berbagi cinta, berbagi cerita

novi khansa's posts with tag: :(

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag :(
Blog EntrybatasAug 6, '08 9:45 AM
for everyone

aku tahu
tanganku cuma dua
kakiku juga dua
hatiku satu

tapi di sana ada berjuta mimpi dan harap
kadang berbenturan
kadang seiring sejalan

aku tahu
aku hanya manusia lemah
yang menangis ketika lelah menguasai diri

aku tahu
aku ingin berikan yang terbaik
buat dia, dia, mereka
juga untuk ibu

tolong maafkan aku
ketika aku tak mampu...
hadir di sana

tolong maafkan aku
ketika akhirnya aku menolak...

tolong dik...
maafkan aku...

aku tak mau terkungkung di sini
tapi aku harus jalani ini

ini bagai ujian
ketika aku harus memilih
yang menyenangkan
yang tanggung jawab
yang musti dibaktikan...

.....................




*ketika waktu berkejaran,
hingga hari-hari terlewatkan
dan kaki ini bingung tuk melangkah...


Blog EntryRencana Tinggal RencanaApr 27, '08 4:09 AM
for everyone
Rencananya akhir pekan ini aku mau main ke Bandung, silaturahim ke tempat Sinta, Fety, Budi, Pak Teha, Mas Hadian, dll. Pokoknya SK-ers Bandung. Atau mungkin bisa kontak menti-menti aku yang kuliah di Bandung...

Lihat sikon juga, sih...
karena rencananya, 26 April mau launching Rohis Muslimah di SMU, tapi karena belum ada kesiapan dari alumni, launching ga jadi... sambil mikirin nanti-nanti deh launchingnya.
Iya... iya, segera...  (ceritanya ngomong sama diri sendiri, neh, fiyuh)

So, rencana ke Bandung, insya Allah udah 50%... tapi menjelang hari H, nengok-nengok rekening di tabungan tak kunjung nambah. Nah lho ongkosnya pakai apa?

Yo, wes, tunggu saja, kemungkinan akan ada transferan...

tapi, tiba-tiba dapat sms dari bapak editor kalau ada tambahan naskah hari sabtu yang sedang aku layout... waduh... alamat ga bisa jalan, neh...

Ditunggu-tunggu...
kayaknya beneran ga bisa ke Bandung
Ya udah deh ikutan acara di Jakarta aja di Sunda Kelapa, kan ada silaturahim akbarnya anak2 My Quran...

Eh, pas hari jumat ada transferan masuk... tapi...

pas sabtunya, baru tahu kalau ada temu Dpra... dan kudu datang... Hmm, yo wes deh...

Katanya sih boleh ke Sunda Kelapa, tapi disuruh datang bentar ke masjid darul ma'arif
tapi kalo diitung-tiung waktunya, kayaknya ga bisa, deh... karena juga disuruh pulang cepet sama orang rumah... khadimat yang satu lagi kan mau nikah, dia mau belanja gitu, deh...
dan ibu minta temenin gitu, deh di rumah...

Dari rencana mau launching Rohis, ke bandung, ke Sunda Kelapa, sampe acara Dpra di rumah... malah ga jadi semua karena bangun kesiangan dan perut mules-mules...

Terus, hingga kini, belum ada tambahan naskah lagi...


Rencana tinggal rencana...
jadinya, di rumah, istirahat, nemenin si fahmi nonton n bobo, ngerjain job, momong si kembar bareng ibu...

....





Blog EntrySemoga aku bisa memulainya kembali...Apr 5, '08 4:01 PM
for everyone

 

 

“Mbak  udah masuk magrib, ya” tanya tukang ojek kepadaku.

          ”Ga tahu, udah kali” jawabku   

            Saat itu aku tengah naik ojek menuju rumahku setelah mengambil pekerjaan di sebuah kantor di bilangan Cipete. Aku memang biasa menggunakan transportasi ojek dari tempat aku turun dari bus. Lebih praktis dan cepat, dengan keadaan jalanan Jakarta yang tiap detiknya tak bisa diduga. Macet dan macet.

