novi khansa's posts with tag: :)
 | Nikmat | Aug 20, '08 11:00 AM for everyone |
 Diam... sendu dingin... hangat...
Kalau aku mau melihat begitu indahnya karunia dari-Nya...
Kalau aku mau mendengar setiap suara... adalah bagian dari nilai kehidupan
Kalau aku bisa merasakan nikmat-kasih-cinta dari-Nya...
Nikmat TUHAN kamu yang manakah yang kamu dustakan :)
*duh bingung banget cuma mau bilang, "aku seneng banget di Ciwidey kemaren... :D" Mendengar, melihat dan merasa cinta dari-Nya... punya banyak temen baru dan bisa nikmatin indahnya negeriku pas 17-an :D
yeiy
semangaaaaaaaaat
*foto: pribadi (hasil olah sotosop :D) harap dimakulumi :D pan, aslinya kamerenya cuma 2 px :D
di depan mata terbentang masa depan...
di depan mata ada harapan
MERDEKAAAAAAAAAAAAAA
*setelah tepar pulang dari Ciwidey dan musti bolak balik pd. gede :P *thnk u mbak elly dan semua
be thankfull 4 having friends like u alllllllllllllll :P
malam hari ini ada purnama pernah kulihat bersamanya seorang sahabat... yang dengan cinta menghiburku membasuh hatiku dengan kasih... malam... aku ingat aku menangis... memintanya untuk mengerti kalau aku benar-benar muak aku benar-benar takut aku lelah... dan dia hibur aku dengan purnama malam itu.... Malam kini dia tengah bersedih tengah menangis aku tak mampu memeluknya terbentang luas jarak antara kami... Malam... moga yang terbaik untuk dia sobat hatiku... hapus laranya... ya Allah jadikan dia terus sabar luv u coz Allah sista  aku "kesal" karena aku sayang sama kamu  semangaaaaaaaaaaat  *kita benar-benar sehati ya
Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan. Setelah mengumpulkan tanda tangan para selebritis buku Ayat Amat Cinta :P , aku pun meninggalkan kantor penerbit yang asri dan nyaman. Hayoooo tebak di mana? ;) Maksudnya mau bikin pengantar review Ayat Amat Cinta yang maaf, mungkin banyak ga nyambung :P Judul : Ayat Amat Cinta Penulis : Boim Lebon, Asma Nadia, Fahri Asiza, Birulaut, Taufan E Prast, Lian kagura, Rex, Ratno Fadillah Penerbit : Lingkar Pena Kreativa Halaman : 325 hal Sebenarnya sih, aku udah pernah lihat kaver ini ketika menyambangi multiplynya lingkarpena ( http://lingkarpena.multiply.com ) saat cari buku yang bakal diresensi di buletin SMU or pas lagi dapat amanah beli buku untuk donasi Eska. Ngelihat kavernya, agak-agak aneh dan hmmm, kok wajahnya familiar, ya… Ahh, Nopi sok teuuuuuuuuu… :P Aku percepat langkahku agar bisa pulang tidak terlalu malam. Aku harus menyiapkan makan malam (tsah…, gaya bener, maksudnya cari lauk dulu buat makan malam bareng kakak :D). Langsung kubuka halaman awal buku Ayat Amat Cinta. Membaca halaman demi halaman buku yang langsung bikin aku senyum-senyum. Apalagi, kalau lihat kaver bukunya dan ingat-ingat siapa aja modelnya, hehe. Tanpa sadar, angkot yang kutumpangi sudah hampir masuk terminal. Aku pun menutup buku itu dan membaca sinopsisnya. Jangan kaitin buku ini sama AAC, jauh banget ama tuh pilem. Kalo pilem Ayat-Ayat Cinta bikin kita nangis Kalo buku Ayat Amat Cinta bikin kita ketawa ngakak. Nggak percaya? Nggak percaya? Ya, iyalah mana bisa percaya kalo belum baca? Makanya, buruan beli nih buku, baca di dalam kamar, jangan baca di mobil angkot. Bisa berabe, nanti kamu disangka “miring” gara-gara ketawa sendirian. Hehehe… (tuh kan, belom apa-apa udah ketawa). Hihihi… (yeee, entar dulu ketawanya. Sabar… sabar…) Hohoho… (wah kayaknya ada yang nggak beres nih) Ya udahlah, intinya sih, buku ini cocok banget buat kamu yang hobi ketawa. Hahahahahaha…. (Husss! Anak saya lagi tidur ^_^) Waks, aku beneran pengen ketawa pas baca ini, hihihih. Aku emang hobi bener baca buku di jalan, ups, di bus atau di angkot ataupun di krl jabotabek. Di mana aja, deh, di halte juga bisa… selama ada penerangan. Hehehe… inget pernah ditegor mba-mbak di mayasari ketika pindah ke tempat terang di sebelahnya buat baca, ngomong apa aku lupa, yang jelas… kok bisa-bisanya, baca? Ya, donk… apa gunanya kacamata coba (ga nyambung :P). Ga berapa lama, aku pun menutup buku itu karena akhirnya sampai juga di terminal Depok. Duh, kejeduk lagi pas turun. Fiyuh…. :P Lanjut naik angkot menuju Pasar Rebo, aku pun coba membuka buku ini lagi, sambil inget-inget, pernah beneran ngakak (tapi bukan pas di angkot ya :p) pas baca Batman Bidin… :D dan menular ke temen yang juga ikutan baca… hehehe… :P (hati-hati ketawa bisa nular, halah). Sambil inget-inget lagi, pernah senyum-senyum pas baca komiknya DAR Mizan di KRL sampe-sampe ditegor sama mas-mas. “Mbak.. mbak, gila, ya?” Hahahaha, ga segitunya, sih, tapi fiyuh… SKSD abis, ngajak kenalan gitu coba. Nanya-nanya tinggal di mana? Turun di mana? Dan pertanyaan lain, fiyuh… Berani-beraninya, godain cewek jilbab lebar dengan tampang jutek ini… Hehehe, lagian salah sendiri, senyum-senyum ga jelas… abis lucu, sih :D Yah udah, daripada ada yang ngajak kenalan lagi, hehehe :P, aku tutup buku Ayat Amat Cinta yang mengkhawatirkan ini, hehehe :D. Ntar aja, deh bacanya pas di rumah. Sekarang, saatnya tidur di angkot, ngantuk euy… tetangga depan dan sebelah dah pada tidur… Hmm, sambil mikirin ntar makan malam apa, ya? Soto kayaknya enak, tapi nasinya masih ada ga, ya? Zzzzzz… Maaf ini baru pengantar review bukunya, aku belum sempet nerusin baca lagi… Tunggu aja kelanjutannya, ya… Maaf, ga nyambung, biar bagaimanapun baca dalam keadaan lapar tak menyenangkan… :D (ketahuan, lagi makan pun, tetep baca :P) Maaf, kalo aku cukup garing :P Selamat pagi :)
