novi khansa's posts with tag: bapakku
aku menang :D dari tulisan di sinihttp://wehaz.multiply.com/reviews/item/65/Dia_Inspirasiku_Terimakasih dan dapat buku iniberarti aku kudu belajar masak, yooooooooooooooo :)
diposting ulang untuk ikut ini
Bapakku Si Penulis
Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diary, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat hobi dan kesenangan ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja. Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain. Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.
Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.
Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana. Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.
Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.
Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.
========
21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangkat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.
Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.
Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.
Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.
Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya... Subhanallah
Si penulis itu Darul Muna, bapakku
*foto bapak mengetik :)
Tak Akan Pernah Mati Oleh: Novi Khansa Akhir masa kuliah, 2003 Tergopoh-gopoh saya berjalan menuju rumah kami. Sederhana, tapi penuh arti. Sebuah rumah yang dengan jerih payah seorang bapak bisa kami huni. Membuka pagar rumah, biasanya saya dapati sepeda motor bapak di sana. Pintu rumah akan terbuka dan terpampang jelas ruang tamu. Tidak ada yang menarik dalam rumah kami. Bahkan tak ada pajangan foto keluarga. Tapi, di sana ada sebuah meja tulis. Di balik meja itu, duduk seorang yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Di tangannya sebuah pulpen atau pensil. Di hadapannya, ada buku-buku, kertas, kalkulator, benda apa saja yang bisa mendukung tulisannya. Posisi meja tulis dan bapak yang berada di baliknya terlihat jelas ketika saya longokkan kepala ini. ”Assalamu’alaykum” hari masih sore ketika saya pulang dari Depok. Sebenarnya saya ngekos di daerah Pindok Cina, tapi untuk beberapa semester, saya memilih pulang. Bapak meminta saya untuk membantu mengetikkan naskahnya. Bapak terlampau tua untuk bisa hapal tombol-tombol kibord komputer. Bapak justru lebih terbiasa menggunakan mesin tik. Saya dapati senyuman sumringah di sana. Walau alisnya yang begitu tebal menyiratkan kegalakannya. Kumisnya yang biasa saja, entah kenapa mengurangi image ”galak” di wajah bapak. Hmm, untuk sementara, laki-laki berkumis yang saya sukai cuma bapak, hehehe :D. ”Oleh-oleh” ujar bapak melihat saya menenteng seplastik gorengan yang saya beli tak jauh dari rumah kami. Cuma ini, tapi bapak senang... Memang sudah beberapa kali, ketika pulang ke rumah dan masih sore, saya sempatkan untuk membeli gorengan. Entah, apa yang bapak pikirkan, dia selalu senang dengan kehadiran oleh-oleh itu, walau tak semua beliau makan. Padahal, untuk urusan oleh-oleh, bapak juaranya. Ketika pulang kerja, ada saja yang bapak bawa. Dari mulai beberapa pasang sendal perempuan, pakaian, makanan. Tak jarang, bapak memanggil kami ketika membawa makanan enak. ***  Saya tengah mengikuti pelajaran siang itu di sebuah SMU, ketika seseorang mengetuk pintu kelas kami. Bapak meminta izin, menjemput saya di sekolah. Bukan untuk sebuah kebutuhan mendesak, bukan untuk bepergian atau jalan-jalan atau bukan karena ada kabar buruk. Tapi, untuk sebuah keperluan yang bisa dibilang penting, yaitu membuat KTP. Bapak mengantar saya mengurus KTP di kelurahan dekat rumah kami, yang juga tak jauh dari sekolah saya. Lucu atau memalukan, entahlah. Pada usia yang terbilang dewasa, 17 tahun, untuk bikin KTP, masih dibantu bapak. :D Hmm, apa karena saya anak manja? Atau karena saya tidak juga mandiri. Sebagai anak bungsu, bisa dibilang curahan kasih sayang mengalir kepada saya. Hingga kakak perempuan saya yang pertama adalah pembela sejati di tengah rengekan saya dijahili orang (maklumlah, sewaktu kecil, saya adalah objek paling lemah untuk dibikin nangis orang :D). Dia akan berada di garda depan untuk berantem dengan siapapun yang mengganggu saya. Ingatan saya pun sampai ketika masih SMP, saya tak diperbolehkan untuk mengunjungi saudara saya di Tanjung Priok dengan ”menakut-nakuti” saya akan tindakan kekerasan yang terjadi di mana-mana. Tapi begitu besar, perlahan tapi pasti, bapak mulai menyerahi beberapa tanggung jawab ke saya. dari mulai membayar kredit rumah, menabung, ngantri membayar telepon. Mengantar buku ke sekolah-sekolah saat kami mempunyai toko buku. Semua itu pun tak terjadi begitu saja. Bapak akan mengawalinya terlebih dahulu, memberi contoh kepada saya. Di sini tempat menabung, ini formulirnya, di sini bank tempat membayar telepon. Kamu naik kendaraan ini untuk ke sana, kemudian yang ini, dll. Hingga, masalah kesehatan. Sewaktu SMU saya pernah harus bolak-balik Rumah sakit untuk check up. Tentu saja diawali dengan terlebih dahulu, bapak mengantar saya, menemani saya ketika diambil darah dan mengambil obat di apotik khusus pengguna Askes. Selanjutnya saya pun dilepas. Tidak hanya itu. Untuk urusan saya mengikuti lomba mengarang antar sekolah, bapak yang membimbing dan mengajari saya hingga kemudian saya mewakili tingkat kelurahan. Ketika saya mengikuti lomba baca puisi saat 17an, bapak juga yang membuatkan teksnya. Aah, begitu teraturnya, hingga sering luput dari ingatan saya. Secara tidak langsung, bapak menyuruh kami untuk mandiri, tapi selalu memberi contoh dan