Sudah empat tahun lebih sejak kematian bapak, ramainya rumah ini. Kami tinggal
bersama. Saya dan ibu sebagai keluarga pertama serta kakak, suaminya dan 4 anaknya sebagai keluarga kedua. Beserta khadimat yang datang dan pergi.
Saya tak ingin menyatakan sesak, tapi seru. Sangat seru dengan berjuta konflik yang hadir. Yah, masa itu akan segera hilang, beberapa bulan lagi, mengingat kakak saya dan keluarga, beserta dua khadimat, atau lebih (entahlah) akan pindah.
Pasti suasana rumah akan berbeda. Sangat ekstrem malah. Rumah ini memang silih berganti penghuni. Kakak pertama yang kuliah di Bogor, abang yang kuliah di Solo dan saya yang sempat kuliah di Depok. Bapak dan ibu sempat hanya tinggal berdua karena hanya sesekali saya pulang. Kemudian, bertiga, berempat hingga akhirnya kakak menikah. Kembali lagi karena bapak meninggal dunia...

Hmmm, bukannya tidak menyenangkan. Bukannya tidak pernah ada masalah.
Bukannya tidak lengkap. Bukannya tidak melelahkan. Hari-hari yang terlalui. Empat tahun sudah menjadi saksi, si kecil Fikri yang beranjak besar hingga akan masuk SD. Si kembar Fahimah dan Fahmi, serta Fattah yang lahir 10 hari yang lalu. Penuh warna... bagai pelangi, hingga kadang tak sanggup saya melihat warna apa saja yang hadir.
Saya sadari penuh, banyak kepala, banyak pula pendapat dan banyak hal yang bisa menuai konflik. Saya sadari penuh, kemampuan saya sebagai individu masihlah kecil. Rasa egoisme seorang anak bontot masih merajai sikap saya. Tapi, tahukah kawan, selama ini saya terus belajar. Belajar untuk melihat segala hal dari berbagai sisi. Melihat kalau saya masihlah lemah, selemah hamba-Nya yang bodoh.
Hhh, dari mulai listrik yang bergantian. Makin memaksa saya menjadi kalong. Kadang bersalah dan kadang kesal karena AC harus mati, air harus nyala, tapi terang-terangan komputer Online 24 jam karena deadline. Cara bersikap kepada 3 bocah lucu yang sedang golden Age. Fikri yang berkeras tidak mau kena air, teriakan-teriakan, perebutan kursi, halah... Saya yang kerja mulu di rumah, hampir pergi mulu kalau week-end, dan merasa terganggu dengan berjuta pernak-pernik.... dan ingin berteriak... wooy, gw butuh privasi, abis itu ngos-ngosan karena haus.. halah.
Seegois apapun sikap saya. Semanja apapun saya sebagai anak bontot. Rasa cinta ini begitu besar. Rasa tulus menyayangi malaikat-malaikat kecil itu... yah, saya memang masih belajar... Di balik segala kekonyolan saya, kegokilan saya, kecuekan saya... saya selalu punya hati untuk mereka. Warna hidup yang tak akan mudah terlupa. Tapi, saya juga punya kehidupan... saya punya kegiatan... saya dengan berjuta mimpi dan cita-cita saya... Aah, naif, ya? Biarin.... terserah gw, halah
Banyak yang terjadi selama empat tahun... moga bisa menjadi pelajaran...
Banyak yang terjadi selama ini... moga banyak hikmah yang bisa saya pungut...
Kalau kata ibu, koreksi diri yang penting...
Saya pikir saya memang banyak salah...
Apalagi sama ibu...
Kerinduan akan masa-masa itu pasti akan hadir. Yakin, sih... tapi bukankan roda terus berputar. Sudah banyak pula rencana di kepala. Memang harus begini dan begitu. Doakan saja semua bahagia... happly ever after, hehehehe, halah..
Hmm... moga kita semua selalu diberi hidayah dan limpahan kasih sayang dari-Nya... aamiin :)
Hmm, sambil mikir-mikir...
Bulan juli ntar listrik, telepon, Pam, udah kudu bayar sendiri belum, yak :D
Kurangin semuanya, dah pengeluaran yang ga mikir-mikir...
Bakalan mirip kayak anak kos lagi, neh...