, jarang silaturahim ke keluarga. 


Alhamdulillah, setelah sekian tahun dia lulus... Buku hasil skripsinya malah terbit duluan... Mungkin sebagai cowok, dia kelihatan nyantai, tapi sebenarnya suka malas dengan pertanyaan standar ”kapan lulus?” ”udah lulus belum?” ditambah adiknya di Jakarta yang suka meneror... huehehehehe ;p ”Buruan lo selesein kuliah, gantian, donk, gw kan juga mau kuliah” ;p

 

Pertanyaan kapan lulus bakal makin nyebelin kalau yang nanya itu adek kelas yang tidak tahu pahit getirnya bikin tugas akhir ...;p.

 

Untuk mengurangi beban dan tetap kasih perhatian lebih enak gini kali ya... ”kak, sekarang lagi ngerjain apa? Tugas akhir, ya... Sini, deh aku bantuin... bantuin doa maksudnya... ntar ditraktir, ya, kak” hihihihi..

 

Nah, pertanyaan ini sebenarnya ga terlalu mengganggu aku waktu kuliah di Poltek. Alhamdulillah, lulus tepat waktu walau harus sidang ke-2. tapi, paling nggak aku nggak bayaran lagi, hehehe :D

 

Sebenarnya mengganggu saat ini adalah ketika aku ke luar kantor untuk kuliah tahun 2005. Hingga 3 tahun, aku belum juga lulus... :D, Sebenarnya nggak tahu juga, apa aku udah di-DO apa belum? Jadi sebenarnya ga sensi, sih, cuma malu ;p


Gimana kalau kamu jadi aku? Jangan tanya aku kapan lulus, ya? aku sendiri ga tahu... ;p




Blog EntryKetika Masyarakat BicaraFeb 25, '08 8:25 AM
for everyone
Sudah bisa ditebak ketika mengabarkan kehamilan kakak yang ke tiga. Heboh, seru dan ramai. Berbagai komentar yang sudah bisa diduga, seperti,
”Lha cepet bener, Kan anaknya masih kecil-kecil”
"Yee....


Kalau kita mau berpikir positif sebenarnya itu adalah sebentuk perhatian yang diberikan masyarakat kepada kita. Kalau ga perhatian, ngapain juga nanya.. ya kan? Tapi, pada satu sisi, kadang kita ga merhatiin kondisi psikologis lawan bicara kita.

 

Siklus pertanyaan mungkin bisa dimulai di sini.

Kapan lulus

Udah Kerja di Mana

Kapan Nikah

Kapan Punya Anak

Kapan punya Anak Ke-2

Dst...

Sampai Kapan Punya Mantu

Kapan Punya Cucu....

hihihihi

 

Dari list pertanyaan di atas... kayaknya aku sudah sampai taraf yang mana, ya? :D, huehehehe... Kalau kamu?

 

Bersambung

 

*maksudnya, sih mau dibahas atu-atu.. (mode iseng.com dan sok.nganggur.com)


Blog EntryAku Ingin Menjadikan PelajaranFeb 9, '08 3:02 PM
for everyone
Novi, tulisan kamu lebih seperti penyesalan masa lalu..

Aku kurang begitu ingat kata-kata salah satu temanku, tapi kurang lebih maksudnya begitu.

Hmmm, aku tak ada maksud menyesal walau aku tahu menyesal itu hadir belakangan...

Ketika aku menulis, aku ingin mengingat pada masa aku "bersalah" dan mungkin bisa aku perbaiki.

Ketika menulis masa lalu pun sama. Aku hanya ingin mengambil pelajaran dari masa itu. Aku mau mengambil hikmah dan coba mengevaluasi diri....

Seperti halnya ketika mengingat almarhum bapak...

Jujur, hingga kini aku selalu merindukannya, dan tak ada lagi yang bisa kuperbuat kecuali berdoa, dan meneruskan pelajaran-pelajaran dari dia.

Tapi, sebanarnya aku ga mau menyesal, aku ingin cari solusi agar di sana bapak bisa tersenyum... :)

Aku menjadikan menulis sebagai terapi.... walau memang tak bisa langsung mengobati...