membimbing. Tapi, entah kenapa di masa-masa saya beranjak dewasa, saya justru melihat bapak sebagai sosok yang otoriter, keras, galak, dan tidak menyenangkan. Kami semua harus ikut aturan beliau. Dari A sampai Z. Dari mulai sekolah mana kami harus mendaftar hingga memilih jurusan. Saya pun pernah pada taraf kecewa, sebal dan membangkang. Merasa bapak kolot dan kurang pengertian hingga masa-masa itu hadir. Masa di mana saya memilih sendiri tempat kuliah, masa akhirnya saya bisa bebas tinggal ngekos di Depok. Masa saya tak perlu ikut terlalu banyak aturan beliau. Saya merasa bebas untuk sementara waktu. Bebas dalam arti saya boleh sesuka hati tak datang kuliah, atau mungkin hadir 15 menit sebelum dosen ke luar. Saya juga bisa saja tidak pulang ke kos tanpa orang rumah mengetahuinya. Tapi, siapa sangka, kebebasan itu tak sepenuhnya saya nikmati. Tanpa terpaksa, saya tetap melaporkan keadaan saya yang nyaris masuk aliran tak jelas, keikutsertaan saya di seminar muslimah, dan cerita-cerita lain yang akan membuat saya terdiam. Ternyata, saya masih sangat membutuhkan beliau. Saya tetap masuk dalam wewenang beliau, dan tak bisa sembarangan. Beban nilai memuaskan dan IP yang baik, kembali membawa saya untuk ada di dekatnya. Hingga, salah satu hal pertama yang saya lakukan setelah ke luar sidang tugas akhir adalah menelepon bapak. Saya lulus... dapat nilai B. *** Januari 2004 Saya memandangi wajah bapak. Tubuhnya kini telah terbungkus kain kafan. Menangis? Jangan tanyakan itu... berember-ember mungkin sudah saya keluarkan air mata ini. Belum lagi saya mendapat tugas menghubungi saudara dan kerabat bapak untuk berita duka ini karena mungkin saya dianggap lebih kuat. Yah, saya mampu berjalan ke pasar untuk beli peniti ketika teras depan akan dijadikan tempat memandikan jenazah bapak. Saya masih mampu mencari-cari kamper dan saya masih dalam keadaan sehat, tanpa pingsan di sini. Hanya saja saya tak sanggup tidur dan makan. Satu setengah bulan silam. Saya masih melihat senyum itu. Bapak dan ibu berjalan beriringan, tersenyum sumringah menghadiri wisuda saya. Mereka berpakaian dengan motif batik yang sama. Rupanya itu jadi momen terakhir kebersamaan kami hingga bapak mengalami kecelakaan motor yang merenggut nyawanya. Menghempaskan banyak harapan dalam diri saya. Penyesalan pernah mengecewakan, membantah hingga diam-diam saya ke luar dari pekerjaan membuat saya terpuruk. Seolah hari-hari selanjutnya begitu suram. Saya sempat sakit, menangis-nangis di malam-malam rindu pada bapak. Bapak seperti hilang, padahal baru pagi itu bapak menyerahkan naskah ke saya. Baru tadi pagi bapak senyum. Rasanya, baru kemarin bapak menggendong saya dari lantai atas rumah kami. Atau, ketika kami mengobrol dari A hingga Z. Atau ketika kami shalat berjamaah. Baru kemarin rasanya bapak mengajak saya jalan-jalan, naik kuda. Membawakan kue, oleh-oleh dan memberikan bunga ketika saya wisuda. Baru kemarin.... rasanya. tapi kini dia seperti menghilang... Kini yang bisa saya pandangi hanya nisan bertuliskan namanya. Selama berbulan-bulan saya masih terus mengingatnya. Kadang tiba-tiba teringat dan menangis. Bahkan, ketika saya diberi kesempatan terindah dari-Nya untuk menunaikan ibadah di tanah suci pada bulan Ramadhan, di tahun yang sama meninggalnya bapak. Saya selalu merasa ditemani. Saya merasa bapak ada di dekat saya. Hingga pada keputusan, saya harus banyak belajar sekembali ke tanah air dan Allah mewujudkannya dengan saya diterima di sebuah pesantren terbuka di Jakarta Pusat. Lagi-lagi, saya dihadapkan untuk terus mengingatnya. *** Dari ujung jalan itu, saya akan sambangi rumah kami. Suasana sore yang saya sukai sejak dulu. Rumah ini ada di jalan buntu, tak banyak kendaraan hilir mudik. Beberapa anak kecil tengah bermain. Mbak-mbak khadimat mengejar-ngejar sambil menyuapi nasi. Saya lewati mereka dengan perasaan bahagia. Mau ke mana pun saya pergi, pasti kembali ke sini. Ke rumah yang begitu banyak menyimpan mimpi, cita dan harapan saya. Sudah 25 tahun lebih saya ada di sini. Sempat berpindah rumah dalam satu gang dan kemudian menetap. Ketika langkah ini memasuki rumah, kenangan itu kembali. Bapak menanti saya di sini. Ruangan itu kini memang berbeda. Setelah bapak meninggalkan kami, seting rumah kami dirombak. Memang tak ada pernyataan apapun dari ibu. Meja tulis bapak dibawa kakak ke tokonya. Ruang makan dirombak, disatukan dengan ruang tamu. Tak ada lagi pemandangan bapak sedang menulis di balik meja tulisnya. Segalanya diubah. Tapi, tetap ada sesuatu yang tertinggal. Kenangan indah bersamanya. *** Hingga bertahun-tahun kemudian saya memilih untuk bekerja di rumah. Tak jauh dari tempat bapak menulis, saya tengah mendesain buku, me-retouch gambar, menulis esai, puisi ataupun cerpen. Di sini, di tempat yang tak jauh, saya rasakan semangat bapak menulis puluhan naskah buku sekolah di saat yang sama. Di malam-malam syahdu saat saya belajar membaca dan menulis, saat kami bertukar pikiran tentang politik, saat saya mulai menunjukkan tulisan saya, puisi-puisi yang tak pernah sekalipun saya publikasikan saat beliau masih ada. Terkadang, ketika saya harus bergulat dengan mata kuliah yang berat, bahasa arab yang susah, hafalan yang tak maju-maju. Ketika, saya menemukan begitu banyak buku yang saya butuhkan untuk kuliah di lemarinya. Tiba-tiba satu demi satu buku itu hadir, dan saya cuma bisa terbengong-bengong. Ataupun ketika saya mendapat order buku yang menarik atau ketika saya usai membuat tulisan, dan banyak lagi. Rasanya saya ingin bercerita pada bapak. ”Pak.. pak.., Tapi akhirnya saya hanya akan diam. Berandai-andai, bapak ada di dekat saya hingga akan mengalir 1001 satu kisah akan cita-cita dan hobi yang sama. Pertimbangan-pertimbangan dan penilaian yang akan saya butuhkan. Hhh... hingga tangis saya mengalir. Kangen... Hingga, saya mulai menyadari... kalau bapak memang telah pergi, tapi saya yakin beliau tetap di sini. Di hati ini. Cinta, perhatian dan semangat yang tak akan pernah mati. 23 Juni 1949-21 Januari 2004 Saya persembahkan untuk Almarhum Bapak... Cintanya takkan pernah pudar Semangatnya kan selalu membara *foto ketika aku diwisuda sebenernya ada aku dan ibu, tapi kami tak sadar kamera dan wajahnya lagi aneh :D