“Duh, ketiduran” Jam di Handphone masih menunjukkan pukul 4 pagi. Iya, harusnya malam itu aku tidak tidur, kalau pun tidur tidak perlu sampai pukul 4. Ada deadline yang menunggu, yang harus aku rapikan dan print. Ada tagihan yang musti aku hitung. Ada janji hari ini dan banyak hal lain yang musti aku kerjakan. *** Terkadang di kala menekuni pekerjaan, terbersit keinginan untuk kembali berkantor. Apalagi, ketika berada pada posisi butuh pertimbangan, bimbingan, ada yang harus dipikirkan dan banyak lagi. Apalagi, kalau tiba-tiba komputer ngadat, printer error, dan hanya bisa tanya sana, tanya sini… Seringnya kakak perempuanku jadi “korban” dimintai pendapat karena ibu lebih sering bilang “nggak ngerti…” Tapi, ibu tetap yang no satu untuk urusan kepedulian dan perhatian… Two tumbs up for you, mom… ;) Hehe, padahal konsekuensi freelancer, ya kerja sendiri dan mandiri. *** Aku resign dari sebuah penerbit akhir tahun 2004. Awalnya karena aku mau meneruskan kuliah S1. Apa daya, nilaiku tak bisa dikonversi dan enggan kuliah lama (4 tahun, bo… D3 yang kemaren ga kepake sama sekali, hiks). Jadilah, aku cari “ilmu” yang lain, tapi tentunya aku harap bisa tetap bekerja di sebuah penerbit yang lebih dekat rumah (penerbit sebelumnya cukup jauh dan butuh waktu 3-4 jam perjalanan pulang balik). Rupanya, Allah berkehendak lain, ketika akhirnya aku diterima di sebuah pesantren terbuka (semacam mahad) dan punya jadwal kuliah yang nanggung (berangkat dari rumah pukul 2.00, pulang pukul setengah 9 malam, sudah termasuk perjalanan), aku masih bisa tetap bekerja. Alhamdulillah, dua bulan sebelum aku mulai kuliah, penerbit tempat aku bekerja dulu, menjadikan aku outsourcer untuk layout isi buku, sesuai dengan pekerjaanku terdahulu. Kalau tidak salah, order pertama itu Februari 2005 dan pembuatan nota pertama Maret 2005 dengan nama Khansa’Kreatif. Sebenarnya nama Khansa ingin aku gunakan untuk nama pena kalau aku menulis nanti, tapi rupanya aku belum menulis-nulis, jadilah aku pakai nama ini untuk usaha jasa desain dan editing dengan filosofi yang terus kupegang untuk cita-citaku. Berjalannya waktu, ketidaksengajaan ini terus berlanjut, ditambah, ada rekan semasa kuliah yang juga memakai jasaku. Jadilah, aku mengurus dua proyek buku. Dari mulai cari illustrator dan desainer cover, memilah naskah, mengedit, membuat kata pengantar, sinopsis dan mengumpulkan hingga jadi. Mengatur waktu pengerjaan proyek, menghitung biaya dan banyak lagi. Hingga, ketika salah satu buku akan naik cetak, aku sakit hampir sebulan. Sebagai freelancer, kalau tak bekerja, aku tak dapat uang, dan tentunya tidak ada tunjangan. Tapi, Allah mahabaik, aku mendapat full gratis pengobatan dan perawatan karena saat itu wabah demam berdarah (Februari 2006). Sejak itu, aku selalu ingat untuk makan dan istirahat. Yup, dengan kerja freelance begini, aku harus terbiasa ditekan deadline, ditambah lagi kerja dengan penerbitan yang punya timeline sendiri. Yah, tidak hanya outsourcer, sewaktu aku masih bekerja di penerbit, aku pun beberapa kali bawa pekerjaan ke rumah dan lembur di hari Sabtu. *** Ketika rindu berkantor, Allah mewujudkan impianku di Tahun 2005. Aku dapat tawaran bekerja lagi setelah pengajuan proposal kerja sama. Saat itu klien sudah lumayan. Hampir tiap bulan ada pemasukan dan catatannya sendiri kadang membuatku berpikir, kerja, kuliah jalan terus, nilai lumayan, hingga karena sakit, aku harus rela menjadi peringkat terbuncit di kelas. Down pastinya, tapi pekerjaan kembali menjadi pelarian… Aku pun mulai sibuk lagi. Bekerja kantor tiga kali sepekan, kuliah sore hingga malam dan bekerja di rumah. Lelah pastinya, tapi aku merasa senang,walau kadang ada amanah dan kuliah pesantren yang terbengkalai. Hingga hari ini tugas akhirku yang idealis tak kunjung selesai. Bandel, nih… :(. Hmmm, masa menganggur bakda lulus D3 sekitar 4 bulan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan. Aku benar-benar stres dan tak ingin lagi mengalami masa itu hingga aku ingin terus bekerja… Aku nikmati masa-masa ngantor. Makan siang bareng, kerja bareng hingga ritmenya pun mulai melelahkan. Dua atau tiga kali aku harus pulang di atas pukul 12 malam. Masuk angin, magh, diare jadi langganan lagi. Terlebih aku suka lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu. Setahun berlalu, keadaan perusahaan tampaknya juga tak memungkinkan aku terus berada di sana. Pekerjaan di rumah pun sering bentrok hingga aku mulai kehilangan salah satu klien. Masalah dengan tim juga menambah pertimbangan untuk resign. Yah, bulan Mei 2007, aku resmi resign lagi setelah setahun ngantor. Aku berpikir, rasanya terlalu lelah untuk berada di atas dua perahu. Walau kadang keadaannya saling mendukung, tak jarang juga saling berbenturan. Aku kembali ke rumah. Saat itu, aku masih memiliki tim khusus. Lagi-lagi, ada cobaan baru, dengan resign-nya aku dari kantor, otomatis, posisiku berbeda dengan dua partnerku. Berkali-kali menyatukan visi dan misi, tapi tak jua bertemu. Isi kepalaku makin beda dan keadaan merongrong aku. Aku jelas-jelas mendapatkan uang hanya dari kerjaan freelance, gayaku beda, cara kerjaku beda, keadaan benar-benar tidak sama. Salah satu partner tidak bisa produktif setelah menikah dan hamil. Pekerjaan di kantornya sendiri juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi timpang. Akhirnya, sampai pada keputusan kami berpisah. Nama Khansa’Kreatif kini hanya aku yang menyandangnya. Tapi, alhamdulillah, persahabatan kami jalan terus dan hingga kini aku masih tetap bekerja sama dan sering bertukar pikiran dengan mereka. Dini, ade… kalian benar-benar sahabat yang terbaik :) Yah, begitu banyak yang terjadi hingga hari ini. Kadang rindu berkantor terobati saat aku mengantar pekerjaan ke tempat klien. Bahkan aku pun pernah kerja di tempat karena beberapa hal. Rindu terobati ketika makan siang bareng, lembur bareng, dan bisa bertukar pikiran. Teman-teman yang ngantor begitu solid dan seru. Kayaknya, enak aja, biasa kerja sendiri dan hanya ditemani winamp, bisa rame-rame dengan teman-teman. Hmmm, tapi terlepas dari semua itu aku bersyukur, di ruangan 3 x 3 yang hanya tertutup tirai sudah menjadi tempat beraneka ragam aktivitasku. Bekerja, belajar, membaca, menulis, membuat buletin sekolah dan segala aktivitas yang memang kuinginkan ketika aku memutuskan bekerja di rumah. Aku bisa menikmati pagi di depan rumah, menghirup udara segar, bersepeda sambil mencari sarapan pagi dan tak perlu terburu-buru di tengah kemacetan Jakarta. Yah, syukur itu nikmat karena menurutku, merupakan sebuah pilihan berkantor di mana saja, di rumah atau di perusahaan… tinggal bagaimana kita menyikapi, menjalani, dan menikmatinya. :)
