Hanya Butuh Didengarkan
Malam itu sekitar pukul setengah tujuh malam, seorang teman meng-sms.
“Vie, udah selesai solat belum, gw pengen cerita nih”
Wah ada apa lagi, nih? Tanyaku dalam hati. Baru hari kamis lalu kami jalan bareng dan kita sama-sama curhat. Memang sih aku ga kasih banyak masukan hari itu. Kita lebih berkangen-kangen ria Karena lama ga ketemu. Selanjutnya, sms-sms masuk ke Hp-ku dengan masalah yang sama. Dan malam ini dia butuh untuk cerita.
Saat dia sms, aku baru aja selesai mandi sepulang dari jalan bareng anak-anak Bogor rujakan setelah kondangan dari walimahan kang Dani dan Mbak Endah di Bogor. Wuih, seru bener.
Ga lama aku balas sms itu
“Gw udah kelar, nih”
Ga lama temanku menelpon. Aku pikir dia akan menelepon ke rumah, tapi ternyata dia menelepon langsung ke Hp-ku.
“Vi, gw capek…”
Suaranya terdengar tak jelas. Biasalah Hp, sinyal kadang datang dan pergi. Tapi, rupanya bukan itu yang membuat suaranya tak jelas. Dia menangis. “Elo nangis?” pertanyaan bodoh, ujarku dalam hati.
Selanjutnya dia bercerita masalah cowoknya yang ternyata selingkuh dengan mantan pacarnya.
Duh, kok jadi rumit gini. Kemarin dia cerita dia punya teman dekat yang bikin pacarnya cemburu, dan sekarang pacarnya itu “balas dendam” dengan berselingkuh dengan mantan pacarnya. Duh, sinetron banget, ya?
“Gw mau sendiri aja dulu” ujarnya.
Aku ga banyak ngasi masukan, aku hanya menggambarkan “sebuah contoh situasi” yang entah nyambung apa nggak. Padahal, kalau aku bisa ngomong, mungkin aku akan jahat ngomong, “makanya jangan pacaran?” tapi apa itu berguna. Setelah keadaan yang “complicated”.
Aku hanya mendengar.
“Makasi, ya vi. Gw lega” Ujarnya.
Saat itu dia sudah berhenti menangis. Aku tak banyak melakukan apa-apa. Dia sudah menemukan solusinya untuk “lebih baik sendiri” saat ini. Aku tak berbuat apa-apa. Aku hanya lebih banyak mendengar saat itu.
Setelah itu, dia mengakhiri telepon.
Memang, masalahnya belum selesai, tapi paling tidak dia sudah lega bercerita. Yah, dia hanya butuh didengarkan.
Situasi yang mirip-mirip pernah aku alami dan itu menjadi pelajaran yang berarti bagi aku. Temanku curhat, dan dengan seenaknya aku memberi pendapat. Walhasil, dia ga mau curhat sama aku lagi. Aku sadar dan aku belajar dari keadaan itu. Dia tak butuh “pendapat sok tahu” dari aku, tapi dia hanya butuh didengar.
Jadi, ketika dia curhat kembali, aku hanya menyediakan pundakku untuk dia menangis. Memeluknya dan mendengarkan tangisnya. Dan ketika dia menelepon, aku dengarkan segala keluh kesahnya hingga berjam-jam lamanya. Itu saja sudah membuatnya lega, walau hanya saat itu.
Selanjutnya, aku akan mendengar kabar kalau masalah itu telah sedikit terbuka. Ada titik terang yang ikut membuatku lega.
Yah, saat itu mereka hanya butuh didengarkan. Bukan dihakimi. Saat itu mereka hanya butuh untuk bercerita. Bukan diajari.
Dengan bercerita, mereka sudah mendapatkan satu titik solusi. Dengan bercerita, seolah masalah terlepas satu per satu…
Aku pun sama, kadang aku hanya butuh bercerita dan teman-temanku dengan hangat menerimaku, mendengarkan ceritaku, segala keluh kesahku.
Teman tempat berbagi, teman tempat bersama melintasi langit mimpi…
Aku merasa makin kaya memiliki banyak teman dan sahabat karena di sana aku bisa berbagi.
Aku jadi teringat ada sebuah sms dari seorang teman masuk ke dalam hp-ku.
I open my wallet and find it empty
Reach in my a pocket and find just a few coins.
But, then, search in my heart n find u as my friend,
The I realize how rich I am…