Saat di metromini menuju tempat kuliah, saya menengok jendela luar. Hiruk pikuk kendaraan dan pejalan kaki mewarnai suasana siang yang terik. Selintas saya melihat seorang bapak dengan motor vespanya, terlihat di sana tergantung sebuah plastik. Saya tafsirkan, buah tangan untuk keluarganya di rumah. Saya pun teringat almarhum bapak saya. Beliau sering membawa oleh-oleh untuk kami di rumah. Entah itu makanan, entah itu barang. Ketika mendapat makanan enak pada suatu acara, bapak mencari anak-anaknya untuk dibagikan kepada kami. Sebagai anak kecil kami sering menanti-nati kedatangan bapak. Bertanya-tanya, apa buah tangan yang akan beliau bawa untuk kami. Pernah juga ketika pulang, beliau membawa dua pasang sendal perempuan yang bagus. Beranjak besar, saya mulai kuliah dan kos di Depok. Saya jarang pulang ke rumah. Setiap pulang ke rumah, saya sering memboyong beraneka makanan dan barang untuk saya pakai di kosan. Tapi, sesekali saya membeli makanan gorengan di perempatan dekat rumah. Gorengan di sana dijamin enak dan saya sering mampir ke sana ketika pulang kuliah dan waktu masih sore. Sebenarnya tidak terlalu sering, tapi semenjak itu bapak yang biasa duduk di belakang meja tulisnya menanti-nanti oleh-oleh dari saya. Beliau tersenyum dan menanyakan oleh-olehnya. Hanya sedikit makanan kecil yang tak seberapa disambut dengan senyumannya. Pernah suatu kali ketika ibu pulang kampung, saya menitipkan uang sebesar 20.000 untuk mbah. Beberapa tahun kemudian, dia menunjukkan kompor minyak di rumahnya yang dia beli dari uang Rp20.000 yang saya kasih. Jumlah yang memang tak seberapa, bahkan sewaktu saya belum kerja, mbah masih suka memberi uang kepada saya dan nilainya bisa lebih dari itu. Kita bisa memberi apapun kepada orang yang kita sayang. Kita pun tak jarang menerima banyak pemberian. Mungkin kadang kita menganggap itu sepele, tapi di balik pemberian itu ada makna yang begitu indah tersimpan. Tak aneh bila kita ingin mengikat lebih kuat ukhuwah kita dengan keluarga, saudara ataupun sahabat, kita di sarankan untuk saling memberikan hadiah. Sebuah pemberian bisa mempunyai makna yang lebih walau mungkin nilainya tak seberapa.
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8128010540-makna-pemberian.htm
gbr: http://www.seriouseats.com/required_eating/images/potd-friedstuff.jpg
http://www.tokobagus.com/sendbinaryad.asp?pid=9024&Width=61&Height=61
Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diari, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat "bakat" ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja. Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain. Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.
Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.
Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana. Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.
Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.
Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.
========
21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.
Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.
Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.
Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.
Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya... Subhanallah
Si penulis itu Darul Muna, bapakku
*foto ketika aku masih umur setahunan ;)
Dan Juga untuk Bapak novi_khansa
 Beberapa hari lalu, kita sama-sama tahu kalau diperingati hari ibu. Saya dengan sangat antusias menulis tentang ibu. Betapa saya sangat mencintainya. Sosok panutan dan sahabat bagi saya hingga sering saya tak sanggup merangkai kata untuk menggambarkannya. I luv my mom... so much. Saya ingin seperti dia. Saya ingin menjadi dia… saya ingin membahagiakan dia, saya ingin mewujudkan cita-citanya. Tapi kemudian saya sadar, dia tak lengkap tanpa sosok bapak. Lalu, kenapa tidak ada hari bapak? He, pertanyaan standar anak kecil yang hingga kini tak mampu saya jawab. Sosoknya juga panutan, juga sahabat... mengingatnya menguras air mata saya, mengajak saya terus berpikir dan malu. Rasanya tak akan sanggup untuk mengikuti jalan hidupnya. Keras, lelah dan prihatin. Aaah, lagi-lagi saya akan cengeng mengingat ini semua. Ada perasaan menyesal menyembul di dada saya hingga hari ini rasanya pikiran itu masih ada. Dahulu, ketika beliau masih ada, saya sering memprotesnya, tidak menerima argumen darinya, tidak segera menunaikan perintahnya, beberapa kali bentrok, hingga saya punya keinginan untuk kabur dari rumah. Saya sering merasa bapak saya kolot, terlalu keras, dan memaksakan kehendak. Yah, pikiran anak yang memasuki masa-masa SMU. Pikiran seorang anak yang egois, mau menang sendiri dan merasa orangtua tidak pernah mengerti. Walau kemudian akhirnya, kesadaran itu hadir ketika tinggal terpisah dengannya sewaktu kuliah dan waktu membantu saya mengenal dirinya. Sering merasa hanya bisa tertegun ketika mendengar kisah hidupnya. Mencoba