berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: abang saya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag abang saya
Blog EntryMerasa LengkapJul 21, '08 2:59 PM
for everyone

 

Dahulu, saya mengharapkan memiliki adik. Seorang saja, boleh, deh… tapi, memang apa mau dikata, saya benar-benar menjadi anak bontot. Ibu sudah

KB setelah melahirkan saya. Ketika SD atau SMP, saya agak lupa, bapak ingin mengadopsi seorang anak laki-laki. Saya senang mendengar kabar itu, tapi rupanya itu baru sebatas mimpi dan tidak jadi.

 

Berjalannya waktu, saya malah menikmati sebagai anak bontot. Saya dibela, saya disayang, saya mendapat begitu banyak hal dari mana pun. Tapi, saya pun juga jadi objek kejahilan, terutama dari abang saya.

 

Entah bersumber dari mana, saya senang bermanja-manja. Hmm, apa ada kaitannya dengan titel “anak bontot”? Yah, saya menikmati segala hal yang saya dapatkan. Bapak walau keras cukup memanjakan saya, ibu apalagi… Dia jarang menolak apa yang saya inginkan. Hmm, tapi tidak hanya berlaku pada saya, juga kepada dua kakak saya…

Hanya saja, saya benar-benar menikmati masa menjadi anak bontot… hehehe.

 

Beberapa waktu lalu saya sadari, walau tak punya adik, saya tetap merasa lengkap. Saya punya dua kakak. Kakak pertama perempuan. Kakak kedua laki-laki. Nah, lengkap, kan? Lengkap juga dengan apa yang saya rasakan. Kakak perempuan saya sering membela saya ketika saya jadi objek dibikin nangis oleh teman-teman di kompleks. Hampir tiap hari pula dia mengantar saya sekolah, padahal jarak sekolah saya begitu dekat. Hingga ketika saya besar, dia merasa penuh bertanggung jawab. Ketika suatu kali, saya mendapatkan sesuatu dan butuh konfirmasi dan pertimbangan dari dia.

 

Satu lagi, abang saya. Dia memang yang paling sabar dari kami bertiga. Dia lebih bisa menahan diri, tidak sereaktif saya dan kakak saya. Jadi, dia cocok untuk memberikan pertimbangan dengan berbagai pilihan. Menolong banyak hal yang tak bisa dilakukan perempuan dan tentunya mengantar jemput (ini yang penting).

 

So, lengkap kan. Sebenarnya, dari sisi mana saja, kami lengkap. Kakak perempuan saya punya dua adik (laki-laki dan perempuan). Lalu, abang saya lengkap pula, punya kakak dan adik.

 

*ketika kangen masa kecil bersama mereka…

 

 

 

 


Blog EntryEpisode Demi EpisodeJul 20, '08 2:02 PM
for everyone

 

            Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya.

            Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”.

            Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi.

Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan.

Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir.

Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan.

Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah.

Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak….

Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik.

Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu…

Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;). Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas…

Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D, memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur.

Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi senang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;)

Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :)

Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…

Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D


Blog Entryabang telah tiba.. telah tiba, halahJul 8, '08 11:01 PM
for everyone
akhirnya :D

hehehe, setelah home alone 1 dan home alone 2
abangku yang dari solo akan datang menemani adiknya yang lucu ini, hhih :D

jadinya, ga perlu ada home alone 3, heheheh :D

secara ga bisa ikut keluarga dulu di pd gede, jadi kudu ngedekem di rumah sendiri... :((
walau si nyak masih datang sampai menjelang lebaran...

hm, ntar kalo aku nulis macam2, dia marah ga ya :D
secara dulu pas aku nulis tentang dia di sini dia gimana gitu :D, halah, GR, aja  :P, secara aku pan emang seneng nulis ttg apa aja :D
ibu, bapak, kakak, abang, F4... dan semua yang ada di sekelilingku.........cieh
dengan penuh cinta kupersembahkan..... kalian adalah inspirasiku, huhuhuhu, nnorak banget sih

udah, ah, mau beberes dulu, laper lagi :D




EventMilad Mas AgunApr 27, '08 2:19 AM
for everyone
Start:     May 23, '08 03:00a
Yeee,
mas Agun udah umur 28 tahun, niyeeeeeeee
halah...

met hari lahir buat masku satu-satunya ;)
Woooy kapan nikah?