Bukankah begitu banyak pelajaran dari masa lalu maupun masa kini... untuk kehidupan masa yang akan datang :)



Blog EntryGa Akan Aku Maafin...Feb 9, '08 2:49 PM
for everyone
Kata-kata itu keluar dari mulut seorang teman yang aku kenal sangat baik. Tidak pernah sedikit pun ke luar kata-kata kasar, atau tak pernah aku mendengar dia marah atau berteriak keras. Dia dengan sangat sabarnya menangani anak didik di pengajian IQro' di TK yang heboh, berisik dan macam-macam.

Rasanya sakit hati, Ga akan aku maafin.
Aku memang tak begitu tahu pokok permasalahannya, tapi kalau jadi dia, aku juga bakal sebel dan merasa sangat terzolimi. Tanah milik keluarga temanku diambil (apa ya istilahnya) oleh oknum dan tempat itu konon akan dibikin pasar. Aku ga tahu, gimana persisnya kejadian itu, tapi mereka tak ada yang membela. Adanya malah mendukung perebutan tanah yang telah mereka miliki sejak lama.

Temenku itu tampaknya sudah pasrah kalau tanah tersebut diambil. Tapi, dia tak lagi memaafkan.

Aku ingin sekali berempati.

Ingatanku kembali kepada masa-masa kecilku ketika bapak menulis 12 naskah buku pelajaran yang hanya dibayar Rp500.000 pada masa itu. Dibeli putus tanpa ada royalti lagi. Naskahnya pun naskah buku matematika yang bisa dibilang primer dan saat itu penerbit tersebut belum mempunyai buku matematika.

Aku memang tak tahu saat itu, ibu yang menceritakannya padaku. Bagaimana bapak berjuang untuk menghidupi kami. Terus menulis dan menulis, tapi begitu mudahnya orang tersebut menzholimi. Ingatanku akan teramat sangat buruk kalau mendengar nama penerbit itu. Jahat, pikirku saat ini. Apalagi, aku tahu benar kalau bapak menulis naskah dengan banyak pengorbanan. Kerja keras beliau yang nilainya begitu rendah.

Aaaaaaaaah, apa bapak atau ibu memaafkan mereka. Aku sendiri aja gemes banget. Hmm, tapi bukankah ada banyak hikmah di sana dan apapun yang terjadi Allah pasti membalasnya. Entah saat ini, nanti dan esok.

Katanya, minta maaf itu mudah, tapi memaafkan begitu sulit. Jujur, aku pernah pada masa "tidak memaafkan" kepada orang yang menyakitiku. Tapi, aku sadar, hal itu justru membuat isi kepalaku penuh dengan kebencian dan ketidaknyamanan...

Ada banyak cara untuk bisa memaafkan... dan aku pun masih belajar sampai aku juga memikirkan apa aku sudah dimaafkan oleh orang-orang yang kuzolimi.

Tapi, aku ga tahu apa aku akan bisa memaafkan kalau berada pada posisi temanku...

Sabar ukhti sayang :)





Blog EntryMakna PemberianJan 28, '08 9:28 AM
for everyone

Saat di metromini menuju tempat kuliah, saya menengok jendela luar. Hiruk pikuk kendaraan dan pejalan kaki mewarnai suasana siang yang terik. Selintas saya melihat seorang bapak dengan motor vespanya, terlihat di sana tergantung sebuah plastik. Saya tafsirkan, buah tangan untuk keluarganya di rumah.

Saya pun teringat almarhum bapak saya. Beliau sering membawa oleh-oleh untuk kami di rumah. Entah itu makanan, entah itu barang. Ketika mendapat makanan enak pada suatu acara, bapak mencari anak-anaknya untuk dibagikan kepada kami. Sebagai anak kecil kami sering menanti-nati kedatangan bapak. Bertanya-tanya, apa buah tangan yang akan beliau bawa untuk kami. Pernah juga ketika pulang, beliau membawa dua pasang sendal perempuan yang bagus.

Beranjak besar, saya mulai kuliah dan kos di Depok. Saya jarang pulang ke rumah. Setiap pulang ke rumah, saya sering memboyong beraneka makanan dan barang untuk saya pakai di kosan. Tapi, sesekali saya membeli makanan gorengan di perempatan dekat rumah. Gorengan di sana dijamin enak dan saya sering mampir ke sana ketika pulang kuliah dan waktu masih sore.

Sebenarnya tidak terlalu sering, tapi semenjak itu bapak yang biasa duduk di belakang meja tulisnya menanti-nanti oleh-oleh dari saya. Beliau tersenyum dan menanyakan oleh-olehnya. Hanya sedikit makanan kecil yang tak seberapa disambut dengan senyumannya.