mengaitkan begitu iritnya beliau ketika mengeluarkan uang. Begitu kerasnya didikan kepada anak-anaknya dan banyak hal yang ternyata baru saya ”baca” di kemudian hari. Ternyata, beliau menginginkan yang terbaik untuk kami. Klise memang... tapi memang begitu. Ketika beliau pergi, rasanya sebagian dari diri saya hilang. Saya merasa tak sanggup lagi berdiri sambil terus bertanya-tanya. Sambil terus merasa tak percaya. Bagaimana tidak, hingga akhir hayatnya, beliau masih menyisakan 2 naskah revisi yang harus saya ketik. Setiap huruf-huruf yang tereja, seperti berbicara pada saya. Begitu juga, dengan banyaknya benda peninggalan beliau. Lemari buku dengan koleksi buku yang jumlahnya entah berapa, tulisan-tulisan di agenda ketika dia berhaji, bekerja, berorganisasi, baju koko, sarung dan pecinya, setumpuk naskah buku sekolah, dll. Semua gerak-gerik beliau di rumah seperti terekam kembali dalam setiap ingatan saya padanya. Ketika dia menulis, ketika dia membaca, ketika dia mengimami shalat, ketika dia menggendong saya dari lantai atas saat saya masih kecil. Obrolan kami di malam-malam ketika menemani saya menulis angka semasa SD hingga obrolan politik ketika saya sudah beranjak dewasa. Hingga senyumannya ketika saya wisuda, satu setengah bulan sebelum kematiannya. Kalau mengingat semua, rasanya menyesal. Bukan menyesal dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Tapi, menyesal karena saya merasa belum memberikan yang terbaik kepadanya. Menyesal, karena pernah membantahnya, menyesal karena sering debat dengannya, menyesal pernah kabur dari rumah, (walau akhirnya cuma numpang tidur di rumah kakak), menyesali tingkah polah saya yang pernah membuatnya marah. Saya merasa diri ini belum menjadi anak yang baik dan sesuai harapannya. Tapi, bukankah masih ada waktu. Berbagai kesempatan untuk menjadi anak yang solehah. Kesempatan untuk meneruskan cita-citanya, memanfaatkan warisan ilmu darinya. Tentunya kesempatan untuk lebih mencintainya... dengan kondisi saat ini... Hmmm, kali ini... hari ibu tak hanya saya dedikasikan untuk ibu tercinta, tapi juga untuk bapak... Tanpa memperingatinya tentu saja hal itu harus tetap ada.
Kubiarkan diriku tertidur di atas lantai Pipiku menyentuh dinginnya lantai Kubiarkan diri ini tertidur sejenak Ingin bermimpi Rasanya begitu damai... Rasanya tenang... Ada suara-suara berisik aku bangkit dan berpindah Kini aku tertidur di atas kursi panjangsebuah bantal menyanggah kepalakutenang...damai...di sini lebih enak...rasanya tak ingin bangun lagikalau aku bangun...aku tak lagi bisa bermimpiada di sebuah taman yang indahsegalanya begitu menyenangkanada sebuah suara...merdu, seindah hatinya...suara ibu... suara cintakuterbangunku...melihat sosok itusecangkir kopi rasa moca terhidangsecercah harap dan seindah cinta wajah ibu*terima kasih ibu, kau membangunkanku dari mimpi-mimpi...memberiku kesadaran "hidup" yang begitu menakutkan, penuh kepalsuan tapi juga ada hikmah yang berserakan dan sejuta cinta yang selalu kau berikan untukku.*Bapak... bukan dengan penyesalan aku mengingatmu, tapi dengan cinta... Aku insya Allah ikhlas, tapi sesekali merindukanmu, sesekali aku ingin bercerita kepadamu. Dirimu pasti tak ingin aku berlarut dalam sedih dan pilu ditinggalkanmu. Bapak pasti ingin aku terus beribadah dengan sebaiknya, berkarya... berbuat baik dan bermanfaat bagi umat. Dengan cinta kuingin mengingatmudengan rindu kusebut namamu...dengan semangat kau dorong aku...Aku ingin menjadi amal jariyahmu....aku juga ingin membalas berjuta cinta darimu dan ibu...
*pagi ini dengan secangkir kopi rasa moca dan senyumku 
****************************************keep moving forward
Semalaman, seharian saya berpikir keras. Ga persis juga, sih selama itu karena saya juga tetap bekerja dan pergi bersama mbak dan bertemu adek didik Khansa :D untuk masalah kerjaan. Tapi, jujur, hampir sehari dan semalaman ini saya berpikir keras pada suatu hal. Yang akhirnya diakhir dengan menulis sebuah surat. Entah akan disampaikan lewat merpati atau dunia yang maya, atau disampaikan lewat hati.
Ada perasaan lega menyelimuti, ada perasaan gamang karena membacanya berarti membuka masa lalu dan tentunya membuka luka lama.
Berkali-kali berpikir pada diri saya, Saya itu penuh kenangan... penuh dengan harapan dan mimpi.
Ups..., tanpa sadar semua kenangan terhapus. Apa yang harus diingat dan dikenang lagi. Kalau ternyata itu menyusahkah. Perlu pengorbanan untuk menghapusnya, mengingat tanggal demi tanggal yang ada, waktu dan kejadian.
Keep moving forward...
Terus berjalan... Tapi saya adalah seorang yang menghargai sesuatu yang harus saya kenang...
Jangan menengok ke belakang terlalu lama Tapi saya ingin lama berada pada posisi kenangan indah, mengingatnya begitu nikmat... seperti kembali berada di sana.
Hei, tapi kamu tak akan pernah kembali ke masa itu... Lari, saya terus berlari, terkurung dalam ruang tak bisa maju dan mundur... "Ok", saya berkata, "Saya memilih maju" jawab saya setengah hati. Pintu terbuka dan saya keluar dan maju.... Sebuah cermin masa lalu menghampiri, saya pucat ketika menatapnya... saya sakit... "ayo tinggalkan cermin itu, tak ada gunanya melihat" bisik suara itu. "Terus berjalan..." bisiknya lagi.
Saya berjalan, sepi.... berat. Oh rupanya saya masih menyimpan, lembaran masa lalu saya yang penasaran, sakit hati, minder, malu, benci, ingin ini itu dan banyak lagi. Saya taruh pelan-pelan tas berisi lembaran yang banyak itu, saya tinggalkan dengan berat hati... dah hei, ringan, lepas... Hei, saya mampu terbang, saya berlari, melompat, yeah dan terbang...