Ga usah kasi kado, ya :D

Blog Entry Ini cerita tentang abang sayaAug 30, '07 1:19 AM
for everyone


            Ini cerita tentang abang saya. Sekarang dia kuliah di sebuah universitasi di Jawa tengah. Kayaknya cuma dia yang misah paling jauh di antara kami. Kalau mbak saya masih bisa pulang seminggu atau dua minggu sekali ke rumah, dan saya malah sering banget pulang ke rumah walau ngekos juga. Abang saya yang satu ini harus menunggu waktu lebaran menentang arus balik untuk bisa bertemu adiknya yang lucu ini.

            Entah kenapa, saya selalu merasa terinspirasi dari dia. Mau menuruti sarannya. Padahal, waktu kami masih kecil, orang yang paling iseng dan sering kena omel bapak adalah dia. Apalagi kalau bukan bikin nangis saya :)

 

            Banyak cerita dalam hidupnya ketika tinggal berjauhan. Dari mulai harus hidup prihatin, mengusahakan beasiswa sampai kisah lucu yang mewarnai hidupnya.

            “kalo ga punya duit di sini makan daun kates”

            “kalo ga kebagian piring ketika makan bersama dengan anak kosan, terpaksa deh pake tutup panci” ujar dia suatu kali. Masak, sih… tapi emang bener. Karena omongan abang itu, ibu membawakan beberapa piring ketika dia bertandang ke Jakarta.

            Abang saya kalau pulang ke Jakarta, suka mencari-cari barang yang bisa dibawa ke Solo. Entah itu tas, makanan atau apalah. Dulu saya juga begitu, kalau pulang ke rumah, seperti mengais-ngais makanan yang ada di rumah untuk dibawa ke kos. Berasa banget deh jadi anak kos. Mau makan ayam aja musti mikir-mikir. Awalnya biasa makan nasi 1, karena ngekos cuma berani ½. Hehehe…

            Abang saya sudah berganti-ganti kos sejak dia mulai kuliah. Awalnya dia sempat mondok di pesantren, kuliahnya dobel karena dia utusan dari Muhamdiyah Jakarta. Tapi, tampaknya dia kelelahan untuk dobel kuliah makanya dia mengundurkan diri dari pesantren itu. Selanjutnya, abang saya kos di rumah Mbah Warso, tempatnya dekat dengan supermarket Alfa. Kami pernah belanja bareng-bareng pas kunjungan ke kosan abang saya. Oh, ya yang bikin saya terharu dan senang, abang memasang foto kami sekeluarga di atas radio yang dia beli. Foto itu saya kirimkan  bersama surat-surat. Dahulu, aku sering banget saling berkirim surat. Saya menuliskan di amplop itu “we are happy family”.

            Sewaktu SMU, saya bingung ketika harus memilih antara jurusan IPA dan IPS. Bapak menyuruh saya untuk masuk IPA, sementara nilai saya kurang di IPA, dan harus berusaha keras untuk bisa masuk IPA. Test IQ pun menyarankan saya bisa memilih dua-duanya. Saya mengirim surat ke abang saya. Kemudian dia membalas surat saya dengan mengatakan kalau ini baru pilihan pertama bagi saya, nanti akan ada banyak pilihan dalam hidup saya. Menyarankan kepada saya yang terbaik. Oh, ya pernah ketika kami berkirim-kirim surat, abang saya mengirimkan surat sebanyak 16 halaman. Saya senang sekali, tapi saya juga bingung. Banyak kata-kata yang tidak saya mengerti dalam suratnya. Saya musti membuka kamus untuk mengerti. Hehehe, ada-ada saja.