Motor mulai memasuki kompleks perumahan. Terlihat beberapa orang mengenakan pakaian koko dan sarung tengah berjalan. Tapi, aku tak mendengar suara azan. Mungkin sudah, mungkin belum. Tepat ketika motor  berhenti di depan masjid, aku turun dan membayar kepada tukang ojek tersebut. Suasana masjid tampak ramai dengan orang yang berwudhu dan sholat.

”Pas banget” ujarnya.

Kemudian, kulihat dia memasuki halaman masjid. Sementara, aku malah berbelok. Yah, rumahku, tepat di belakang masjid. Hanya beberapa langkah jarakku dengan masjid.

Rasanya ada suatu yang berat. Kenapa aku pulang, bukannya ikut belok dan sholat di sana. Kenapa aku merasa jauh dari tempat yang begitu dekat ini. Aku terus berjalan dan menunduk. Rasanya, hatiku ingin berada di sana, tapi keengganan mengajakku pulang. Toh, aku bisa sholat di rumah. Toh, aku baru pulang dan pakaian aku sudah kotor dan berbagai alasan yang tak juga membuatku merasa benar melakukan hal itu. Lho, bukannya tukang ojek itu lebih kotor pakaiannya, terkena debu dan asap yang menjadi makanan sehari-harinya. Bukankah, aku hanya pergi sebentar.

Katanya memang, wanita sebaiknya sholat di rumah, tapi bukankah lebih nyaman dan syahdu ketika melaksanakan sholat di masjid. Aku biasa ke mana-mana sendiri. Ke mall, toko buku, kantor-kantor klien. Tapi, kenapa aku harus enggan pergi ke masjid yang hanya beberapa langkah dari rumahku. Aku lebih sering sholat di rumah. Itu pun tidak selalu tepat waktu. Aku akan kembali disibukkan dengan perkerjaanku yang menanti. Tak jarang, aku memilih menunda waktu sholatku karena pekerjaanku belum juga selesai. Astaghfirulloh... aku ternyata memang makin jauh dengan-Mu ya Allah...

Padahal, beberapa tahun lalu ketika aku diberi kesempatan untuk umroh dit anah suci, hampir setiap waktunya sholat 5 waktu, aku selalu melaksanakannya di masjid. Bahkan hingga pernah beberapa kali tidak kebagian tempat dan berdesak-desakan. Bahkan ketika tahu aku datang terlambat. Tapi, ketika di tanah air, hanya awalnya saja aku mulai menerapkan sedikit-sedikit, hingga ditelan waktu. Bahkan ketika sholat taraweh, aku lebih memilih sholat di rumah karena enggannya berdesak-desakan dan tidak dapat tempat. Astaghfirulloh, aku makin jauh dengan-Mu...

Kenapa aku merasa dtunjukkan oleh-Nya. Diingatkan oleh-nya, betapa aku mulai tak lagi berada dekat dengan-Nya.

***

Rasanya tak kuasa kutahan air mata ini hingga aku kemudian memasuki rumah. Kutahan diriku untuk tidak menyalakan komputer di ruang kerjaku. Aku ingin diriku tak diburu dengan bekerja dan bekerja. Menyalakan komputer sebelum sholat sering membuatku mengingat berbagai pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku segera beres-beres dan terdengar iqomah dari masjid. Aku putuskan untuk sholat di rumah saja. Mungkin nanti ketika azan Isya berkumandang.

Bimbang rasanya hingga kudengar azan Isya berkumandang. Berbagai perasaan berkecamuk. Kalau ke mesjid, aku musti pakai kaos kaki, aku musti buru-buru. Belum lagi alasan-alasan lain yang seolah menambah keenggananku ke mesjid. Padahal, suara azan itu begitu dekat, dekat sekali.

Hingga terdengar iqomah, aku masih di rumah. Aku pun mencari alat sholat dan kaos kaki. Setelah berwudhu, kukenakan alat solat dan kaos kaki. Aku buka pintu, sudah rokaat kedua rupanya. Aku mantapkan kaki ini untuk melangkah. Ya Allah, semoga aku bisa memulainya kembali... Ya Allah, semoga aku bisa istiqomah menjalaninya. Amiin

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help