Saya tatap, lembaran yang banyak itu... ada bisikan lagi... "kamu boleh sesekali menengoknya ketika kamu benar-benar butuh, tapi saya tak akan biarkan kamu berlama-lama di sana" "Kenapa?" "Dirimu dengan kenangan yang melenakan dan menyakitkan akan menyerang kamu" "Kamu mau?" "Tidak"
Saya terus terbang hingga menemukan sebuah ruang yang indah, penuh buku, ada komputer, ada sampul plastik, kemudian saya menyampul buku-buku itu. Saya sangat senang. Tapi, tiba-tiba, terselip dalam sebuah buku, foto seseorang yang saya cintai... Menatapnya membuat saya makin rindu. "Hei, apakah ini sebuah kenangan?" tanya saya "Iya... itu kenangan" jawab suara itu. "Boleh saya menyimpannya" tanya saya dengan harap, kuatir tak diperbolehkan. "Tentu saja boleh..." Senyum saya kemudian kembali lepas... "Kenapa?" "Karena ini berbeda, tak akan menyakitkanmu, tak akan melenakanmu, tapi justru membuat kamu terus bersemangat"
Saya ambil foto itu dari selipan di buku. Saya pandangi wajah almarhum bapak saya. Saya akan mengenang hal indah dengannya... Saya letakkan foto itu di atas sebuah komputer. JAdi, ketika saya bekerja, saya akan terus dengan mudah memandanginya. Miss u, Pa... dan hei, lihatlah di sana, Ibu, mbak&suami, abang, dan ketiga bocah tertawa pada saya, menunggu saya untuk ikut bersama mereka... "Tunggu saya"
Saya akan terus berjalan... berjalan, saya tak mau melihat terlalu lama ke kaca spion... tapi hanya sesekali... saya akan terus berjalan menatap masa depan saya. Kebahagiaan saya saat ini.
Keep moving Forward*
*moto lewis dalam film Meet The Robinson
MENJADI GURU "Apa cita-cita kamu, Nov?" "Cita-cita saya menjadi Guru" Terucap begitu saja, ingin begitu saja. Saya suka menjadi guru dan ingin menjadi guru. ------------------------------- Sejak SD saya memang sudah bercita-cita menjadi guru karena bapak saya adalah guru, beliaulah guru pertama saya. Hampir tiap malam, bapak mengajarkan saya. Saya menulis angka yang banyak, kemudian, bapak menilai. Belajar membaca pun dari bapak. Saya ingin seperti bapak. Bapak telah menjadi guru SD sejak tahun 1974 sampai kemudian beliau jadi kepala sekolah, beliau tetap mengajar hingga kemudian tahun 2004, Bapak dipanggil Allah SWT. Cita-cita saya tetap menjadi guru dari SD, SMP, hingga SMU. Ketika SMU, saya mulai menyukai pelajaran Ekonomi dan akuntansi. Jadi, kalau nanti harus jadi guru bidang studi, saya ingin menjadi guru ekonomi-akuntansi. Kemudian ketika UMPTN (sekarang: SPMB), saya memilih UNJ dan UNS pada bidang pendidikan ekonomi-akuntansi. Sayangnya, saya tidak diterima UMPTN. Cita-cita saya menjadi guru pupus begitu saja. Saya kemudian berkuliah di Politeknik, Jur. TGP, prog studi penerbitan. Obsesi saya tetap menjadi guru. Kemudian saya mengajar anak-anak kurang mampu dalam wadah Anjangsana Sosial TGP hingga saya naik jabatan menjadi pembuat kurikulum... Saya sempat ingin kuliah dobel di sebuah PGTK/SD, tapi tidak jadi. Karena kuliah saya lumayan menyita waktu dan saya harus kos saat itu. Lama kelamaan, obsesi itu mulai pupus dan saya mulai menyukai bidang penerbitan, seperti editing dan desain grafis. Saya mulai menikmati dunia saya yang baru. Saya suka menulis, mengedit dan me-lay-out serta mendesain. Masih tak jauh memang dengan profesi bapak yang penulis. Tapi, dalam lubuk hati saya, saya masih ingin menjadi guru. Saya pikir guru adalah pekerjaan mulia. Ilmunya akan terpakai turun temurun dan bisa menjadi "ilmu bermanfaat" kelak berguna ketika saya meninggal nanti.