Pernah suatu kali ketika ibu pulang kampung, saya menitipkan uang sebesar 20.000 untuk mbah. Beberapa tahun kemudian, dia menunjukkan kompor minyak di rumahnya yang dia beli dari uang Rp20.000 yang saya kasih. Jumlah yang memang tak seberapa, bahkan sewaktu saya belum kerja, mbah masih suka memberi uang kepada saya dan nilainya bisa lebih dari itu.

Kita bisa memberi apapun kepada orang yang kita sayang. Kita pun tak jarang menerima banyak pemberian. Mungkin kadang kita menganggap itu sepele, tapi di balik pemberian itu ada makna yang begitu indah tersimpan.

Tak aneh bila kita ingin mengikat lebih kuat ukhuwah kita dengan keluarga, saudara ataupun sahabat, kita di sarankan untuk saling memberikan hadiah.

Sebuah pemberian bisa mempunyai makna yang lebih walau mungkin nilainya tak seberapa.



http://www.eramuslim.com/atk/oim/8128010540-makna-pemberian.htm



gbr:

http://www.seriouseats.com/required_eating/images/potd-friedstuff.jpg

http://www.tokobagus.com/sendbinaryad.asp?pid=9024&Width=61&Height=61


Blog EntryKepulangan SelamanyaJan 2, '08 6:29 PM
for everyone

Kepulangan Selamanya



Pagi itu, seorang sahabat menelepon. Dia mengajak saya untuk silaturahim ke rumah seorang teman yang orangtuanya baru saja pulang haji. Saat itu kondisi saya sedang tidak sehat hingga tidak bisa ikut hadir. Jamaah haji Indonesia sudah mulai kembali ke tanah air. Ada beberapa sahabat saya yang juga menunaikan rukun iman yan

g kelima. Ada yang berangkat bersama suami dan mertuanya, ada juga yang bertugas sebagai guide bagi jamaahnya di yayasan dan ada yang berangkat bersama sang ayah.

 

Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang hamba ketika diberi kesempatan menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Rata-rata yang pernah saya dengar, mereka mengalami banyak hal di sana dan ingin kembali lagi ke sana. Bagaimana kekhusukan ibadah begitu indah. Bagaimana seluruh umat manusia berbondong-bondong untuk beribadah di masjidil haram dan masjid nabawi. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah, berziarah.

 

Kesyahduan ibadah begitu terasa. Berada di baitullah, sholat di masjid nabawi, thawaf, sa’i, wukuf, tahalul, menyembelih hewan kurban dan ritual haji lain yang menyimpan makna sangat mendalam.

 

Ketika orangtua kami diberi kesempatan menunaikan ibadah haji, saya dan kedua kakak saya begitu menanti-nanti kehadirannya. Selama sebulan penuh kami ditinggal. Saat itu saya masih SMU. Waktunya pembagian rapot saya menulis di buku diari, kalau orangtua saya yang mengambil, padahal jelas-jelas saat itu mereka berada di tanah suci. Saya benar-benar kangen dan ingin bertemu mereka. Beberapa kali, mereka menelepon, menanyakan kabar, mengingatkan untuk puasa pada hari arafah dan melepas rasa rindu yang membuncah.

 

Kepulangan mereka sangat dinanti. Sama halnya dengan kepulangan para jamaah haji yang dinanti sanak keluarganya. Kerinduan yang menumpuk dan keingintahuan sanak famili mendengar ragam cerita dari tanah suci.

 

Kedatangan mereka berdua benar-benar sebuah kerinduan yang tak terkira. Melihat kesegaran bapak yang rambutnya habis diplontos, dan ibu yang banyak cerita pengalaman di sana. Sebuah kebahagiaan melihat mereka sehat.

 

Saya jadi bisa merasakan kebahagiaan teman saya yang saat itu bercerita kalau orangtuanya akan pulang ke tanah air, akhir desember lalu. Bahagianya dia terlihat sama ketika menceritakan keberangkatan orangtuanya ke tanah suci. Dia sempat menuliskannya dan membaginya kepada kami.

 

Tapi, sanggupkah kita membayangkan ketika kedatangan jamaah haji dari Palestina justru disambut rentetan peluru dari pasukan zionis Israel.