Versi 2
Saya manusia penuh kenangan. Apapun bisa menjadi kenangan bagi saya. Saya ingat jalan-jalan yang saya lalui bersama ayah. Motor tuanya juga ikut jadi kenangan. Saya pun ingat pernah kepergok di POM bensin saat diam-diam mengendarai motor ketika masih SMP. Ayah saya tak marah saat itu, justru dia membayarkan bensin yang saya beli. Kenangan akan ayah begitu banyak, meluber, hingga ketika melihat makamnya saya ingin tersenyum sekaligus menangis.
Saya pandangi benda itu. Ini adalah salah satu benda kenangan yang paling berharga bagi saya. ini adalah saksi ketika saya berada di tanah suci. Aaah, syahdunya, indahnya. Kemudian mata saya sampai pada sebuah foto. Foto saya dan teman-teman ketika kami rihlah. Kembali, memory itu terpampang di hadapan saya.
Hmmm, indahnya kenangan-kenangan itu. Sepertinya, kalau saya coba mengambil satu demi satu benda-benda itu, akan terekam dalam ingatan saya berbagai kejadian yang seolah baru kemarin terjadi.
Tiba-tiba pandangan saya sampai pada sebuah baju yang saya pajang di kamar. Baju ini adalah baju andalan saya. warnanya, bentuknya, ukurannya, semua saya suka. Pertama kali memakainya ketika ada pertemuan dengan teman-teman saya. Mungkin bagi orang ini bukanlah hal yang istimewa, tapi tidak bagi saya. Tapi, sayangnya baju yang bagus itu mengingatkan saya pada sebuah kejadian yang tak mengenakkan hati.
Satu-satu saya pandangi benda-benda di sekeliling saya. Mereka seperti berbicara kepada saya. Dari kejadian enak, lucu sampai sedih dan ingin saya lupakan.
Kemudian saya tersenyum, saya ambil baju penuh kenangan itu. Saya pakai dan saya berjalan menuju sebuah tempat. Tidak ada rasa apa-apa. Tidak mengingatkan apa-apa. Segalanya berjalan tanpa saya mengingat ketika saya pertama kali memakai baju itu.
Saya berlari, melompat, dan sampai pada banyak tempat. Tempat-tempat yang kemudian jadi kenangan bagi saya... Saya tertawa, menangis, terkejut, bahagia akan semua kenangan yang saya rasakan kembali.
Saya masih manusia penuh kenangan. Apapun akan selalu jadi kenangan buat saya. Apalagi, yang berkesan, kenangan-kenangan itu tak perlu saya ”panggil” karena akan muncul dengan sendirinya ketika saya melihat benda-benda kenangan.
Saya masih manusia penuh kenangan. Saya tak akan pernah berlari dari berbagai kenangan karena saya percaya di setiap kenangan akan tersimpan banyak sekali butir-butir hikmah...
Saya tetaplah manusia penuh kenangan. Saya menyimpan 2 folder kenangan. Di atas lemari hati saya ada folder kenangan indah, baik, bahagia, syukur.... Saya tahu saya tak boleh terus melihat masa lalu. Saya tahu itu. Tapi, dengan menaruhnya di atas lemari hati saya, saya ingin mengajarkan diri saya untuk bersyukur kepada-Nya.
Satu folder lagi saya letakkan di dalam lemari. Terpikir oleh saya, ingin mengubur atau bahkan membakarnya. Tapi, yang saya dapati adalah bau tak enak dari sisa pembakaran itu. Hmm, maka saya putuskan saja, kalau folder kenangan pahit, sedih, tidak enak, tetap saya simpan dalam lemari.
Saya biarkan di sana agar tak ada keinginan untuk membukanya. Tapi, saya yakin saya akan memerlukannya suatu saat nanti.
Benar saja, kemarin, ada kejadian yang mengingatkan saya pada sebuah kenangan. Emosi saya hampir terkuras saat itu hingga saya mengingat kejadian yang hampir mirip. Saya ambil folder kenangan itu... mengingat-ingat hingga saya tak lagi salah langkah.
Saya tetap manusia penuh kenangan.
Saya tahu... bergulirnya waktu tak hanya membawa pada satu sampai seribu kenangan indah, tapi memberikan satu hingga seribu kenangan pahit. Tapi, saya yakin dari sana saya mampu untuk belajar lebih dewasa.