Akhirnya, setelah aktif di dakwah sekolah dan kampus, saya mulai memegang binaan, statusnya mirip menjadi guru. Saya sempatkan mengisi kajian dan pengajian kelas, dan kalau perlu "mencari binaan". Saya tetap ingin menjadi guru. Kamis kemarin saya diberi kesempatan untuk mengisi materi SANLAT di SD kelas 4, & 5. Saya memegang dua kelas pada 2 jam pelajaran. Materinya siroh, al qur'an, ibadah dan akhlak. Saya mendapatkan pengalaman berharga di sana. Saya banyak melihat wajah-wajah ceria, enerjik, penuh ingin tahu dan nakal. Saya sangat senang dan itu pengalaman berharga bagi saya. Tapi, saya mesti merelakan suara saya yang menjadi serek... Wah ternyata, ada satu yang kurang yang saya tidak terlalu memikirkannya. Guru butuh modal suara. yah, kalau ga ada suara, mau ngomong apa. Apalagi, murid-muridnya anak SD yang berisik, ramai dan penuh ingin tahu. Kalau ketika saya mengisi kajian, objeknya hanya sedikit dan lesehan, tetapi di kelas yang penuh, saya harus punya modal suara. Terbayang, kalau setiap hari saya harus "berteriak-teriak" ketika mengajar, apalagi bulan puasa begini. Padahal, semenjak kerja di rumah, bisa dibilang saya jarang “bersuara”, komunikasi mengeluarkan suara hanya via telpon karena tak jarang saya lebih sering chat dengan klien, teman atau berkirim-kirim email. Salut, untukmu para guru. Dua jam dalam kelas saat itu saja membuat saya sempat demam panggung, dasar saya yang cuek, kepedean atau bodok ama, saya terus "ngomong". Alhamdulillah, saya ga dicuek-cuekin amat, dan ada beberapa anak, dalam waktu 2 jam "nyantol" ke saya dan berusaha berakrab-akrab dengan saya. Tapi, ketika mengisi jam kedua di kelas lain, energi saya mulai berkurang, suara saya pun mulai habis. Makin salut saja saya dengan para guru. Saya sempat kehabisan bahan saat itu, tapi Alhamdulillah, pukul 11.00 saya telah melewati hari mengajar saya dengan menyimpan pengalaman yang berharga dan tak terlupakan. Saya sempat meminta mereka menulis dan ternyata anak SD itu jarang yang suka menulis. Mereka berkeluh kesah dan menawar waktu dan jumlah baris yang akan mereka tulis. Saat itu mereka saya minta menulis "surat cinta" kepada Allah, Banyak yang bertanya ini dan itu dan bingung untuk menulis apa, tapi akhirnya, jadi juga tulisan mereka. Jujur, penuh ekspresi dan khas anak-anak. Tulisan itu menjadi kenangan berharga bagi saya mengenal anak-anak SD yang lucu, penuh potensi dan energik. Saya sangat senang sekali hari itu karena akhinya saya tahu rasanya jadi guru SD dan mengingatkan kembali diri saya ketika menjadi murid. Hei, saya salut dengan semua guru di mana pun, dalam bentuk apapun... dalam wadah apapun. Saya sadar, sebagai murid saya bukan anak teladan karena saya pernah bolos, madol, tidur di kelas, membaca majalah dan kenakalan khas lainnya. Yups, saya tetap ingin menjadi guru untuk anak saya kelak, untuk para binaan, untuk semua... Selamat dan terima kasih para guru... Untuk Bapak saya, guru pertama saya, guru untuk semua... ilmu yang kau beri senantiasa terpatri dalam dada saya. Untuk semua guru-guru saya di SD, SMP, SMU, Poltek, Pesantren BIK maafkan saya yang penah bolos, penah bandel dan tidak menjadi murid yang baik dan susah diatur. Untuk para guru kehidupan... siapapun bisa menjadi guru bagi saya Jasa kalian tiada tara semoga Allah membalas dengan pahala yang berlimpah.
Sekaligus mengenang Pak Hardjana, Dosen di TGP, Poltek, pengajar mata kuliah Pernaskahan yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Beliau adalah guru yang patut dikagumi, hingga usia tua, belia masih mengajar dan mentransfer ilmu kepada kami. Maafkan saya pernah datang 15 menit sebelum kuliah usai. Kini saya sangat menyesali...
Pelajaran Bahasa Indonesia Sejak SD saya sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan saya pernah ikut lomba mengarang mewakili sekolah, dan Alhamdulillah, saya dapat juara harapan I dan kemudian mewakili tingkat kelurahan untuk jenjang selanjutnya. Sayang, hanya sampai situ dan saya kalah. Tapi, itu jadi pengalaman berharga bagi saya. Ketika SMP saya masih rajin mengikuti lomba yang berbau bahasa Indonesia. Saya mengikuti lomba pidato. Dua kali selama dua tahun berturut-turut pada kedua lomba itu saya meraih juara 3 dan 2. Salah satu hadiah lomba adalah buku EYD. Saya sempat kecewa, hmm… dipikirnya apa? Abis saat itu bungkus dari hadiah itu bergambar logo salah satu bank milik pemerintah… hehehe, kirain dapet tabungan, tahunya cuma buku tipis EYD..;) Kemudian saya diminta mewakili sekolah untuk lomba membaca cerita karena tidak ada lomba pidato. Saya termasuk tak diunggulkan, tapi alhamdulillah, saya meraih juara harapan 2. ada seorang teman yang berujar. “Kalau Novi menang, berarti Rika juga menang” Hmm… terserahlah… Ketika upacara sekolah, saya mendapat kehormatan menerima piala yang saya dapatkan ketika lomba dari kepala sekolah. Saat itu bukannya saya senang, tapi saya sedih. Bagaimana tidak, saya sudah pernah juara lomba pidato dan akhirnya mewakili sekolah dan menjadi juara harapan dua lomba baca cerita, tapi nilai bahasa Indonesia saya malah 6. Miris dan mengesalkan. Kenang-kenangan berupa piala dari lomba itu pun harus saya serahkan ke sekolah dan sebagai gantinya saya akan mendapat piagam, tapi hingga lulus saya tak mendapatkannya. Ketika SMU, ada pelajaran membuat resensi. Saya membuat resensi dari buku cerita sweet valley serial misteri yang sedang saya baca. Jadi, saya semangat sekali membuatnya. Menurut saya, isinya resensi biasa saja, tapi tahukah apa yang membuat saya shock. Saya dianggap menjiplak resensi dari koran. Padahal bener, deh itu hasil karya saya sendiri. Teman-teman saya yang jelas ngambil dari koran, kok malah ga ketahuan. Akhirnya, dengan keberanian, saya mengajukan protes ke guru bahasa Indonesia dengan membawa bukti buku yang saya resensi. Yah, dia mengakui kesalahannya, tapi kembali mencari kesalahan saya. Hmm… oke,deh bu.. saya ambil hikmahnya… mungkin karena resensi saya cukup keren makanya ibu nyangka ini jiplakan, padahal ini hasil karya asli…. ;) Pelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran berkesan buat saya. Dari almarhum bapak juga saya jadi menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau banyak membantu saya ketika lomba mengarang atau lomba apapun yang saya ikuti, pusi, pidato, dll. Anehnya, saya tak pernah berharap kuliah atau sekolah jurusan sastra. Saya hanya suka menulis dan itu sudah cukup. Apalagi, ketika SMU saya malah tertarik pelajaran akuntansi. Rupanya, skenario Allah itu benar-benar tak terduga, setelah gagal ikut ujian UMPTN (sekarang SPMB), saya diterima masuk jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Program studi Penerbitan di Politeknik Negeri Jakarta (d.h. Poltek UI). Mata kuliah yang disajikan berhubungan dengan Penerbitan, termasuk di antaranya mata kuliah Bahasa Indonesia dan yang berbau bahasa Indonesia, seperti pernaskahan, penyuntingan naskah, teknik penulisan dan lain-lain. Buku EYD hadiah ketika saya juara 2 lomba pidato menjadi sangat berguna bagi saya. Sekarang, kalau memandangi buku itu dan membuka lembaran demi lembaran, saya cuma tersenyum saja, apalagi di sana ada catatan-catatan saya dari SMP hingga kuliah dan masih saya pakai hingga kini ketika sedang mengedit naskah. Terimakasih pak guru, bu guru… :)
ketika mata ini menatap komputer
ketika jemari ini terus bergulir...