*Sebuah tulisan untuk memotivasi diri dan berusaha untuk tetap optimis ~syukur itu nikmatnikmatnya bersyukur~semangatkan hidupmuhidupkan semangatmu
*Sungguh gambar, yang tidak nyambung :P wee, biarin, aku seneng aja, foto ini kan ibu yang moto pas di Bandung ahad lalu :P
|  | Jumat-Ahad acara keluarga sekaligus pure liburan, tanpa bawa kerjaan... bener-bener jalan-jalan, makan, santai, tidur... silaturahim untuk acara keluarga dan yah refreshing....
berangkat pukul 10 malam ke Purwokerto, Banyumas... cari penginapan, acara keluarga, balik istirahat, jalan makan, dan ketemu bebek bakar, sampai ahad paginya balik lewat Bandung, sempat mampir makan siang di Nagrek dan sebelum magrib sampai pondok gede... makan, tidur, istirahat sebentar, pulang ke pondok kelapa, sampai rumah setengah 9, bekerja untuk deadline senen....
:) senennya.......sampai sore berkutat-berkutat...sampai hari ini :)
**** sejauh mata memandang, kanan kiri sawah, ga jauh dari itu ada gunung, pokoknya enak, sejuk, aman, nyaman dan hmmm desa gitu deh... jadi agak bingung juga pas cari makan karena begitu ketemu kota, berapa kilo, desa lagi... trus... jauh banget ke pusat kota... Seru-seruan cari penginapan dan akhirnya setelah petunjuk kilo meter menemukan penginapan yang lumayan nyaman dan dekat dengan tempat acara... dan pas pulamgnya sempet mborong tahu sumedang dan telor asin... yummy :) h,, thnks momy atas liburannya yang hampir tak bisa aku ikuti :D |
kuharap nanti pada waktunya kuharap ketika memang saatnya
tak perlu lagi ada rasa-rasa tak usah lagi menduga-duga... dan yang ada hanya penyesalan atau ketidakjelasan...
aku tahu... ada masa lelah untuk menunggu ada masa takut... ada masa getir
tapi tak ingin lagi merasa sakit karena buaian mimpi karena tingginya angan...
karena yang terbaik kuharap dari-Nya...
*ada waktunya... sista :)
 | Kenapa? | Aug 10, '08 10:59 AM for everyone |
Lagi pertanyaan itu hadir
Lagi... aku bertanya
Kenapa orang bisa jatuh cinta
Kenapa cinta bisa ada di sana?
Teman... apa rasanya? manis? pahit? sedih? senang?
karena mungkin aku sudah lupa rasanya...
.........
untuk seorang teman yang aku sayang sista... moga yang terbaik :)
diposting ulang untuk ikut ini
Bapakku Si Penulis
Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diary, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat hobi dan kesenangan ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja. Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain. Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.
Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.
Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana. Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.
Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.
Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.
========
21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangkat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.
Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.
Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.
Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.
Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya... Subhanallah
Si penulis itu Darul Muna, bapakku
*foto bapak mengetik :)
Ada banyak cara untuk bisa bahagia. Ada banyak cara untuk memberi hadiah kepada diri sendiri. Ada banyak cara untuk menikmati hidup. Ada banyak cara untuk tersenyum sama halnya, banyak cara juga untuk menangis. *** Ritme hidup terus berganti. Episode-episode baru harus tayang. Detik dan jam tak menunggu kita yang hanya terdiam, tertidur dan hanya meratap. Saya dengan segala keegoisan yang ada dalam diri ini. Saya dengan segala aktivitas yang kadang membuat lelah. Saya dengan orang-orang tercinta di sekitar saya. Saya bisa menjadi orang yang sangat mengecewakan. Saya bisa menjadi orang yang keras kepala. Saya bisa menjadi orang yang sangat ketakutan. Saya bisa menjadi orang yang ingin dimengerti, tapi tak mampu mengerti… Saya yang egois… Tapi, sekali lagi saya beruntung. Beruntung memiliki sebuah keluarga yang mengerti, mengasihi dan menyayangi. Tak akan terhitung berjuta “pelajaran” yang saya dapatkan. Rasa syukur yang teramat dalam ketika mereka mau memaafkan kata-kata, tindakan kekeraskepalaan sifat yang saya miliki dan kekacauan yang saya buat. *** Sepertinya mentari tak begitu terik siang itu. 1500 lembar lebih naskah yang saya bawa, tentunya tetap berat, hanya saja, saya menikmati. Termasuk menikmati perjalanan panjang Pondok Kelapa-Bekasi-Fatmawati-Cipete-Kampung Melayu-Pondok Kelapa. (Hehe, seperti kernet saja :P). Terlelap sesaat, menatap matahari yang menyengat, mengingat kulit wajah sangat sensitif dan berakibat wajah memerah, memutih, seperti bendera :D. Tapi, tak perlu saya hiraukan. *** Yah, saya bahagia, ketika akhirnya terucap kata maaf dari bibir ini untuk ibu, menyalami tangannya dan panas mata ini ingin menangis. Ingin memeluk, dan katakan pada seluruh