            Abang saya itu orangnya biasa saja. Kadang cerewet malah, tapi dia lucu. Saya menyayanginya seperti rasa sayang saya kepada mbak saya. Keduanya berbeda menafsirkan rasa sayang kepada keluarga.

            Sewaktu kuliah tingkat pertama, saya memperingati ulang tahun saya yang ke-18 berpisah dari keluarga. Orang rumah menelponi saya, termasuk dari abang saya. Padahal, abang saya waktu itu juga ada di Solo. Harus mengeluarkan cukup banyak uang untuk interlokal ke Depok. Dia tak pernah memberikan kado untuk saya, ketika ulang tahun. Padahal dia tahu saya sangat suka kado, walau hanya barang biasa. Yang terpenting terbungkus kertas kado.  Sampai-sampai ketika masih kecil dan kami semua masih di rumah, saya membeli sebuah coklat yang saya katakan itu adalah kado dari abang saya. Tapi, walau dia tak pernah memberi hadiah atau kado, saya senang sekali menerima telepon darinya saat itu.

            Mungkin saya mengagumi abang saya atau saya brother complex… hehehe.. entahlah karena sewaktu kuliah saya pernah meminta teman saya yang mirip abang saya untuk jadi abang saya. Dia baik, dewasa seperti abang saya padahal usianya lebih muda. Saya banyak bercerita dan berbagi dengan dia. Wajahnya pun agak mirip abang asli saya. Hubungan saya dan abang di kampus hanya sebatas persahabatan. Teman-teman satu jurusan tahu kalau kami berdua punya komitmen persahabatn sebagai abang-adik. Semakin saya mengenali Islam, saya mulai menjaga jarak hubungan kami. Kami sudah tidak lagi jalan bareng atau curhat bareng. Tapi hubungan kami baik-baik saja. Saya pernah mempertemukan kedua abang saya di telepon dan bahkan sewaktu saya studek di Yogya. Yah, mereka memang bukan orang yang sama. Abang saya tak tergantikan nilainya bagi  saya.

            Sewaktu, saya mau sidang D3, saya sempat cemas dan bingung dan saya pun bercerita kepada abang saya. Dia mengatakan kepada saya kalau sayalah yang terpintar di ruangan sidang itu karena saya paling tahu isi dari tugas akhir saya.  Saya pun langsung bersemangat dan percaya diri. Alhamdulillah, saya mendapat nilai B. Sekarang, nasehat dia sering saya katakan ke teman-teman yang mau sidang. Kenapa musti takut, toh saya yang mengerjakan seluruh isi tugas akhir itu.

            Sekarang abang saya masih kuliah saja. Dia masih sibuk dengan organisasinya. Kami sekluarga sempat prihatin, yah semoga saja abang saya cepat kelar kuliahnya.. amiin.. J Tapi, lucunya ketika skripsinya yang beratus-ratus halaman itu masih saja dikoreksi pembimbing, buku yang isinya berhubungan dengan isi skripsi telah terbit dan beredar di pasaran. Duh, abang … ada-ada aja… Moga-moga aja, abang saya bisa lulus skripsi tahun ini. Insya Allah tahun depan dia akan menikah. Kami sekeluarga akan melamar calonnya di daerah Banyumas. Saya sudah mengenal calonnya. Sebenernya, saya ga suka kalau abang saya pacaran, tapi ya gimana lagi.. saran saya saat ini agar abang cepat menikah. Oh, ya… calon abang saya itu seusia saya. Saya sempat iri padanya. Dia seperti merebut hati abang saya. tapi pikiran itu segera saya tepis…

            Belum lama, abang datang ke Jakarta untuk urusan motor yang STNK-nya bermasalah. Saya senang sekali. Kami sempat piknik bareng ke Ciater bersama ibu.

             Saya mempunyai sebuah puisi untuk abang saya, tapi puisi itu hilang entah ke mana hanya satu bait yang masih terus saya ingat:

           

 

Doa untukmu selalu kulantunkan

Agar hidupmu di rantauan

Selalu membawamu dalam kebaikan


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help