kuingat beliau
ketika ada naskah menumpuk di hadapanku
ketika rentang deadline semakin mendekat
kuingat beliau
segala tentang beliau melekat hebat di hati ini
segalanya tentang beliau terus terbayang di ingatan....
Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiroh...
Ya Allah, ampunilah dosa bapakku, lapangkan kubur beliau, terimalah beliau di sisi-Mu, tempatkan beliau di surga-Mu.
Jadikan aku dan kedua kakakkku anak yang soleh dan solehah... hingga kami bisa menjadi amal jariyah yang tak henti buat bapak...
Jadikan kami mampu meneruskan cita-cinta bapak...

BUKAN DENGAN PENYESALAN Noviyanti Utaminingsih Andai aku tahu kalau momen wisuda adalah momen membanggakan terakhir dalam hidupnya... Andai aku tahu keluarnya aku dari pekerjaan adalah sesuatu yang menyakitkan bagi dia... Andai aku tahu naskah-naskah yang ditulisnya malam itu adalah naskah terakhirnya... Andai aku tahu pada hari itu adalah pernyataan maaf terakhirnya kepada ibu... Andai aku tahu......... *** Bila kutahu bapak sangat bahagia ketika aku diwisuda... Aku akan terus memerhatikan mimik dan cara dia menatapku dengan kebanggaan, menyimpan momen itu dalam salah satu lembaran terindah dalam hidupku... Bila kutahu ketika kuputuskan keluar dari pekerjaan adalah hal yang menyakitkan... Aku tak akan keluar dari pekerjaan, menyingkirkan rasa egois dan bertahan di tempat yang kurang aku sukai demi senyuman kebanggaannya... Bila kutahu naskah itu adalah naskah terakhirnya... Aku akan memegang erat naskah itu dan menuliskan dengan sebaik yang aku bisa. Tak akan menunda tugas-tugas yang diberikannya dan berusaha untuk tidak mengecewakan karena keegoisan dan kemalasanku... Bila kutahu ucapan maaf pada ibu adalah pertanda... Aku akan memeluknya erat dengan penuh rasa cinta kasih dan tidak akan membiarkan dia pergi... Tapi aku tak tahu dan tak pernah tahu kalau hari itu dia akan pergi untuk selamanya... *** “Bapak, sudah meninggal, Nop” Ujar buleku saat itu di ruang resustasi, IGD, RSCM Jakarta. Baru saja aku mengambil sarung di tas yang aku letakkan di sudut ruang itu, bapak sudah menghembuskan napasnya untuk terakhir kali. Aku cuma diam tak percaya, seolah bumi berputar begitu cepat. Ingin rasanya pingsan. Aahhh..., tapi belum berapa detik aku merasa terhempas dari tubuhku, kakak perempuanku, mbak pipit, sudah memanggilku “Nop, ibu, Nop....” Aku pandangi ibu yang terus berucap “Bapak baik, ya Nop, bapak baik...” Aku hampiri beliau yang tengah terduduk. Menenangkan dirinya. Saat itu, aku seperti tidak punya waktu sendiri tenggelam dalam kesedihanku. Aku melihat semua orang di ruang itu, ibu, bude, pakdeku, kakakku yang tengah bersedih dan terisak-isak.... Aku seperti tidak bisa merasakan kesedihanku. Aku dalam kesadaran menatap semua orang menangis, aku sendiri seperti tidak mampu. Ya Allah kuatkan aku... Ya Allah, beliau benar-benar sudah pergi... begitu cepat, sangat cepat padahal baru tadi pagi bapak berpamitan... *** “Nov, ayo makan” ujar tetanggaku. Dari semalam aku sudah tak makan. Aku tidak bisa makan. Kuterima makanan itu dan mencoba melahapnya. Sesekali teman-teman menghiburku dan mengajakku bicara. “Lihat Novi begini, jadi tenang...” “Alhamdulillah, lihat Novi kuat, ya..” ujar temanku saat itu. Seandainya kamu tahu, kawan...hati ini begitu rapuh, tak kuat, bukannya aku tak rela, tapi aku justru merasa bersalah karena telah banyak mengecewakan beliau... ahhhh seandainya waktu bisa terulang, harapku. *** Sepeninggal bapak, hari-hari yang kulalui terasa panjang, setiap detik waktu yang kulalui hanya berisi penyesalan. Kalau di mata orang aku sepertinya sanggup dengan ketegaranku. Dalam kesendirian, aku benar-benar terpuruk, aku mengingat dan terus mengingatnya... Iseng-iseng menelpon ke hp-nya dengan sebelumnya mematikan hp tersebut agar aku bisa mendengar suaranya pada mailbox. Terbayang wajahnya, senyumnya, ketegasannya dengan sangat jelas. Terbayang dirinya yang tengah bekerja, pulang pergi dengan motornya ke sekolah tempat beliau mengajar. Terbayang dirinya tengah menulis naskah, duduk di depan meja, sambil sesekali membaca dan bertanya. Terbayang dirinya ketika kami solat berjamaah, terbayang dirinya dengan baju koko, sarung dan peci menuju masjid, tak pernah ketinggalan mengikuti jamaah solat wajib. Sosoknya benar-benar selalu hadir, semangatnya pun masih bisa kurasakan. Bekerja sebagai guru SD hingga uban mulai memenuhi rambutnya, menjalankan usaha bisnis buku pelajaran yang akhirnya gulung tikar, menulis berpuluh-puluh naskah buku pelajaran, walau ada beberapa tanpa namanya, mengkoordinir para guru untuk menulis, berceramah di masjid, bersekolah S1 di usianya yang sudah tidak lagi muda. Aktif di beberapa organisasi. Pergi malam-malam untuk belajar bahasa arab dan segala kegiatan lainnya... Wajahnya yang begitu keras namun penuh dengan kewibawaan, berkesan galak dengan alis tebalnya yang