dunia, “Ibu adalah yang terbaik di dunia, bersyukur aku lahir dari rahimmu ... Maafkan atas khilafku, Ibu… moga tak lagi aku menyakiti relung hatimu…” Tapi nyatanya, saya hanya bisa menangis. “Maafin nopi, ya Bu…” Yah saya bahagia, ketika walau hanya lewat SMS, saya mampu meruntuhkan keegoisan saya, kekeraskepalaan saya, meminta maaf kepada kedua kakak saya, atas segala kekacauan yang saya buat. Aaaah, rasanya malu mengingat begitu banyak kebaikan yang mereka beri. Konflik itu ada, tapi saya benar-benar mengacau… Terbalas SMS dengan sangat arif dan lagi-lagi membuat saya tersenyum. Yah, saya bahagia karena mampu melawan kebodohan sikap saya. Saya bahagia, ketika berkali-berkali ditemani SMS sobat-sobat yang baik hati, dering telepon dan tawa renyah saudari saya. Saya bahagia hingga saya ikut bersenandung mendengar lagu di toko buku itu. Dan menurut saya, saya harus memberi hadiah untuk diri saya karena saya bisa meminta maaf. Selain juga karena naskah yang menjadi pikiran itu, terselesaikan. Karena lelah fisik dan hati kemarin-kemarin hari ini terobati… Terpilihlah, satu buku buat Iki tersayang dan satu buku indah untuk saya. Yah, yah… bahagia… Mungkin kalau ada kamu, temanku di sini, aku bisa saja mentraktir, hehehe :P, sayangnya hari itu saya tak banyak bertemu sahabat-sahabat :D Sempat mengabarkan kepada seorang sahabat akan "kepulihan" diri saya, sambil mengingat utang saya padanya dan dibalas dengan jawaban isengnya :D …. Btw, hari ini semua orang keliatan cakep, dong, hehehe
 | Helm | Jul 22, '08 10:24 PM for everyone |
Helm Entah ini lucu atau tidak. Pada dasarnya saya tidak bisa menulis lucu, keadaan atau situasi yang membuat apa yang saya alami begitu lucu. Hmm, walau sebenarnya hal itu tak terlepas dari keseleboran, kelupaan, dan kebodohan-kebodohan yang melekat dalam diri saya. Maaf, “kadang suka telat” gitu… fiyuh.  Yang saya tahu, helm itu dipakai ketika akan naik motor. Ada berbagai jenis helm. Yang kecil dan besar. Yang menutupi kuping atau tidak. Kalau kata kakak saya yang di Solo, di sana helm yang tidak menutupi kuping, tetap kena razia. Hmm, konon dulu katanya sih, boleh si pengemudi saja yang pakai helm. Tapi, kayaknya yang saya tahu hingga hari ini, si penumpang pun juga harus memakai helm. Jadi, hal yang biasa ketika saya harus menumpang ojek memakai helm kan? (perjalanan jauh) Atau ketika saya pergi bareng dengan kakak saya. Tapi, yang terjadi justru saya terus memakai helm, walau saya sedang tidak naik motor, hehe. Beberapa tahun lalu, saya bekerja di sebuah Penerbit di Jakarta Selatan (hei fren, pas kita pulang touring dari rumah kang dani, ngelewatin, lho ;)). Saya menumpang motor kakak saya sampai dengan Halim. Mengirit ongkos dan sangat memudahkan saya. Karena melewati jalan raya, otomatis saya harus pakai helm. Perjalanan biasa saja, normal, walau sebenarnya saya ngantuk. Tanda-tanda kalau si penumpang ngantuk adalah, helmnya terantuk berkali-kali ke helm pengemudi. Hmm, itu tidak terlalu sering terjadi pada saya (beneran, seinget saya, cuma sekali-kali saya ngantuk :P). Ketika turun dari motor, saya pun berdiri menunggu bus seperti biasa. Di sana juga sudah banyak orang-orang yang menunggu bus. Hmm, dengan begitu kami musti rebutan dan kejar-kejaran. Rebutannya sama penumpang lain, yang dikejar busnya :P. Sesaat saya benar-benar tak menyadarinya. Hingga ketika saya pegang kepala, ternyata helm saya masih melekat. Hehehe, malu, sih…, tapi kan ga kenal ini. Langsung saya lepas helm itu. Hehehehe… kayaknya kakak saya pun ga nyadar. Sampai di kantor, mau ga mau cerita juga. Lha, dianterinnya sampai mana, pakai helmnya sampai sini… ga biasa banget soalnya. Dan ketika pulang cari-cari plastik buat helm yang jelas-jelas tidak akan dipakai. Ternyata tidak sekali itu. Baru kemarin, ketika harus rapat milad, lagi-lagi saya betah pakai helm. Iya, saya memang niat bawa helm karena rencananya bakal pulang bareng dengan mbak Qq setelah tidak bisa berangkat bareng. Hmm, saya sengaja bawa helm mengingat kepergian kami pada rapat milad di kantor Bu Has dan rumah mas Fiyan. Mbak Qq lupa membawa dua helm... Saat rapat di kantor Bu Has, dengan suksesnya, mbak Qq membeli helm dan menyusuri jalan otista yang macet dengan beriringan. Yup, mbak Qq naik motor, saya jalan kaki, hihihihi… (sempat ketinggalan juga lagi, fiyuh… ). Kalau yang pulang dari rumah mas Fiyan, saya nekat tak memakai helm… :D, padahal melewati jalan protokol. Sempat cari helm di Book Fair, karena tiba-tiba motor terbawa ke sana (ingat, bukan karena nyasar :P), tapi helm tak ada. Ya iyalah, sejak kapan ada helm di Book Fair. Kecuali, kalau kami bertanduk, dan mengambil helm di parkiran :D. So karena “gaya penakut” saya tak memakai helm mengalahkan kepedean mbak Qq yang ga punya SIM (pede apa cuek sih?), saya lebih memilih turun dan naik bus. Waaah, mbak Qq, afwan ya, tiap ada polisi saya langsung kagetan gitu, dan merendahkan badan serendah-rendahnya. Sambil panik, “eh ada polisi tuh” Padahal mbak Qq mah cuek pisan… fiyuh… :D. Dan, hmm, sebenarnya saya ngantuk juga :D. Dari pagi kondangan, rapat dan muter-muter di Book Fair… :D Padahal belum lama, saya—tanpa helm—bersama Desi, teman My Q, touring Jakarta-Bogor melewati, hmm kira-kira 10 polisi (ya, nggak Des?). Alhamdulillah, kami selamat dari penilangan :P, walau sempat GR karena melihat seorang polisi menyuruh kami berhenti. Syukurnya, yang disuruh berhenti ternyata mobil pick-up di belakang kami… fiyuh. Selanjutnya, perjalanan, dilanjutkan dengan kucing-kucingan sama polisi. Ketika ada polisi di kanan, kami ke kiri, begitu sebaliknya. Apabila ada di dua sisi, kami ambil jalan tengah. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Seru, menegangkan, dan kesemutan (kira-kira 2 jam perjalanan). Kaki saya rasanya sudah tak bisa dirasa dan melayang-layang… Nah, ketika hari ahad kemarin itu saya diantar kakak ke tempat menunggu bus. Dari rumah saya pakai helm. Sebenarnya tidak terlalu wajib, tapi jaga-jaga juga. Soalnya, perempatan yang akan kami lewati sering ada razia, belum lagi di depan pasar sumber arta, ada polisi yang nangkring bareng tukang ojek. Saya dan kakak kebetulan pernah kena tilang. Iya, kakak bawa helm, tapi digantung begitu saja dan tak dipakai. Jadilah, uang melayang… padahal maksud hati ingin ngirit, eh biaya tilang dua kali lipat lebih dari ongkos ojek… (lagian tumben banget hari sabtu ada polisi di situ, sih… fiyuh) Apesnya lagi, ga lama dari situ, adik kelas di SMU SMS, nanyain apa orang yang dilihatnya lagi ditilang itu saya? Gedubraks… Kenapa juga musti ada yang lihat… Karena buru-burunya turun dari motor, lagi-lagi saya lupa melepas helm. Beberapa langkah turun dari motor, saya sadar dan memegang kepala saya. Hehe, untung ga ada yang ngetawain, tapi saya lihat, kakak saya masih diam di atas motornya sambil senyum-senyum. “Iya, gw bawa aja” ucap saya. Tahu, deh denger apa ga. Tapi, mungkin saya yang cuek, saya lepas helm itu dan menaruh di tas… Hmm, ini mah masih mending, belum terlalu jauh, dan banyak tukang ojek parkir… hehehe :D Tapi ternyata, hari itu saya mengulang-ulang lupa segera melepas helm. Ketika ingin masuk mini market dan masjid, saya nyaris lupa melepas helm, hehehe… Jadi, kadang ——saat sadar—kalau abis naik motor, tak lupa saya mengelus-elus kepala ini, hehehe… “masih ada helmnya, ga ya” hehe :D Syukurnya, saya langsung ingat ketika turun dari motor mbak Qq saat dia mengantar pulang. So, saya ga perlu memakai helm ketika naik angkot, seperti cerita mba Qq tentang temannya. :D
*selingan, ketika di tengah deadline dan deadline :D yoo, semangaaaaaaaat ;)
Dahulu, saya mengharapkan memiliki adik. Seorang saja, boleh, deh… tapi, memang apa mau dikata, saya benar-benar menjadi anak bontot. Ibu sudah KB setelah melahirkan saya. Ketika SD atau SMP, saya agak lupa, bapak ingin mengadopsi seorang anak laki-laki. Saya senang mendengar kabar itu, tapi rupanya itu baru sebatas mimpi dan tidak jadi. Berjalannya waktu, saya malah menikmati sebagai anak bontot. Saya dibela, saya disayang, saya mendapat begitu banyak hal dari mana pun. Tapi, saya pun juga jadi objek kejahilan, terutama dari abang saya.
Entah bersumber dari mana, saya senang bermanja-manja. Hmm, apa ada kaitannya dengan titel “anak bontot”? Yah, saya menikmati segala hal yang saya dapatkan. Bapak walau keras cukup memanjakan saya, ibu apalagi… Dia jarang menolak apa yang saya inginkan. Hmm, tapi tidak hanya berlaku pada saya, juga kepada dua kakak saya…  Hanya saja, saya benar-benar menikmati masa menjadi anak bontot… hehehe. Beberapa waktu lalu saya sadari, walau tak punya adik, saya tetap merasa lengkap. Saya punya dua kakak. Kakak pertama perempuan. Kakak kedua laki-laki. Nah, lengkap, kan? Lengkap juga dengan apa yang saya rasakan. Kakak perempuan saya sering membela saya ketika saya jadi objek dibikin nangis oleh teman-teman di kompleks. Hampir tiap hari pula dia mengantar saya sekolah, padahal jarak sekolah saya begitu dekat. Hingga ketika saya besar, dia merasa penuh bertanggung jawab. Ketika suatu kali, saya mendapatkan sesuatu dan butuh konfirmasi dan pertimbangan dari dia. Satu lagi, abang saya. Dia memang yang paling sabar dari kami bertiga. Dia lebih bisa menahan diri, tidak sereaktif saya dan kakak saya. Jadi, dia cocok untuk memberikan pertimbangan dengan berbagai pilihan. Menolong banyak hal yang tak bisa dilakukan perempuan dan tentunya mengantar jemput (ini yang penting). So, lengkap kan. Sebenarnya, dari sisi mana saja, kami lengkap. Kakak perempuan saya punya dua adik (laki-laki dan perempuan). Lalu, abang saya lengkap pula, punya kakak dan adik. *ketika kangen masa kecil bersama mereka…
Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya. Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”. Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi. Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir. Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan. Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah. Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak…. Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik. Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu… Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;). Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas… Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D, memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur. Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi sen ang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;) Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :) Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…
Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D
 kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan di mana kedamaian menjadi istananya yang kini telah kau bawa aku menuju ke sana...
.... :D lagi dengerin lagunya kLA... lagi ga mau mikir mumet :D
 | Ringan | Jul 7, '08 10:00 AM for everyone |
Rasanya ringan bagai kapas
atau mungkin bulu angsa beterbangan di sekelilingku... dan ada satu yang menempel di jilbabku...
Rasanya ringan bagai balon balon yang kugenggam erat, tak mau pecah tapi ketika aku lepas dia bebas...dan terbang... entah kenapa dia pecah jauh di ketinggian sana...
Rasanya ringan ketika sedikit demi sedikit aku lihat sudut ruang itu kurapikan sedikit saja... kugeser yang tak perlu...
Ringan... rasanya ringan sekali....