menghias wajahnya namun juga penuh senyuman..... Dia bapakku, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, aku begitu mengaguminya dan mencintainya, walau aku sadar kalau aku pernah tidak menyukainya karena kegoisanku. Kini, aku hanya bisa menyesal, ternyata aku pun banyak mengecewakannya. Waktu menjawab kalau dia menginginkan yang terbaik untuk aku, untuk kami... Kenapa aku baru menyadari semua yang telah beliau lakukan pada kami setelah dia pergi... Kenapa aku tak pernah memberikan yang terbaik untuknya, aku lebih sering menuntut dan menuntut... Kenapa, ya Allah... *** Hingga setahun setelah kematiannya... Nanar mata ini menatap perempatan Jalan Matraman dari jendela bis saat lampu merah. Kalau kemarin, ketika aku harus memburu waktu, aku akan kesal dengan lampu merah yang seolah cepat sekali datang. Akan tetapi, hari ini...kubiarkan diriku larut dalam lamunan menatap secara detail jalan, sisi jalan, trotoar sambil terus berpikir. Dimana dia? Bagaimana bisa terjadi? Fiyuhhh......setahun sudah kejadian itu, masih saja aku larut dalam rasa sesal...rasa sedih dan rasa kehilangan... terus kuperhatikan jalan itu, trotoar pemisah jalan...4 arah yang mengelilingi jalan... Di sinilah bapak mengalami kecelakaan...yang merengut nyawanya... ya Allah.....membayangkannya saja membuat hati ini makin sakit, mengingatnya membuat hati terasa tercekik dan aaah.... aku tak kuasa menetes air mata, menebak-nebak kejadian itu. Siapa yang sangka setahun setelah kejadian, aku harus melalui jalan ini dua kali sehari setiap harinya. Kenapa Allah membiarkan aku terus mengingat dia dalam rasa sesal, terus menunjukkan kehadirannya dengan rasa sedih *** “Di depan mataku, Nov, ayah kena serangan jantung, aku sama ibu bingung, di depan mata aku saat kita sarapan” ujar temanku bercerita tentang ayahnya yang meninggal belum lama ini. Ya Allah, ujianku tak seberapa, tak Kau biarkan aku melihat bapak dalam kesakitan, tak Kau biarkan aku melihat dia dalam keadaan seperti itu... Kau justru memperlihatkan kepadaku ketika dia tersenyum... Aku pun teringat ucapan ibu, “Kasihan kalau anak-anak masih pada kecil pas ditinggal bapaknya. Alhamdulillah anak-anak sudah besar-besar, sudah pada kerja...” Aku teringat temanku yang ditinggal bapaknya ketika masih kecil. Sama sekali tak dirasakan kasih sayang seorang ayah dan aku pun mengingat kembali cerita-cerita teman-teman yang ditinggal orang tuanya... Kami sangat beruntung, masih merasakan limpahan kasih sayang dan materi dari bapak. Aku dan kedua kakakku bisa kuliah dan kehidupan kami, insya Allah berkecukupan, bapak selalu berusaha keras untuk itu. Bahkan, hingga hari ini royalti buku pelajaran yang bapak tulis 4 tahun lalu masih mengalir kepada kami, mampu membantu kakak operasi sesar, menjadi modal usahaku kerja di rumah dan membiayai kuliah kakak laki-lakiku di Solo. Subhanalloh.....Astaghfirulloh...... Dia pergi dengan senyum, dia pergi sehabis menjalankan tugas mulia di sebuah LPPTKA, dia pergi dengan mudah tanpa harus berlama-lama kesakitan ditempeli berbagai alat kedokteran, dia pergi meninggalkan kami tidak hampa dan yang terpenting dia meninggalkan dengan begitu banyak pelajaran untuk aku, untuk kami. Tak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya. Bukankah hari ini aku telah mampu merasakan semangat dan cintanya dalam belajar, berkarya dan bekerja. Saat ini aku telah bekerja, pekerjaan yang tak pernah jauh dari hal yang berhubungan dengan pengelolaan naskah, mengingatkanku pada semangat beliau menulis naskah buku pelajaran hingga larut, mengingatkanku pada saat aku mendampinginya, mengetik naskahnya, dan sedikit membantu mengeditnya. Mengingatkan aku pada ucapan beliau kepada ibu beberapa waktu sebelum meninggal, ketika hingga malam, bapak masih saja berkutat dengan naskahnya... “Yang penting saya prestasinya aja.” Subhanallah, pak rupanya bapak tengah menghimpun bekal, mengumpulkan prestasi. Moga aku juga mampu. Tanpa rencana, aku diberi kempatan untuk kuliah agama di sebuah pesantren terbuka, merasakan semangat belajar beliau semasa hidup hingga ajal menjemputnya. Begitu mudah kudapatkan buku-buku langka yang kubutuhkan dalam lemari bukunya. Tak seharusnya aku mengingat beliau dengan penyesalan... *** Kau biarkan aku selalu mengingatnya bukan untuk menyesal, tak rela dan terus menangisi kepergiannya, tapi kau biarkan aku untuk bersyukur karena pernah mendapat limpahan kasihnya yang selalu membekas di hati. Kau biarkan aku terus mengingatnya ketika aku belajar, bekerja dan berkarya dengan semangat dan cintanya *** Andai ku tahu... mungkin aku tidak akan sanggup berdiri tegak saat itu, mungkin aku tak akan mampu merelakan kepergiannya, mungkin aku tak akan bisa mengambil hikmah atas semua, mungkin aku tak akan mendapat pelajaran paling berharga dalam hidupku betapa cinta dan kasihnya begitu tulus dan mulia.... ---Selesai---
| |