Tak Akan Pernah Mati Oleh: Novi Khansa Akhir masa kuliah, 2003 Tergopoh-gopoh saya berjalan menuju rumah kami. Sederhana, tapi penuh arti. Sebuah rumah yang dengan jerih payah seorang bapak bisa kami huni. Membuka pagar rumah, biasanya saya dapati sepeda motor bapak di sana. Pintu rumah akan terbuka dan terpampang jelas ruang tamu. Tidak ada yang menarik dalam rumah kami. Bahkan tak ada pajangan foto keluarga. Tapi, di sana ada sebuah meja tulis. Di balik meja itu, duduk seorang yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Di tangannya sebuah pulpen atau pensil. Di hadapannya, ada buku-buku, kertas, kalkulator, benda apa saja yang bisa mendukung tulisannya. Posisi meja tulis dan bapak yang berada di baliknya terlihat jelas ketika saya longokkan kepala ini. ”Assalamu’alaykum” hari masih sore ketika saya pulang dari Depok. Sebenarnya saya ngekos di daerah Pindok Cina, tapi untuk beberapa semester, saya memilih pulang. Bapak meminta saya untuk membantu mengetikkan naskahnya. Bapak terlampau tua untuk bisa hapal tombol-tombol kibord komputer. Bapak justru lebih terbiasa menggunakan mesin tik. Saya dapati senyuman sumringah di sana. Walau alisnya yang begitu tebal menyiratkan kegalakannya. Kumisnya yang biasa saja, entah kenapa mengurangi image ”galak” di wajah bapak. Hmm, untuk sementara, laki-laki berkumis yang saya sukai cuma bapak, hehehe :D. ”Oleh-oleh” ujar bapak melihat saya menenteng seplastik gorengan yang saya beli tak jauh dari rumah kami. Cuma ini, tapi bapak senang... Memang sudah beberapa kali, ketika pulang ke rumah dan masih sore, saya sempatkan untuk membeli gorengan. Entah, apa yang bapak pikirkan, dia selalu senang dengan kehadiran oleh-oleh itu, walau tak semua beliau makan. Padahal, untuk urusan oleh-oleh, bapak juaranya. Ketika pulang kerja, ada saja yang bapak bawa. Dari mulai beberapa pasang sendal perempuan, pakaian, makanan. Tak jarang, bapak memanggil kami ketika membawa makanan enak. ***  Saya tengah mengikuti pelajaran siang itu di sebuah SMU, ketika seseorang mengetuk pintu kelas kami. Bapak meminta izin, menjemput saya di sekolah. Bukan untuk sebuah kebutuhan mendesak, bukan untuk bepergian atau jalan-jalan atau bukan karena ada kabar buruk. Tapi, untuk sebuah keperluan yang bisa dibilang penting, yaitu membuat KTP. Bapak mengantar saya mengurus KTP di kelurahan dekat rumah kami, yang juga tak jauh dari sekolah saya. Lucu atau memalukan, entahlah. Pada usia yang terbilang dewasa, 17 tahun, untuk bikin KTP, masih dibantu bapak. :D Hmm, apa karena saya anak manja? Atau karena saya tidak juga mandiri. Sebagai anak bungsu, bisa dibilang curahan kasih sayang mengalir kepada saya. Hingga kakak perempuan saya yang pertama adalah pembela sejati di tengah rengekan saya dijahili orang (maklumlah, sewaktu kecil, saya adalah objek paling lemah untuk dibikin nangis orang :D). Dia akan berada di garda depan untuk berantem dengan siapapun yang mengganggu saya. Ingatan saya pun sampai ketika masih SMP, saya tak diperbolehkan untuk mengunjungi saudara saya di Tanjung Priok dengan ”menakut-nakuti” saya akan tindakan kekerasan yang terjadi di mana-mana. Tapi begitu besar, perlahan tapi pasti, bapak mulai menyerahi beberapa tanggung jawab ke saya. dari mulai membayar kredit rumah, menabung, ngantri membayar telepon. Mengantar buku ke sekolah-sekolah saat kami mempunyai toko buku. Semua itu pun tak terjadi begitu saja. Bapak akan mengawalinya terlebih dahulu, memberi contoh kepada saya. Di sini tempat menabung, ini formulirnya, di sini bank tempat membayar telepon. Kamu naik kendaraan ini untuk ke sana, kemudian yang ini, dll. Hingga, masalah kesehatan. Sewaktu SMU saya pernah harus bolak-balik Rumah sakit untuk check up. Tentu saja diawali dengan terlebih dahulu, bapak mengantar saya, menemani saya ketika diambil darah dan mengambil obat di apotik khusus pengguna Askes. Selanjutnya saya pun dilepas. Tidak hanya itu. Untuk urusan saya mengikuti lomba mengarang antar sekolah, bapak yang membimbing dan mengajari saya hingga kemudian saya mewakili tingkat kelurahan. Ketika saya mengikuti lomba baca puisi saat 17an, bapak juga yang membuatkan teksnya. Aah, begitu teraturnya, hingga sering luput dari ingatan saya. Secara tidak langsung, bapak menyuruh kami untuk mandiri, tapi selalu memberi contoh dan membimbing. Tapi, entah kenapa di masa-masa saya beranjak dewasa, saya justru melihat bapak sebagai sosok yang otoriter, keras, galak, dan tidak menyenangkan. Kami semua harus ikut aturan beliau. Dari A sampai Z. Dari mulai sekolah mana kami harus mendaftar hingga memilih jurusan. Saya pun pernah pada taraf kecewa, sebal dan membangkang. Merasa bapak kolot dan kurang pengertian hingga masa-masa itu hadir. Masa di mana saya memilih sendiri tempat kuliah, masa akhirnya saya bisa bebas tinggal ngekos di Depok. Masa saya tak perlu ikut terlalu banyak aturan beliau. Saya merasa bebas untuk sementara waktu. Bebas dalam arti saya boleh sesuka hati tak datang kuliah, atau mungkin hadir 15 menit sebelum dosen ke luar. Saya juga bisa saja tidak pulang ke kos tanpa orang rumah mengetahuinya. Tapi, siapa sangka, kebebasan itu tak sepenuhnya saya nikmati. Tanpa terpaksa, saya tetap melaporkan keadaan saya yang nyaris masuk aliran tak jelas, keikutsertaan saya di seminar muslimah, dan cerita-cerita lain yang akan membuat saya terdiam. Ternyata, saya masih sangat membutuhkan beliau. Saya tetap masuk dalam wewenang beliau, dan tak bisa sembarangan. Beban nilai memuaskan dan IP yang baik, kembali membawa saya untuk ada di dekatnya. Hingga, salah satu hal pertama yang saya lakukan setelah ke luar sidang tugas akhir adalah menelepon bapak. Saya lulus... dapat nilai B. *** Januari 2004 Saya memandangi wajah bapak. Tubuhnya kini telah terbungkus kain kafan. Menangis? Jangan tanyakan itu... berember-ember mungkin sudah saya keluarkan air mata ini. Belum lagi saya mendapat tugas menghubungi saudara dan kerabat bapak untuk berita duka ini karena mungkin saya dianggap lebih kuat. Yah, saya mampu berjalan ke pasar untuk beli peniti ketika teras depan akan dijadikan tempat memandikan jenazah bapak. Saya masih mampu mencari-cari kamper dan saya masih dalam keadaan sehat, tanpa pingsan di sini. Hanya saja saya tak sanggup tidur dan makan. Satu setengah bulan silam. Saya masih melihat senyum itu. Bapak dan ibu berjalan beriringan, tersenyum sumringah menghadiri wisuda saya. Mereka berpakaian dengan motif batik yang sama. Rupanya itu jadi momen terakhir kebersamaan kami hingga bapak mengalami kecelakaan motor yang merenggut nyawanya. Menghempaskan banyak harapan dalam diri saya. Penyesalan pernah mengecewakan, membantah hingga diam-diam saya ke luar dari pekerjaan membuat saya terpuruk. Seolah hari-hari selanjutnya begitu suram. Saya sempat sakit, menangis-nangis di malam-malam rindu pada bapak. Bapak seperti hilang, padahal baru pagi itu bapak menyerahkan naskah ke saya. Baru tadi pagi bapak senyum. Rasanya, baru kemarin bapak menggendong saya dari lantai atas rumah kami. Atau, ketika kami mengobrol dari A hingga Z. Atau ketika kami shalat berjamaah. Baru kemarin rasanya bapak mengajak saya jalan-jalan, naik kuda. Membawakan kue, oleh-oleh dan memberikan bunga ketika saya wisuda. Baru kemarin.... rasanya. tapi kini dia seperti menghilang... Kini yang bisa saya pandangi hanya nisan bertuliskan namanya. Selama berbulan-bulan saya masih terus mengingatnya. Kadang tiba-tiba teringat dan menangis. Bahkan, ketika saya diberi kesempatan terindah dari-Nya untuk menunaikan ibadah di tanah suci pada bulan Ramadhan, di tahun yang sama meninggalnya bapak. Saya selalu merasa ditemani. Saya merasa bapak ada di dekat saya. Hingga pada keputusan, saya harus banyak belajar sekembali ke tanah air dan Allah mewujudkannya dengan saya diterima di sebuah pesantren terbuka di Jakarta Pusat. Lagi-lagi, saya dihadapkan untuk terus mengingatnya. *** Dari ujung jalan itu, saya akan sambangi rumah kami. Suasana sore yang saya sukai sejak dulu. Rumah ini ada di jalan buntu, tak banyak kendaraan hilir mudik. Beberapa anak kecil tengah bermain. Mbak-mbak khadimat mengejar-ngejar sambil menyuapi nasi. Saya lewati mereka dengan perasaan bahagia. Mau ke mana pun saya pergi, pasti kembali ke sini. Ke rumah yang begitu banyak menyimpan mimpi, cita dan harapan saya. Sudah 25 tahun lebih saya ada di sini. Sempat berpindah rumah dalam satu gang dan kemudian menetap. Ketika langkah ini memasuki rumah, kenangan itu kembali. Bapak menanti saya di sini. Ruangan itu kini memang berbeda. Setelah bapak meninggalkan kami, seting rumah kami dirombak. Memang tak ada pernyataan apapun dari ibu. Meja tulis bapak dibawa kakak ke tokonya. Ruang makan dirombak, disatukan dengan ruang tamu. Tak ada lagi pemandangan bapak sedang menulis di balik meja tulisnya. Segalanya diubah. Tapi, tetap ada sesuatu yang tertinggal. Kenangan indah bersamanya. *** Hingga bertahun-tahun kemudian saya memilih untuk bekerja di rumah. Tak jauh dari tempat bapak menulis, saya tengah mendesain buku, me-retouch gambar, menulis esai, puisi ataupun cerpen. Di sini, di tempat yang tak jauh, saya rasakan semangat bapak menulis puluhan naskah buku sekolah di saat yang sama. Di malam-malam syahdu saat saya belajar membaca dan menulis, saat kami bertukar pikiran tentang politik, saat saya mulai menunjukkan tulisan saya, puisi-puisi yang tak pernah sekalipun saya publikasikan saat beliau masih ada. Terkadang, ketika saya harus bergulat dengan mata kuliah yang berat, bahasa arab yang susah, hafalan yang tak maju-maju. Ketika, saya menemukan begitu banyak buku yang saya butuhkan untuk kuliah di lemarinya. Tiba-tiba satu demi satu buku itu hadir, dan saya cuma bisa terbengong-bengong. Ataupun ketika saya mendapat order buku yang menarik atau ketika saya usai membuat tulisan, dan banyak lagi. Rasanya saya ingin bercerita pada bapak. ”Pak.. pak.., Tapi akhirnya saya hanya akan diam. Berandai-andai, bapak ada di dekat saya hingga akan mengalir 1001 satu kisah akan cita-cita dan hobi yang sama. Pertimbangan-pertimbangan dan penilaian yang akan saya butuhkan. Hhh... hingga tangis saya mengalir. Kangen... Hingga, saya mulai menyadari... kalau bapak memang telah pergi, tapi saya yakin beliau tetap di sini. Di hati ini. Cinta, perhatian dan semangat yang tak akan pernah mati. 23 Juni 1949-21 Januari 2004 Saya persembahkan untuk Almarhum Bapak... Cintanya takkan pernah pudar Semangatnya kan selalu membara *foto ketika aku diwisuda sebenernya ada aku dan ibu, tapi kami tak sadar kamera dan wajahnya lagi aneh :D
Kring… kring ada sepeda Sepadaku roda tiga Kudapat dari ayah Karena rajin belajar... Sepenggal lagu anak-anak itu seringkali saya nyanyikan untuk tiga keponakan saya yang lucu. ;) Kring... kring... Bisa dibilang saya cukup telat untuk bisa naik sepeda. Entah saya yang malas belajar, entah memang saya tak minat. Seingat saya ada sepeda semacam federal di rumah kami. Saya baru belajar mengendarai sepeda ketika kelas 5 SD. Berhari-hari saya belajar di malam-malam itu. Karena sudah cukup ”tua” untuk belajar sepeda, tampaknya saya mengalami kesulitan. Orang-orang di sekitar saya berpirinsip, kalau harus jatuh dulu, baru bisa. Tapi, alhamdulillah, tanpa jatuh, saya bisa mengendarai sepeda (roda dua tentunya :p). Saya ingat, saya sempat memejamkan mata ketika akhirnya bisa mengayuh sepeda (norak, ya :D) Waktu terus bergulir, bapak membeli motor bebek. Hmm, sebelumnya, berkali-kali saya mengoceh-ngoceh ”motoooooooooooooor” mungkin dengan gaya monyong yang nggak banget. Akhirnya, motor honda bekas keluaran jaman lampau pun dibeli (walau akhirnya ditukar suzuki tornado, hiks hiks, halah :D). Saya pun mulai belajar motor dan Alhamdulillah bisa, karena mungkin sudah tahu dasar ketika belajar sepeda. Untuk sementara sepeda pun dilupakan. Saya lebih senang naik motor ke mana-mana. Sok ngebut-ngebutan pas masuk gang rumah hingga kepergok bapak saat terpaksa ke jalan raya karena bensin mau habis. Waktu berlalu hingga akhirnya sepeda itu tak ada lagi peminatnya dan terjual. Saya mulai naksir sepeda lagi ketika SMP (lupa kelas berapa), saya pinjam sepeda tetangga di hari tenang menjelang ujian. Saat itu juga karena sudah lama tak pakai sepeda, saya jatuh dengan suksesnya. Dengkul saya tak hanya berdarah, tapi kulitnya terkelupas hingga meninggalkan bekas. Mau ga mau saya harus memakaikan perban di dengkul saya hingga mengundang tanda tanya. ”kenapa tuh?” Hmm, baru libur sehari, dengkul udah berdarah-darah, gimana kalau 2 minggu? :P Yah, untuk sementara, saya melupakan sepeda. Saya pun tak lagi naksir dan cinta pada sepeda. Motor lebih praktis dan tidak menguras tenaga. Hingga suatu kali, saya mengantar keponakan saya bermain Fun Game di sebuah pusat perbelanjaan. Hmm, saya pun ikut main dengan modal 2 koin dan tentunya wajah innocent dan ga tahu malu :P. Salah satu permainan yang sangat saya suka adalah sepeda. Seru, menyenangkan dan Fun... dibandingkan mobil yang membuat saya tabrak sana-tabrak sini, atau motor yang bikin saya miring ke sana ke mari atau kuda yang membuat saya kelelahan karena harus mengangkat tinggi-tinggi tubuh saya. Hhh, kalau bingung, coba deh sekali-kali ke Timezone, Fun Game atau jenis permainan lain. Nanti kamu akan menemukannya :D Semenjak bermain sepeda-sepedaan di Fun Game, saya pun mulai memikirkan untuk punya sepeda. Keinginan itu saya sampaikan ke orang rumah. Ibu sih setuju saja, kakak perempuan saya justru protes. Emangnya buat apa??? Kenapa ga motor sekalian, bisa buat jalan ke mana-mana. Hmm, proses yang alot... ribet, padahal kan belinya juga pakai uang sendiri. Selama beberapa bulan saya bermimpi punya sepeda. Suka takjub lihat anak SMP naik sepeda, atau anak kecil yang ramai-ramai jalan-jalan pakai sepeda. Saya juga sempat pinjem sepeda tetangga saya yang masih SD. Hmmm, keinginan itu makin menggebu-gebu. Tanya sana, tanya sini, berapa harga sepeda. Sambil cek kocek berapa uang yang tersedia...  Hingga di siang yang panas sebuah sepeda mini warna biru jadi milik saya. Ada keranjangnya, ada bel yang berbunyi kring-kring dan ada boncengannya di belakang. Saya seperti anak kecil lagi yang riang. Melepas satu demi satu plastik pada sepeda itu. Mencobanya, melihatnya seolah tak percaya kalau kini saya punya sepeda. Dan itu dari jerih payah saya sendiri bekerja. Dia begitu kokoh dan memukau... (it so lebai :p) Saya berencana akan menjadikan bersepeda ini olahraga rutin saya selain saya gunakan untuk transportasi terdekat, seperti ke warung, ke makam, mengeposkan surat, memfotokopi, dll. Waktu yang paling enak dan nyaman adalah pagi dan sore. Saya masih bisa memakai jalur aman di kompleks sambil menikmati rindangnya pohon-pohon di taman hutan kota, tanpa berpanas-panas ria dan aman dari kejaran anjing, halah :P Sehari setelah memiliki sepeda Sekitar pukul 05.15 saya keluar rumah, bersepeda, berolah raga, menikmati udara yang masih bersih. Hmm, sebagai pekerja rumahan saya baru tahu kalau ada segelintir orang yang sudah berangkat kerja dan mikrolet depan kompleks pun sudah beroperasi. Saya mencoba memilih jalur cepat. Jalur tanpa polisi tidur dan biasanya ramai dengan kendaraan. Alhamdulillah masih pagi, masih sepi... saya bersenandung dengan sangat noraknya hingga kemudian saya memutar melewati hutan kota. Yups, antara jalur cepat dan jalur kompleks (lambat) dipisahkan dengan taman hutan kota. Saya harus menanjak sedikit ketika berada di jalur lambat. Tiba-tiba ”plek” Ada sesuatu yang jatuh, apa ya? Hari masih cukup gelap ketika itu hingga saya baru menyadari kalau pedal untuk mengayuh sepeda terlepas. ”haaa, ini kan sepeda baru :(” Saya coba memasangnya, tapi kemudian copot lagi. Saya pun nekat jalan, tanpa satu pedal, tapi ga nyaman. Fiyuuuh...... akhirnya, mau ga mau saya menuntun sepeda saya pulang ke rumah. Jalanan mulai ramai dan saya tak bisa menahan senyum malu, apalagi ketika salah satu tukang ojek di kompleks menegur. Entah apa tegurannya, saya cuma senyum, hihihih :P Ada-ada aja... Sorenya, saya bawa sepeda itu ke bengkel (entah bengkel apa, motor atau sepeda karena pada saat saya ke sana, dia sedang mengotak-ngatik kipas angin, hihihih). Si abang yang di bengkel pun mulai memperbaiki sepeda saya. Yups, ada komponen yang lepas hingga si pedal ikut lepas. Saya hanya memerhatikannya dan jadilah... Saya pun pamit pada si abang bengkel (hihihi, :D). Tapi, baru saja digoes, ada keanehan di sana. Harusnya ketika pedal kiri di bawah, pedal kanan ada di atas, tapi tidak... pedal kanan tetap dibawah dan saya tak bisa mengayuhnya. Akhirnya, mau ga mau saya sebrangi jalan lagi dan kembali ke si abang bengkel. Dari situ saya pun tahu, harus ada teknik tersendiri, yang belum tentu orang lain bisa... :P. Maaf, ya bang sempet ga rela bayar segitu :P... Fiyuuuh.....Yeeeeeeeee, sepeda gw udah bener. Makasi yah, bang :D. Senangnya...... *thanks to buat kakak cowokku yang mau nganterin beli sepeda di pasar :D, di saat liburannya di Jakarta :P *thanks to abang bengkel
|
|